
Hari adalah perayaan atas kemenangan perang di perbatasan timur. Selain itu juga, pesta ini menjadi pengingat untuk bergabungnya kerajaan bagian timur. Semua ini berkat keberanian Ana yang menebas kepala raja kerajaan timur. Tentu itu adalah rumor yang menyebar di lingkungan para bangsawan.
Rumor mengenai keberanian seorang nona muda dari keluarga marques xieben Natlastion. Nona muda yang baru menginjak umur 14 tahun tapi sudah memiliki keahlian berpedang setingkat dengan marques xieben yang tak lain ayahnya. Selain itu Anabella Rose Natlastion memiliki kepitaran dalam menyusun strategi perang.
Bahkan rumor baru menyebar mengenai keahlian Ana dalam melakukan tugas yang perintahkan oleh sang raja. Beberapa hari yang lalu Nona Anabella dapat menangkap perkumpulan penyihir hitam yang selama ini dicari oleh kerajaan.
Berbagai rumor mengenai Anabella di seluruh kerajaan. Tentu itu membuat Anabella risih dan terganggu. Bahkan ibu mengatakan kalau banyak surat lamaran yang masuk di kediaman marques. Hal itu membuat dua pria di dalam kediaman itu marah dan kesal. Mereka tidak rela ada orang lain yang meminang Ana. Padahal Ana masih anak berumur 14 tahun.
Tapi sepertinya kedua pria berbeda generasi itu lupa kalau anak yang mereka bilang masih kecil. sudah dapat menebas seorang raja dengan keahlian pedang yang tidak bisa dianggap remeh. Bahkan nyonya marchiones sudah sebal mendengar protes sang suami.
Sedangkan orang yang menjadi sumber masalah itu tidak mempedulikan mengenai semua itu. Dia bahkan dengan santai memakan kudapan yang dia buat tadi sambil membaca buku yang baru saja dia temukan di perpustakaan. Buku itu memiliki judul girl of historical. Sebenarnya dia tidak tahu apa isi buku yang dia baca. Hanya saja saat melihat buku itu dia sedikit tertarik.
Aleardo yang sejak tadi berbicara panjang kali lebar pada Ana. Namun tidak di dengar karena isi ucapan Aleardo hanya protes kepada sang raja.
"Dasar rakyat yang membangkang pada raja "gumam ana pelan.
" aku tidak peduli itu, Dia memang raja yang menyebalkan." ucap Aleardo dengan nada yang menggebu-gebu. Tapi semua itu tidak dipedulikan oleh Ana.
" berhentilah protes Aleardo. kenapa sekarang kamu seperti wanita? terlalu banyak berbicara. "ucapan Ana membuat Aleardo tersadar akan sikapnya akhir-akhir ini.
Tentu Aleardo tidak peduli dengan ucapan Ana. Walaupun akhirnya Aleardo berhenti dengan acara marah - marahnya. Dia membuka buku yang baru dia temukan di dalan istana kerajaan.
Tapi fokus Aleardo teralihkan saat melihat Ana yang fokus dengan bukunya. Padahal biasanya Ana tidak akan bisa bertahan lama untuk membaca buku. Kecuali buku mengenai strategi perang.
"buku apa yang sedang kamu baca?"
"entahlah. mungkin ini buku cerita. Tapi ini buku yang cukup menarik. " ucap Ana yang matanya masih fokus pada setiap kata yang tertulis pada buku itu.
Aleardo sangat terkejut melihat Ana yang sangat menikmati membaca buku. Padahal Ana biasanya berakhir melempar buku karena bosan. Sangat kejadian yang sangat langka.
"Kenapa kamu memperhatikan aku seperti itu?"tanya Ana dengan nada yang sedikit ketus.
Aleardo tiba-tiba mengambil buku itu. karena terakhir kali buku yang membuat seorang Ana tertarik membaca buku adalah buku mengenai penyembuhan menggunakan mana hijaunya.
"apaan sih? aku sedang asik membaca buku itu." ucap ana kesal. Dia mencoba mengambil buku itu kembali. Tapi sangat sulit karena Aleardo mengangkat tangannya tinggi sehingga buku tidak dapat diraihnya.
"girl of historical. aku baru pernah melihat buku ini. sepertinya kamu selalu menemukan buku yang tidak pernah aku baca. " ucap Aleardo.
Dia melihat-lihat cover buku itu. sangat sederhana menurutnya. Cover yang memiliki warna dominan hijau tua dengan tulisan judul itu saja.
"Apakah ini buku cerita?"tanya Aleardo sambil memberikan buku itu pada Ana. Tentu Ana mengambil buku itu dengan sebal. Karena dia lupa tadi bagian terakhir yang dia baca.
Dia membuka buku itu, mencari bagian terakhir yang dia baca. Sunggu dia kesal karena Aleardo merebut buku itu dia menjadi sulit menemukan halaman terakhir yang dibacanya.
