Female Villainess

Female Villainess
105. Sebelum perang



Tanpa sadar Aleardo sudah bercerita sangat panjang. Sedangkan orang yang tadi memintanya bercerita malah asik terlelap di pelukannya. Aleardo menatap wanita di sampingnya, dia sangat gemas dengan tingkah Ana. Padahal tadi dia yang memaksa bercerita tapi sepertinya ceritanya hanya dianggap pengiring tidur. Tapi dia tidak mempermasalahkan hal itu. Setelah memposisikan tubuh Ana pada tempat tidur. Aleardo pergi ke ruang ganti. Dia merasa sangat gerah setelah seharian ini memberikan pengarahan dan pelatihan pada pasukan.


"Aku harap besok sesuai dengan yang kita harapkan." ucap Aleardo.


Setelah Aleardo masuk ke dalam ruang ganti, Ternyata Ana tidak sepenuhnya tidur. Dia membuka mata dan menghela nafas dengan kasar.


"Takdir kita sangat sulit, Tapi aku harap setelah ini kita bisa hidup bahagia bersama anak-anak dan cucu-cucuk kita nanti." ucap Ana sebelum kembali ke dunia mimpi.


Di sebuah tempat yang jauh dari penduduk. Dua orang wanita sedang berdebat keras. Salah satu dari orang itu adalah Charlote.


"Kamu gila, Mengorbankan diri kamu pada iblis Xavier sama dengan menghancurkan dunia ini." ucap Charlote.


"Aku tidak peduli, bukankah tidak ada lagi yang kita sayangi di dunia ini. Lebih baik mereka merasakan apa yang kita rasakan Charlote." ucap wanita yang sedang duduk di depan perapian. Kedua matanya menatap kobaran api yang berada di tungku.


"Aku memang ingin membunuh Ana tapi tidak dengan menghancurkan dunia ini." ucap Charlote.


"hahahah kamu lucu Charlote, Bukankah beberapa waktu lalu kamu yang menggunakan sihir Xavier untuk mengurung ana di kristal waktu." ucap wanita itu yang tak lain Naura.


"Ya kamu benar tapi aku tidak membuat kerajaan ini hancur Naura. Berpikirlah dengan jernih." ucap Charlote.


"Kita tidak benar-benar menghancurkan dunia ini. Aku hanya ingin membunuh Ana dan Xavier ingin membunuh kakaknya. Jadi tidak akan yang menjadi korban hanya pasangan itu saja. hahahhaha." ucap Naura.


"Bagaimana Luxorius?" tanya Charlote yang membuat tawa Naura terhenti seketika. Tergambar jelas kesedihan dari wajah cantik milik Naura. Walaupun dia sudah hidup beribu-ribu tahun tapi wajah tetap sama. Semua itu karena dirinya terlahir kembali akibat kekuatan sihir Hades. Tapi Sekarang hidupnya sudah tidak lama lagi. Hades sudah bangkit sepenuhnya yang berarti sebagian energi kehidupannya akan kembali kepada Hades secara perlahan -lahan.


"Kamu memikirkan suamimu bukan? Dia tidak akan tega melukaimu tapi dia juga tidak bisa terus menerus menghindar dari tugasnya. Hidupmu berada di tangan suamimu sepenuh saat janji itu teriklar bukan?" tanya Charlote.


"Aku dengan senang hati dia membunuhku." ucap Naura dengan senyum gentir terlukis di wajahnya.


"Tapi dia akan terluka karena harus membunuh wanita yang dicintainya. Kamu masih ada kesempatan untuk tidak melakukan hal itu. Hades pasti akan memberikan kamu kesempatan untuk menikmati hidup bersama Luxorius." ucap Charlote.


"Aku sudah tidak memiliki wajah untuk bisa hidup seperti dahulu. Anak yang harusnya aku lindungi malah mati karena sihir hitamku. Lucunya aku membenci orang yang memberikan kesempatan hidup untuk anakku. Luxorius sudah menceritakan kebenaran tentang anakku. Bahkan Quena memberikan sebagain jiwanya untuk menyelamatkan anakku. Tapi aku malah ingin membuat orang itu menderita." ucap Naura.


"Oleh karena itu berhentilah Naura." ucap Charlote.


"Aku tidak bisa Charlote." ucap Naura sebelum menghilang dari hadapan Charlote.


"Aku memang membenci Ana dan Aleardo tapi aku tidak akan membiarkan kamu menderita. Setelah kamu memberikan kesempatan aku untuk bisa melihatnya kembali. Biarkan aku yang membalaskan dendam atas semua perbuatan Quena sialan itu. Kamu sudah merebut hades dan membunuhnya beberapa kali." ucap Charlote.


