
Ana dan Aleardo kembali menuju kumpulan ksatria. Hanya tersisa Raindhen, dua ksatria dan satu penyihir. Ternyata penyihir dengan sihir healer yang merupakan penyihir hitam. Raindhen berjalan mendekati Ana dan Aleardo.
"Kalian kemana saja ? Kita sudah cari-cari di seluruh hutan tapi tidak menemukan kalian." Ucap Raindhen.
"Maaf ya Raindhen, aku tadi keasikan jalan-jalan keliling hutan."
"Ya tidak apa-apa asalkan kalian kembali dengan baik. Penyihir yang bertugas sebagai penyembuh ternyata penyihir hitam. Tapi kita sudah membunuh dia." jelas Raindhen.
"baguslah, Chino" panggil Ana.
"Ya Ana?"
"Sepertinya kita harus kembali lagi ke ibukota untuk melaporkan penemuan kita." Ucap Ana.
"Benar Ana, sepertinya penyihir hitam menggunakan kita agar bisa masuk ke dalam hutan ini. Putra mahkota pasti senang saat tahu tentang kebenaran ini." Ucapan Chino membuat Aleardo menatap tajam pada Ana.
"Jadi ini tugas dari Putra Mahkota?" tanya Aleardo pada Chino.
"Ya, panglima. Putra mahkota mengirimkan surat pemohonan pada kelompok ksatria kami." ucap Chino.
"Sudahlah Aleardp." ucap Ana.
"kamu memang harus dihukum sepertinya Ana. " ucapan Aleardo membuat wajah Ana pucat.
Ana tidak bisa membayang hukuman yang akan dia terima. Apalagi dia kabur dari Aleardo dan tidak memberitahu tentang kebenaran tugas ini. Ana menghela nafas dengan sulit. Sepertinya setelah pulang dari tugasnya dia harus mempersiapkan dirinya.
"Kami tidak akan membiarkan anak nakal seperti kamu menghukum Ana kami." ucap Luxorius yang muncul dengan wujud manusia. Kedua naga itu menarik tubuh Ana untuk disembunyikan dibelakang punggu mereka. Tentu saja hal itu membuat Aleardo tidak marah pada kedua naga itu.
"Luxorius, jangan sampai aku melakukan hukuman yang beberapa waktu lalu padamu." ucap Aleardo yang membuat Luxorius berkeringat dingin saat mengingat hukuman yang diberikan pemuda di depannya.
"Ana selamatkan Luxorius, Anak nakal ini dengan teganya memberikan aku pada anjing dan menyegel semua sihirku." ucap Luxorius membuat Ana terkejut.
Tapi bukan itu yang membuat Aleardo semakin terbakar karena Luxorius dengan tidak tahu malu memeluk tubuh Ana. Saat itupun tiba-tiba tubuh Luxorius berubah menjadi naga kecil. Ana terkejut dengan Luxorius yang berubah dan itu perbuatan Aleardo. Sedangkan Yirlendi sudah menyingkir dari Ana sejak Aleardo memberikan peringatan pada mereka. Aleardo sangat menyeramkan apalagi dia sangat ahli dalam sihir sekarang.
"Anak nakal kembalikan aku dalam wujudku sebelumnya." ucap Luxorius yang tidak terima dirubah secara paksa menjadi naga. Apalagi dia tidak bisa merasakan energi sihirnya padahal sedang di hutan Quena.
"Tentu saja tidak sekarang, kamu harus merenungi perbuatan kamu sebelumnya naga tua." ucap Aleardo.
Tubuh Luxorius tiba-tiba berpindah di depan Aleardo. Dia dengan tidak berhatinya memunculkan sihir api yang muncul di bawah Luxorius. Sedangkan naga itu tidak bisa kabur dari lingkaran sihir yang dibuat oleh Alerado.
"Aleardo hentikan, kasian Luxorius." ucap Ana yang mencoba menyelamatkan naga itu dari kemarahan Aleardo.
"Tidak akan sampai naga tua ini sadar akan kesalahannya." ucap Aleardo.
Aleardo mengeluarkan sihir kembali pada perlindungan hutan. Muncul kembali lubang seperti saat mereka masuk kedalam hutan ini.
"Ayo kita kembali." ucap Aleardo.
"Panglima yang sekaligus penyihir agung memang memiliki sihir yang menakjubkana." puji para ksatria yang dibawa Ana.
