Female Villainess

Female Villainess
124. Pembagian Tugas



Semua orang telah berkumpul di ruang kerja Aleardo. Hanya Yirlendi saja yang belum datang. Biasanya Yirlendi selalu datang pertama dan merecoki suasana. Sekarang orang merasa kepanasan oleh dua pasangan tak tahu diri hanya Raindhen. Terlihat beberapa kali pria itu menggigit kukunya saat kedua pria tidak tahu sopan santun itu memberikan kecupan pada wanitanya. Rasanya dia rindu Yirlendi yang memiliki nasib yang sama.


Beberapa saat kemudian Yirlendi muncul di ruangan dengan wajah lesuh. Semua orang langsu fokus pada pria itu. Sayangnya Yirlendi tidak mempedulikan tatapan yang lain padanya. Sekarang perasaannya sedang sedih gundah gulana.


"Kenapa kamu baru datang?" tanya Aleardo tapi tidak ada jawaban dari Yirlendi. Pria itu malah beberapa kali membuang nafas dengan kasar. Sepertinya jiwanya tidak berada di dalam tubuhnya.


"Sudahlah dia sedang jatuh cinta. Jadi tidak usah pedulikan dia." ucap Luxorius yang paham dengan keadaan Yirlendi saat ini. Karena dia dulu juga seperti saat jatuh cinta pada Naura.


"kamu benar."


"Lihatlah naga itu saja sudah menemukan wanita, kamu kapan kawan.?" tanya pangeran damian pada Raindhen yang tidak tahu kalau perkataanya membuat harga dirinya hancur. Sebagai salah satu pria yang disukai di kerajaan ini karena anak dari keluarga duke dan bekerja sebagai tangan kanan sang Grand duke. Tapi sampai sekarang dia belum nemukan wanita yang pas untuknya


Mungkin wanita yang mengantri banyak tapi mereka hanya memandang Raindhen dari suduk kekayaan, kekuasaan dan fisiknya saja. Tentu saja dia ingin mendapatkan wanita seperti Aleardo maupun Luxorius. Wanita yang selalu berada di sisi kedua pria bagaimanapun keadaan mereka.


"Sudahlah jangan kamu ungkit itu. Tugasku saja sudah menumpuk. Sepertinya aku baru dapat kesempatan ketika tuanku bekerja dengan benar."


"Kamu sedang membicarakanku Raindhen." ucap Aleardo yang memang memiliki pendengaran yang baik. Tatapan tajam mengarah pada Raindhen yang membuat pria itu keringat dingin tanpa sadar.


"Sudahlah, ayo kita mulai pembicaraan." ucap Ana sebagai penengah. Jika dibiarkan keributan itu. Entah kapan mereka akan membicarakan masalah yang bisa kapan saja membahayakan nyawa manusia kedepannya.


"Kamu benar sayang. Kalian sudah tahu berita tentang penyebaran benda sihir yang bersumber dari energi iblis. Kita harus mencari sumber penyebaran walaupun aku tahu pelakunya. Tapi kita juga harus memberhentikan penggunaan benda itu di tangan rakyat yang tidak memiliki sihir." ucapAleardo.


"Karena kita semua memiliki energi sihir, benda sihir tidak akan terlalu berpengaruh pada kita. Selain itu energi sihir kita akan membentengi efek negatif dari sihir itu. " jelas Ana.


"Saat dikediaman count Wirken, kami menemukan beberapa pelayan menggunakan benda sihir. Mereka berpikir benda sihir itu sebagai jimat keberuntungan. Ternyata benda itu dijual di pasar rakyat kalangan rendah dengan harga yang terbilang murah . Para penjual mengatakan kalau benda sihir itu akan memberikan kasiat pada penggunanya." jelas Luxorius.


Saat Ana dan Aleardo mengecek kondisi Count. Luxorius dan Naura mengecek kondisi seluruh bangunan count. Ternyata tidak hanya satu orang saja yang menggunakan benda sihir itu. Benda sihir itu juga beredar pada ksatria count Wirken.  Beruntungnya mereka sempat menghancurkan benda sihir itu sebelum para iblis sepenuhnya mengendalikan tubuh mereka.


"Beruntungnya para iblis yang tertidur di benda sihir itu belum sempat mengendalikan tubuh mereka sepenuhnya." ucap Naura.


"Kalau begitu kita tidak ada waktu lagi. Kita harus membagi menjadi beberapa kelompok agar masalah ini bisa segera selesai. Aku juga khawatir dengan beberapa orang yang sudah menggunakan benda sihir itu." ucap Ana.


"Yirlendi." panggil Aleardo tapi pria itu sama sekali tidak menghilaukan panggilannya.


"huh, Yirlendi sadarlah. Kita ada waktu lagi untuk memikirkan yang lain." ucap Aleardo pada Yirlendi.


Pria itu baru saja sadar saat Raindhen menepuk bahunya sedikit lebih keras. Yirlendi baru sadar kalau sejak tadi dirinya melamun. Dia merasa bersalah karena tidak fokus dengan rapat malam ini.


"Sekarang kamu sudah bisa fokus." ucap Aleardo dengan tatapan kesal pada naganya itu.


