
Ana sudah terkurung selama satu minggu di kediaman Aleardo. Kedua naga tidak dapat membantunya karena mereka juga marah dengan sikap Ana saat bersama dengan putra mahkota. Selama dia dikediaman Aleardo, dia tidak diizinkan berlatih pedang. Dia harus memjadi pengganti Raindhen selama berada di perbatasan barat kerajaan. Selain itu seluruh makanan selama minggu harus dibuat oleh Ana.
Hukumana Aleardo sekarang benar-benar membuat Ana lelah. Dia sengaja membuat Ana sibuk agar tidak kesempatan untuk gadis itu memikirkan cara untuk kabur. Walaupun pada akhirnya kedua naga itu ikut protes pada Aleardo yang dengan tega membuat Ana lelah. Namun Aleardo tidak memperdulikan itu.
"Aleardo aku cape banget." ucap Ana yang merasa badannya ingin remuk bagaimana tidak sejak pagi sekali. Dia sudah dibangunkan oleh Aleardo untuk memasak. Walaupun dia menyukai memasak tapi tidak setiap hari. Dia sudah terbiasa dilayani oleh para pelayan. Namun sekarang dia harus menjadi pelayan pribadi yang melayani tuan Archduke itu.
"Aku tidak peduli, itu hukuman untuk kamu yang sudah melanggar janji kamu padaku." ucap Aleardo.
"Aku tidak pernah melanggar janji apapun." ketiga pemuda yang berada di ruang kerja Aleardo hanya menatap sinis dengan ucapan Ana. Dia lupa beberapa hari lalu sudah menghabiskan waktu dengan putra mahkota. Padahal dia sudah berjanji pada mereka untuk tidka berinteraksi dengan putra mahkota.
"Baiklah aku tahu salah sudah bertemu dengan Liam tanpa berbicara pada kalian. Tapi aku tidak bisa menolak perintah itu. Bukankah aneh kalau aku menolaknya. Liam akan curiga tentang ingatanku yang sudah kembali." Jelas Ana yang tidak ingin disalahkan sepenuhnya.
"Tapi kamu sangat menikmatinya Ana. Bahkan saat putra mahkota pergi meninggalkanmu untuk bertemu Aleardo. Kamu dengan santainya makan kudapan hingga pria itu kembali." ucap Luxorius yang membuat Aleardo menatap marah pada kebiasaan Ana. Gadis itu sangat susah untuk tidak teralihkan. Apalagi dia diberikana makanan kesukaannya maka Ana akan dengan mudah teralihkan.
"Masalahnya makanan itu sangat mengiurkan." jelas Ana.
"Kamu dilarang makan kudapan selama tiga hari." ucap Aleardo yang membuat wajah Ana sendu.
"Aleardo jangan begitu. Kudapan adalah sebagai hidup Ana." protes Ana pada Aleardo. Bahkan gadis itu sudah berpindah duduk jadi disamping Aleardo, Dia mencoba merayu Aleardo agar hukamannya tidak ditambahkan.
"Kamu harus mengontrol kegilaanmu pada kudapan." ucap Aleardo.
"Aleardo, Ana marah kalau kamu melarang Ana makan kudapan." ucap Ana.
"huh, kamu tahu suka melupakan orang sekitar bila sudah disuguhkan kudapan. Kamu selalu menurukan tingkat kewaspadaan kamu saat itu." ucap Aleardo yang dijawab anggukan kepala oleh Ana.
"Tapi Ana tidak mau berhenti makan kudapan. aku janji tidak akan mengulangi itu." ucap Ana.
"Tersertah kamu saja." ucap Aleardo yang sudah lelah berdebat dengan Ana.
Mereka kembali pada kegiatan masing-masing. Aleardo mengerjakan laporan mengenai keuangan dan militer di daerah kekuasaanya. Ana mengerjakan beberapa laporan yang dikirimkan Chino untuk dia kerjakan. Laporan mengenai proses penerimaan ksatria baru untuk pasukan istana. Mungkin beberapa hari lagi dia akan sibuk di istana. Aleardo sudah tidak bisa menahan Ana lagi. Karena dia juga harus kembali ke ibukota untuk mengurus pasukan yang akan masuk.
Sedangkan ditempat lain, Putra mahkota masih kesal dengan kejadian di taman lavender. Apalagi dia tidak menemukan keberadaan Ana di kota ini. Dia menduga kalau Aleardo sudah membawa Ana keperbatasan barat. Putra mahkota tidak bisa menginjakkan kakinya di daerah kekuasaan Archduke karena Aleardo menggunakan sihir pemurni dan sihir itu akan merusak jiwanya.
"Tunggu saja setelah kalian kembali, Aku akan memberika petunjukkan yang menarik. Bagaimana kalau kita membuat sang Archduke berdekatan dengan wanita lain." ucap Putra mahkota sambil menyesapi winenya.
Akhirnya Ana bisa kembali ke ibukota dengan berjanji untuk tidak menemui putra mahkota lagi. Jika itu mendesak, Ana harus mengabari Aleardo terlebih dahulu. Ana hanya menyetujui itu dibandingkan harus menjadi pelayan Aleardo. Itu sangat melelahkan.
