
Pada akhirnya Ana dan Aleardo terpaksa menetap di kediaman marques Xieben. Setelah ibu Ana menangis dan meminta anaknya untuk tinggal beberapa hari. Walaupun awalnya Aleardo menolak permintaan marhiones karena hal itu dapat berbahaya bagi Ana. Namun setelah Ana memohon dengan dan berjanji akan mengabulkan satu permintaan Aleardo. Pemuda itu menyetujui permintaan marchioness.
Dua hari telah berlalu, Ana dan Aleardo tidak pernah meninggalkan kamar tidur Ana. Tentu Aleardo tidak ingin berpisah dengan Ana. Pemuda licik itu menggunakan satu permintaan dengan membiarkan Aleardo tidur bersama Ana. Hanya tidur dalam satu tempat tidur yang sama.
“Bisakah kamu lepaskan pelukan ini, ALEARDO.” Ucap Ana yang sedang berbaring di tempat tidurnya. Sebenarnya dia merasa nyaman dengan pelukan Aleardo. Tapi mereka semestinya tidak melakukan ini.
“Aku tidak bisa.” Ucap Aleardo.
“ALEARDO jangan buat aku marah. Jika kamu tidak melepaskan pelukan ini sekarang juga. Sebaiknya kamu pergi dari kamar sekarang. Aku Sudah tidak peduli kalau Hades mengetahui keberadaanku sekarang.” Peringatan Ana.
“Kamu mengacamku?” ucap Aleardo. Tiba-tiba suasana di ruangan menjadi tidak mengenakan. Ana yang sadar kalau Aleardo sedang dalam mode marahnya. Hanya bisa menghela nafas dengan kasar.
“baiklah kamu boleh memelukku. Hanya memeluk saja.” Ucap Ana. Dia sangat sadar kalau Aleardo dalam kondisi marah. Tentu itu akan membawa bencana untuk orang lain. Dia tidak segan-segan melampiaskan kemarahannya pada orang yang tidak bersalah. Sungguh Aleardo seperti anak kecil yang suka merajuk pada ibunya.
“Tentu saja saying. Aku sangat suka aroma tubuhmu.” Ucap Aleardo yang mengendus celuk leher Ana. Tindakannya membuat Ana getek, apalagi hembusan nafas aleardo yang mengenai Ana.
“ALEARDO.”
“Baiklah saying.” Ucap Aleardo. Tentu saja pemuda itu tidak bisa diam. Bahkan tangannya yang sedang memainkan rambut silver Ana.
“Aku sangat menyukai rambutmu ini.” Ucap Aleardo.
“Kamu tahu warna rambutku seperti uban.” Jelas Ana dengan nada yang sedikit kesal. Walaupun di dalam hati kecilnya, dia merasa sangat senang dengan pujian Aleardo. Pemuda itu selalu tahu cara membuat Ana bahagia dengan hal-hal sederhana.
“hahhahahah, kalau begitu kamu menjadi wanita tua tercantik yang pernah ada.” Ucap Aleardo.
“Apa maksud kamu Aleardo?” tanya Ana.
“Bukankah kamu bila rambut silver ini seperti uban. Sedangkan orang memiliki uban biasanya sudah berumur lanjut usia. Lihatlah kamu tetap cantik dengan rambut silvermu. Bahkan kecantikan kamu bertambah saat ini.” Jelas Aleardo dengan sesekali menghirup aroma Ana dari rambutnya itu. Dia mempunyai hobi baru selain mengikuti Ana yaitu memainkan rambut silver yang memiliki aroma menenangkan untuknya.
“Jadi dulu aku tidak cantik?” sewot Ana.
“Tentu saja kamu tetap cantik dengan apapun penampilanmu. Bahkan jika kulitmu sudah mulai mengkerut. Kamu tetap wanita paling cantik untukku. Ana.” Ucap Aleardo sambal membalikkan badan Ana. Sekarang mereka sedang saling berhadapan.
Ana dan Aleardo saling menatap. Tidak ada satu orangpun yang mengeluarkan suaranya.
Ana memukul Aleardo karena kesal. Tapi pria itu menangkap tangan Ana dan malah mengecup tangan Ana. Perlakuan Aleardo membuat Ana tersipu malu. Kedua pipinya sudah berwarna merah seperti tomat. Sedangkan Aleardo yang melihat Ana tersipu malu membuat senyuman manis muncul di wajah tampan pemuda itu.
“Terima kasih atas pujianmu.” Ucap Aleardo pada Ana.
