Female Villainess

Female Villainess
26.Istana Aleardo



Ana dan Aleardo sampai di tempat yang dituju oleh pemuda itu. Ana melihat sekeliling kamarnya yang sangat berbeda dengan kamarnya di mansion marques xieben. Kamar ini lebih luas dan sangat banyak buku. Ana langsung memberikan tatapan tajam pada Aleardo. Dia meminta penjelasan pada pria itu.


"Kamu tidak membawaku kembali ke rumah ayah." ucap Ana yang dijawab anggukan kepala oleh pria itu.


"Lalu kita sekarang berada dimana Aleardo? " tanya Ana.


Aleardo tidak ada niatan untuk membalas ucapan Ana. Dia malah berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya. Hal itu membuat Ana semakin kesal.


"ALEARDO. Jawab pertanyaanku sekarang juga." ucap Ana dengan penekanan pada nama pria itu. Hal itu menunjukkan kalau Ana sedang sangat marah.


"Kita sedang berada di istanaku di daerah barat lebih tepatnya di kota serbia."


"ALEARDO KAMU GILA." teriak Ana.


Dia tidak habis pikir dengan tindakan Aleardo yang membawanya ke bagian barat padahal tugasnya di perbatasan timur saja belum selesai. Kalaupun dia menunggangi kuda menuju daerah timur sekarang mungkin dia butuh waktu seminggu tanpa istirahat.


"Sudahlah kamu istirahat saja. Lagi pula kamu sudah memenggal raja itu bukan? " ucap Aleardo yang sambil menepuk bagian sisi tempat tidur. Pemuda itu sama sekali tidak merasa salah dengan ucapannya. Tapi berbeda dengan Ana yang sudah merah karena menahan amarah.


"Kamu benar-benar gila aleardo. Apa kamu salah makan selama aku tidak ada?" ucap Ana.


"Sepertinya tanpa kamu disisiku membuat aku jadi gila putri tidur." ucap Aleardo dengan nada seperti anak kecil yang merengek meminta dibelikan permen pada ibunya.


"Cih dasar. sejak kamu menjadi sangat manja." ucap Ana. Gadis itu malah berjalan menuju salah satu jendela di ruangan itu. Dia melihat bangunan kota yang sudah seperti semula. Bukankah ini sangat cepat, tidak mungkin jika dilakukan oleh manusia biasa. Dia menduga itu semua ulah Aleardo.


"Aku manja sejak kamu tidak ada Ana. Rasanya sepi tidak ada putri tidur yang cerewet itu. "


"Kamu sebernanya kangen aku atau kangen ngejek aku sih." tanya Ana kesal.


"Keduanya. Ayolah Ana sini berbaring bersama ."


"Kamu gila kita bukan sepasang suami istri tidak boleh berbaring dalam satu tempat tidur." ucap Ana yang muncul rona merah di pipi gadis itu. Gadis itu sedang tersipu malu dan itu disadari oleh Aleardo. Pemuda itu berjalan menuju Ana dan berdiri di belakang tubuh Ana. Dia  memeluk pingga Ana dari belakang sambil menyimpan dagu pada leher Ana.


"Bagaimana kalau kita menikah saja?"


"Hey kamu ingatlah umur kamu baru 15 tahun dan Aku baru 13 tahun." ucap Ana.


"Berarti kamu tidak menolak menikah dengan aku kan? Maka tunggu hingga 3 tahun lagi bukan. Saat umur kamu 16 tahun aku bisa menikahimu." ucap Aleardo.


"Hey bocah, kamu sudah memikirkan hal itu. 3 tahun adalah waktu yang cukup untuk merubah perasaan seseorang. Jadi jangan membuat janji yang tidak mungkin kamu bisa tepati di masa depan." ucap Ana dengan tatapan kosong. Dia mengingat alur cerita novel dimana Aleardo akan mencintai Charlote nantinya.


"Hanya 3 tahun bahkan untuk menanti 1000 tahun saja aku siap."


"1000 tahun kamu akan menikah dengan batu nisan."