Hari-hari berjalan dengan cepat, Seperti musim panas tahun-tahun sebelumnya. Kerajaan akan mengadakan pesta perayaan musim panas. Salah satu acara dalam pesta itu adalah lomba berpedang, berpanah , dan berkuda untuk para ksatria. Pada umumnya yang dapat memenangkan perlombaan itu mendapat kenaikan tingkat/jabatan. Oleh karena itu para ksatria sangat bersemangat untuk ikut dalam perlombaan musim panas. Puncak acara dari pesta adalah pesta topeng. Rumor beredar kalau pasangan pertama pada pesta topeng adalah pasangan yang ditakdir untuk hidup bersama.
Ana tidak begitu tertarik dengan pesta topeng. Dia lebih tertarik dengan perlombaan ksatrian. Bukan karena ingin naik jabatan tapi dia hanya ingin mencari orang-orang yang bisa menyatarakan keahliannya. Karena hanya Aleardo dan ayahnya yang sampai saat ini bisa mengalahkan Ana.
Sedangkan Aleardo sangat berminat pada pesta topeng tahun ini. Dia akan berdansa dengan Ana. Karena tidak sulit untuknya mengetahui Ana walaupun gadis itu menggunakan topeng. Dia mengetahui aura dari gadis itu dan dia tidak akan membiarkan putra mahkota mengambil tempatnya.
"Apakah nona Anabella benar-benar akan ikut perlombaan kali ini?" tanya seorang ksatria pada Ana.
"Ya, Kenapa?"
"Pasti ada sesuatu yang ingin kamu katakan bukan?"
"Sebenarnya nona, banyak ksatria baru yang menanti kehadiran anda di perlombaan musim panas ini." ucap Chino
Anabella menjadi primadona di para pasukan ksatria. Bagaimanapun Ana seorang wanita muda yang memiliki pesona dan wajah yang cantik. Sangat jarang ksatria wanita yang memiliki fisik sesempurna Ana. Karena itu hampir semua ksatria di kerajaan ini membicarakan Ana. Mereka sangat menanti pertandingan gadis itu.
"Sepertinya saya memiliki banyak penggemar ya Chino." Ucap Ana yang masih fokus dengan laporan di depannya.
"Ya, Anda menjadi pembicaraan di seluruh pasukan ksatria di kerajaan ini." ucap Chino
"Aku harap Aleardo tidak mengetahuinya kalau begitu, Karena penyihir gila itu akan mengamuk." ucap Ana.
"Tentu saja tidak akan tahu, kami semua masih ingin hidup. Jika Tuan Aleardo mengetahui kita akan berakhir dengan batu nisan." ucap Chino
Hampir tidak ada orang yang tidak tahu mengenai Aleardo dan Ana. Walaupun keduanya tidak memiliki ikatan resmi namun para bangsawan dan ksatria sudah tahu mengenai hubungan keduannya. Lebih tepatnya Archduke Aleardo sangat protectif dan pencemburu. Membuat marah seorang Archduke sama dengan memanggil malaikat maut untuk kembali kepada sang pencipta secepatnya.
"Aku berharap perlombaan kali ini berjalan dengan lancar." ucap Ana.
"Tentu saja aku tidak mengizinkan kamu ikut Ana." ucap Aleardo yang tiba-tiba muncul di ruangan itu.
"Aleardo."
"Kamu tidak ikut dalam perlombaan kali ini."
"Maaf tapi aku tidak bisa untuk tidak ikut." protes Ana.
"ANA."
"Kenapa?"
Aleardo terdiam saat Ana meminta alasan kenapa dia tidak perbolehkan untuk mengikut perlombaan itu. Chino sudah keluar sejak Aleardo masuk. Dia tidak ingin berakhir menyedihkan seperti Raindhen yang menjadi pelampiasan sang panglima muda itu. Semua orang di istana tahu nasib buruk yang menimpa Raindhen selama menjadi tangan kanan Aleardo. Tapi dia tidak bisa keluar dari posisi itu selain permintaan sang raja, kapan lagi mendapatkan jabat yang tinggi dengan mudah.
"Jangan melarangku Aleardo,Bagaimana kalau kita bertanding? seperti biasa yang kalah harus mengambulkan permintaan sang pemenang."
"Siapa takut." ucap Aleardo.
Aleardo langsung menghilang setelah mengucapkan keikut sertaanya dalam perlombaan yang akan diadakan dua hari lagi. Ana hanya mengendus kesal melihat kebiasaan Aleardo yang selalu datang dan pergi begitu saja tanpa membawa buah tangan. Tapi Ana tidak menduga tiba-tiba beberapa kue sudah tersedia di meja dekat sofa.
"Aku bisa membaca pikiranmu, nikmati kudapan itu." teleparti Aleardo.
Ana langsung berjalan menuju tempat kudapannya diletakkan. Mungkin beristiraha sebentar tidak masalah.
Hallor Readers, Thankyou sudah membaca cerita author sampai saat ini. Ayo nantikan terus perjalanan cinta Ana dan Aleardo. Apakah mereka dapat berakhir bahagia atau berakhir seperti kehidupan sebelumnya?
Jangan lupa Like, Comment, dan follow akun author.