"Hanya buku cerita biasa." ucap Aleardo.
"Ya, kamu pikir aku akan sangat berminat untuk membaca buku sihir seperti yang biasa kamu baca. Sungguh buku yang sangat membosankan dan membuat kepalaku ingin pecah. " ucap Ana.
Perkataan Ana malah membuat Aleardo tertawan peran. Hal ini yang biasa diucapkan kalau dia menemani Aleardo membaca buku-buku sihirnya. Padahal buku yang dibaca Aleardo sudah dia selesaikan namun Dia selalu membacanya ulang.
"Kamu sudah tidak pergi ke butik padahal hari ini adalah perayaan kemenangan kamu." ucap Aleardo.
"Aku tidak tertarik, sungguh aku tidak ingin hadir. Kalau bukan itu permintaan raja. Selain itu aku sedikit takut dengan penampilanku sekarang." ucap Ana.
Dia jadi tidak mood untuk membaca kembali buku ini. Aleardo mengingatkan tentang pesta malam ini. Pesta ini mungkin tidak akan menarik seperti pesta sebelumnya. Apalagi penampilannya sudah berubah derastis. Hanya beberapa orang yang tahu tentang kondisinya saat ini. Hal ini yang dia takuti saat bertemu dengan para bangsawan lain.
"Bukankah dulu kamu yang selalu membuat aku mencintai keadaan ini. Jangan pedulikan pandangan orang lain yang tidak mengerti dengan kamu. Mereka hanya suka bergunjing untuk kesenangan mereka. Jangan tunjukkan kelemahan yang membuat mereka senang karena mendapatkan mangsa yang menarik. Sekarang ucapan yang selalu kamu beritahu padaku dulu, Harus kamu juga lakukan pada diri kamu. Mana Ana gadis yang sangat pemberani danĀ tidak peduli dengan pandangan para bangsawan." ucap Aleardo. Dia mengelus puncak surai putih itu. Rambut sangat indah dan lembut. Walaupun mereka akan membenci keberadaan Ana tapi untuk Aleardo keberadaan Ana melebih keberadaan makluh hidup di dunia ini.
"Kamu benar Aleardo, Beberapa waktu ini aku terlalu berlarut di dalam mimpi itu. Mimpi yang belum menjadi masa depan aku. Terima kasih Aleardo kamu selalu ada di sampingku. Selalu berada saat aku membutuh seseorang untuk merangkul dan menyadarkan dari kegelapan dunia ini." ucap Ana. Dia memeluk tubuh Aleardo. Tentu itu pelukan diterima dengan senang hati oleh Aleardo.
"Aku akan selalu berada di samping kamu dan melindungi perasaan dan tubuh kamu." janji Aleardo dalam hati.
Beberapa saat Ana melepaskan pelukan itu. Ada rasa canggung yang dirasakan oleh Ana. Dia tidak tahu perasaan yang dia rasakan. Satu hal yang dia tahu adalah rasa nyaman yang dia dapatkan.
Saat mereka asik dengan buku yang mereka baca. Lila datang dengan tergesah-gesah. Bahkan terlihat wajah kesal pada muka pelayan.
Hubungan ana dengan lila sangat dekat. Bahkan sekarang Lila sudah sangat berani memarahi Ana atau menarik kuping Ana kalau dia membuat Lila kesal. Seperti saat ini, Lila sangat kesal karena nonanya kabur tiba-tiba. Padahal Ana harus pergi ke butik bersama nyonya marchiones untuk mencoba gaun yang akan digunakan malam ini. Tapi Ana tiba-tiba hilang dan tidak bisa ditemukan oleh Lila. Tentu hal itu perbuatan Aleardo atas permintaan Ana.
"Ana aku sudah mencari kamu keliling istana tapi tidak menemukan kamu. Pasti ini permbuatan tuan muda Aleardo bukan. Sekarang Ana harus ikut aku ke kamar. "
"Aduh kak lila santai saja. Sini duduk, minum dulu teh." ucap Ana santai. Dia sangat tidak sadar kalau lila sedang sangat marah pada nonanya ini.
"Tidak ada waktu untuk santai-santai menikmati teh. Karena kamu harus melakukan perawatan dan persiapan untuk pergi ke pesta malam ini." ucap Lila.
"kak Lila, bukankah memakai gaun tidak membutuhkan waktu yang lama jadi..." ucapan Ana terpotong dengan tarikan tangan Lila. Pelayan itu sudah tidak akan mendengarkan ucapan nonanya.
"Aleardo selamatkan aku." teriak Ana meminta tolong bantuan pada Aleardo tapi tidak dipedulikan oleh pemuda itu. Dia bahkan dengan santai membaca bukunya kembali dan menggunakan sihir yang membuat Ana tidak bisa kabur.
"Aleardo sialan awas ya kamu." teriak Ana marah.