“Berhenti membaca isi pikiranku Aleardo. Semua itu privasiku.” Protes Ana pada Aleardo.
“Aku suka saat warna merah ini muncul karena aku. Aku pastikan hanya seorang Aleardo yang boleh melakukan ini padamu.” Ucap Aleardo sambal mengelus pipi cabi milik Ana. Dia baru sadar kalau kedua pipi milik Ana sudah tidak setirus sebelumnya. Dia sangat senang kondisi wanitanya kembali seperti semula. Aleardo terus menatap wajah Ana dengan ekspresi sendunya. Ana yang sadar kalau Aleardo sedang memikirkan kondisi beberapa waktu lalu.
Ana sangat tahu kalau Aleardo selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang menimpanya. Ana tidak suka dengan hal itu. Dia berusaha untuk membuat Aleardo tidak menyalahkan dirinya sendiri. Tapi selalu saja ada yang membuat pria itu ingat tentang kejadian yang menimpannya 2 tahun lalu.
“Berhenti menyalahkan diri kamu sendiri. Semua itu bukan salah kamu. Kejadian itu juga terjadi karena aku yang tidak waspada pada sekitarku.” Ucap Ana yang mencoba menghibur Aleardo. Tapi itu tidak membuat pria itu terhibur. Bahkan Aleardo semakin merasa bersalah.
“Kalau aku bisa datang lebih cepat, pasti semua itu tidak akan terjadi. Anabella Rose Natlastion pasti tidak akan mengalami kondisi seperti beberapa waktu lalu. Aku senang pipi kamu menjadi cabi kembali. “ ucap Aleardo sambil melemparkan senyum manis pada Ana. Gadis itu kembali tersipu malu dengan senyum manis dari pemuda itu.
“Jangan tersenyum seperti itu Aleardo.” Ucap Ana membalikkan badannya. Dia tidak ingin Aleardo melihat wajahnya yang sudah semerah tomat. Tapi Aleardo kembali membalikkan badan Ana. Pemuda itu memeluk tubuh Ana dengan erat. Kepala Ana bersadar pada dada bidang Alerdo. Ana yang awalnya mencoba melepaskan pelukan Aleardo hingga akhirnya dia menyerah. Sebenarnya posisi ini sangat nyaman untuknya.
“Jangan menghindar dari aku Ana.” Ucap Aleardo.
“Bukankah posisi ini sangat nyaman bukan? Aku selalu berharap kedepannya kita bisa terus seperti ini. Ana bagaimana kalau kita menikah dalam waktu dekat ini? Aku tidak ingin hades memiliki kesempatan untuk merebut kamu dariku.” Ucap Aleardo sambil mengelus punggu Ana. Perbuatan Aleardo membuat Ana merasa mengatuk.
“Bukankah kamu harus bertanya pada ayah mengenai pernikahan kita.” Ucap Ana.
“Kalau begitu aku akan membicarakan rencana pernikahan kita besok pagi. Kita akan menikah secepatnya. Tentu membuat kejutan untuk Hades akan menarik.” Ucap Aleardo.
“Jangan lakukan hal itu.” Ucap Ana lirih. Dia sudah mulai mengantuk apalagi Aleardo masih mengelus punggunya.
“Aku hanya ingin semua orang tahu kalau Anabella Rose Natlastion telah menjadi milik Aleardo.” Ucap Aleardo dengan tatapan tajam yang tiba-tiba muncul. Dia ingat saat para pria menatap Ana dengan tatapan lapar dan kagum. Aleardo sangat sadar akan pesona yang dimiliki oleh seorang Anabella Rose Natlastion. Bukan hanya paras cantik dan badan indahnya. Tapi gadis itu sangat pandai dalam beperang dan memasak. Tentu saja semua itu keahlian yang jarang dimiliki oleh para wanita bangsawaan di kerajaan ini.
Namun bukan karena itu semua yang membuat seorang Aleardo sangat mencintai Ana. Dia mencintai Ana karena hanya dia yang bisa membuat Aleardo menjadi dirinya sendiri dan mencintai keadaanya sendiri. Ketika orang lain menghina dan menjauhinya. Hanya Ana yang selalu memberikan semangat pada Aleardo untuk mencintai dirinya sendiri.
“Aku sangat mencintai kamu Anabella Rose Natlastion.” Ucap Aleardo dengan diakhiri sebuah kecupan di dahi Ana. Sedangkan Ana sudah terlelam di dalam alam mimpinya.