
Hari ini adalah pembukaan pesta musim panas kerajaan morquen. Setiap pelayaan pesta musim panas akan diadakan pertandingan untuk ksatria. Pada pertandingan ini mereka akan menunjukkan kekuatannya. Pemenang pada setiap perlombaan akan mendapatkan kenaikan jabatan.
Tentu Ana tidak tertarik dengan hadiah yang ditawarkan. Selama menjadi Ana dia selalu menantikan pertandingan ini. Karena dia pernah menemukan lagi ksatria yang bisa menandingkan keahlian dalam beladiri selain Aleardo dan marques.
Ana dan Aleardo melakukan taruhan untuk pertandingan ini. Walaupun sudah jelas siapa yang akan menang dari keduanya. Tentu saja Aleardo. tapi Ana optimis karena dia pernah memenangkan pertandingan pedang dengan Aleardo,
Tadi pagi saat Ana ingin kembali ke ibukota. Aleardo yang masih sedikit manja akibat masalah keluarganya itu. Dia sempat melarang Ana untuk ikut pertandingan. Tentu saja Ana menolak perintah Aleardo.
"Ana kamu tidak usah ikut dalam pertandingan. "ucap Aleardo yang tiba-tiba sudah memeluk tubuh Ana. Sebenarnya Ana ingin melepaskan pelukan pemuda di depannya ini.
"Lepas Aleardo."
"Tidak mau aku belum puas menghabiskan waktu denganmu."
"Bukankah kita punya pertandingan, Apa seorang Aleardo akan kabur dari taruhan ini?" tanya Ana.
Aleardo langsung melepaskan pelukannya. Muncul senyum smirk di bibir sexy Aleardo. Ana sedikit terpesona kenapa baru kali ini dia sadar ketampanan Aleardo.
"Tentu saja aku tidak akan kabut. Tunggu saja kamu harus mengambulkan permintaanku nona Anabella." ucap Aleardo.
"Sepertinya kamu yang harus menwujudkan permintaaku Aleardo." ucap Ana.
"Benarkah? Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi." ucap Aleardo. Dia mendekati Ana dan memeluk kembali tubuh gadis yang selalu menjadi tempat ternyaman.
"Lihat saja Aleardo." ucap Ana.
"Kita lihat siapa yang akan memenangkan pertaruhan ini. Jika aku menang kamu harus menjadi milikku selamanya Ana." ucap Aleardo sebelum mereka berpindah ke tempat pembukaan pertandingan pesta musim panas.
"Aku sudah menjadi milik kamu sejak awal bukan." ucap Ana pelan yang tidak terdengar jelas oleh Aleardo. Tapi pemuda itu tersenyum lebar.
Mereka melihat tempat pembukaan sudah sangat ramai dengan para rakyat yang ingin menonton pertandingan. Selain itu Ana dapat melihat keberadaan raja, putra mahkota, dan pangeran damian di tempat singgah sana yang menghadap lapangan untuk proses pertandingan.
Dia tersenyum melihat raja sudah kembali. Aleardo memberi tahunya tadi pagi kalau kerajaan telah mengumumkan berita bahagi tentang raja yang telah sadar. Walaupun raja itu sudah sadar sejak kemarin. Tapi tentu tidak baik jika raja langsung mengumumkan kemarin. Itu dapat mencurigai putra mahkota.
Ana dapat melihat tatapan tajam dari putra mahkota padanya. Ana sadar kalau jiwa yang menempati putra mahkota sekarang bukanlah Liam. Tatapan itu terlalu tajam untuk seorang Liam pada Ana. Selain itu dia dapat merasakan aura gelap seperti Aleardo padanya.
"Dia menyadarinya." ucap Ana.
"Apa maksud kamu Ana?" tanya Aleardo yang tidak mengerti ucapan Ana.
"Hades menyadari rencana kita. Dia menatap tajam kita." ucap Ana.
Aleardo langsung mengalihkan matanya menuju Hades. Dia menatap sosok pemuda itu. Aleardo merasakan aura pemuda yang pernah mereka temui di hutan Quena. Ternyata fakta tentang hades adalah putra mahkota adalah sebuah kebenaran.
Aleardo membawa Ana ke tempat para ksatria mempersiapkan diri mereka. Selain itu Ana harus mempersiapkan dirinya karena dia akan menampilkan petunjukkan seni pedang seperti permintaan putra mahkota beberapa waktu lalu. Walaupun Aleardo merasa aneh dengan permintaan itu. Tapi dia mencoba berpikir positif karena keahlian Ana dalam seni pedang memang sangat indah.
Seni berpedang Ana seperti seorang wanita yang sedang menari. Sangat gemulai dan ayu. Namun gerakan Ana sangat mematikan untuk lawan. Dia sangat mudah untuk menghindar serangan dengan rapih. Saat dimenyerang seperti tiupan angin. Sangat cepat dan sunyi.
