
Setelah Ana mengingat semua kehidupan pertama sebagai Quena. Sekarang dia dan Aleardo sedang menyusuri taman lavender yang pernah zixon dan Quena datangi. Taman yang berbatasan hutan ini. Sebagian taman masuk dalam sihir perlindung sebagian lagi diluar perlindung.
"Jadi sejak kapan kamu sudah mengingat kembali kenangan saat hidup sebagai zixon. Aleardo?" tanya Ana.
"Saat kamu tiba-tiba pingsan beberapa hari setelah pesta perayaan kemenangan perbatasan barat. Sebagian jiwa zixon yang jatuh dalam kegelapan itu masuk kedalam tubuh kamu. Dia memintaku untuk melindung kamu sebagai bayaran dia meninggalkan tubuh kamu. Setelah itu aku bisa mengingat kenangan saat menjadi zixon secara perlahan." jelas Aleardo.
"Jadi gumpalan asap yang selalu muncul di malam bulan purnama adalah jiwa Zixon?"
"Ya, bukankah kamu lebih mengerti kenapa jiwaku terbagi dua?" ucap Aleardo.
"dari ingatan yang aku dapatkan Quena memberikan jiwanya sebagai pengganti jiwa zixon. Tapi aku tidak mengerti kenapa jiwa Zixon yang terperangkap di kegelapan." ucap Ana.
"Bagaimanapun jiwa Zixon yang terikat dengan kutukan itu, Quena hanya memberikan jiwanya pada kehidupan pertama. Selanjutnya kutukan itu masih melekat pada jiwa zixon namun Quena menyimpan cahaya jiwanya pada jiwa zixon. Jadi hanya keberadaan jiwa Quena yang bisa mengaktifkan cahaya jiwa itu untuk membersihkan kegelapan jiwa zixon." ucap Aleardo.
"Sepertinya begitu ya, rasanya aneh banget ya kita membicarakan kehidupan pertama kita." ucap Ana.
"sampai sini saja cerita tentang Quena dan Zixon. Kehidupan selanjutnya hanya cerita Ana dan Aleardo." ucapan Aleardo membuat Ana tersipu malu.
"kaya kita bakal kaya kehidupan pertama saja."
"Tentu tidak akan seperti dulu." ucap Aleardo santai.
"Maksud kamu?" tanya Ana.
Ana terkejut dengan ucapan Aleardo. Apa pria itu sudah menyukai wanita lain. Jangan-jangan hatinya sudah dicuri oleh Charlote seperti novel yang aku baca. Saat Ana sedang memikirkan hal-hal tentang Aleardo yang memiliki kemungkinanan menyukai wanita lain. Aleardo menyentil kepala Ana dengan pelan yang membuat Ana tersadar dari lamunannya.
"Jangan pikir yang aneh-aneh kamu."
"Ana gak pikir aneh-aneh cuman.." Aleardo memotong ucapan Ana.
"Aku tentu tidak akan menyukai wanita lain selain kamu Ana." ucapan Aleardo membuat sebulat merah muncul di kedua pipi Ana.
"Masa ya sih ?"
"Kamu ingin aku buktiin ke kamu Kucing liar." ucap Aleardo yang wajahnya sudah mendekati wajah Ana. Ana mengalihkan kepalanya karena merasa malu saat menatap mata merah delimanya itu.
"Menjauhlah kamu." ucap Ana sambil mencoba mendorong tubuh Aleardo menjauh darinya. Dia merasa canggung dengan kondisi seperti ini.
Namun Aleardo malah memberikan kecupan pada dahi Ana yang membuat Ana terdiam. Ana menatap Aleardo yang sedang tersenyum lebar pada Ana. Hati Ana merasa meleleh melihat senyum manis dari pemuda dengan rambut hitam dan mata merah delimanya itu.
"Itu bukti aku menyukai, menyayangi, dan mencintai kamu. Karena kamu adalah poros kehidupanku sejak kamu menolongku hari itu. Kamu maupun Quena selalu menjadi malaikat pelindungku dan seseorang yang memberiku tujuan untuk tetap bertahan hidup." ucap Aleardo.
Ana menatap wajah Aleardo yang jelas menggambarkan kesungguhan dari ucapannya. Setelah beberapa menit mereka hanya saling menatap tanpa ada satupun yang berniat mengeluarkan sepata kata. Hingga Ana melihat seseorang yang berada sedikit jauh dari mereka. Posisi yang sama dengan pemuda di kehidupan Quena dulu.
"Dia." gumam Ana yang masih dapat didengar oleh Aleardo.
Ana menggeserkan tubuh Aleardo dari depannya. Dia mengeluarkan sihir perlindung di sekitar dan sihir pembersih dari aura gelap. Pemuda itu pergi meninggalkan dari tempat persembunyiannya. Tapi sebelum pemuda itu pergi Ana melihat Pemuda itu mengucapkan sesuatu.
