Female Villainess

Female Villainess
121. Keberadaan benda sihir



Aleardo tersenyum misterius yang membuat Ana sedikit takut. Karena dia tahu sekali kesalahannya untuk yang kali ini. Dia tidak membayangkan hukuman apa yang diberikan oleh suaminya.


"Sepertinya ada yang harus dihukum." ucap Aleardo.


"Maaf Aleardo, tapi sebelum itu bukan kita harus menyelesaikan masalah ibu dari anak ini." ucap Ana yang mencoba mengalihkan topik untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Jika diteruskan dia bisa dibawa langsung kekediamannya dan dikunci di kamar bersama pria di sampingnya. Kalian sudah tahu apa yang akan terjadi setelahnya bukan.


"Kamu mengalihkan topik sayang." ucap Aleardo dengan wajah kesalnya. Tapi apa yang diucapkan Ana saat ini memang benar. Dirinya juga penasaran dari mana buah iblis itu bisa dimiliki oleh wanita itu.


Aleardo dan Ana berjalan mendekati wanita yang terikat oleh sihir Ana. Sihir  yang digunakan pada wanita itu dapat menetralisir sihir di tubuhnya.Hal itu yang menyebabkan wanita yang terikat sihir oleh Ana terlihat lemas.


"Bukankah kamu terlalu kejam Ana jika melakukan sihir ini." ucap Naura yang melihat kodisi wanita itu yang sudah lemas.


"Tidakkah berbahaya kalau wanita ini memiliki sihir yang tidak kitahui. Jadi sedikit kejam tidak apa." pembelaan Ana walaupun sebenarnya dia juga merasa bersalah. Bagaimana sihir itu dirinya keluarkan karena tidak bisa fokus saat tadi. Jadi tanpa berpikir dua kali dia menggunakan sihir pengikat dengan efek menetralisir seluruh sihir wanita di depannya ini.


"Siapa kamu?" tanya wanita itu pada Ana dengan sisa tenanganya.


"Aku bukan siapa-siapa. Hanya seorang wanita yang baik hati  saja." ucap  Ana yang membuat yang lain hanya menggelengkan kepala tingkah jail ana.


"Kenapa kamu membantu wanita sialan itu. Harusnya j***** itu mati kalau bukan kamu yang melindunginya." ucap wanita itu yang membuat ana kesal sendiri dengarnya.


"Aduh kamu kalau ngomong gak usah pakai kata-kata kotor dong. Lihat ada anak kecil di sini." protes Ana.


"Aku pastikan kalian akan mati karena sudah memperlakukan aku seperti ini. Kalian tidak tahu orang yang siapaku." ucap wanita itu.


"Ya aku memang tidak tahu, " ucap Ana yang semakin membuat wanita itu marah. Sedangkan ketiga pria hanya bisa menatap kasian pada wanita di depannya karena sudah salah mengajak bicara orang yang sangat jago membuat orang lain kesal.


"dek, kamu tahu orang ini." tanya ana pada anak kecil yang berdiri di depan Yirlendi.


"Dia adalah istri baru ayahku.  countess Wirken." ucap gadis kecil itu dengan gugup apalagi setelah mendapatkan tatapan tajam dari wanita itu.


"Kamu sudah tahukan kalau aku seorang bangsawan yang bisa kapan saja membunuh kalian rakyat jelantah." ucap wanita itu.


"heh situ baru jadi  countess saja sudah sombong. Aku saja yang grand duccess gak sombong. cih." ucap Ana yang tanpa sadar kalaua dirinya baru menyombongkan gelar bangsawannya.


Tapi hal itu membuat Aleardo dan kawan -kawan malah tertawa mendengarnya. Sedangkan wanita yang bergelar countess itu langsung terdiam. Apalagi saat itu Ana membuka kupluk jubahnya yang memperlihatkan wajahnya. Siapa yang tidak mengenal jenderal muda wanita yang perah turun dalam peperangan untuk merebut wilayah timur kerajaan. Gadis yang memiliki rambut merah muda dan mata hijau cerah yang hanya dimiliki oleh keluarga marques Xieben.


Wanita itu langsung membeku saat tahu wanita yang didepannya adalah sesesorang yang berasal dari kerajaan. Selain itu kejahatannya terlah diketahui oleh wanita di depannya. Keringat dingin bercucuran membasahi badan wanita itu.


"Countess Wirken. kamu pasti sangat tahu aku bukan karena itu kamu ketakutan saat ini. Seperti namaku sangat terkenal bukan. hehehhehe." ucap bangga Ana.


