
Ana menatap para ksatria dan penyihir yang sedang menikmati pesta atas kemenangan perang melawan penyihir hitam. Dia ikut senang melihat kebahagian dari orang-orang terdekatnya. Dia berharap tidak ada lagi orang yang ingin menyakiti keluarganya dan orang-orang terdekat.
Tanpa ana sadari seorang pria muda sedang menatapnya. Orang itu adalah Aleardo. Dia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh otak kecil milik istrinya. Sangat mudah untuk dirinya mengerti apa yang membuat wanita itu gundah gulana di dalam kerumunan orang-orang.
Aleardo melingkaran tanganya ke pinggang Ana. Tempat yang sangat nyaman untuk memeluk tubuh kecil milik wanita ini. Wanita yang selalu membuatnya jatuh cinta pada sosoknya. Entah telah berapa kehidupan yang telah dirinya lalui dan selalu berakhir jatuh pada pesona wanita ini.
Sedangkan Ana terkejut saat merasakan lingkaran tangan kekar di badannya. Tapi dia langsung tahu pria yang sedang memeluk tubuhnya dengan aroma kayu manis yang selalu membuatnya nyaman. Dia mengelus tangan yang berada di pelutnya.
"Aku senang kita berakhir tanpa satu orangpun yang terluka. " ucap Ana.
"Kamu terluka Ana, Jangan lakukan itu lagi. " ucap Aleardo bersamaan kecupan di leher Ana.
"Maaf, aku lupa dengan janjiku saat itu hahhaha." ucap Ana diiringi tawa karena merasa geli dengan kecupan Aleardo di lehernya.
"Aku berharap setelah ini tidak ada Naura kedua ataupun xavier kedua." ucap Ana. Sambil menerawang kejadian yang baru terjadi beberapa jam lalu. Dia masih teringat jelas mereka membenci dirinya maupun Aleardo. Kebencian yang muncul dari kesalah pahaman dan keirian.
"Kamu harus tahu kalau keberadaan xavier adalah kebahagian untukku. Aku senang saat tahu akan menjadi seorang kakak.Tapi keadaan membuat adikku harus membenci keberadaanku. Aku tidak pernah membenci walaupun dia sudah beberapa kali berniat membunuhku. Pada akhirnya aku yang harus membunuhnya dengan tanganku sendiri." ucap Aleardo yang tanpa sadar mengeluarkan air mata.
Dari hati kecil terdalamnya, Aleardo tidak ingin membunuh sang adik. Tapi dia juga tidak bisa membiarkan adiknya melukai wanitanya maupun keluarganya di masa depan. Xavier adalah adik yang selalu dirinya sayangi bagaimanapun tindakanya di masa lalu.
"Maaf Aleardo. Kamu melakukan pasti karena aku." ucap Ana. kepalanya sedikit dirinya tundukkan. Dia sangat sadar tindakan suaminya hanya untuk membuatnya selalu aman dari xavier. Adik suaminya tidak akan benar-benar membunuh Aleardo tapi berbeda dengan keberadaan Ana.
"Tidak usah meminta maaf. Takdir seorang iblis memang seperti itu. Kami tidak akan pernah bisa hidup dengan baik. Hanya boleh satu penerus dari keluarga kerajaan. Keberadaan Xavier sudah lama ingin dihilangkan oleh ayahku sendiri. Tapi aku dan ibuku selalu meminta ayah untuk tidak melakukannya. Bagaimanapun xavier adalah adikku. " ucap Aleardo.
Setelah itu keduanya saling meresapi malam ini dengan sinar bulan yang memperindah pemandangan hari ini. Tanpa mereka sadar keduanya membuat beberapa orang iri dan kagum dengan keromantisan Ana dan Aleardo.
"Bisakah kalian tidak membuka teater romantis di tempat ini. Lihatlah disini masih banyak yang single." protes Yirlendi dengan wajah jutek. Dia sudah sebal dengan pasangan yang tidak pernah tahu tempat. Apalagi sekarang pasangan seperti Ana dan Aleardo bertambah satu. Cukup hanya dua orang muda yang selalu mengumbar keromantisan. Tapi lihatlah tak jauh dari pasangan muda terdapat pasangan naga tua yang sedang bermesraan. Bahkan mereka dengan tidak tahu diri saling mengecup bibirnya.
"Hey tua bangka. Bisakah kamu pergi kamar jika ingin membuat anak. Kita sedang pesta merayakan kemenangan bukan perlombaan mengumbar adegan romantis." ucap Yirlendi yang membuat orang-orang tertawa mendengar curhatan naga tampan itu.
