
Lambat laun wajah count yang tadi sangat pucat kembali berwarna. Perlahan-lahan matanya terbuka. Hal itu membuat Ana dan Aleardo ikut senang dengan pilihan dengan pria itu. Count sedikit terkejut saat melihat pasangan yang sangat fenomenal tahun ini berada di kamarnya sedang tersenyum.
"Selamat kamu telah kembali lagi." ucap Ana.
Ana meminta aleardo untuk membantu count untuk bersandar pada sandaran. Tentu saja pria itu langsung mengikuti permintaan sang istri. Ana memberikan segelas air putih pada Count.
"Bagaimana tuan Grand duke dan nyonya Grand ducess bisa berada di kediaman saya yang leyot ini. " ucap count wirken.
"Kamu benar-benar tidak berhati-hati Wirken." Langsung mendapatkan cubit dari Ana karena ucapannya yang sangat menyinggung orang lain ini.
"Sakit sayang." protes Aleardo pada Ana.
"makanya berbicaralah yang benar. Kamu sangat tidak terlihat seperti seorang bangsawan dengan gelar Grand duke." ucap Ana.
"Kamu pikir istriku ini terlihat seperti grand ducess." sindir Aleardo yang membuat wajah Ana cemberut. Suaminya selalu tahu cara membuat orang lain mengingat kesalahan di masa lalu.
"Jadi intinya tuan count selama ini dikendalikan oleh benda sihir yang diberikan oleh seorang wanita yang menjadi istri kedua anda." ucapan Ana membuat count Wirken terkejut bukan main.
"Saya hanya memiliki istri satu nyonya." ucap Count Wirken yang membuat ana tiba-tiba kesal mendengarnya.
"Aleardo kamu suruh Yirlendi bawa istri count ini dan anaknya." ucap Ana dengan nada yang sangat kesal. Wanita itu keluar dari kamar milik Count. Aleardo tidak berniat menyusul Ana karena tahu istrinya membutuhkan waktu untuk menenangkan rasa marahnya pada pria di depannya.
"Aku akan jelas secara singkat. Sebaiknya kamu memperhatikan Wirken. Tapi sebelum itu aku ingin bertanya sesuatu. Ada seorang wanita yang pernah memberikan kamu sebuah kalung beberapa waktu dekat ini?" tanya Aleardo.
"Ya, dia pelayan dari kediamanku beberapa minggu lalu. Katanya kalung itu dari istri saya saat itu sedang berkunjung ke rumah orang tuanya di kota sebelah. Setelah itu aku sulit mengingat lagi." jelas Count Wirken.
Sekarang Aleardo mengerti situasi yang terjadi pada keluarga Count Wirken.
"Menurut dugaan saya, pelayanmu sudah memberikan kalung yang merupakan benda sihir yang mengandung energi hitam. Untuk seorang manusia seperti kamu benda itu akan memberikan efek yang besar. Pelayanmu itu mengendalikan kamu selama beberapa minggu. Kamu bahkan mengusir anak dan istrimu. Beruntungnya anakmu bertemu dengan kenalan saya dan dia memberi tahu istri saya. Jadi istri anda bisa terselamatkan dari kematian yang menyakitkan. Kamu juga beruntung karena aku masih sempat menghancurkan benda itu sebelum seluruh tubuhmu hanya bersisa tulang berlurang." jelas Aleardo yang membuat pria yang lebih tua belasan tahun darinya itu terkejut.
Bagaimanapun dia tidak menduga pelayannya sendiri melakukan hal itu pada keluarganya. Padahal pelayan memberikan kalung itu adalah pelayang yang paling dekat dengan istrinya. Dia tidak menyangkan wanita itu tega menyakiti istrinya yang selalu memperlakukan para pelayan dengan baik. Bahkan pelayan yang meberikan kalung padanya sudah dianggap adik oleh istrinya.
"Sudahlah, sebentar lagi kenalan saya akan membawa istri dan anakmu. Aku pergi dulu karena urusanku sudah selesai." ucap Aleardo.
"Terima kasih tuan saya tidak tahu cara membayar kebaikan anda." ucap count yang membuat Aleardo terdiam sesaat.
"Ada satu yang kamu bisa lakukan untuk membayar kebaikanku. Tapi aku tidak akan memaksamu. " ucap Aleardo yang kembali berjalan mendekati count Wirken.
