Female Villainess

Female Villainess
33.Taman Lavender



Setelah penangkapan penyihir hitam, Aleardo membawa Ana ke sebuah hamparan bunga lavender. Tentu ini bukan taman yang ada di pinggir ibu kota. Dia tidak tahu keberadaan ini. Karena Aleardo menggunakan sihir teleportasi jadi dia tidak tahu tepat tempat ini.


"Kamu tahu tempat ini dari mana?" tanya Ana.


"Entahlah, aku tahu tempat ini saat kamu pergi berperang. Ini tempat yang aku temukan di bagian selatan istanaku." ucap Aleardo.


Ana mengerti ucapan Aleardo. Dia menyusuri taman lavender yang sangat luas. Tiba-tiba dia ingat mimpinya. Aleardo dewasa dan Ana. Mereka terlihat seperti pasangan. Apakah dia bisa hidup hingga saat itu terjadi.


"Hey kenapa kamu melamun? Akhir-akhir ini kamu selalu melamun."


"Hanya sedang memikirkan ucapan penyihir hitam itu."


"Tidak usah kamu pikirkan. Aku pastikan kalau kamu akan tetap hidup walaupun itu aku harus mengobarkan hidupku." ucapan Aleardo membuat Ana membalikkan badannya.


Dia sangat tidak suka ucapan Aleardo. Dia seperti mendengar kata-kata terakhir Aleardo yang mati karena tertusuk pedang Ana.


"Berhenti berbicara seperti itu Aleardo. Aku tidak ingin kamu mengorbankan hidup kamu untuk aku. " Ucap Ana.


Setelah itu Ana meninggalkan Aleardo. Dia melihat sekitar taman ini. Semua ini sama dengan yang ada di mimpinnya. Ana berjalan terus sampai dia tidak sadar kalau sudah meninggalkan Aleardo sangat jauh.


Aleardo yang kesal karena ditinggalkan Ana begitu saja. Dia menggunakan sihir teleportasi menuju depan Ana. Tentu saja Ana berakhir menabrak dada Aleardo.


"Sepertinya kamu sangat ingin dipeluk ya?"


"Berhenti Aleardo, aku masih kesal sama kamu."


"Sudah berhenti marahnya, Aku juga kan sudah janji akan tetap hidup. Jadi jangan dipikirkan ucapan penyihir hitam itu." ucap Aleardo yang diakhir dengan mengelus rambur Ana yang sudah tidak berwarna merah muda. Dia sedikit sedih menatap perubahan Ana. Dia merasa bersalah pada kondisi gadis itu. Oleh sebab itu Aleardo sekarang sangat tidak suka kalau Ana berjauhan dengannya. Karena dia takut terjadi hal buruk seperti beberapa hari lalu.


"Apakah kamu suka dengan rambut ini?" tanya Aleardo.


"Aku tidak membenci tapi rasanya kaya sudah nenek saja. hahhaha."


"Kamu memang seperti nenek."ucap Aleardo.


"Apa?" Ana marah dia mencoba meraih tubuh Aleardo tapi dia sudah lebih dulu kabur. Akhirnya mereka melakukan kejar-kejaran di tamna lavender.


"Sudah ah aku cape." ucap Ana, dia menidurkan tubuhnya diantara rerumputan yang dipotong kecil. Aleardo ikut duduk di samping Ana.


"Aleardo, aku dengar Gadis berambut putih perak dan bermata hijau kerabu terkena kutukan loh."


"Kamu memang kena kutukan kemarin." ucap Aleardo santai. Dia belum sadar dengan arah pembicaraan Ana.


"Bukan itu, Gadis bersurai putih perak sama seperti anak laki-laki bersurai hitam kan? Kerajaan ini membenci kedua anak itu. Katanya mereka terlahir untuk saling membunuh. Hanya boleh satu yang hidup atau dunia ini akan hancur." ucap Ana.


"Kamu mendengar itu dari mana?" tanya Aleardo dengan sedikit lirih.


Aleardo sudah mengetahui tentang dongeng kerajaan ini. Anak gadis berambut putih adalah simbol kesucian sedangkan anak laki-laki berambut hitam adalah simbol kehancuran. Mereka adalah takdir yang dilahirkan di dunia ini. Namun sang pencipta tidak mengizinkan mereka menyatu. Kehancuran akan datang jika mereka bersatu. Berbanding terbalik jika mereka terpisah. Hanya boleh yang hidup di dunia ini. Tapi itu juga sebuah pilihan yang sulit. Jika membunuh gadis bersurai putih menandakan kerajaan ini akan jatuh kedalam ketepurukan tapi kalau anak laki-laki yang dibunuh maka akan datang ketentraman.


"Beberapa hari aku membaca sebuah buku dongeng. Buku menceritakan kita bukan? Kamu berambut hitam dengan iris merah dan aku berambut putih perak dengan iris hijau kelabu."


"Aku tidak percaya dengan isi dongeng dari buku yang tidak jelas penulisanya." protes Aleardo.


