
Aleardo sama sekali berniat mengganggu pertarungan Ana dengan wanita yang memiliki masalah di masa lalu dengan sang istri. Dia yakin Ana akan dengan mudah mengalahkan wanita itu. Terlihat sekali perbedaan kekuatan Ana sekarang dengan penyihir hitam itu. Sekarang kekuatan Ana sepenuhnya sudah kembali seperti semula.
"Raindhen, sisanya aku serakah padamu. " ucap Aleardo.
"Baik tuan grandduke." ucap Raindhen.
"Luxorius dan Yirlendi ayo kita harus bertemu dengan dengan wanita itu." ucap Aleardo sambil menatap Luxorius. Tapi Naga abu itu menghindari tatapan Aleardo.
"Ana sudah mengatakan padaku kalau wanita itu masih bisa diselamatkan. Asalkan Wanita itu belum sepenuhnya diambil oleh Xavier." ucap Aleardo sebelum mereka menghilang menggunakan sihir teleportasi.
"Aku harap masih ada waktu untuk menyelamatkan wanitamu Luxorius. "Gumam Ana saat melihat ketiga orang itu sudah menghilang. Di waktu bersamaan Syla menyerang Ana dengan dengan sebuah bola api hitam. Tapi Dengan mudah oleh Ana tangkis dengan pedangnya.
"Sebaiknya kamu serius Syla, Aku sudah tidak bisa menemanimu bermain." ucap Ana dengan kedua tangannya berlipat di dadanya.
"Sialan, Kamu meremehkanku. Sekarang aku lebih kuat dari ribuan tahun lalu." ucap Syla.
"Benarkah? Energi hitam yang kamu pijam tidak akan bisa terus digunakan bukan? Ada batasannya. " ucap Ana yang mulai berjalan mendekat pada Syla.
"Cih aku tidak selemah dulu. Kamu harus tahu aku sudah memekan 2 ekor naga. Tentu saja hal itu membuat Energi sihirku setingkat dengan dua ekor naga. hahhahahha.Bahkan aku bisa dengan mudah mengalahkanmu. Setelah itu aku bisa menyantap naga-naga itu." ucapan Syla membuat Ana dan para naga marah. Ana menatap tajam wanita di depannya. Tiba-tiba tubuh Ana sudah berada di depan Syla dan dengan cepat satu tangannya mencekik leher wanita itu.
Sedangkan Syla terkejut. Dia belum siap melakukan apapun saat Ana berada di depannya. Dia sulit bernafas,cekik Ana sangat kuat walaupun hanya menggunakan satu tangan. Syla mencoba menggunakan sihirnya dengan energi yang tersisa. Tapi sihirnya sama sekali tidak bisa keluar. Dia merasa tenaga seperti terkuras sangat cepat. Dia langsung melirik tangan Ana yang mencekiknya. Sebuah tulisan sihir sepanjang tangan Ana itu ternyata menyerap energi sihirnya.
"Kamu baru sadar ?" tanya Ana dengan senyum sinisnya.
"Sialan? Bagaimana kamu bisa menggunakan sihir seperti ini?" ucap Syla.
"hahhahah sepertinya kamu lupa. Aku adalah penyihir jenius saat muda dan Aku adalah orang yang memberikan penyihir sekarang berbagai bentuk sihir. Jadi tentu saja aku punya berbagai jenis sihir untuk mengalahkanmu. Kamu harus tahu sihir ini akan mengambil seluruh sihir hitammu. "ucap Ana.
"Sialan. tapi kamu sepertinya lupa kalau aku masih memiliki sihir para naga di tubuhku." ucap Syla dengan nada yang sangat sombong.
"Kamu memang orang yang bodoh. Harusnya kamu memilih musuh sesuai dengan levelmu. Kamu pikir aku tidak tahu kalau energi sihir naga di dalam tubuhmu malah akan menjadi belatih pada tubuh manusia. Kamu memakan dua jenis naga tanpa tahu elemen sihirnya bukan. Aku mengambil elemen merah dan elemen biru tapi tubuhmu hanya memiliki elemen merah. Sebentar lagi setelah energi hitam yang mengunci efek naga elemen biru selama ini hilang. boom tubuhmu akan hancur seperti serpihan kaca." ucap Ana.
"Sialan lepaskan tangan ini." ucap Syla. Dia mencoba melepaskan cekraman di lehernya tapi tangan Ana seperti berubah menjadi batu yang keras dan sulit dilepas.
