
Ana terkejut saat melihat pantulan dirinya di cermin. Dia seperti gadis yang ditemui di dalam mimpinya. Rambut merah mudanya sudah berubah menjadi putih perak. Matanya juga sama tidak ada pancaran hijau muda tapi hijau kelabu.
Dia ingat mimpinya yang akan membunuh Aleardo dengan keadaan seperti ini. Apakah itu cuman bunga tidur atau sebuah peringatan untuknya. Ana terdiam hingga dia tidak sadar Aleardo sudah masuk ke dalam kamarnya.
"Kenapa kamu melamun saja sejak tadi?" tanya Aleardo yang sudah duduk di salah satu sofa di kamar Ana.
Sedangka Ana sedang duduk di depan cermin dan Lila sedang menyisir rambut putih peraknya.
"Ana aku berpikir saat rambut kamu jadi putih perak menjadi lebih cantik." ucap Lila.
Itu bukan sebuah kebohongan. Warna putih perak itu menambah kecantikan dan keayuan. Sedangkan rambut merah mudanya dulu lebih membuat Ana terlihat menggemaskan.
"Lila berarti aku dulu tidak cantik dong?"Tanya Ana sedikit cemberut.
"Iya/tidak" Aleardo dan lila menjawab bersamaan.
Ana tahu siapa yang bilang dia tidak. Siapa lagi kalau bukan si Aleardo yang menyebalkan. Ana memberikan tatapan tajam pada laki-laki itu tapi hanya sesaat. Setelah itu tatapan sendu terpancar di mata hijau kelabunya.
Ana mengingat saat Aleardo yang meninggalkan karena luka tusuk olehnya. Aleardo menyadari perubahan tingkah laku Ana setelah gadis itu bangun. Ana sedikit memberikan jarak dengannya. Dia sudah tidak pernah mengikutinya bahkan Ana selalu pergi ke tempat para ksatria. Jika Aleardo mengajak pergi bersama maka Ana Akan beralasan untuk pergi ke suatu tempat.
Setelah Lila selesai menyisir dan menata rambut majikannya. Dia meninggalkan Ana dan Aleardo di dalam kamar. Karena dia sadar Aleardo ingin berbicara dengan nonanya. Selain itu dia merasakan kalau Ana sedikit berbeda. Dia tidak seceria sebelumnya.
"Kamu menjauhiku Ana." Ucap Aleardo yang menyadarkan lamunanya.
Ana memang menjauhi Aleardo. Karena dia takut mimpi buruknya terjadi pada laki-laki itu. Bukan lebih baik menjauh dan membuat Aleardo sedikit tidak peduli padanya. Jadi dia tidak akan mengobarkannya dirinya untuk Ana suatu hari nanti.
"Itu hanya perasaan kamu saja. Hari-hari ini aku memang sangat sibuk dengan urusan ksatria. Selain itu beberapa hari akan ada pesta perayaan di kerajaan. Aku harus mengatur keamanan di istana."
"Itu cuman alasan kamu untuk membenarkan tindakan kamu itu." ucap Aleardo ketus.
"Tidak sama sekali, sudahlah Aleardo aku harus pergi kerja selain itu bukankah kamu masih banyak urusan dengan daerah yang kamu pimpin."
"BERHENTI." Teriak Aleardo yang membuat Ana berhenti melangkah.
"Kenapa kamu menghindari aku? Berikan aku alasan itu Ana. Kamu tahu aku tidak mungkin bisa berjauhan dengan kamu Ana." ucap Aleardo marah.
"Anggap saja itu demi kebaikan kamu Aleardo." Ucap Ana. Setelah itu dia melangkahkan kakinya menuju pintu namun sebuah pelukan menahan tubuhnya. Aleardo sedang memeluk Ana dengan kuat. Bahkan Ana tidak bisa melepaskan pelukan itu.
"Lepaskan Aleardo. Masih banyak yang aku selesaikan." ucap Ana yang sedang mencoba melepaskan pelukan itu.
"Tidak akan pernah, Bukankah kamu berjanji akan selalu di samping aku Ana." rengek Aleardo. Laki-laki itu sekarang seperti anak kecil yang takut ditinggalkan oleh ibunya.
"Sepertinya aku akan memikirkan penawaran raja." Ucapan Ana tentu membuat Aleardo marah bahkan mata merahnya menjadi lebih pekat dari biasanya.
Aleardo membalikkan badan Ana. Sekarang mereka saling berhadapan. Ana terkejut dengan sosok Aleardo di depannya. Tapi dia mencoba untuk tidak lemah. Bagaimanapun dia harus menjauhi Aleardo demi kebaikannya. Walaupun itu melukai perasaan keduanya.
