Female Villainess

Female Villainess
86. Sebelum pernikahan



Setelah dua tahun Aleardo seperti hilang di ibukota keraja marquen. Hampir semua bangsawan tahu alasan pemuda itu menjauh dari ibukota. Hilangnya anak marques xieben yang terkenal sebagai ksatria wanita termuda di kerajaan ini dengan berbagai bakat menakjubkan. Ternyata keberadaan gadis kecil itu cukup berpengaruhi pada kerajaan marquen terutama untuk ksatria istana yang berada di bawah kendali Anabella.


Rumor yang mengejutkan membuat gempar ibukota. Berita tentang Archduke Aleardo yang sangat menyukai anak marques xieben yang akan menikah dalam waktu dekat ini. Padahal Anak marques Xieben belum ditemukan keberadaannya.


Berbagai pembicaraan tentang wanita seperti apa yang dapat menggeser posisi Anabella Rose Natlastion dari hati seorang Archduke Aleardo. Pemuda itu tidak pernah berjauhan dengan gadis kecil yang sangat ahli dalam berpedang itu.


Selain itu para wanita bangsawan yang sangat mengagumi sosok Aleardo harus menggigit bibir karena kesempatan mereka untuk menjadi calon pendamping pemuda itu sudah tidak ada. Padahal setelah Anabella menghilang, para wanita bangsawan merasa memiliki kesempatan besar untuk mendapatkan perhatian seorang Aleardo. Tapi Aleardo yang tidak pernah ikut dalam setiap acara bangsawan maupun kerajaan. Tentu membuat para wanita bangsawan sulit untuk mendapatkan kesempatan berbincang. Sekarang Aleardo akan menikah tentu saja kesempatan mereka semakin menuju angka nol persen.


Tempat lain, dua anak manusia malah sedang asik menghabiskan waktu mereka di dalam perpustakaan. Lebih tepatnya Aleardo yang menghabiskan waktu di perpustakaan dengan membaca sebuah buku tentang sihir. Sedangkan Ana hanya diam sambil merebahkan kepalanya di atas meja. Kedua matanya sedang menatap pemuda yang tenggeram dalam dunianya sendiri.


"Mau sampai kapan kamu melihat aku seperti itu?" tanya Aleardo tanpa mengalihkan tatapannya dari buku itu.


"Entahlah, tidak ada kegiatan lain yang bisa aku lakukan. Membaca buku sangat membosankan." jelas Ana seadanya. Aleardo mengalihkan tatapannya dari buku dan menatap wajah Ana.


"Jadi menatap wajahku tidak membuat kamu bosan. Kalau begitu aku dengan senang hati membiarkan kamu menatapku seperti sebelumnya." ucap Aleardo dengan senyum lebar muncul di wajah tampannya.


"Cih, tidak usah tersenyum seperti itu." ucap Ana yang mengalihkan matanya. Dia selalu terpesona dengan senyum manis dari pemuda di samping.


"Kenapa aku tidak boleh tersenyum? Apakah aku terlihat lebih tampan?" tanya Aleardo yang ikut meletakkan kepalanya di meja dan menghadap pada Ana.


"Entahlah yang pasti jangan tersenyum seperti itu di depan wanita lain." ucap Ana.


"Aku tidak mungkin memberikan senyuman pada wanita lain. Karena hanya kamu sumber kebahagian Aleardo yang membuat aku bisa tersenyum selebar ini." ucap Aleardo. Ana terdiam dengan kedua pipinya sudah semerah tomat. Dalam hati dia sangat bahagia dengan ucapan Aleardo.


"Sudahlah, lanjutkan membaca buku itu. " ucap Ana.


"Buku itu jadi tidak menarik sekarang, menatap wajah kamu lebih menarik apalagi kedua pipi cabi ini memerah." ucap Aleardo sambil mencubit kedua pipi Ana.


"aw sakit Aleardo."protes Ana yang sudah dalam terduduk sempurna. Kedua tangannya menyentuh pipinya yang baru saja dicubit oleh Aleardo. Wajah kesal Ana sangat kentaran.


"Aku gemas dengan pipi cabi kamu. Aku ingin menggigitnya." ucapan Aleardo membuat Ana terkejut.


"Kamu gila? Kamu pikir pipiku bapau di gigi." ucap Ana kesal.


"Bapau apa?" tanya Aleardo.