"Kamu tidak akan pernah bisa melepaskan ini sebelum energi hitammu hilang." ucap Ana dengan senyum misterius.
Para ksatria dan penyihir yang dipimpin oleh Raindhen telah bergerak menyerang sisa penyihir. Tapi tidak seperti yang mereka bayangkan para penyihir hitam sangat sulit dikalahkan. Beruntungnya para naga bersama dengan mereka. Naga membuatkan perlindung anti sihir hitam yang membuat mereka tidak mendapatkan dampak yang begitu besar dari sihir hitam.
"Lihatlah kalian akan kalah sepertinya dan sebentar lagi tubuhmu akan menjadi abu. Jadi ada yang ingin kamu sampaikan sebelumnya Syla." ucap Ana.
Saat Ana menatap wajah Syla yang ternyum lebar padanya. Dia sadar ada hal yang direncanakan wanita itu. Dia langsung melihat sekitarnya.
"Aku memang tidak mungkin bisa mengalahkanmu Quena kalau satu lawan satu. Tapi berbeda kalau kamu masuk dalam jebakanku. Seperti biasa kamu selalu mudah masuk ke dalam rencanaku." ucap Syla dengan suara lantangnya. Hal itu yang membuat para ksatria, Raindhen dan pangeran Damian langsung melihat pada Ana.
Saat itu juga Ana sadar apa yang di perbuat oleh Syla. Dia melihat dibawah kakinya sudah ada lingkaran hitamĀ bertuliskan aksara romawi kuno. Dia terkejut saat melihat lingkaran itu sangat luas.
"Kamu sudah mengetahuinya bukan?" ucap Syla.
"Kamu gila, dia akan membunuh kamu dan kawanmu sendiri." ucap Ana.
"Tentu saja aku sudah tidak memperdulikan nyawaku." ucap Syla.
"Ana kenapa kamu masih tetap di sana ketika harus mundur ke garis X." teriak pangeran Damian yang sangat tahu pola lingkaran sihir di bawahnya itu.
"Lakukan saja perintahku saja Damian." ucap Ana dengan senyum manis muncul.
"Tapi Ana ini." ucapan damian terdiam.
"Aku titip Aleardo." ucap Ana.
Rooooooaaarrrr
Suara menggema begitu keras tapi mereka tidak tahu itu muncul dari mana. Para Naga terlihat pucat saat mendengar suara raungan keras yang menggema itu. Bahkan menyebabkan dataran bergetar.
Di lain tempat Aleardo dan kedua naga itu terdiam saat mendengar suara raungan itu. Mereka sangat tahu hewan apa yang memiliki kekuatan sebesar itu hingga dapat menggetarkan dataran.
"ANA." teriak Aleardo.
Sedangkan di tempat pangeran damian dan pasukan lain sedang terdiam saat melihat moster yang tiba-tiba muncul dari lingkaran sihir hitam itu. Di waktu bersamaan ana dan Syla menghilang. Lebih tepatnya kedua wanita itu diterkam oleh hewan besar berwarna hitam itu.
"ANA." teriak pangeran Damian
"Nyonya." teriak Raindhen.
Di depan mereka sebuah monster yang sangat besar berwarna hitam dengan api yang melingkupi seluruh tubuhnya. Bentuknya seperti naga tapi monster itu berdiri dengan kedua kakinya. Monster itu memiliki empat Sayap yang membentang besar yang membuat angin besar hadir. Beruntungnya sebuah sihir muncul melindungi pasukan yang dibawa oleh Aleardo. Mereka juga merasa monster itu tidak dapat melihat mereka. Monster itu terbang meninggalkan mereka.
"Monster apa itu."
"Kita akan berakhir."
"Nyonya mengorbankan hidupnya."
"Diamlah kalian." teriak Raindhen yang kesal dengan pasukannya. Walaupun dia juga merasakan ketakutan seperti para ksatria dan penyihir.
"Kita tidak akan selamat semasih di dalam sihir ini." ucap pangeran damian.
"yang mulia seperti tahu yang sebenarnya terjadi saat ini bukan." ucap Raindhen.
"Garis X ada titik yang sengaja di buat oleh Ana untuk melindungi kita jika terjadi hal buruk. Sihir yang digunakan oleh ana tidak akan bisa ditembus. Hanya ada satu orang yang bisa melakukannya yaitu Aleardo." ucap pangeran Damian.