Female Villainess

Female Villainess
79. Ana kembali



Bulan demi bulan berlalu begitu saja. Tidak ada kesan dalam setiap hari yang terlewatkan. Hingga tidak terasa hari ini, Ana berusia 16 tahun. Aleardo selalu merayakan kelahiran Ana dengan berdiam di taman lavender dekat hutan tempat tinggal Quena.


Dia juga tidak tahu alasan kenapa selalu ingin datang ketempat ini setiap hari ulangtahun Ana. Dia hanya berharap dapat bertemu kembali dengan Ana. Gadis yang sejak awal sudah mencuri hatinya karena kebaikan gadis itu.


Aleardo berjanji tidak akan melepaskan Ana lagi setelah gadis itu kembali. Tidak akan dia memberikan kesempatan Ana menghilang dari pandangannya.


"Ana kapan kamu kembali? Hari ini Ulangtahun kamu. Kamu selalu ingin aku merayakannya dan membuatkan hadiah. Aku sudah melakukannya jadi kembali lah." ucap Aleardo.


Tiba-tiba Aleardo dapat kembali merasakan aura Ana. Gadis itu ada di dekatnya. Segera Aleardo menggunakan sihirnya untuk berpindah di depan Ana. Pemuda itu terdiam saat melihat keadaan Ana. Ternyata luka yang disebabkan oleh orang bertudung itu tidak benar-benar sembuh. Dia sulit merasakan mana milik Ana.


"Dia sudah kehabisan mananya sebelum luka itu sembuh." ucap Luxorius yang sudah muncul di belakang Aleardo.


Naga itu mendekati tubuh Ana. Dia menjilat luka milik Ana. Perlahan luka itu tertutup tapi Ana tidak kunjung sadar.


"Aku hanya bisa menutup lukanya. Kita harus bertemu dengan pangeran damian untuk menyembuhkan luka itu." jelas Luxorius.


"Yirlendi, bawalah pangeran damian kemari pastikan Hades dan para bawahannya tidak menyadari kepergian pangeran." ucap Aleardo yang langsung dilaksanakan oleh Yirlendi.


"Ternyata naga itu nurut juga padamu anak kecil. Sudah 2 tahun kita tidak bertemu." ucap Luxorius.


Aleardo sama sekali tidak berniat untuk menjawab naga itu. pemuda itu menggunakan sihir teleportasi untuk berpindah ke rumah Quena. Sedangkan Luxorius yang ditinggalkan hanya menggelengkan kepala. Dia sangat memaklumi kondisi Aleardo beberapa tahun setelah kepergian Ana.


Tentu saja dia tahu dari Yirlendi. Bahkan pemuda itu sangat jarang berbicara. Dia habiskan waktunya untuk mengurus pekerjaannya dan belajar ilmu sihir. Aleardo meningkatkan keahlian sihirnya. Mungkin sekarang dia melebihi Quena dulu.


"Aku tidak menyangka dia akan seperti Zixon." ucap Luxorius sebelum pergi menuju tempat Ana.


Beberapa saat setelah itu pangeran Damian datang bersama Yirlendi. Beruntungnya pangeran Damian tadi sedang berada di ruangannya. Hal itu mempermudah Yirlendi membawa pangeran Damian.


"Bagaimana kondisi Ana?" tanya pangeran Damian.


"Lukanya sudah aku tutup tapi belum sembuh sepenuhnya." jelas Luxorius.


Pangeran Damian menggunakan sihir penyembuh pada tubuh Ana. Perlahan-lahan wajah pucatnya menghilang. Semua kembali dapat bernafas lega. Ternyata sihir pangeran Damian masih dapat berefek pada tubuh Ana.


"Kita hanya menunggu Ana sadar. Aku harus kembali ke istana agar putra mahkota tidak sadar dengan keberadaan Ana." jelas pangeran Damian yang berjalan keluar bersama Yirlendi.


"Kita belum bisa bersantai anak nakal. Kita tidak tahu dampak apa yang terjadi setelah tubuh Ana diselimuti oleh kristal mananya." ucap Luxorius yang membuat wajah Aleardo semakin suram.


"Kamu benar, mungkin saja dia melupakan kita." ucap Aleardo.


"Aku tidak mungkin melupakan kalian." ucap Ana lirih. Aleardo dan Luxorius langsung menatap sumber suara lemah itu. Bahkan keduanya tidak sadar sudah mulai meneteskan air mata saat melihat gadis kecil di depan mereka membuka mata dan memberikan senyuman tipis pada mereka.


"Kalian memang cengeng." ucap Yirlendi yang sudah berada di belakang mereka berdua. Aleardo dan Luxorius sama sekali tidak memperdulikan ucapan naga hitam yang baru saja datang.


