Female Villainess

Female Villainess
72. Perasaan 4 tokoh



Di sebuah ruang dengan kondisi barang-barang berserakan dan tidak cahaya sedikit pun. Hanya ada seorang pemuda yang berdiam di duduk menghadap hamparan taman yang sudah hancur karena luapan amarahnya. Taman yang awalnya ingin dia hadiahkan pada seorang wanita yang berarti untuknya. Tapi semua hancur, harapan untuk dapat memiliki hatinya hanya sebuah mimpi di siang bolong untuknya. Dia marah pada takdirnya yang tidak merestui keinginannya di beberapa kehidupannya.


"Kenapa harus aku yang tidak kamu perdulikan? Padahal aku selalu ada buat kamu dan melindungi kamu ketika orang lain melukai kamu. Kenapa Quena? " gumam seorang pemuda dengan pandangan kosong. Dia tidak sadar kalau mata ungunya sudah basah dengan air mata. Mata indah yang sangat jarang dimiliki oleh rakyat kerajaan morquen seperti warna merah darah.


"Aku hanya ingin kamu menjadi milikku tidak ada lain," ucap Lirih pemuda itu yang tidak lain putra mahkota dengan jiwa Hades.


Dia tidak menduga segala usahan untuk mendapatkan Ana selalu gagal. Entah itu karena Aleardo ataupun perbuatan gadis itu sendiri. Dia marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa mendapatkan yang diinginkannya.


"Mungkin hanya ada satu cara untuk membuat kamu menjadi miliku selamanya." ucap pemuda itu sebelum kedua matanya tertutup. Dia tidak sadar ada seorang wanita yang berdiri sejak tadi memperhatikan setiap hal yang dilakukan oleh Hades. Wanita itu menangis melihat pria yang dia cintai menangis karena wanita lain.  Dia berjalan mendekati tubuh Hades yang sedang terbaring di tempat tidur dengan barang-barang berserakan di bawah lantai. Sekali gerakan tangannya membuat keadaan ruangan itu kembali seperti semula.


"Seharusnya kamu tidak melihat wanita itu, Lihatlah aku yang selalu ada untukmu juga. Wanita yang sangat mencintai kamu dan mengetahui segala tentang luka akibat gadis itu." ucap wanita itu yang sedang menghapus air mata di wajah Hades.


"Semuanya aku lakukan agar kamu tidak mendapatkan luka tapi kamu selalu berjalan menujunya. Kenapa Hades?" tanya wanita itu dengan suara lirih.


" Kenapa kamu harus memberikan hatimu pada wanita yang tidak memperdulikan hatimu sama sekali? Aku mohon berhentilah dan lihat padaku untuk sekali ini." ucap wanita itu sebelum menghilang. Setelah kepergian wanita itu, kedua mata itu terbuka menampilkan mata ungunya yang sangat mempesona. Sebenarnya Hades sejak tadi tidak tidur saat wanita itu datang ke dalam ruangannya. Dia tidak ada niat untuk mengusir keberadaan wanita itu. Tapi dia juga tidak bisa memberikan kesempatan pada wanita itu.


"Tapi aku tidak akan pernah bisa mencintai kamu karena alasan aku tidak bersama dengan Quena adalah kamu Charlote. Aku sangat membenci keberadaanmu dan menyayangi di waktu bersamaan." ucap Hades.


Sedangkan ditempat lain di waktu yang sama, Ana dan Aleardo sedang pergi menuju hutan Quena. Mereka menghabiskan waktu bersama untuk melihat gerhana bulan. Keduanya hanya terdiam sambil menikmati suasana malam itu. Mungkin malam ini akan menjadi malam tenang terakhir mereka sebelum pertarungan yang akan dimulai besok.


