
Pesta pernikahan Aleardo dan Ana dilanjutkan dengan acara yang sangat mewah. Tapi sang pemilik acara malah tidak ada di pesta malam ini. Setelah pembacaan janji pernikahan keduanya menghilang begitu saja. Orang terdekat dari pasangan baru itu sudah sangat memaklumi kebiasaan mereka yang suka menghilang tanpa permisi.
"Akhirnya Aleardo benar-benar memiliki pawangnya." ucap Raindhen pada pangeran Damian.
"Bukankah kamu harusnya bahagia? dengan ada Anabella disamping Aleardo. Kamu lebih mudah untuk meminta atasan kamu mengerjakan tugasnya." ucap pangeran Damian.
"Mana mungkin itu terjadi. Yang benar si penyihir iblis itu akan menghabiskan waktunya mengikuti istrinya kemanapu." ucap Raindhen sambil menghela nafas dengan kasar. Dia sudah sudah membayangkan bagaimana nasibnya setelah ini. Satu hal yang pasti terjadi adalah dia akan menghabiskan waktu kerjanya lebih lama dari biasanya. Beruntungnya atasannya itu suka memberikan hadiah tambahan yang membuatnya tidak mengundurkan diri.
"Kalau kamu tidak suka bekerja dengan Aleardo. Kamu bisa kembali ke keluarga dan menjadi penerus keluarga Duke." ucap Pangeran Damian sambil menyesap anggur merah yang baru saja diterimanya dari seorang pelayan.
"Tidak, Menjadi penerus lebih membuatku tertekan. Setidaknya bersama Aleardo aku tidak begitu tertekan dengan tanggung jawab seorang duke."
"Tapi kamu tertekan dengan pekerjaan Aleardo bukan?" ucap pangeran Damian.
"Sudahlah berhenti membuat bawahan si penyihir itu tertekan pangeran damian." ucap seorang pemuda yang muncul dari belakang tubuh pangeran.
"Aku tidak membuatnya tetekan, Thiodor." ucap pangeran damian. Dia sangat mengenali suara pemuda itu. Dia menjadi salah satu bawahan Aleardo yang sangat setia selain Raindhen. Thiodor mendapatkan tugas untuk mengurusi pasukan pribadi Aleardo. Pangeran Damian tidak tahu awal mula pertemuan Aleardo dengan pria itu. Tapi satu hal yang dia tahu pria itu sangat menghormati Aleardo.
"Kamu memang tidak membuatnya tertekan, Tapi dia menjadi ingat kalau tugas berat sedang menunggunya. hahhaha." ucap Thiodor.
"Aku tidak tahu kamu datang di pesta hari ini. Sudah selama satu minggu ini, kamu tidak menunjukkan batang hidungmu." ucap Raindhen dengan nada kesal. Bagaimana dirinya tidak kesal dengan pemuda yang lebih muda beberapa tahun darinya tapi sudah memiliki tanggung jawab yang cukup besar untuk mengurusi pasukan pribadi Archduke Aleardo. Karena keberadaan pemuda itu yang sempat menghilang, membuat tugasnya bertambah dengan mengurusi pasukan pribadi.
"Tenanglah, aku sudah kembali kamu bisa bersantai. Lagi pula aku pergi karena ada tugas yang dilakukan atas perintah tuan muda Aleardo." ucap Thiodor dengan santai.
"Cih, Itu hanya alasan kamu Thiodor. Sebaiknya kamu tidak ulangi kebiasaan kamu yang suka hilang-hilangan." ucap Raindhen.
"Hahhahah tentu saja aku tidak bisa memenuhi permintaan bodohmu itu. Apa kamu lupa tugasku sebenarnya?" ucap Thiodor dengan senyum mengejek yang membuat Raindhen semakin jengkel.
"Sial, kamu sangat menyebalkan. Kamu sudah menemui Aleardo?" tanya Raindhen yang tahu kalau Thiodor membawa pesan yang harus segera disampaikan pada tuannya.
"Aku sudah menemuinya. Ternyata istirnya sangat manis. Kalau saja aku bertemu dengan gadis itu terlebih dahulu sudah pasti.."
"Berhenti dengan pikiranmu itu, Aleardo akan marah kalau kamu memikirkan wanitanya."
"Ah kamu benar, Tuan muda terlalu mencintai wanita itu. Tapi Aleardo sudah semestinya seperti itu pada wanita itu." ucap Thiodor yang sangat ambigu. Raindhen dan pangeran Damian saling melemparkan pandangan mencoba mencerna ucapan pemuda itu.
"Sudahlah kalian jangan banyak berpikir, Kerutan di dahi kalian sudah muncul kalau dibiarkan kalian akan tuan sebelum waktunya."ucap Thiodor sambil meninggalkan kedua pemuda itu.
