Female Villainess

Female Villainess
122. Sihir kehidupan



Setelah kepergian pangeran damian dan Raindhen. Ana masuk kembali ke dalam rumah untuk mengecek kondisi ibu dari anak gadis itu. Dia menggunakan sihirnya untuk mengetahui kondisi tubuh wanita di depannya. Sesaat kemudia Ana dapat mengetahui kalau wanita di depannya secara bersih dari efek buah iblis.


"Jadi hukuman apa yang cocok untuk kamu Ana." ucap Aleardo yang sudah berdiri di belakang Ana. Kedua tangannya dilipat di dadanya.


"Jangan kekanakan Aleardo. Hukuman itu kita bicarakan nanti saja. Masih ada Count Wirken yang harus kita lihat kondisinya saat ini. Kamu tahukan efek dari benda sihir dengan sumber energi hitam pada manusia biasa maupun penyihir." ucapan Ana membuat Aleardo akhirnya harus mengalah untuk saat ini.


hahahaha maafkan aku Aleardo. Tapi aku tidak ingin mendapatkan hukuman untuk saat ini. Sekali-kali membuatmu kesal tidak masalah bukan.


Ana berdiri dari posisi duduknya. Dia berjalan menuju Yirlendi yang sedang melihat anak perempuan itu. Ana dapat melihat wajah kekhawatir dari naga milik Aleardo.


"Bisa kah kamu berhenti menatap anak kecil itu. Kamu seperti Pedofil." ucap Ana membuat Yirlendi langsung menatap tajam Ana. Dia kesal disebut pedofil walaupun kenyataan memang seperti itu.


"Aku tahu kalau kamu menyukainya Yirlendi tapi belum saatnya. " ucap Ana sambil menepuk bahu naga itu.


"Kenapa nih bocah sekali suka sama anak kecil ." ucap Luxorius yang tidak sadar dengan dirinya. Bahkan Naura sudah menatap tajam suaminya itu. Dia tidak habis pikir dengan raja naga ini. Dia lupa kalau dulu juga sama seperti Yirlendi.


"Bukankah kamu juga menyukai Naura saat dia seumuran ini." sindir Yirlendi yang membuat Luxorius mati kutu dengan ucapan bawahannya.


"Makanya jangan suka menghina orang lain. Kenakan kamu." ucap Naura.


"Sudahlah kalian, kita harus segera ke tempat count Wirden." ucap Aleardo yang sebal dengan keadaan saat ini. Dia ingin segera membawa Ana kembali kekediamannya. Semakin mereka bersantai-santai maka waktunya bersama Ana juga semakin berkurang.


"Kamu benar Aleardo, Yirlendi aku titip mereka. Aku, Aleardo ,Naura dan Luxorius akan pergi ke kediaman count Wirken." ucap Ana.


Tentu saja Aleardo mengetahui kediaman Count Wirken. Count Wirken adalah salah satu komandan pasukan dari kelompok Aleardo. Count Wirken seorang yang ramah dan baik hati. Makanya Aleardo sedikit terkejut saat tahu kalau nyonya Wirken yang pernah mengundangnya dulu berada di rumah kumuh ini.


Aleardo sangat ingat keharmonisan pasangan itu. Tentu saja tidak mungkin begitu saja seorang Count yang  sangat mencintai istri dan anaknya. Tiba-tiba membawa wanita asing seperti wanita yang dibawa oleh Raindhen. Ternyata benar kalau wanita itu menggunakan sihir pengendali untuk mengendalikan Count Wirken yang tidak memiliki sihir sama sekali.


Count Wirken memang bukan seorang penyihir. Dia hanya ksatria yang handal dalam berperang. Teknik berpedang Count Wirken sangat terkenal dengan ketanggguhannya. Bahkan Aleardo mengakui seni pedang dari keluarga Count. Seorang yang tidak memiliki sihir akan lebih muda dikendalikan oleh benda sihir. Karena tidak perlindung dari sihir hitam di tubuhnya. Sihir perlindung berasal dari Energi sihir setiap orang yang memiliki bakat dalam sihir.


"Aku tahu kediaman Count Wirken. Kita bisa menggunakan sihir teleportasi. Jadi Yirlendi aku salankan kamu menggunakan sihir perlindung pada tempat ini. Ada seseuatu yang aneh dari daerah ini." peringatan Aleardo sebelum keempat orang itu menghilang dari hadapan Yirlendi.


Yirlendi segera melakukan saran dari Aleardo. Tentu dia tidak perlu ragu dengan firasat pria yang berikatan dengannya. Bagaimana Aleardo seorang raja iblis yang memiliki keahlian dalam merasakan aura sekitarnya. Pasti ada beberapa orang yang berniat buruk pada tempat ini. Sehingga Aleardo berpikir akan lebih baik menggunakan sihir perlindung jika hal itu terjadi.


Aleardo dan ketiga orang tiba di kediaman Count. Sungguh Aleardo sedikit terkejut dengan kediaman di dapannya. Dia sangat ingat beberapa tahun lalu. Tempat ini sangat asri dan indah tapi sekarang Kediaman count Wirken menjadi tempat yang gersang. Terlihat banyak pohon yang layu dan tidak terurus. Bahkan Aleardo dapat merasakan aura yang sangat tidak nyaman berasal dari bangunan di depannya.