Aleardo tidak mempercayai itu karena dia tahu kebenaran tentang keberadaan mereka berdua. Buku dongeng itu dibuat untuk menghancur Aleardo dan Ana. Mereka berharap kalau pasangan itu akan saling membunuh.


"Tapi bukankah itu sama seperti yang aku mimpikan. Aku akan membunuh kamu." ucap Ana dengan sendu.


"Itu tidak akan terjadi Ana. Kutukan yang dikirimkan penyihir hitam ingin membingungkan keberadaan kamu sebenarnya. Mereka ingin kita saling menghancur sehingga dunia ini hancur. Tentu ada alasan mereka ingin itu terjadi Ana. Aku tidak bisa menceritakan itu pada kamu." ucap Aleardo.


"Sudahlah berhenti menangis." ucap Aleardo.


Mereka akhirnya terdiam, keduanya tenggelam dengan pikirannya masing-masing. Hari sudah malam tapi mereka tetap tidak ingin berpindah dari taman lavender.


"Malam ini indah semoga ada bintang jatuh."


"Kenapa kamu ingin ada bintang jatuh?" tanya Aleardo.


"Katanya kalau kita berdoa saat bintang jauh, doa itu akan terkabul." Setelah Ana mengucapkan itu sebuah bintang jatuh.


"Aleardo ayo kita berdoa. Semoga Aku dan Aleardo selalu sehat dan hidup bahagia. Jangan renggut orang-orang yang aku sayang. Lindungi mereka dan selalu kelilingi mereka dengan kebahagian. Jauhkan dari malapetaka." ucap Ana.


"Aku berharap kita selalu bersama dan bahagia." harapan Aleardo dalam hati.


"Kenapa kamu tidak mengikutiku?" tanya Ana saat Aleardo hanya menatap langit tanpa berdoa. Padahal dia sudah melakukannya di dalam hatinya karena terlalu malu jika Ana mendengarnya.


"Aku punya sesuatu untuk kamu." Ucap Aleardo.


"Apa? mana nih?" minta Ana sambil menyodorkan kedua tangan Ana di depan Aleardo."


"Selamat ulang tahun Anabella Rose Natlastion. Semoga kamu selalu bahagia dan dilindungi. " ucap Aleardo sambil memberikan sebuah kotak kecil.


"Kamu ingat hari ulang tahun aku. padahal aku saja tidak ingat loh." ucap Ana.


Dia membuka hadiah yang diberikan oleh Aleardo, Ana terkejut saat melihat kalung dengan gantungan bunga lavender. Dia sangat menyukai itu.


"Terimakasih Aleardo. Ana suka sama kalungnya. Lucu. Bunga lavender. heheheheh."


"Sini aku pasangkan. " tawar Aleardo, Ana memberikan kalung itu pada Aleardo. Aleardo memasangkan kalung itu pada leher Ana.


"indah." ucap Ana.


"Jangan pernah kamu melepaskan kalung bagaimanapun kondisinya." ucap Aleardo.


"Tentu." ucap Ana.


Sebenarnya kalung itu dibuat sendiri dengan Aleado. Kalung yang secara khusus dia buat untuk mengetahui keadaan gadis itu. setelah dia tidak bisa menemukan keberadaan Ana. Dia akhirnya mengalirkan mana pada kalung lavender itu.


"Aleardo, kalung ini kamu alirkan mana kamu ya?" tanya Ana.


Sekarang Ana bisa merasakan aliran mana orang lain. Keahliannya dalam penyembuhan semakin meningkat tiap harinya. Tentu dia dapat merasakan ada aliran mana pada kalung yang diberikan oleh Aleardo. Tapi dia tidak mempermasalahkan itu. Pasti Aleardo tidak berbuat seperti tanpa ada alasannya.


"ya aku sengaja mengalirkan manaku agar mengetahui kondisi kamu dimanapun kamu berada. "


"Sebenarnya aku tidak suka dengan sikap kamu yang seperti itu. tapi karena aku suka kalung ini jadi aku tidak akan marah."


"Yang penting jangan pernah melepaskan kalung itu. Sekarang kamu dalam keadaan bahaya Ana. Fisik kamu pasti akan diburu oleh para penyihir hitam. Keberadaan kamu membuat mereka tidak dapat bergerak seperti dulu. Aura kamu membuat kerajaan ini menjadi bersih dan suci. Hal itu yang mereka membenci keberadaan kamu. Karena mereka tidak dapat menggunakan sihir yang terikat oleh iblis." ucap Aleardo,


"Kenapa kamu bisa tahu banyak hal Aleardo?"


"Aku tidak akan ceritakan itu saat ini karena belum saatnya. Hanya saja aku tahu kalau keberadaan kita bukan sebuah penghancur untuk dunia ini. Kecuali mereka memang membuat aku kesal. Aku akan menghancurkan kerajaan ini." Ucap Aleardo,


"sifat arogan kamu keluar lagi." ucap Ana sebal