Female Villainess

Female Villainess
29.Ana sekarat



Ana terkejut melihat ekspresi Aleardo yang sangat menyeramkan. Sejak kapan matanya itu menjadi sangat tajam. Ana dan Aleardo baru sampai di kediaman marques Xieben.


Alerdo langsung meninggalkan Ana setelah sampai dikediaman. Dia masih marah saat mendengar ucapan raja. Kekesalannya bertambah saat melihat Ana berbincang dengan dua pria yang menyimpan minat pada Ana.


"Hey kamu kenapa sih Aleardo?" Teriak Ana sambil mengejar Aleardo.


Alerdo memang harus banyak bersabar dengan Ana yang kurang peka pada perasaannya. Padahal Ana suka kesal kalau dia berdekatan dengan wanita bangsawan lain. Tapi sekarang Ana seperti tidak memiliki salah.


"Cerita dong ? jangan tiba-tiba marah kaya gini. Aku juga binging jadinya."


"Kamu berencana menjadi seorang ratu." ucap Aleardo yang langsung membalikkan badannya. Sontak saja badan Ana menabrak badan Aleardo.


"Aw, kamu kalau berhenti bilang-bilang nih sakit tahu. Siapa yang bilang aku mau jadi ratu?" tanya Ana dengan kesal.


"Mungkin saja, bukannya raja menawarkan kamu posisi tinggi di kerajaan in."


"Ya ela, aku jadi ratu. Kerajaan runtuh dalam sesaat kali. Datang ke acara pesta teh saja sudah malas apalagi harus jadi ratu yang sisa hidupnya berhubungan dengan hal itu. Selain itu jadi ratu melelahkan, otak aku gak akan sampai juga. Raja ajah yang terlalu memuji aku." gerutu  Ana.


Ana tidak sadar Aleardo tersenyum lebar saat mendengar ucapan Ana. Dia bisa bernafas lega kalau Ana tidak berminat menjadi seorang ratu. Itu berarti dia tidak akan pernah meninggalkannya.


"Kamu kok bisa mikir aku tertarik jadi ratu sih?"


"mungkin saja kamu seperti wanita bangsawan lain."


"Aduh, mana ada wanita bangsawan kaya aku. Aku seorang ksatria tangguh yang berani menebas kepala seorang raja. Aku yakin tidak ada wanita bangsawan kaya aku. " ucap Ana bangga.


"Ya memang tidak akan ada yang seperti kamu."


"Kenapa rasanya itu bukan pujian kalau aku dengar dari mulut tukang sihir ya." ucap Ana.


Ana meninggalkan Aleardo begitu saja. Dia jadi kesal berbicara dengan Aleardo. Ana berjalan menuju dapur dikediamanya. Sudah lama dia tidak membuat kudapan untuknya.


"Buatkan aku kue kesukaanku Ana." perintah Alerdo yang sudah di sampingnya.


"Enak ajah kamu nyuruh, ogah ah."


Ana sudah memulai aktivitas memasakannya. dia mengambil beberapa bahan yang akan dibutuhkan untuk membuat kudapannya. Saat sedang memilih bahan yang dibutuhkan, tiba-tiba kepalanya berkunang-kunang. Darah segar mulai menetes dari hidungnya. Ini tidak seperti yang biasa Ana rasakan. Mana-nya memang sering menyebabkannya mengeluarkan darah segar dari tubuhnya. Tapi ini seperti kepalanya ingin pecah dan dia mendengar suara-suara halus yang tidak begitu jelas.


Tiba-tiba tubuh Ana jatuh dan tergeletak di lantai. Aleardo mendengar barang-barang berjatuhan dari ruang penyimpanan segera berlari menuju tempat itu. Dia melihat Ana yang sudah pingsan dengan darah mengalir dari hidungnya.


Aleardo terkejut dengan keadaan Ana. Padahal Ana beberapa hari ini tidak pernah menggunakan mana-nya ataupun latihan fisik. Dia ingat jelas beberapa waktu lalu Ana masih dalam keadaan baik-baik saja.


Segera Aleardo mengangkut tubuh Ana. Dia semakin khawatir saat merasakan badan Ana dingin seperti Es. Wajahnya mulai memucat. Ana seperti orang mayat. Walaupun begitu Aleardo masih merasakan nafas Ana yang sangat tipis.