"Apa yang kamu ucapakan Ana? Kalau itu terjadi aku pastikan negeri ini akan hancur dalam sekejap mata." ucap Aleardo,
"Aku hanya tidak ingin kamu mati karena aku. Harusnya kita tidak pernah dekat Aleardo, Itu lebih baik dibandingkan melihat kamu menerima tusukan dari aku." ucapan Ana membuat Aleardo terkejut sekaligus marah.
Dia marah karena Ana lebih memilih tidak pernah dekat dengannya. Tapi kenapa Ana berpikir gadis itu akan membunuhnya. Apakah Ana melihat sesuatu hal buruk saat kutukan itu berada di tubuh Ana.
"Ceritakan padaku, Jangan kamu pendam semuanya sendiri. Kita bisa menyelesaikannya bersama semua."
Pada akhirnya Ana menceritakan semua isi mimpinya. Aleardo terkejut akan semua itu. Ternyata kutukan itu memberikan gambaran mimpi buruk yang ditakuti oleh orang terkena kutukan itu. Mimpi buruk Ana adalah gadis itu membunuh Aleardo dengan tangannya sendiri.
"Tapi Ana, Aku akan tetap seperti Aleardo yang ada di dalam mimpi kamu. Jika kamu melukaiku, Aku tidak akan pernah marah atau menyalahkan kamu. Karena perasaan aku sama seperti yang ada di dalam mimpi itu."
"Tidak Aleardo kamu tidak boleh seperti itu. Jangan mati." ucap Ana yang menangis sedikit histeris.
"Aku tidak akan mati karena Aku ingin melihat Ana saat umur 19 tahun seperti yang kamu mimpikan." ucap Aleardo menghibur gadis itu.
"Kamu janji?" tanya Ana sambil menenunjukkan jari kelingkingnya. Aleardo tidak mengerti maksud Ana.
"Ini namanya janji kelingki. Kamu janji tidak akan mati dan meninggalkan aku sendiri kan?"
"aku janji, tapi kamu juga janji tidak akan meninggalkan aku juga."
"Janji Aleardo."
Keduanya membuat janji kelingking. Ana sedikit bisa lega saat pria itu berjanji tidak akan mati. Sekarang tugasnya adalah mencari penyebab dirinya membunuh Aleardo, Tapi dia ingat gadis yang membunuh Aleardo adalah Ana tapi ada sesuatu yang aneh dari tingkahnya. Ana susah mengingat mimpi itu.
"Jadi kamu sangat sibuk Ksatria Anabella?" Tanya Aleardo yang sebenarnya dia sudah tahu kenyataanya.
Kalau selama ini Ana tidak sesibuk itu. Gadis itu hanya menghabiskan waktu pergi ke taman lavender jika tugas sudah selesai. Tugasnya tidak terlalu banyak, dia hanya harus membantu membuat starategi perang, formasi pengaman dan melatih ksatria baru.
Walaupun Ana juga termasuk ksatria baru tapi keahliannya sudah diakui oleh sang raja. Apalagi dia sudah menebas kepala pemimpin musuhnya yang tidak lain raja kerajaan timur yang terkenal dengan keahlian berpedang. Jadi kesibukan Ana tidak begitu banyak itu juga permintaan Aleardo yang disampaikan pada raja. Tentu raja itu tidak bisa menolak permintaan Aleardo.
"Sebenarnya aku tidak sibuk, Tapi aku juga tidak mau menemani Aleardo di perpustakaan." ucap Ana. Setelah itu Ana kabur dari Aleardo.
Setelah perubahan fisik pada Ana, Dia bisa mengontrol Mana dengan baik. Bahkan tubuhnya tidak memberikan tanda buruk jika dia menggunakan mana itu. Jadi Ana bisa menggunakan Mana untuk menyembunyikan aura sehingga Aleardo tidak dapat menemukannya beberapa hari ini.
***Hallo readers\, Bagaimana nih cerita Ana si penjahat wanita? Pasti penasaran banget sama si Ana. Apakah Ana berhasil untuk mengubah takdir buruknya? Selain itu mimpi buruk Ana apakah cuman bunga tidur atau gambaran masa depan. Pasti penasaran maka terus ikutin cerita Female Villainess. ***
Jangan lupa Like, Comment, dan ikuti author ya.
***OH iya Author juga beberapa cerita lain selain Female Villainess. Ayo mampir ke cerita yang lain ya. ***
1. Raka dan Cady. Ini ceritanya tentang kehidupan Anak Sma. Cady yang ingin jadi teman raka karena dia punya janji dengan pria tua yang tak lain ayah raka. Tapi sayang Raka tidak ingin berteman dengan cady karena dia pikir cady seperti gadis lain yang mendekatinya karena ingin memiliki khusus seperti pacaran. Raka tidak menyukai itu selain itu dia juga membenci seorang perempuan.
2. My Lover Mafia
Kalau ini ceritanya tentang mafia yang jatuh cinta sama seorang gadis yang dia temuin saat liburan. Ternyata gadis yang disukai oleh mafia memiliki kenangan kelam tentang sebuah hubungan.