Mereka sangat merindukan gadis ini. Suara yang selalu membuat mereka merasa tenang saat mendengarnya. Wajah imut yang membuat mereka gemas. Jangan tingkah yang suka membuat mereka pusing karena kesukaannya yang suka kabur-kaburan.


"Apakah tidak ada yang ingin memelukku?" tanya Ana yang membuat kedua naga itu langsung memeluk tubuhnya. Sedangkan Aleardo menatap dengan wajah kesal. Dia sangat tidak terima Ana dipeluk oleh pria lain.


"Sudah jangan lama-lama." ucap Aleardo yang menarik kedua naga itu dan melempar mereka keluar dengan mudah. Kedua naga sudah berubah menjadi wujud naga kecil saat dilepaskan dari tubuh Ana.


"Sepertinya kamu masih sama Aleardo. " ucap Ana.


Aleardo langsung memeluk tubuh kecil yang selalu dia rindukan selama 2 tahun ini. Dia berpikir gadis itu tidak akan muncul kembali. Dia terlalu takut kalau tidak bisa melihat gadis ini lagi.


"Kenapa kamu melanggar janji kamu ?" ucap Aleardo dengan suara yang sedikit begetar. Aleardo saat ini sedang menangis.


"Hey kamu tetap cengeng ternyata. Padahal tubuh kamu sudah besar seperti ini." ucap Ana.


"Aku seperti ini karena kamu pergi tanpa meninggalkan jejak. Aku tidak bisa menemukan kamu dimanapu. Jangan ulangi itu kembali." ucap Aleardo.


"Maaf ya Aleardo, aku gak bisa menepati janjiku untuk selalu berada di sisi kamu. Mungkin ini bukan pertama kali aku mengingkari janji itu. Tapi Ini akan menjadi yang terakhir kali.Jadi berhentilah menangis." ucap Ana yang melepaskan pelukan mereka. Dia menghapus air mata yang keluar membasahi pipi pria tampan di depannya.


"Aku tidak menyangka kamu akan setampan ini. Kalau kamu menangis seperti ini wanita mana yang akan menyukai kamu Aleardo." ucap Ana menatap wajah pria tampan di depannya.


"Aku tidak peduli wanita lain, Hanya kamu yang aku pedulikan. Kalau kamu tidak suka aku menangis maka aku tidak akan pernah menangis lagi sejak saat ini." ucap Aleardo. Ana menggelengkan kepala mendengar ucapan pria di depannya.


"Aku tidak suka kamu menyimpan luka, jadi tetap menangis saat kamu ingin menangis. Tetaplah seperti Aleardo yang aku kenal." ucap Ana.


Dahi kedua mereka bersatu. Mereka saling menatap mata. Hingga Aleardo mencium bibir tipis merah muda milik Ana. Hanya sebuah ciuman antar bibir.


"Jangan tinggalkan aku lagi. Bawa aku bersama dengan kamu dimanapu." ucapan Aleardo yang dianggukan kepala oleh Ana.


"Tentu, mulai saat ini kita tidak bisa terpisahkan." ucap Ana sambil mengelus wajah milik Aleardo. Mereka kembali berpelukan saling melepas rasa rindu. Walaupun Ana belum tahu sudah berapa lama dia tertidur. Tapi satu hal yang dirasakan seperti telah berpisah lama dengan orang-orang disayanginya. Biarkanlah dia dan aleardo seperti saat ini. Ana merasa sangat rindu dengan pelukan hangat milik pria tampan bersurai hitam dan iris merah delimannya.


"Aku sangat merindukanmu , penyihir gila milik Ana."


"Aku lebih merindukanmu, putri tidur. Aleardo." ucap Aleardo mengecup pipi tirus milik Ana. Sedangkan Ana tersipu malu karena perlakuan Aleardo. Dia tidak menyangka pria itu akan mengecup pipinya.


"HEY mau sampai kapan kalian membiarkan kami di luar seperti ini." Teriak Luxorius yang muncul di salah satu jendela rumah Quena. Sedangkan Yirlendi malah tersenyum penuh makna pada Ana dan Aleardo.


"biarkanlah, mereka sudah dewasa. kamu kakek tua yang selalu mengganggu waktu mereka." ucap Yirlendi dengan suara keras yang membuat kedua pasangan itu tersipu malu. Bahkan Ana sudah bersembunyi di dalam pelukan Aleardo. Dia sangat mengerti maksud ucapan Yirlendi.


"Apa maksud kamu Yirlendi?" tanya Luxorius.


"Dasar, Umurmu saja yang tua tapi otak kamu masih polos kaya pantat bayi." ucap Yirlendi.