"Hahahaha seperti tidak akan seperti itu. Bagaimana kalau kita uji dengan mantra sihir yang baru saja aku pelajari?"


"Jangan bilang kamu mau menjadikan aku kunci percobaanmu lagi. Tidak terima kasih."


"Tentu saja tidak." ucap aleardo.


Setelah itu muncul sebuah lingkaran sihir dari punggung tangan Aleardo lalu dia tempelkan pada punggung tangan ana. Sebuah benar merah muncul menyangbungkan kedua tangan mereka. Sebuah simbol bungan teratai muncul di punggung tangan Ana.


Ana tidak mengerti dengan sihir yang digunakan oleh Aleardo. Tapi satu hal yang dia tahu saat ini Aleardo sedang tersenyum lebar tidak seperti biasanya. Bahkan dia merasa sedikit terpesona dengan senyuman pria itu. Wajah tampannya semakin terlihat mempesona.


Aleardo senang ternyata Ana juga memiliki perasaan yang sama padanya karena benang merah yang muncul dari simbol bunga di tangan Ana terhubungan tangannya. Walaupun dia tahu gadis di depannya masih belum menyadarinya. Bahkan dia sudah tidak bisa menahan rasa bahagianya.


"Bagaimana kalau kamu tinggal di sini saja?"


"Aleardo jangan buat aku marah atau aku pastikan kamu tidak akan bertemu dengan  aku untuk waktu yang lama." ucapan Ana membuat Aleardo takut.


Bagaimana bisa Aleardo harus berjauhan kembali cukup satu minggu dia merasa gundah gurana karena berjauhan dengan gadis itu. Apalagi mengingat Ana pergi bersama 2 pria lain. Semua emosinya tidak bisa ditahan.


"Baiklah. Ayo aku antarkan."


Pada akhirnya Aleardo mengantarkan Ana ke kamar yang tepat sebelahan dengannya. Dia tidak mungkin menempatkan Ana di tempat yang jauh karena. Istana ini masih harus dia pantau. Ada kemungkinan masih tertinggal orang-orang yang memberontak dari masa kepimpinannya ini. Bagaimanapun mereka sedikit tidak terima karena dia yang berasal dari rakyat rendah dapat menjabat menjadi bangsawan yang sangat berpengaruh setelah raja.


Hari ini Ana bangun terlalu pagi. Karena dia merasa tidak begitu nyaman dengan tempat baru. Walaupun terlihat tentram tapi itu hanya terlihat di luarnya. Bagaimanapun Aleardo memiliki latar belakang yang bukan dari seorang bangsawan. Walaupun dia memiliki jasa besar di kerajaan ini. Tapi para fraksi bangsawan pasti menyukai keberadaan Aleardo.


Asal usul Aleardo yang tidak jelas walaupun sudah diangkat menjadi anak oleh marques xieben tetap menjadi pembincangan diantara para bangsawan. Ditambah Aleardo dilantik sebelum umur kedewasaan yaitu 17 tahun. Penobatan ini terlalu cepat menurut Ana padahal selama 2 tahun gelar bangsawan benar-benar diberikan Aleardo akan menghabiskan waktunya dengan melatih ilmu sihir di istana dan dia mulai dekat dengan Charlote. Tapi sekarang dia sudah ada di bagian barat dan harus mulai memimpin daerah ini.


Meskipun Aleardo pasti sangat mudah memimpin daerah ini karena kepintaran yang pria itu miliki. Contohnya saja diumurnya ke-15 tahun tingkat sihirnya sudah melebihi penyihir agung di kerajaan ini. Selain itu dia bisa melakukan teleportasi dengan jarak jauh seperti dari perbatasan timur ke barat.


Ana berniat untuk keliling istana ini tidak lupa dia menyimpan belatih di kaki kanannya. Dia harus berjaga-jaga bila ada yang menyerang saat acara jalan-jalannya. Aleardo tentu masih di dalam kamarnya atau pergi ke kantornya. Dia tidak ada niat untuk menghampiri pria itu. Dia ingin melihat-lihat sekelilingnya.