"Aleardo aku ganti baju dulu. Ingat taruhan kita." ucap Ana sebelum meninggalkan Aleardo,
Ana masuk ke sebuah ruangan untuknya menggantikan pakaian dengan sebuah gaun putih. Gaun itu yang sangat memudahkannya dalam bergerak saat berpedang. Gaun itu sengaja dibuat oleh putra mahkota untuk penampilannya. Dia simpan pedang putih dari raja di pinggangnya. Tidak lupa dia menggunakan topeng untuk menutupi setengah wajahnya.
Penampilan Ana saat ini sangat indah dan cantik. Dia keluar dari kamar gantinya. Setiap ksatria menatapnya dengan kagum dengan Ana. Bagaimana tidak penampilannya saat ini sangat jarang mereka lihat. Ana yang biasanya hanya menggunakan pakaian ksatria. Sedangkan sekarang dia menggunakan gaun yang membentuk tubuh indah Ana.
Aleardo yang melihatnya sangat marah. Dia tidak rela lelaki lain menatap Ana seperti itu. Chino dan Raindhen yang sadar akan kemarahan sang panglima muda itu langsung memecahkan keheningan ruangan itu.
"Bukankah sebaiknya kita segera bersiap-siap. nona Ana harus menampilkan tariannya bukan?" ucap Raindhen.
Para ksatria sekarang baru sadar tatapan tajam dari Aleardo. Bahkan aura gelap membuat mereka merasa tidak nyaman dengan keadaan saat ini. Mereka langsung menundukkan kepalanya karena tidak ingin terkena amarah sang panglima.
"Aleardo aku keluar dulu ya. bye." ucap Ana.
Dia keluar dari ruang itu dan berjalan menuju lapangan tempat diadakannya pertandingan untuk ksatria. Dia sudah dipanggil untuk menampilkan tarian pedangnya. Setiap orang saat itu langsung terhipnotis dengan kehadiran Ana. Gadis berambut putih silver,mata hijau kelabu, dan bibir kecil berwarna merah muda. Wajahnya tidak ada yang bisa mengenali.
Dia menarikan tarian pedang sangat indah dan menggugah mata. Tidak ada satu orang yang tidak terpesona dengan penampilan itu. Mereka tidak menyangka seni berpedang bisa seindah itu. Namun tidak ada yang tahu kalau ada orang yang tersenyum sinis dengan tarian itu.
Tiba-tiba muncul beberapa lingkaran sihir. Hanya beberapa orang yang terkejut akan lingkaran sihir itu. Karena dari lingkaran sihir itu muncul monster-monster. Aleardo, Raja dan Pangeran Damian terkejut dengan kehadiaran monster itu. Mereka bukanlah monster kecil yang dapat dihadapi oleh seorang ksatria. Bahkan seorang marques xieben yang merupakan jenderal saja sangat kesulitan menghadapi monster itu semua.
"Itu hadiah yang aku berikan padamu nona Anabella yang sudah membuat Raja sadar." ucap Seseorang pemuda.
Ana menatap sumber suara itu. Dia sadar siapa yang mengirimkan teleparti. Orang itu adalah putra mahkota atau hades yang sedang tersenyum pada Ana.
"Kamu tahu aku sudah lama tidak bermain dengan pedangku, Hades." jawab Ana dalam teleparti.
"Ah, ternyata kamu sudah mengingatku kembali Ana. Jadi sekarang nikmati hadiahku. Tenang saja aku akan tetap melindungi kamu. Aku lebih baik dari Aleardo bukan?"
"Mungkin kamu lebih baik dari Aleardo karena tahu aku akan menyukai hadiah ini tapi Aleardo tetap pemenang hatiku." ucap Ana dengan senyum manis yang tiba-tiba muncul di wajahnya. Tentu saja para penonton dan ksatria yang melihat senyum ana langsung terpesona.
"Lihat saja Ana aku akan memiliki kamu." ucap Hades.
"Kamu juga tahu akhir dari usaha kamu." jawab Ana setelah itu Hades memutuskan telepartinya.
Sedangkan Aleardo merasa gelisah karena dia tidak bisa menggunakan sihir teleparti pada Ana. Setelah beberapa kali dia mencoba akhirnya dia dapat menyambungkan dengan Ana.
"Hallo Aleardo." sapa Ana. Ana yang menutup akses Aleardo untuk menggunakan sihirnya saat Hades melakukan teleparti dengannya. Dia tidak ingin Aleardo melakukan hal buruk karena tahu tentang hadiah menyebalkan ini.
"Aku akan membantu kamu membereskannya."ucap Aleardo.
"Ayolah Aleardo, kamu jangan mengganggu kesenanganku." ucap Ana sambil menyerang monster itu dengan mudah.