"Tunggu saja, kita yang akan bersama buka dia." ucapan itu yang bisa didengar oleh Ana walaupun seperti tiupan angin yang menyapa telinganya.
Aleardo berjalan mendekati Ana. Dia sedikit bingung saat gadis itu tiba-tiba mengeluarkan sihir perlindung. Padahal dia tidak merasakan keberadaan orang lain selain mereka. Tempat ini tidak menunjukkan tanda bahaya tapi tindakan Ana membuat Aleardo penasaran.
"Ada satu orang yang kita lupakan dan dia adalah akar permasalahan kematian Quena maupun kutukan Zixon." ucap Ana.
"Apa maksud kamu?" Tanya Aleardo,
"Kita sebaiknya kembali ke rumah di dalam hutan tempat ini tidak aman. Terlalu banyak aura negatif yang melingkupi luar sihir perlindung hutan ini." Aleardo mendekati tubuh Ana untuk melakukan sihir teleportasi. Tidak membutuhkan waktu lama mereka sudah kembali ke dalam hutan itu.
"Kalian kemana saja?" Tanya Luxorius dengan wajah pucat pasihnya.
"Ada apa Luxorius?"Tanya Ana yang tidak berniat menjawab pertanyaan naga.
"Ternyata dari 4 orang yang Ana bawa terdapat penyihir hitam. Walaupun aku dan Yirlendi sudah membunuh penyihir itu tapi aura negatif melingkupi pohon mana Quena." jelas Luxorius.
"Hades."gumam Ana. Dia ingat pemuda yang sedang bersembunyi di pohon tadi adalah Hades. Pemuda yang memiliki perasaan sama Quena namun perasaannya tidak terbalas. Dalang kehidupan Quena hancur adalah Hades yang tidak terima Zixon menjadi pasangan wanita yang dia cintai.
"Kamu tahu Hades?" tanya Aleardo.
Aleardo ingat nama itu dari penjelasan pangeran Damian. Pemuda yang jiwanya tidak pernah mati karena sudah membuat perjanjian dengan sang iblis. Pemuda yang memiliki perasaan pada Quena.
"Hades sudah bangun dan dia berniat melakukan itu kembali." ucap ambigu Ana membuat Aleardo dan kedua naga itu bingung.
"Hades berjanji untuk melenyapkan keberadaan kamu Aleardo. " ucapan Ana.
"Tentu saja itu janjiku Ana atau jiwa Quena." ucap seseorang yang tiba-tiba muncul di depan mereka. Luxorius dan Yirlendi terkejut karena semestinya tidak ada seorangpun yang bisa masuk kedalam rumah ini selain Ana,Aleardo, dan kedua naga.
"Aku hanya ingin menyapa kamu Ana. Sekarang bukan saatnya aku mengambilmu. Aku hanya memberikan peringatan saja kalau Aleardo atau jiwa Zixon akan kembali pada sang pemiliknya bukan." ucap pemuda yang menggunakan tudung untuk menutupi wajahnya.
"Hades."
"Akhirnya kamu ingat juga, sampai jumpa kembali." pemuda itu hilang kembali.
Setelah itu Ana langsung berlari ke luar rumah itu. Dia melihat pohon perlindung dalam keadaan yang sangat buruk. Ana langsung menggunakan sihirnya untuk menyelematkan pohon itu karena pohon perlindung adalah pondasi untuk menjaga sihir pelindung hutan ini.
Hanya butuh beberapa saat hingga Ana dapat mengembalikan kondisi pohon itu seperti semua. Namun Ana merasakan Jantung sakit kembali seperti saat pertama kali menggunakan mananya. Dia memuntahkan darah segar dari mulutnya.
"Ana."
"Tidak apa-apa, ini hanya racun yang diberikan pada pohon ini. Aku membantu membersihkannya dengan memindahkan ke dalam tubuhku. Tapi racun itu tidka memiliki efek pada manusia." jelas Ana.
Sihit perlindung yang tadinya sempat melemah kembali menguat. Aura negatif di dalam hutan sedikit demi sedikit menghilang.
"Kita harus melihat kondisi pohon mana Quena." ucap Ana.
Aleardo melakukan sihir teleportasi kembali sambil menahan tubuh Ana yang sedikit melemah. Bagaimanapun tubuhnya hanya memiliki jumlah mana yang sangat dikit. Penggunaan sihir membuat Ana cepat lelah.
Mereka terkejut saat melihat kondisi pohon mana Quena. Sebagian batang terbakar walaupun sekarang berangsur membaik karena sihir perlindung sudah membersihkan aura negatif. Hal itu membuat pohon mana Quena dapat kembali seperti semula.