
Ana memeluk tubuh Aleardo. Dia merasa sangat merindukan pemuda di depannya. Sudah 2 minggu sejak kepergian ke medan perang. Sekarang petempuran sudah selesai, sang pemimpin penyerangan perbatasan timur sudah dikalahkan. Sekarang Aleardo sudah ada di sini, dia merasa sudah dapat beristirahat.
"Aleardo, aku mengandalkan kamu untuk sisanya. Aku merasa mengantuk. " ucap Ana dalam pelukannya.
"Cih sudah aku bilang jangan pernah menggunakan mana kamu. Susah sekali untuk nurut."
"hahhaha kalau tidak begitu bukan aku. Setidaknya sekarang aku bisa beristirahat." ucap Ana setelah itu dia pingsan di dalam pelukan Aleardo.
"Aku benci keadaan kamu seperti tapi silahkan beristirahat."uca aleardo.
Aleardo membawa Ana menjauh dari medan petempuran. Saat bersamaan dia meninggalkan tempat itu muncul lingkaran sihir disetiap kepala pasukan musuh yang tersisa. Dalam waktu beberapa detik mereka semua sudah mati dengan menyedihkan.
"Seperti biasa dia sangat menyeramkan." ucap Raindhen yang bersamaan diberikan tatapan tajam dari Aleardo.
"Mereka sama-sama menyeramkan." ucap putra mahkota.
Selama peperangan william melihat sosok Ana yang berbeda. Walaupun Ana gadis yang cuek dan dingin tapi tatapannya tidak sedingin itu. Gadis itu berubah menjadi orang tidak berhati dan tidak pandang bulu. Dia dengan mudah mendebas puluhan orang yang ada di depannya. Bahkan tanpa menggunakan mana pada pedangnya, dia bisa dengan mudah mengalahkan pertahanan depan.
"Dia seperti bunga mawar Indah namun menyakitkan." ucap putra mahkota.
"Ya kamu benar putra mahkota, nona Anabella seperti lautan tenang yang memancarkan keindahan di dalamnya namun saat seseorang masuk kedalam air laut itu tidak ada hal yang dapat menyelamatkannya."
Raindhen sebenarnya sedikit iri dengan Aleardo yang bisa berdekatan dengan Ana. Ana adalah wanita yang pesonanya tidak dapat terlihat sekilas saja. Namun pesona Ana semkain indah saat dilihat terus menerus. Dia wanita yang sangat menarik untuk dimiliki. Tapi Dia sadar kalau saingannya dalam seorang yang bukan tandingannya. Beberapa saat lalu saja Aleardo tidak perlu waktu lama untuk membuat lingkaran sihir yang banyak untuk membunuh musuh.
"Sebenarnya Raindhen aku sangat menginginkan Ana tapi melihat wanita itu hanya bisa menyandarkan dirinya pada Aleardo. Aku merasa tidak akan pernah bisa menang oleh Archduke itu."
"YA yang mulia putra mahkota sangat benar. Aleardo memang seperti dalam cerita dongeng kerajaan. Pria misterius yang terkena kutukan karena terlahir memiliki rambut hitam dan mata merah. Tapi seperti dongeng itu ceritakan sosok Aleardo adan iblis sekaligus malaikat untuk manusia. Dia bisa menghancurkan seluruh negeri ini dengan mudah tapi dia juga bisa membuat negeri indah hidup dengan kedamaian."
"Seperti yang kamu katakan, Aku tidak ingin membuat kerajaan ini hancur hanya karena merebut Ana. Keberadaan Ana sangat mempengaruhi Aleardo. "
"Ya kamu benar sihir tadi sekaligus peringatan seberapa berbahaya dia untuk negeri ini jika menggangunya." ucap Raindhen.
Aleardo sudah berada di tenda milik Ana. Dia begitu luas namun sedikit nyaman untuk tenda di medan perang. Dia ingat tenda dulunya berisi banyak orang sangat kecil. Tapi itu bukan jadi masalah utama.
Aleardo menatap Ana yang sedang terbaring di tempat tidurnya. Dia sudah menduga kalau mana itu akan digunakan untuk mengalahkan raja itu. Raja itu memiliki sihir perlindung yang membuat seseorang sulit mengenainya. Tapi Ana menggunakan sihir mananya yang dapat berubah menjadi racun saat dialirkan pada pedangnya. Racun itu yang menghancurkan sedikit demi sedikit dinding pelindung tanpa diketahui raja itu.
Aleardo sangat bangga dengan strategi perang Ana. Itu adalah keahlian yang selalu dibanggakan oleh gadis itu selain teknik berpedangnya. Ana hanya pintar dalam dua hal itu selainnya dia hanya gadis bodoh menurut Aleardo. Tapi dua hal itu cukup untuk melindungin Ana dari hal-hal berbahaya.
Beberapa saat kemudian Ana membuka matanya. Sebenarnya Aleardo terkejut karena ini terbilang cepat dari waktu terakhir Ana mengalami ini. Mungkin tubuhnya sudah mulai bisa menerima mana hijau. Tapi semua pemikiran Aleardo tak sesuai yang diharapkan. Ana tiba-tiba muntah darah dan seperti waktu itu seluruh lubang yang ada di tubuh ana mengeluarkan darah.