"Sial anak kecil ini sangat menyebalkan." umpat Raindhen.
"Sudahlah, dia hanya mirip seperti tuannya." ucap pangeran Damian mencoba menenangkan temannya ini. Dia sedikit mencurigai pemuda itu walaupun dia merasakan kalau bukan hal buruk. Tapi keberadaan Thiodor masih sangat misterius hanya Aleardo yang tahu tentang pemuda itu.
"Aku akan kembali melakukan patroli lagi, kalau aku terus bertahan disini bisa-bisa aku cepat tua." ucap Raindhen sebelum meninggalkan pangeran Damian.
Pangeran Damian melihat pesta malam ini seperti bukan acara untuk Aleardo dan Ana karena kedua orang itu memilih meninggalkan pesta yang membuat keluarga marques Xieben dan kerajaan yang menjadi pemeran utama di pesta ini.
Sedangkan kedua orang yang harusnya menjadi pemeran utama pesta itu malah sedang asik menikmati pemandangan di hamparan bunga lavender di hutan Quena. Mereka memang tidak berniat untuk berlama-lama dikediaman Aleardo. Tentu saja tempat terbaik untuk mereka adalah hutan ini karena tidak akan ada satu orangpun yang bisa mengganggu mereka kecuali kedua naga milik mereka.
"Aku tidak menyangka akhirnya kamu menjadi milikku dan istriku Ana." ucap Aleardo yang sedang memeluk tubuh Ana.
"Aku juga berpikir seperti itu, Padahal aku tidak pernah memiliki rencana menikah muda." ucap Ana sedikit sebal.
"Kamu kesal karena menikah denganku?" tanya Aleardo.
"Tentu saja tidak tapi kita masih terlalu muda buka? Bahkan umurku belum genap 20 tahun." ucap Ana.
"Sudahlah mau nanti atau sekarang bukankah kita tetap menikah." ucap Aleardo.
"Ya kamu benar.tapi aku belum siap."
"Belum siap apa?" tanya Aleardo bingung dengan maksud istrinya.
"Sudahlah. kamu ternyata masih muda juga ." ucap Ana. Aleardo yang pada dasar memiliki otak encer menjadi sangat mudah mengerti maksud gadis kecil yang sudah menjadi istrinya.
"Apakah kamu sudah tidak sabar dengan malam pertama?" tanya Aleardo yang membuat Ana terdiam.
"kata siapa hey jangan fitnah." protes Ana yang membuat kedua pipinya bersemu merah.
"Tapi kedua pipi kamu kenapa merah. Jangan-jangan kamu sedang memikirkan itu." goda Aleardo. Ana yang malu dan kesal dengan suaminya itu melepaskan kedua tangan yang melingkupinya.
"Bukan apa-apa? angin malam membuat kedua pipiku memerah." ucap Ana yang membelakangi Aleardo karena tidak ingin suaminya itu tahu kalau dia sedang tersipu malu.
"Karena kamu merasakan kedinginan bagaimana kalau aku menghangatkan kamu?"goda Aleardo yang membuat Ana terdiam karena tidak mengerti maksud suaminya itu.
"Kamu mau buat api unggun di sini? jangan gila nanti bisa kebakaran." ucap Ana sambil membalikkan badannya untuk menghadap Aleardo. Tapi saat itu dia menyesal karena setelah itu Aleardo langsung menyerangnya dengan bibir manisnya itu.
"Sial aku terperangkap oleh jebakan penyihir gila ini." ucap Ana dalam hati.
Aleardo dan Ana langsung berpindah dari taman lavender itu ke rumah Quena yang ada di dalam hutan. Tanpa mereka sadari kegiatan tadi ditonton oleh kedua naga yang sekarang bermuka masam.
"Aku sepertinya harus segera mencari wanita untuk dijadikan istri." ucap Yirlendi yang iri dengan pasangan muda itu.
"Aku yakin tidak ada wanita yang mau bersama dengan pria menyebalkan dan pengecut sepertimu." ucap Luxorius yang tidak sadar kalau itu menyakiti harga diri Yirlendi. Tapi pada dasarnya raja naga itu memang bermulat pedas. Dia sama sekali tidak peduli kalau ucapannya menyakiti naga muda itu.
"Kamu meremehkan aku pak tua, setidaknya aku tidak sepertimu yang tenggelam dalam masa lalu tanpa mau keluar melihat masa depan." ucap Yirlendi sebelum meninggalkan Luxorius yang terdiam saat mendengarnya.
"Aku memang tidak ada niat untuk melihat masa depan tanpa wanita itu. Dia sudah mencuri seluruh hatiku. Sebaiknya kamu tidak pernah jatuh cinta Yirlendi. Karena kaum kita hanya dapat mencintai satu orang dalam seumur hidu." ucap Luxorius dengan kedua matanya menatap langit malam ini yang cerah.