"maaf tuan saya tidak bisa memberikan anak gadis saya saat ini. Bagaimanapun dia masih sangat muda untuk dinikahkan. Dia belum melakukan debut untuk seorang gadis." ucap Count Wirken.
"Aku tidak memintamu sekarang, pria itu akan menunggu kapanpun anakmu siap untuk menjadi istrinya. Jadi aku harap kamu bisa menimang keinginan saya. Tapi dia bukanlah seorang dari keluarga bangsawan. Dia sudah termasuk dalam keluarga saya jadi kamu bisa memikirnya. Aku tidak memaksamu hanya saja aku lebih suka kalau anakmu bersedia dengan tawaranku. Saya pergi dulu.Sepertinya istri saya sedang marah karena kelakuanmu itu hahahhaaha."
"Tuan maafkan saya."
"Kamu tidak usah marah, dia memang suka marah jika menyangku pria yang menyakiti seorang wanita. Jadi jangan kamu pikirkan. Istri saya bukan orang yang pendendam." ucap Aleardo sebelum keluar dari ruangan count.
Beberapa saat setelah Aleardo menghilang, Yirlendi muncul dengan membawa tubuh countess di tangannya dan gadis kecil di sampingnya. Anak kecil itu langsung berlari ke pelukan ayahnya. Count menangis saat mengingat cerita Aleardo yang dilakukannya pada keluarga kecilnya. Yirlendi meletakkan tubuh istri count di samping suaminya.
"Tubuhnya akah kembali sehat kembali secara perlahan-lahan. Nyonya Ana sudah memberikan pesan bahwa tubuh countess mungkin akan lebih lemah dari sebelumnya. Tapi itu hanya selama 1-2 tahun dari sekarang. Setelah seluruh racun di tubuhnya benar-benar ternetralisir. nyonya akan bisa kembali seperti semula. Saya pamit karena tugas saya sudah selesai."
"Tuan akan pergi?" tanya anak kecil yang turun dari tempat tidurnya.
"Iya anak kecil, saya harus kembali bersama tuan Aleardo." ucap Yirlendi dengan berat hati.
"Kalau tuan tidak keberatan, tuan bisa mengunjiku jika sedang senggang." ucap anak kecil itu.
"Tentu saja anak kecil." ucap Yirlendi.
"Tuan bisa memanggilku Shiela." ucap gadis yang bernama Shiela itu.
"Tentu saja Shiela, kalau begitu saya permisi sampai jumpat di pertemuan selanjutnya." ucap Yirlendi sebelum menghilang dari hadapan anak kecil itu.
Count Wirken sadar dengan interaksi kedua orang berbeda umur itu. Dia sadar kalau anaknya seperti memiliki ketertarikan dengan kenalan tuan Grandduke ALeardo. Tapi dia tidak bisa menyimpulkan kalau anaknya memiliki perasaan pada pemuda itu. Mungkin hanya waktu yang bisa menjawab hubungan keduanya.
Aleardo mencari keberadaan Ana di kediaman Count Wirken. Dia sudah berjalan keluar dari rumah utama count menuju taman yang pasti didatangi oleh Ana. Saat dia sedang mencari keberadaan istrinya di antara tanaman yang mulai tumbuh. Aleardo sangat tahu siapa yang membuat tanaman di kediaman Count Wirken ini seperti sediakala. Saat itu dia lihat istrinya sedang menggunakan sihir kehidupan untuk tanaman. Tubuh Ana tertutup dengan tanaman merambat yang melingkupi sekitar tubuh Ana. Rambut Ana tertiup dengan angin dan senyum wanita itu merekah.
Aleardo terpesona dengan Ana. Sudah sangat lama dia tidak melihat wajah bahagia istrinya. Berbagai kejadian silih berganti membuat senyum Ana selalu hilang. Pria itu berjalan menuju Ana dan tanaman merambat itu menghilang begitu saja saat Aleardo mendekat. Dia langsung memeluk pinggang sang istrinya yang membuat Ana terhenti sesaat.
"Hey jangan asal peluk dong. Aku sedang menggunakan sihir." protes nana.
"Mereka akan tetap tumbuh lihatlah." apa yang diucapkan Aleardo benar perpohonan yang tadinya sudah kering dan layu mulai subur kembali.
"Bukan masalah sudah selesai di siini jadi hanya hukuman kamu yang belum kita selesaikan." ucap Aleardo bersamaan itu tubuh mereka menghilang dari kediaman count Wirken.