"ANA." Teriakan Aleardo membuat putra mahkota dan Raindhen yang tadi berniat masuk mengecek keadaan Ana segera berlari. Mereka melihat darah banyak keluar dari tubuh Ana. Raindhen yang lebih awal sadar dengan kondisi Ana segera memanggil Tabib.
Tabib datang untuk mengobati tubuh Ana. Tapi tabib itu menggelengkan kepala saat mengecek kondisi tubuh Ana.
"Saya tidak bisa melakukan apapu. Ini efek penggunaan mana anda." ucap tabib.
Ana yang sudah tahu kalau ini memang harga yang harus dibayar untuk tindakannya hanya tersenyum pada tabib itu. Dia melihat wajah cemas dari Aleardo, Putra mahkota dan Raindho.
"Aku sudah mengetahuinya, Terima kasih sudah mengecek kondisi tubuhku. Aku baik dengan sindirinya. Mungkin aku minta tolong untuk buatkan obat penambah darah." ucap Ana.
"Baik nona akan saya segera buatkan." ucap tabib yang pergi meninggalkan tenda itu.
"Aku tidak bisa janji tapi kalau kamu selalu ada disisiku mungkin aku tidak usah menggunakannya." ucap Ana.
Ana merentangkan tangannya di depan Aleardo. Pemuda itu langsung memeluk tubuh kecil Ana. Gadis itu sudah mengganti bajunya. darah juga sudah berhenti keluar dari hidung dan teringanya. Jantungnya saja masih terasa tidak nyaman.
"Ana aku juga ingin memeluk kamu bolehkah?" ucap Raindhen yang langsung dihadiahkan tatapan tajam dari putra mahkota dan Aleardo secara bersamaan. Tapi Ana malah ketawa saat melihat ekspresi Raindhen yang pucat.
"Tentu aku tidak masalah tapi kamu harus melewati tukang sihirku dulu." ucap Ana.
"Tidak jadi nanti saya dirubah olehnya menjadi anjing lagi."
"Wow itu menarik di coba bukan ana?" ucap Aleardo.
"Sudahlah jangan kamu lakukan padanya nanti tuan muda Raindhen bisa mengompol di sini." ucap Ana.
"Hey aku tidak mungkin melakukan itu."
"Lihatlah wajah kamu sudah pucat pasih begitu hahahaha." ucap Ana.
"Ana sebaiknya kamu kembali ke ibu kota biar sisanya aku dan Raindhen yang mengurusnya." ucap Putra mahkota.
"Benar Ana akhirnya kamu berguna juga putra mahkota." ucap Aleardo yang berakhir mendapat cubitan oleh Ana.
:"Kamu tidak sopan, Aku menolak itu Liam. Aku sudah bertekad membantu kota ini untuk kembali seperti sedia kala." ucap Ana.
"Hey sejak kapan kamu mulai memanggilnya Liam?" tanya Aleardo kesal. Padahal dia sudah senang saat Ana tidak lagi memanggil nama pada musuh saingannya itu.
"Sejak beberapa waktu lalu. "
"Aku tidak menerima ini kamu haru panggil dia putra mahkota lagi."
"diamlah Aleardo kamu tidak seperti seorang Archduke kalau seperti ini. " ucap Ana sebal.
"Aku tidak menginginkan gelar itu, hey kamu putra mahkota. Aku akan membawa Ana kembali ke ibukota untuk sisanya kamu yang urus tenang aku sudah menggunakan sedikit sihirku untuk membantu kamu." ucap Aleardo.
Pemuda itu membawa Ana dalam pelukan dan melakukan teleportasi tanpa izin pada siapapun. Dia memang sangat seenaknya apalagi sekarang dia memiliki gelar yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Selain itu kekuatannya tidak ada yang menandinginya.
"Dasar anak itu bahkan dia semakin tergila-gila dengan Ana." ucap Raindhen.
Raindhen berjalan keluar dari tenda dan saat dia lihat keadaan kota sunggu membuatnya terkejut. Dia segera kembali menghadap Putra mahkota untuk menginformasikan keadaan kota yang baru saja dia lihat tadi.
"Putra mahkota sebaik melihat keadaan kota saat ini." ucapan Raindhen membuat putra mahkota sadar. Dia ingin Aleardo mengatakan sudah menggunakan sihirnya sedikit untuk membantunya. Sebenarnya apa bantuan yang pemuda menyebalkan itu berikan padanya.
Putra mahkota melihat kota vioner. Dia tidak menemukan runtuhan bangun kota vioner akibat penyerangan beberapa bulan lalu. Sekarang keadaan kota itu seperti sedia kala sangat indah. Sebenarnya seberapa besar sihir Aleardo hingga dapat mengembalikan kondisi sebelumnya kota ini.
"Padahal dia bilang hanya menggunakan sedikit sihirnya tapi ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh penyihir agung sekalipun. " ucapan Raindhen sangat dibenarkan oleh pemikiran Liam. Sihir pengembali itu sangat menghabiskan mana apalagi aleardo menggunakan pada kota ini. Seorang penyihir agung saja tidak memiliki kekuatan untuk melakukan hal ini karena mana yang dibutuhkan dapat membunuh penggunanya.
"Dia memang seseorang yang misterius." ucap Putra mahkota.