"ana bisakah kamu langsung ke masalah saja." protes Aleardo yang sudah kesal dengan tingkah sang istri. Dia sebenarnya sudah tidak sabar menghukum istri mungilnya ini.


"Dari mana kamu mendapatkan kalung itu countess Wirken?" tanya Ana yang sekarang sudah jongkok dan posisi mereka sudah sepantar. Ana menarik dagu wanita tua itu agar dapat menatap matanya.


"Jawab nyonya ." ucap Ana dengan elusan di wajah wanita tua itu. Tak lupa sebuah senyuman tipis muncul di wajah ana yang membuat wanita tua itu ketakutan. Dia merasa seperti bertemu malaikat maut.


"Saya mendapatkan dari pasar gelap yang selalu diadakan setiap awal bulan di kota ini. Tempat itu menjual barang-barang dengan sumber energi hitam." jelas wanita itu.


"Sepertinya ada seseorang yang ingin menghancurkan ikatan antara dunia iblis dan dunia manusia." ucap Aleardo.


"Kamu tidak berbohongkan?" tanya Ana.


wanita tua itu menganggukkan kepala. Suaranya sudah tidak dapat dikeluarkan karena terlalu takut dari aura yang dikeluarkan oleh pria dibelakang Ana. Siapa lagi kalau bukan Aleardo. Pria itu marah saat tahu ada yang menjual bebas benda sihir yang bisa membahayakan kedamain yang dibuat dengan pernikahan Ana dan Aleardo.


"Kita harus menyelidiki hal itu. Akan berbahaya jika jumlah barang itu ternyata sangat banyak. Karena barang-barang itu lebih berdampak pada kelanjutan hidup manusia." jelas Aleardo.


"Sebelum itu bukan kita harus memberikan hukuman pada wanita di depan kita ini." ucap Yirlendi dengan tatapan tajam. Entah apa yang membuatnya sangat marah jika menyangku anak gadis di depannya ini.


"Sudahlah hal ini biarkan di urus oleh pangeran damian dan Raindhen. Iyakan pangeran?" tanya Aleardo.


"Baru sekarang anda memanggilku pangeran. sejak tadi selalu memanggil nama." protes pangeran damian.


"Apakah kamu berkenan dengan hal itu?" tanya Aleardo dengan wajah sebal.


"Tentu saja tidak. Sudah hal ini akan aku urus. " ucap pangeran Damian.


"Sebelum itu apakah kamu melakukan sesuatu pada Count Wirken?" tanya Ana.


Pertanyaan Ana membuat orang-orang terkejut. Ana seperti tahu yang terjadi pada keluarga  count itu. Padahal anak gadis itu belum menceritakannya. Bahkan awalnya niat Yirlendi ingin menceritakn penglihatannya jadi sia-sia. Karena sepertinya sudah tahu terlebih dahulu.


"Kamu menggunakan barang sihir untuk mengendalikan count bukan? tapi benda sihir itu sudah mulai tidak bisa digunakannya. Makanya sebelum count mencari istrinya. Kamu berniat melenyapkannya?" tanya Ana.


"Iya." ucap wanita itu lirih.


"Sudah aku duga. Aku paling benci dengan wanita yang merebut milik wanita lain. Jadi sedikit hukuman akan aku berikan." ucap Ana dengan senyum yang sangat menyeramkan. Sebelum itu sebuah sihir muncul mengarah pada anak perempuan di depan Yirlendi.


Anak kecil itu pingsan dengan sihir Ana. Tentu saja dia tidak akan memperlihatkan kekejamannya di depan anak kecil kesayangan naga milik Aleardo.


"Bawa anak itu kedalam, aku ingin sedikit memberikan pelajaran pada wanita ini.":bersamaan dengan tebasan di tangan kanan milik wanita yang menghasilkan teriakan kesakita. Tidak ada satu orangpun yang menatap sedih pada wanita itu. Mereka juga tidak berniat menghentikan tindakan Ana saat itu.


"Ini sedikit hukuman untuk wanita sepertimu." ucap Ana bersamaan Raindhen muncul dengan sihir Aleardo,


"Sialan, beruntung aku sedang  melatih ksatria. Bisakah anda mengirimkan pesan sebelum membawaku ketempat asing." protes Raindhen tapi tidak diperdulikan oleh pria itu.


"Bawa wanita itu ke pengadilan di kota ini." perintah Aleardo pada Raindhen yang hanya bisa melaksanakan tugas atasannya.


"Sabar kawan, aku akan ikut bersamamu." ucap pangeran damian.