"Bukan apa-apa." ucap Ana mengeles. Tentu saja di dunia ini tidak ada bapau. Karena bapau berasal dari negeri tirai bambu. Akan sangat panjang jika dia harus menjelaskannya.


"Sudah lanjutkan baca buku itu. Kalau dipikir-pikir dari mana kamu mendapatkan buku sihir itu. Bukankah seluruh buku di perpustakaan ini sudah kamu baca." ucap Ana.


"Wah ruang bawah tanah sepertinya menarik." ucap Ana.


"Kamu sebaiknya tidak kesana." ucap Aleardo


"Kenapa?"


"Karena binatang yang kamu benci sangat banyak di tempat itu." jelas Aleardo.


"Ih, aku tidak jadi deh." ucap Ana yang membuat sebuah senyuman tipis muncul di wajah Aleardo. Dia tidak ingin Ana masuk keruangan itu. Karena dia merasakan aura di ruangan bawah tanah sangat buruk.


Keduanya kembali asik dengan kegiatan mereka. Aleardo yang kembali membaca buku sihir sedangkan Ana asik dengan kue-kue yang tadi dia bawa ke ruangan itu.


"Aleardo menikah? Sedangkan Anabella belum muncul. Apakah dia sudah merupakan gadis kecil itu. Tidak mungkin pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan. Atau Ana sudah kembali?" ucap seorang pemuda yang asik mengecap segelas anggur merah sambil menatap pemandangan hamparan bungan lavender.


"Menurut saya tuan, Aleardo tidak mungkin menikahi wanita lain selain nona Anabella. Bagaimanapun dia tidak pernah mengikuti acara yang diadakan bangsawan maupun kerajaan. Selain itu  bawahan saya menginformasikan kalau Aleardo hanya mengahabiskan waktunya dengan bekerja di ruang kerjanya atau turun di medan perang." ucap seorang dengan pakaian seluruh hitam dan penutup wajah.


"Kamu benar, sepertinya Ana telah kembali. Tapi kalau begitu pasti aku bisa merasakan keberadaan Ana." jelas seorang pemuda yang tidak lain putra mahkota William.


"Hanya ada satu kemungkinan tuan, Aleardo menggunakan sihirnya untuk menyamarkan aura Anabella." jelas orang berpakaian hitam itu.


"Tidak mungkin, hanya satu orang yang bisa menggunakan sihir itu. Hanya Quena, aku tidak yakin Anabella sudah dapat menggunakan sihir itu." jelas putra mahkota.


"Kalau begitu kenapa tuan tidak mengecek kediaman marques Xieben?" tanya orang itu.


"Aku ingin tapi tidak ada alasan untuk berkunjung ke tempat itu. Selain itu Aleardo akan dengan mudah menyembunyikan Ana jika memang gadis itu sudah kembali." ucap putra mahkota.


"Kalau begitu tuan hanya harus menunggu hingga hari pernikahan Aleardo. Jika benar itu adalah nona Anabella, maka tuan bisa membunuh Aleardo bukan. Kematian Aleardo akan mempermudah tuan untuk memiliki Ana."


"Mudah kamu mengucapkannya. Tidak mungkin aku membunuh Aleardo di depan para bangsawan." jelas putra mahkota.


"Selain itu, Raja sudah tidak mendukung pernikahanku dengan Anabella. Bahkan Ayahanda sudah menjodohkanku dengan anak kerajaan lain.Sial sekali." ucap putra mahkota kesal saat mengingat pembicaraanya dengan ayahanda beberapa hari lalu. Sungguh dia terkejut dengan pilihan ayahnya. Dia sangat marah, padahal dia senang saat ayahanda mendukung hubungannya dengan Anabella. Tapi tiba-tiba pria tua itu tidak mendukungnya.


"Tuan bisa menggunakan sihir hitam untuk membunuh Aleardo." ucap orang itu.


"Itu tidak bisa dilakukan, Aleardo sudah tidak berpengaruh dengan sihir hitam. Seluruh inti sihirnya sudah menjadi hitam seperti inti sihir seorang iblis. Dia seperti iblis berwujud manusia." jelas putra mahkota William. Dia sadar itu saat Anabella menghilang. Aura yang dikeluarkan oleh Aleardo berbeda dengan manusia pada umumnya. Saat itu dia sadar kalau Aleardo hanya menyamarkan aura sebenarnya. Selain itu keberadaan Anabella dapat menekan aura iblis dari tubuh Aleardo.