Ana meminta pelayan memanggilkan tabib. Marques dan marchiones yang mendengar kabar Ana pingsan langsung mendatangi kabar putrinya. Mereka melihat Aleardo yang sudah menangis tak bersuara. Tergambar jelas dalam wajahnya Aleardo yang menunjukkan kekhawatirannya pada Ana.


"Apa yang terjadi Aleardo?" tanya marques.


"Aku tidak tahu pama. Ana tiba-tiba pingsan. Hidungnya sempat mengeluarkan darah dan suhu tubuhnya sangat dingin." ucap Aleardo.


Marchiones menangis melihat kondisi Ana. Gadis itu seperti mayat. Wajah semakin memucat. Bahkan kalau orang lain tidak merasakan nafas pelannya, Ana akan dikira telah tiada.


Beberapa saat tabib datang untuk melakukan pengecekan pada kondisi Ana. Dia terkejut dengan kondisi Ana.  Apalagi dia menemukai garis-garis hitam di bagian tangan kanannya yang mulai merambat.


"Tuan dan nyonya, Saya harap Anda dapat menerima keadaan nona Anabella dengan lapang dada. Nona Ana bisa dikatakan dalam keadaan yang sangat kritis. Detak jantung dan penafasannya sangat lemah. Selain itu saya menemukan garis hitam yang mulai menjalar ke badan Ana. Ini seperti sebuah kutukan yang pernah saya dengan dulu. Kutukan yang memakan usia hidup seseorang dengan sangat cepat. Kutukan ini berbeda dengan yang terjadi tuan muda Aleardo. Kutukan ini disebabkan oleh seorang penyihir. "


Setelah tahu penyebab Ana pingsan. Aleardo mengeluarkan sebuah lingkaran sihir yang memancarkan sinar pada tubuh Ana. Tiba-tiba mata Ana terbuka dan dia mengucapkan sesuatu yang tidak bisa dimengerti oleh mereka. Setelah itu muncul pembatas ruang pada tubuh Ana. Tubuh Ana tidak bisa didekati. Ruang itu mungkin bisa dihancurkan oleh Aleardo tapi dia tahu tindakannya itu sama dengan membunuh Ana.


"Apa yang terjadi pada Ana?" tanya marchiones.


"Paman, bibi tenang saja. Ana sedang membuat perlindungan diri. Sepertinya mana dalam tubuh Ana sedang mencoba membersihkan kutukan itu. Aleardo akan pergi mencari dalang dari ini semua.Jangan biarkan seorangpun mendekat bahkan menghancurkan ruang dan waktu Ana. Karena itu akan membunuh ana secara cepat."


Setelah itu Aleardo pergi menggunakan teleportasi. Dia akan kembali menuju kediamannya. Ada buku yang harus diambil.


Aleardo ingat pernah membaca suatu buku yang membahas kutukan Ana. Kutukan itu berupa pesan kebencian dari penyihir hitam. Penyihir hitam adalah seseorang yang menjual jiwanya pada iblis. Sihir pada manusia di dunia ini berupa bakat yang sudah ada sejak lahir. Namun sihir itu memiliki batas pada setiap tubuh manusia.


Kutukan Ana dan Aleardo jelas berbeda. Kutukan Aleardo seperti mengunci sesuatu yang ada ditubuh pemuda itu. Kutukan Aleardo tidak melukai atau menyebabkan kematian untuk yang terjangkit. Tapi kutukan Ana jelas-jelas cara unutk membunuh seorang penyihir dengan sangat cepat.


Aleardo sangat bersyukur Ana terlahir dengan mana hijaunya. Mana hijau Ana memiliki fungsi sebagai penyembuh. Selain itu mana anak secara otomatis dapat menyembuhkan tubuh ana dengan sendirinya. Namun Aleardo tetap khawatir dengan dampak yang akan dirasakan oleh Ana setelah penggunaan itu untuk mengurangi dampak kutukan ini.


Aleardo masuk ke ruang kerjanya. Dia menarik salah satu buku diantara lemari bukunya itu. Cursed of Death. Itulah tulisan pada buku yang dipegang Aleardo. Dia memang belum menyelesaikan isi bacaan itu. Dia melihat cara mengetahui siapa pengirimnya. Tentu dalam buku itu tidak begitu jelas. Hanya saja ada satu point yang dapat dia temukan.