Sedangkan Raindhen dan pangeran damian hanya bisa ikut tersenyum. Jujur saja mereka juga merasakan seperti Yirlendi. Mereka sedikit iri dengan kedua pasangan yang dengan santainya bermesraan Tapi apa daya. Mereka tidak bisa protes karena keduanya sedikit menyeram jika sedikit disinggung.
Tapi berbeda dengan Yirlendi yang seperti memiliki seribu nyawa hingga tanpa takutnya membuat kedua orang pria kesal. Karena telah diganggu oleh naga tampan berwujud manusia itu. Mereka sangat ingin membuat Yirlendi naga bakar dan dilemparkan pada seekor singa.
"Ya aku mau kalau yang seperti Ana atau Naura." ucapan Yirlendi langsung membuat kedua pria itu maju.
"Apa maksud kamu Yirlendi?" ucap Aleardo dan Luxorius bersamaan. Mereka sangat tidak suka wanitanya diungkit oleh naga menyebalkan ini.
"Kalian gak ngedenger suara aku ya? atau harus aku panggil tabib untuk memeriksa pendengaran kalian." ucap Yirlendi dengan santainya. Dia tidak sadar kalau aura Aleardo dan Luxorius sudah sangat dingin. Para pasukan ingin sekali menengelamkan Yirlendi saja karena sudah membuat kedua pria itu marah.
"YIRLENDI KAMU INGIN DI HUKUM APA?" tanya Aleardo yang suda mengeluarkan sihir di tangannya. Baru saja setelah itu yirlendi merasakan kalau dirinya dalam bahaya.
"SEPERTINYA NAGA INI HARUS DI HUKUM SANGAT BERAT ANAK NAKAL." ucap Luxoriu yang sudah menatap tajam pada Yirlendi.
Setelah tahu sekarang dirinya dalam bahaya segera saja dia menghilang begitu saja. Tentu saja hal itu membuat para pasukan yang datang di pesta malam ini kesal. Naga itu sudah membuat kedua pria itu marah dan dengan begitu saja kabur.
"sepertinya kita harus mencarikan yirlendi jodoh." ucap aleardo pada luxorius.
"kamu benar anak nakal. kita tidak bisa biarkan dia terus mengganggu waktu kita bersama istri kita." ucap Luxorius.
"Bagaimana kalau kita lempar dia ke sebuah tempat dan membuatnya tidak bisa keluar dari tempat itu?" ucap Aleardo yang membuat luxorius tersenyum jahat.
Tindakan keduanya membuat siapapun yang melihat kedua pria tampan itu tersenyum jahat akan takut. Bahkan Ana dan Naura bergidig membayangkan rencana yang sedang dibuat oleh pria mereka. Kedua iblis disatu untuk membuat rencana sama saja suatu hal yang berbahaya.
"Apa yang sedang dibicarakan oleh Aleardo dan Luxorius ya?" tanya Raindhen pada pangeran damian.
"Paling juga rencana untuk memberikan hukuman pada naga pembuat onar itu. " ucap pangeran damian.
"kamu benar, tapi nasib kita sama dengan naga itu bukan?" ucap Raindhen.
"maaf Raindhen, aku sudah menemukan wanita yang akan menjadi putri mahkota. Seperti hanya kamu dan Yirlendi yang masih tidak memiliki pasangan. Sebaiknya kamu segera mencari wanita untuk mendapingi mu. Setidaknya kamu tidak akan gigit jari saat atasan menyebalkanmu itu bermesraan dengan Ana." sindir pangeran damian yang tak sadar membuat Raindhen terluka. Dia seperti seorang pejaka tua yang belum juga menikah. Padahal umurnya masih sangat muda. Hanya karena atasanya sudah menikah. Tentu saja Aleardo yang membuatnya terlihat menyedihkan padahal atasanya yang menikah di umur yang terbilang masih muda.
"Kalau kamu berpikir Aleardo yang terlalu cepat menikah. Sebaiknya itu tidak cocok. Umur pria itu lebih tua dari naga yang sedang berbincang dengannya. Hanya saja ingatan Aleardo tersegel jadi dirinya tidak pernah ingat umurnya sebenarny. Lebih tepat umur jiwanya itu." ucap pangeran damian yang diakhir tepukan pada bahu. Dia berniat memberikan semangat pada pria di sampingnya. Tapi dia merasa seperti pria yang sangat menyedihkan seperit naga hitam itu.