Pasukan sudah siap dengan baju jirahnya. Ana menggunakan jirahnya yang sudah lama tidak pernah digunakan. Rasanya sedikit aneh setelah beberapa tahun ini tidak ikut berperang. Baju jirahnya berwarna silver dan sangat pas di setiap lekuk tubuh milik wanita itu. Tanpa dia sadari para ksatria terpesona dengan penampilan nyonya. Aleardo yang sangat benci dengan tatapan para pria memberikan tatapan tajam yang membuat mereka langsung mengalihkan pandangan.


"Apakah kamu benar-benar ingin ikut berperang? Tanpamu aku tetap bisa memenangkannya." ucap Aleardo.


"Nyonya sebaiknya tidak berbicara seperti itu. Hal itu membuat mental para ksatria seperti tercoreng." ucap Raindhen yang tidak habis pikir dengan kedua orang yang menjadi tuan dan nyonya. Mereka seperti dua iblis perang yang di satukan dalam hubungan suami istri. Seberapa menyeramkan mereka saat bersama. Hal itu membuat Raindhen tanpa sadar merasakan keringat dingin.


"Tenanglah, mereka tidak semenyeramkan itu. Kecuali salah satu dari mereka terlukai." Ucap pangeran Damian.


Hanya pangeran Damian yang ikut serta dalam perang dan tahu akan perang ini. Hal itu karena Damian bisa membantu Ana bila sesuatu hal buruk terjadi padanya. Tentu saja kedatangnya atas permintaan atau bisa disebut paksaan dari sang gradduke muda itu.


"Aku sangat mengandalkan kalian para ksatria terhebatĀ  yang terpilih untuk ikut berperang bersamaku. Aku pastikan kita akan pulang dengan kemenangan tanpa ada satu dari kalian yang gugur. Itu janjiku." ucap Ana yang diakhiri oleh senyum yang membuat para ksatria kembali terpesona.


"Alihkan tatapan kalian." teriak Aleardo dengan nada dinginnya.


"Kamu harus tetap baik-baik saja Ana. Ingat saat terjadi hal buruk gunakan sihir teleportasimu untuk berpindah ke hutan Quena." peringatan Aleardo.


Entah perasaanya sangat tidak enak sejak tadi malam. Aleardo merasa akan terjadi hal buruk pada mereka. Tapi dia berharap itu hanya pemikirannya saja. Dia tidak akan membiarkan siapapun melukai Ana walaupun itu adiknya sendiri.


"Xavier aku tidak akan lagi memberikan kesempatan terus menerus. Tidak akan aku biarkan kamu lepas." ucap Aleardo dalam hati.


"Hormat kami pada raja Iblis." ucap empat gerombolan naga yang ukurannya lebih besar dari Luxorius dan Yirlendi. Keempat naga itu seketika berubah menjadi wujud manusia. Perubahan itu membuat para ksatria yang melihatnya terpukau. Bahkan Ana juga ikut terpesona.


"Nona, bukankah aku lebih tampan dari pada naga-naga tua itu." ucap Yirlendi yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping Ana.


"Kamu benar tapi lihatlah penampilan mereka sangat elegan." ucap Ana.


"Mereka adalah para tertua kaum naga yang sangat tunduk pada raja Iblis. Mereka sangat menghormati raja iblis karena Raja Lubrius ayah Aleardo adalah seorang yang sangat baik." jelas Yirlendi.


"Benarkah?" tanya Ana.


"Iya, bahkan ibunya Aleardo adalah seorang dari kaum manusia yang hidup bersama para tertua naga." jelas Yirlendi.


"Sepertinya kamu sangat tahu, jangan-jangan kamu hidup selama seperti para tetua itu." ucap Ana.


"Tentu saja tidak, aku masih sangat muda dan tampan." ucap Yilendi sebuah pukulan mendarat di kepalanya.


"DASAR NAGA MUDA KURANG AJAR. KAMU MENGATAKAN KALAU KAMI SUDAH TUA DAN JELEK."ucap salah satu naga yang memiliki bentuk hampir sama dengan Yirlendi.


"Ayolah kakek ingatlah umurmu memang sangat tua. Bahkan aku bertanya-tanya bagaimana kamu masih bisa hidup sampai sekarang." ucap Yirlendi dengan santainya.


"tak,tak, tak."


Tiga benjolan di kepala Yirlendi muncul akibat pukulan dari naga yang dipanggil kakek oleh Yirlendi. Sedangkan Yirlendi sekarang berlindung dibelakang tubuh Ana dan berubah wujud menjadi naga kecil. Ana yang melihat itu terkekeh pelan. Pemandangan yang sangat menghibur sebelum sebuah perang dimulai.