"Ketika kutukan itu berlangsung, penyihir yang mengirimkan kutukan itu tidak akan berada jauh dari tempat korban. Karena kutukan membutuhkan aliran mana yang banyak."


Point itulah yang menjadi petunjuk oleh Aleardo. Pelakukannya pasti ada di dalam kediaman marques. Tapi siapa yang tega melukai anak dari marques xieben. Padahal Ana terbilang nona yang sangat baik untuk para pekerja.


"Pasti seseorang mencoba menyingkirkan Ana. " gumam Aleardo.


Aleardo kembali ke kediaman marques. Dia melihat ada yang mencurigakan dari seorang pelayan. Dia tidak pernah melihat pelayan itu di kediaman marques.


Kenapa Alaerdo bisa mengetahui itu. Karena Ana tentunya. Gadis itu tahu seluruh pekerja di rumah ini. Tentu dia juga mengajak Aleardo untuk tahu orang-orang itu. Gadis muda yang sedang berdiri di depan kamar Ana bukanlah Lila pelayan pribadi Ana.


Aleardo segera berjalan menuju pelaya itu. Dia mencekik leher pelayan itu yang sontak membuat pekerja lain kaget dengan tindakan Aleardo, Pelayan lain memanggil marques untuk memisahkan Aleardo dari pelayan itu.


"Aleardo apa yang kamu lakukan?"


"Dia dalangnya." ucap Aleardo dengan nada yang sangat dingin.


"hahhaha ternyata tuan Aleardo sudah mengetahuinya. Tapi sayangnya Kutukan itu sudah berjalan dengan sempurna."


"Apa maksud kamu?" tanya Aleardo tapi pria itu sudah menggigit lidahnya.


Setelah itu mereka mendengar terikan dari kamar Ana. Segera Aleardo melepaskan tangannya dari leher pelayan itu. Aleardo masuk ke dalam kamar Ana dan melihat kondisi ana yang tidak dalam kondis baik.


"AAAAAAAAAAAAAkh. " Ana terus berteriak. Darah mengalir dari mata hijaunya itu. Rambut ana yang sebelumnya merah muda berangsur-angsur berubah menjadi putih perak. Mata hijau muda Ana berubah menjadi hijau gelap. Garis hitam yang tadi hanya sampai bahu sekarang sudah merambat menuju setengah wajah Ana.


Aleardo dan kedua orang tua Ana terkejut dengan kondisi Ana saat ini. Bahkan Ana terus berteriak hingga kaca yang ada di sekitar kamarnya pecah. Ketika mereka hanya diam sambil melihat Ana yang terus berteriak.


Seorang ksatria berlari pada mereka. Mereka bingung dengan keadaan ksatria yang pucat pasih. Wajah ketakutan tergambar pada wajah ksatria.


"Tuan marques dan Tuan Aleardo harus lihat keadaan di luar. "


Mereka segera melihat keluar. Aleardo terkejut ada lingkaran sihir hitam yang sangat besar tepat di tempat ksatria berlatih. Aleardo terdiam saat melihat lingkaran sihir itu memanggil monster legenda.


"Mereka menggunakan Ana untuk memanggil monster itu. Sialan." ucap Aleardo.


Pada akhirnya aleardo tidak memiliki pilihan lain. Dia mencoba masuk kedalam ruang dan waktu Ana. Dia melihat gadis itu kesakitan. Ternyata penyihir hitam menggunakan mana hijau Ana untuk memanggil monster Lixorius.  moster yang berupa naga hitam dengan 6 kaki. Monster yang cukup untuk menghancurkan dunia ini dengan satu serangan.


Aleardo mendekati tubuh Ana dan mengeluarkan sihir penyegel pada tubuh Ana. Ternyata ikatan yang pernah ditanam oleh Aleardo sangat berguna untuk membantu proses penyegel. Beberapa saat kemudian Ana sudah tidak berteriak lagi. Dia kembali tertidur dan Aleardo melirik keluar. Pintu pemanggil Lixorius sudah tertutup kembali.