
Hari ini tempat Acara pesta berburu. Akhirnya Ana dapat mengikuti acara berburu walaupun setelah perdebatan panjang antara ayahnya dan sang ibu. Bagaimanapun dia nona bangsawan yang harusnya sudah ikut dalam acara nona bangsawan di kerajaan. Tapi dia tidak ada niat hanya duduk menanti seorang pangeran berkuda putih datang kepadanya memberikan hasil buruan. Walaupun Aleardo sempat menentang keinginannya karena pemuda itu terlalu khawatir pada dirinya. Dia terlalu sering melihat tubuh Ana dalam keadaan tidak baik.
Kejadian di taman bunga lavender, Hal itu membuat Aleardo tidak pernah meninggalkannya sekalipun. Bahkan dia selalu mengajak Ana ke perpustakaan istana. Walaupun akhirnya dia harus bertemu putra mahkota. Pertemuan yang membuat Ana tidak nyaman tidak seperti saat dia belum mengetahui identitas asli pemuda itu.
Ana sudah menggunakan pakaian berburunya dengan rambut merah muda yang digulung tinggi agar tidak mengganggunya saat berburu. Saat dia datang menggunakan pakaian pria dibanding menggunakan gaun. Tentu hal itu membuat tatapan aneh dari para peserta lain dan nona bangsawan lain yang hadir di acara ini. Tapi hal itu tidak diperdulikan oleh Ana.
"Hey kamu tidak membuatkan aku sapu tangan seperti nona bangsawan lainnya?" tanya Aleardo sambil menatap kumpulan pasangan. Para wanita bangsawan sedang mengikat sapu tangannya di pedang sang pria.
"Buat apa? Sepertinya kamu berharap aku buat ya? Kamu tidak ingat selama sebulan ini aku hanya berlatih dan ikut kamu pergi ke perpustakaan. " ucap Ana santai.
Sebenarnya Ana sudah menyiapkan sapu tangan untuk Aleardo tapi dia hanya ingin menggoda pemuda di sampingnya. Dia suka saat melihat seorang Aleardo kesal. Karena sangat jarang pemuda itu terpancing.
"Cih dasar, aku tidak tertarik dengan saputangan dari wanita bangsawan lain. Hanya sapu tangan dari kamu atau aku tidak usah menerima sama sekali." ucap Aleardo kesal karena gadis di samping sangat tidak peka padanya.
Tanpa Aleardo sadari saat pemuda itu sedang mengomeli ana, gadis itu sudah mengikat sapu tangannya di pedang Aleardo.
"Benarkah, Aku sangat tersanjung seorang Arcduke mau menerima sapu tanganku." ucap Ana dengan nada seperti wanita bangsawan tidak rupa gerakan menundukkan badan,
"wanita bangsawan lain membuatku pusing dan jijik melihatnya. Apalagi tatapan yang membuatku ingin menebaskan pedangku pada kedua mata mereka."
"Berhentilah dengan pikiran kamu yang itu dan lihat pedang kamu sekarang tukang sihir." ucapan Ana membuat Aleardo langsung melihat pedangnya yang sudah terdapat sapu tangan merah muda terikat dengan rapih.
"Kenapa sekarang kamu banyak bicara banget sih. Kemana Aleardo yang irit berbicara." ucap Ana.
Aleardo tidak menjawab ucapan Ana. Pemuda itu membawa Ana dalam pelukannya. Gadis itu tersenyum manis di dalam pelukan Aleardo. Dia merasa pemuda itu selalu menjadi sosok manja jika berdekatannya dengan Ana.
"HEy berhenti memelukku lihat banyak yang melihat kita." ucap Ana sedikit ketus.
Banyak pasang mata wanita bangsawan yang menunjukkan ketidak sukaannya saat mereka berpelukan dan berbicara tadi. Bagaimana tidak Aleardo sekarang menjadi pemuda yang paling diminati oleh para wanita bangsawan. Bukan hanya karena dia memiliki gelar bangsawan Arcduke dan seorang ksatria yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Tapi wajah Aleardo memang sangat tampan dengan badan yang terbentuk dengan baik. Dia memang pemuda yang memiliki berbagai macam pesona. Namun sayangnya pemuda yang paling banyak diincar itu tidak tertarik dengan wanita bangsawan selain dengan Anabella Rose Natlastion.