Penonton, ksatria, bahkan raja terdiam dengan gerakan ana untuk membunuh monster. Dia sangat mudah menghindar setiap serangan monster itu. Moster yang menyerang ana tidak hanya satu tapi ada 6 buah dengan ukuran sebesar gajah. Tapi Ana dengan mudah menghabiskannya. Ana sudah membunuh 3 monster itu dalam waktu 15 menit saja.
"Lihat bukan aku bisa mengalahkan mereka?" ucap Ana pada Aleardo.
"Kamu terlalu lambat bahkan aku bisa menghabiskan mereka dalam sekali kedipan mata." ucap Aleardo sombong.
"Diamlah penyihir gila, aku tahu kamu menggunakan sihirmu bukan seperti aku menggunakan pedang." ucap Ana sebal.
Ana tanpa sadar sudah menggembungkan pipinya. Tentu itu membuat siapapun gemas dengan wajah Ana yang masih tertutup topeng sebagaian wajahnya.
"kamu menantangku nona Anabella." ucap Aleardo.
"Tidak sudah lah jangan ganggu aku." ucap Ana yang memutus sihir teleparti Aleardo. Sedangkan Aleardo terkekeh tentu saja para ksatria yang berada disekitar pemuda itu memandang aneh dan terkejut. Mereka tidak menyangka Aleardo bisa tertawa dengan senyum lebar saat menatap seorang gadis yang sedang membunuh monster..
"Pasti dia habis melakukan teleparti dengan nona Anabella." ucap Raindhen.
"Seperti itu." ucap Chino. dia dapat melihat atasan kecilnya tadi tersenyum padahal sedang membunuh monster. Mereka memang pasangan yang cocok untuk bersama. Karena mereka aneh dan menyeramkan.
"Tuan Archduke dan nona Ana sangat cocok. Sepertinya tidak ada yang akan mengerti kegilaan mereka bukan. Hanya nona Ana yang bisa membuat Panglima muda itu tersenyum dan tertawa. Selain itu hanya tuan archduke yang bisa mengatasi sikap menyebalkan non Ana." ucao Chino yang dianggukan oleh Raindhen.
"Aku setuju pendapatmu. Jika mereka bersama dengan orang lain mungkin pasangannya bisa mati muda." ucap Raindhen mengingat kedua orang itu sangat menyebalkan dan pembuat masalah.
Ana sudah selesai membunuh 6 buah monster dalam waktu singkat. Semua orang bersorak dan memberikan tepuk tangan dengan penampilan Ana. Gaun putihnya sudah berubah warna menjadi merah darah. Terlihat mengerikan tapi tetap indah. Aleardo yang sadar mata ana sempat berubah menjadi merah saat membunuh 6 buah monster. Dia sedikit terkejut dengan itu. Selain itu pedang Ana bersih dengan darah. Darah dari para monster itu seperti terserap pada pedang itu.
Aleardo tidak menduga pedang suci milik ana sangat berbahaya. Pasti ada sesuatu pada pedang itu. Karena tidak mungkin pedang suci dapat menyerap darah.
Ana keluar dari lapangan. Dia berjalan menuju Aleardo, Pedangnya sudah kembali posisi di pinggangnya. Ana terkejut melihat telapak tangannya seperti melepuh. Segera dia menggunakan mana hijaunya tanpa diketahui Aleardo. Dia terkejut efek samping penggunaan pedang suci itu. Hanya pangeran Damian yang menyadari keadaan Ana saat ini. Terlihat wajahnya yang sangat cemas saat menatap Ana.
"Bukankah penampilan nona Anabella Rose Natlastion sangat indah." ucap Putra mahkota pada raja dan pangeran damian.
"Tentu saja, dia sangat indah namun sangat menyeramkan." ucap Raja.
"Pedang itu sepertinya sangat menyukai nona Anabella. Dia terlihat cocok dengan penampilannya." ucap putra mahkota dengan senyuman yang mencurigakan menurut pangeran Damian.
"Kamu benar putra mahkota." ucap Raja yang tidak menyadari pesan sebenarnya dari ucapan Putra mahkota.
Pangeran Damian yang menyadari hal buruk akan terjadi pada Ana segera meminta izin untuk meninggalkan sebentar podium itu.
"Yang mulia, saya harus membereskan beberapa hal. Karena saya izin pamit terlebih dahulu dari acara ini." ucap Pangeran Damian. Raja mengerti kalau ada sesuatu yang mencurigakan sehingga pangeran damian pergi terlebih dahulu.
"Silahkan, setelah menyelesaikan urusanmu kembalilah." ucap Raja dengan nada dingin.
Setelah itu pangeran damian langsung pergi menuju nona Anabella. Dia harus mengecek kondisi Ana sekarang sebelum hal buruk terjadi.