"Auranya sangat tidak nyamna." ucap Ana yang membuat Aleardo langsung menarik tubuhnya kedalam pelukan pria itu.


"Sepertinya wanita itu sudah terlalu banyak menggunakan energi hitam di tempat ini. Hal itu menjadi kondisi tempat ini menjadi tidak hidup. Bagaimanapun benda sihir yang digunakan energi sihir hitam akan menarik energi kehidupan disekitarnya. " Jelas Aleardo.


Ana menggunakan sihirnya pada tanaman disekitar kediaman. Perlahan taman yang tadinya layu mulai tumbuh kembari dan segar lagi tapi hal itu hanya bertahan beberapa saat. Semua tanaman kembali layu dan kering kembali.


"Efeknya ternyata sudah separah ini." ucap Ana melihat kondisi kediaman Count Wirken.


"ayo kita masuk." ucap Aleardo.


Sepanjang mereka merangkah, kediaman Count terlihat seperti tempat tak berpehuni. Tidak ada pelayan maupun pengawal yang berlalu larang. Hal itu tentu membuat Ana dan Aleardo curiga dengan kondisi seperti ini.


"Kita harus menghancurkan benda sihir yang disimpan oleh wanita itu. Ternyata benda sihir itu bukan hanya mempengaruhi count saja tanpa seluruh tempat ini." jelas Ana.


Saat mereka memasuki rumah itu. Semua orang seperti tidak menyadari kehadiran mereka. Terlihat para pelayan seperti tubuh tanpa jiwa. Mereka tetap berkegiatan tapi tatapan mereka kosong. Ana dan Aleardo terus menyusuri tempat itu. Hingga Aleardo sadar kalau ada sumber energi hitam yang sangat tidak beraturan dari ruang count dan countess.


Keduanya masuk kedalam ruangan itu. Sedangkan Naura dan Luxorius mereka melihat kondisi di kediaman ini.  Saat Ana masuk kedalam ruangan itu. Sebuah asap hitam berniat menyerang tubuh Ana tapi dengan cepat Aleardo berdiri di depan asap itu. Asap hitam itu berpedar menjauh dari Aleardo seperti ketakutan dengan keberadaan Aleardo.


"Bukankah kamu harusnya menunjukkan wujudmu." ucap Aleardo bersamaan asap hitam yang tadi berniat menyerang Ana berubah menjadi seorang pemuda dengan dua tanduk di kepalanya.


"Bagaimana kamu bisa berada di dunia ini?" tanya Aleardo.


"hormat saya pada baginda raja Hictor. Saya ada disini karena sebuah perjanjian dengan manusia." ucap iblis itu pada Aleardo.


"Aku tahu kamu sedang berbohong anak muda."


"baginda saya berada di sini karena terikat dengan benda sihir yang dibeli oleh pemilik saya." ucap iblis.


"Aku bisa memberikan kamu kebebasan tapi kamu harus menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya."


"Semua ini perbuatan tangan kanan Xavier baginda. Dia memasukkan jiwa iblis yang lemah seperti saya kedalam benda sihir. Kami terpaksa terikat bagi pemilik benda sihir itu. Walaupun kami tidak menginginkannya. Saya juga tidak bisa mengontrol energi sihir kami. Karena setiap iblis yang dimasukan dalam benda sihir akan mengalami ketidak stabilan energi sihir. Hal itu membuat saya membutuhkan jiwa para manusia untuk menstabilkannya." jelas iblis itu .


"Kamu tahu kesalahan yang telah diperbuat."


"Ya baginda. Tapi saya juga tidak bisa mengontrol energi sihir saya."


"Aku akan mengembalikan kamu ke dunia iblis. Sebelum itu dimana benda suci yang mengunci jiwamu."


Iblis itu menunjuk sebuah kalung yang terpasang di tubuh Count. Terlihat sekali tubuh Count sudah seperti mayit hidup. Energi kehidupannya seperti terserap oleh kalung itu. Aleardo langsung menghancurkan kalung itu dan Energi hitam di kediaman count menghilang begitu saja.


"Dia terlalu banyak mendapatkan dampak dari Energi hitam. Aku tidak yakin bisa mengembalikannya." ucap Ana yang mengeluarkan sihirnya tapi ditahan oleh Aleardo.


"Ana aku tidak ingin kamu terluka seperti tadi. Ini sangat bahaya." ucap Aleardo.


"Tenanglah, aku hanya memberikan sihir kehidupan untuknya. Sisanya hanya kembali kepada usaha count. Dia ingin tetap hidup atau meninggalkan dunia ini." ucap Ana bersamaan sebuah lingkaran hijau muncul di dahi pria itu. Lingkaran hijau itu mengeluarkan cahaya membuat ruangan itu sangat silau dalam beberapa saat.


"Aku harap kamu masih ingin hidup dan bertemu keluarga kecilmu." ucap Ana yang ternyata terdengar oleh count.