"Kamu tidak pernah membuat orang lain bosan dengan sihir-sihir kamu Aleardo." ucap Raindhen.
"nona Ana, saya menyarankan untuk sedikit berhati-hati dengan putra mahkota." ucap Raindehn pada Ana dengan nada yang sangat pelan karena tidak ingin diketahui oleh para ksatria. Tapi Aleardo yang sangat pencemburu itu, berjalan menuju mereka dan memisahkan Ana dan Raindhen. Raindhen langsung mendapatkan tatapan tajam dari atasannya itu.
"Maaf Ana aku harus segera kembali ke kantor, beberapa laporan belum aku kerjakan beberapa hari ini karena tugas yang diberikan putra mahkota." ucap Raindhen yang langsung mencari alasan untuk kabur dari hukuman Aleardo yang sedang dalam mode cemburu.
Ana bingung dengan peringatan Raindhen padanya. Sebenarnya dia merasakan aura putra mahkota pada tubuh Hades. Sebenrnya dia sangat penasaran dengan sosok Hades itu.
"Maaf aku Ana, Sepertinya dari sekarang putra mahkota akan mengganggu kalian." gumam Raindhen sebelum meninggalkan mereka.
Raindhen berbicara seperti itu tentu karena beberapa alasan. Salah satunya dia melihat ada yang berbeda dengan teman masa kecilnya itu. Dia seperti bukan putra mahkota yang dia kenal. Dia terkejut saat beberapa waktu lalu putra mahkota menyatakan ketertarikannya pada sosok Ana. Padahal terakhir kali saat mereka dipanggil raja untuk melaporkan kondisi di timur. Putra mahkota sudah menyatakan kalau dia akan mundur tapi kenapa dia kembali berniat untuk mendapatkan Ana kembali.
Ana dan Aleardo kembali ke kediaman marques dengan suasana yang tidak baik. Karena Aleardo sempat berniat membawanya kembali ke kedaiaman Aleardo di perbatasan barat. Tentu Ana menolaknya karena dia masih banyak tugas yang harus diselesaikan. Apalagi beberapa hari ini habis pergi ketempat yang sedikit jauh ketika dengan meninggalkan beberapa berkas yang harus diurusnya.
"Ana kamu ingat tentang hukuman kamu." ucap Aleardo memngingatkan Ana tentang hukum yang akan dia dapatkan. Tapi itu bukan saatnya. Dia masih mencerna ucapan Raindhen sebelumnya.
"Nona." ucap Lila yang sudah berada di depan Ana dan Aleardo.
"Ada apa lila? kenapa kamu harus berlari-lari?" tanya Ana pada lila.
"Anda terdaftar menjadi salah satu calon ratu negeri ini nona." ucapan Lila membuat Ana terkejut.
Dia tidak perrnah menyetujui itu. Bahkan beberapa kali penolakan dia utarakan saat raja itu menawarkannya. Kenapa saat dia bertugas jauh dari ibukota.
"Aku harus menemui ayah,." ucap Ana.
"Nona, tuan marques juga tidak tahu akan semua ini." ucap Lila.
"kenapa kakak lila tahu itu?" tanya Ana pada lila.
"Beberapa waktu lalu sebelum tuan kembali ke perbatasan timur, tuan mengatakan untuk menahan Ana tidak pergi ke istana beberapa waktu sebelum raja menyutujjui permintaan penolakan marques tentang usulan anda sebagai calon ratu negeri ini." jelas lila.
"Ayah sudah kembali ke perbatasan?" tanya Ana yang terkejut karena ayahnya belum sembuh total dari luka yang didapatkan saat perang di perbatasan timur.
"Tuan mengajukan untuk membasmi para pemberontakn pada perbatasan timur dan hadiah yang diingin tuan atas jasanya adalah mengeluarkan anda dari list calon ratu."
"Aleardo, " panggil lirih Ana.
"Ya aku akan melihat paman. Kamu sebaik dengarkan ucapan paman untuk tidak pergi ke istana." ucap Aleardo.
"Ya akan aku ikuti." Ana menyetujui ucapan ayahnya. Dia harus menjauh terlebih dahulu dari istana.
Aleardo menghilang dari Ana. Dia pergi ke perbatasan timur untuk membantu ayah Ana. Sedangkan Ana sedang berjalan menuju kamarnya. Dia harus memikirkan cara menolak permintaan raja tanpa mengandalkan ayahnya.