"Hilangkan dulu pikiranmu tentang gadis kecilmu. Aku sudah mengurusnya jadi sekarang kita selesaikan masalah yang sedang menanti kita. Kamu tidak inginkan dunia hancur sebelum bisa menikah dengan gadis kecilmu." sindir Aleardo yang membuat pipi Yirlendi bersemu. Karena majikannya menyadari yang membuatnya risau beberapa waktu ini.


"Aku dan Ana akan mengurus sumber masalah benda sihir, Luxorius dan Naura kalian mencari orang-orang yang menggunakan benda sihir itu dan pastikan benda itu hancur. Pangeran damian dan Raindhen kalian harus mengecek pasar gelap dan pasar rakyat yang menjual barang-barang itu. Sedangkan kamu Yirlendi gunakan sihirmu untuk melihat orang-orang yang bekerja sama dalam penjualan barang-barang itu. Aku yakin kamu bisa menemukannya. Orang itu pasti salah satu bangsawan kerajaan ini." jelas Aleardo.


"Kapan kita bergerak?" tanya pangeran Damian.


"Besok malam, untuk kalian berdua." tunjuk Aleardo pada pangeran damian dan Raindhen.


"Sedangkan Luxorius, Naura, dan Raindhen bukankah kalian bisa melakukan dari sekarang juga." ucap Aleardo yang langsung dianggukan kepala.


"Lalu kamu kapan ?" tanya Luxorius.


"Aku dan Ana akan pergi ke dunia iblis malam ini. Sisanya aku andalkan kamu Luxorius. Mungkin saat aku dan Ana di dunai iblis kita tidak bisa berkomunikasi kembali." jelas Aleardo.


"Baiklah kalau begitu aku dan Naura akan pergi terlebih dahulu."


Perlahan orang-orang pergi meninggalkan ruang kerja Aleardo yang hanya menyisakan dua orang saja. Keduanya asik dengan pikiran masing-masing. Mereka adalah Ana dan Aleardo. Aleardo sedang memikirkan sumber masalah dari benda sihir. Tentu saja dia tahu orang yang menjadi tangan kanan adiknya. Wanita yang tergila-gila padanya selama beribu-ribu tahun. Dia tidak menduga wanita itu akan melakukan hal yang senekat ini.


"Apa yang sedang kamu pikirkan." ucap Ana dengan elusan di wajah sang suami.


Aleardo menatap wanita di sampingnya. Dia masih belum percaya sekarang kondisi Ana seperti saat pertama kali mereka bertemu. Rambut merah muda dan mata hijau cerah. Tanpa sadar kedua mata mereka bertemu dan saling menyalurkan perasaan tanpa satu kata yang keluar dari mulut mereka.


"Aku tahu sekarang kamu sedang gundah. Tapi apa yang membuatmu seperti saat ini? aku yakin kamu tahu pelaku dari masalah ini. Siapa orang itu? apakah dia sangat penting bagimu hingga membuatmu seperti ini." ucap Ana dengannya mengusap pipi aleardo yang membuat pria itu sedikit tenang.


"Dia tidak sepentingmu, pelakunya adalah wanita yang selama ini berada di sisi Xavier. Selam ini dia selalu mengejarku dan melakukan berbagai cara aku bisa tunduk padanya." jelas Aleardo.


"Kalau begitu aku tidak akan biarkan suamiku tunduk pada wanita itu. Tapi kenapa dia berada di pihak xavier kalau dia mencintaimu?" tanya Ana yang sedikit tidak paham maksud dari suaminya.


"Dia berada di pihak Xavier untuk mengalahkanku. Jika hal itu terjadi dia berniat menjadikanku budaknya. tapi dia tidak akan pernah bisa melakukannya. Sekarang dia menyerang dunia manusia untuk membuat ketidak seimbangan. Dia berpikir dengan kekacawan ini mungkin hubungan kita akan hancur. Bagaimanapun kamu adalah penyihir yang memiliki tugas melindungi kaum manusia. Dia berpikir kamu akan marah dan menyalahkaku atas kejadian ini. Sehingga kamu akan meninggalkanku dan berbalik menjadi musuhku." ucap Aleardo yang sekarang mengalihkan tatapannya dari Ana. Dia merasa bersalah karena tidak bisa mengurus bangsanya sendiri. Padahal dia adalah seorang raja tapi sekarang rakyatnya malah mengibarkan bendera perang pada kaum manusia.


"Tenanglah aku tidak akan pernah menjadi musuhmu walaupun para manusia memintaku. Kamu lebih penting dibandingkan yang lain. Aku yakin kamu juga tidak akan menyerang kaum manusia bukan?"


"Tentu saja, ibuku juga adalah seorang manusai. Aku tahu kalau kita bisa hidup berdampingan seperti ibu dan ayahku." ucap Aleardo.


Keduanya berpelukan dan saling memberikan kehangatan. berharap pelukan mereka tidak akan pernah lepasa. Mereka selalu bergandengan di setiap permasalahan yang menghadang mereka. Saling membantu dala menyelesaikan semua masalah.