Istana ini memiliki taman yang sangat indah bahkan dia menemukan hamparan bungan lavender. Sangat indah dan nyaman untuk bersantai sambil menyantap kudapan. Ana melanjutkan jalan-jalan, hingga dia menemukan sebuah tempat berlatih untuk pasukan. Tempat itu sudah banyak berisi ksatria. Dia sangat tertarik untuk mendantangi tempat itu. Rasanya sudah lama tidak melakukan latihan.


Para ksatria menatap heran kedatangan Ana. Ksatria itu sepertinya bukan dari pasukan ayahnya. Namun seorang ksatria berlari menuju Ana dan menyapa dengan Ana. Saat Ana perhatikan, dia ingin pria itu. Salah satu  ksatria yang selalu menemani Ana dan Aleardo berlatih dikediaman marques Xieben.


"Nona Anabella ternyata sedang berada di istana ini. Saya dengan nona sedang diberi tugas diperbatasan timur tapi kenapa nona bisa ada di perbatasan barat?" tanya ksatria.


"Kamu tahu Joy kelakuan Aleardo."


"Jadi tuan Aleardo membawa nona ke sini?"


"ya seperti itu tapi perang di timur sudah selesai. Aku sudah menebas raja serakah itu."


"Nona Anabella memang seperti tuan xieben." ucap ksatria.


Para ksatria lain yang tidak mengenal Ana menatap dia dengan sebelah mata. Bahkan tidak banyak mereka mencemooh penampilan Ana yang terbilang simpel. Ana hari ini menggunakan dress sederhana karena dia memang tidak suka dress yang berlebihan. Bahkan dia mendengar ada ksatria membicarakannya mengenai perang di timur.


"Mana mungkin seorang wanita lemah seperti dia bisa mengalahkan raja timur." ucap seorang ksatria.


"Diamlah Fred kamu tidak mengenal nona Anabella. Dia juga seorang ksatria yang berhasil lulus dengan nilai terbaik dalam segala cabang ujian." ucap joy.


"Dia hanya wanita bangsawan yang ingin terlihat kuat. Aku dapat mengalahkannya di ranjang malam ini." ucapan itu membuat Ana sangat marah. Dia merasa sangat direndahkan. Secara cepat Ana merebut pedang milik joy dan melempar pada ksatria Fred. Walaupun itu tidak mengenai tapi pedang joy melukai pipi pemuda itu.


"Sialan kamu wanita rendahan." ucap ksatria itu tidak terima.


Secara tiba-tiba Aleardo sudah berdiri di depan ksatria itu dan mencekik leher pria itu. Seluruh ksatria yang berada di tempat latihan terkejut dengan kedatang Aleardo. Pancaran mata Aleardo sangat tajam dan suasana menjadi sangat mencekram. Asap hitam kembali keluar dari tubuh Aleardo. Hal itu berarti Aleardo sedang sangat marah dan sisi gelap sedang mencoba keluar.


"Kamu beraninya menghina Ana dengan bibir kotor kamu."


"Aleardo lepaskan." Ana sudah mendekat tubuh Aleardo berharap dia akan melepaskan tangannya di leher ksatria itu. Tapi Aleardo sama sekali tidak mendengarkan ucapan Ana. Bahkan secara cepat kepala ksatria sudah mengelinding dari tubuhnya. Bahkan Ana tidak menyadari Aleardo sudah mengeluakan pedangnya.


"Kalian harus ingat ini. Sekali lagi saya mendengar penghinaan pada Anabella maka kalian akan berakhir seperti ini." ucap Aleardo yang langsung menarik Ana dan melakukan teleportasi menuju kamar mana.


"Aleardo kamu seharusnya tidak sampai melakukan itu."ucap Ana yang sudah dibawa oleh aleardo menuju tempat tidur.


"Ana aku tidak akan pernah membiarkan satu orangpun merendahkan kamu. Karena dimata seorang Aleardo Anabella rose Natlastion bagaikan malaikat penyelamat. Perasaan kamu sama penting dengan keberadaan kamu. Jadi jangan pernah protes dengan tindakan aku yang seperti tadi."