"Kamu benar-benar akan ikut pertandingan menunggang kuda?" tanya Aleardo. Sebenarnya dia tidak mengizinkan Ana untuk mengikuti pertandingan itu karena dia barus saja menggunakan energi mananya secara berlebihan. Seingatnya Ana sudah melakukan secara berturut-turut. Sejak menyelamatkan Raja, Penampilan seni pedang, dan pertandingan dengan Carlos. Gadis itu selalu dalam kondisi yang sangat bahaya dan dia tidak bisa melindunginya. Hanya melihatnya selalu terluka dan terbaring lemah.


"Kamu tidak ingat beberapa hari kamu selalu berakhir dengan terbaring karena terlalu banyak menggunakan mana  kamu. Jika itu terjadi terus menerus..." ucapan Aleardo langsung dipotong oleh Ana.


"Aku akan baik-baik saja Aleardo. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan masa depan kita. Kamu ingat impian yang pernah aku ceritakan. Kita akan bermain di taman lavender saat umurku 19 tahun. Berarti aku akan baik-baik saja." ucap Ana berharap Aleardo akan tenang dengan apa yang bicarakan. Dia tidak ingin pemuda di samping terlalu memikirkannya.


"Bisa tidak kamu jangan berbicara kalau kamu baik-baik saja. Tapi lihatlah kamu selalu berakhir dengan terluka. Selalu seperti itu terjadi padamu. Harusnya kamu hanya perlu mengandalkan aku saja Ana." ucap Aleardo dengan nada tingginya. Bahkan dia sudah berdiri dari posisi duduknya. Dia mengacak-ngacak rambut hitam regamnya. Sedangkan Ana saat terpesona dengan Aleardo. Walaupun terlihat acak-acakan tapi itu tidak membuat ketampannya berkurang bahkan dia lebih menggiurkan menurut Ana.


"Kamu tahu sekarang penampilanmu membuat aku terpesona." ucap polos Ana yang membuat Aleardo langsung membelakangi tubuh Ana karena kedua pipinya memerah. Dia sangat merasa malu saat gadis itu memujinya. Walaupun dia sering mendapat pujian dari wanita lain tapi Ana tidak semudah itu memuji seseorang.


"Aku sudah tahu itu. Kamu saja yang buta tidak melihat kalau aku tampan." ucap Aleardo dengan nada yang sedikit malu-malu. Ana yang mengetahui kalau Aleardo sedang tersipu malu langsung tertawa keras. Dia sangat gemas dengan tingkah pria muda di depannya.


"hahhahahah, kamu lucu sekali ya."


"Diam kamu Ana." teriak Aleardo tapi tidak membuat Ana diam, dia bahkan semakin mengejek Aleardo dengan berjalan menuju depan wajah Aleardo. Tentu saja Aleardo langsung membuang wajahnya.  Tapi kedua tangan Ana membuat wajah aleardo menatap saat ini.


"Ingat janjiku, Jika semua ini telah selesai mari kita hidup bersama selamanya. Pada saat itu datang aku akan menyerahkan diriku seluruhnya padamu. Aku hanya akan mengandalkanku untuk segala kehidupannya. Tapi saat ini aku tidak bisa seperti itu. Jadi sedikit bersama, aku yakin hari itu akan datang" ucap gadis berusia 14 tahun itu. Sambil mengeluarkan jari kelingkingnya. Keduanya melakukan jari kelingking.


'Aku berharap, saat itu terjadi dan tidak berakhir seperti kehidupan sebelumnya.' ucap Ana dalam hati. Sebenarnya dia tidak yakin dengan dirinya. Dia takut kalau janjinya tidak bisa terwujud. Bagaimana seorang Aleardo dapat tetap bertahan hidup tanpanya. Dia hanya seorang pemuda yang tidak memiliki siapapun yang berada di sampingnya.


'Aku berjanji akan membuat kamu bahagia jika aku tidak bisa berada di samping kamu. Aku tidak akan membiarkan kamu sendirian lagi.' ucap Ana dalam hati sambil menatap mata merah milik Aleardo. Setelah itu dia memberikan kecupan pada pipi Ana yang membuat Aleardo terdiam saat itu.