"Aku tidak tahu kamu bisa menyulam. " ucap Aleardo dengan nada sedikit mengejek Ana.
"Hey sudah di kasih tapi masih ajah ya kamu berniat menghinaku. Aku ahli dalam menyulam tahu walaupun tanganku terbiasa memegang pedang." ucap Ana kesal.
Selama sebulan ini memang Ana mengerjakan sulaman pada sapu tangannya sebelum tidur. Hal ini dia lakukan agar pemuda itu tidak mengetahuinya. Dia tidak tahu tentang perasaannya pada Aleardo dan tidak ingin memikirkannya waktu dekat ini. Tapi satu hal yang dia tahu keberadaan Aleardo sangat berarti. Walaupun Ana terlihat cuek pada Aleardo dikesaharian. Tapi gadis itu sangat memperhatikan Aleardo melebihi pada dirinya sendiri dan itu semua diketahui oleh Aleardo, Karena itu Aleardo selalu marah-marah kalau Ana tidak memperdulikan kondisi tubuhnnya sendiri.
"Jika nona berkenan memberikan sapu tangan anda yang lain untuk saya." ucap Raindhen yang sudah membungkukkan tubuhnya di depan Ana.
Saat Ana sedang sendiri sambil mengelus kuda hitam yang akan digunakan untuk berburu hari ini. Seorang pemuda berjalan menuju Ana tanpa disadari olehnya. Pemuda itu putra mahkota. Pemuda itu selalu mencoba mendekati Ana bila ada kesempatan seperti saat di perpustakaan istana. Tapi Ana masih belum yakin dengan putra mahkota tidak seperti Aleardo. Padahal kedua orang itu yang ikut mengambil peran saat kematiannya. Tapi Ana yakin Aleardo tidak akan melakukan itu padanya. Pemuda itu selalu peduli pada Ana dan pemuda itu juga tidak tertarik dengan Charlote. Walaupun ada kemungkinan di masa depan pemuda itu akan memiliki perasaan. Namun hubungannya dengan Aleardo tidak bisa dipandang sebelah mata.
"Hai Ana." sapa putra mahkota yang membuat Ana terkejut.
"Salam saya yang mulia putra mahkota William." ucap Ana dengan sedikit membungkukkan badannya.
"Kamu tidak harus berbicara formal pada aku Ana. Kamu bisa memanggilku Liam seperti saat di taman bunga lavender."
"Tentu itu tidak bisa saya lakukan padah yang mulia putra mahkota.:"
"Ana aku mohon. Kenapa kamu harus formal padaku tapi pada Archduke kamu seperti biasa saja."
"Yang Mulia putra mahkota tahu kalau ketidak sopanan saya pada Anda akan mendatangkan hukuman untuk saya." ucap Ana.
"Kalau saat pesta berburu aku mendapat hasil berburuan terbaik maka kamu harus seperti dulu lagi Ana." ucap Putra mahkota setelah itu meninggalkan Ana.
Ana terkejut saat mendengar suara jengkel Aleardo. Dia sangat sebal dengan orang-orang yang datang secara tiba-tiba. Itu tidak baik untuk kesehatan jantung Ana.
"Cih dia pikir akan aku biarkan mendapatkan hasil berburuan terbaik." ucap Aleardo kesal.
"sudahlah. Aku juga tidak ada niatan akan mengambulkan permintaanya."
"Aku akan mendapatkan hasil buruan terbaik dan kamu harus janji menjauh dari pemuda itu."
"Tanpa kamu pinta aku juga tidak ada niatan berdekatan dengan Putra Mahkota tukang sihir."
"Aku percaya karena kamu terlalu terpesona padaku bukan?"
"Berhentilah dengan kepercayaan diri kamu tukang sihir, Aku jadi rindu Aleardo yang sedikit berbicara."
"Kamu merindukanku wow. Aku sangat bahagia."
"Berhentilah Aku pusing mendengar suara kamu. Acara berburu akan segera mulai." ucap Ana sambil meninggalkan Aleardo dengan yang sedikit bersemu. Hal itu disadari oleh Aleardo, dia langsung mengejar Ana. Senyum tipis terbit di wajah Aleardo.