
Setelah kejadian Ana dan Aleardo yang menonton kegiatan dewasa yang dilakukan oleh kedua orang tua Ana. Mereka sekarang duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan marques. Tentu saja tatapan tajam dari marques mengarah pada Aleardo. Sedangkan yang ditatapannya tidak memperdulikan.
Marchiones sedang memeluk tubuh anak gadisnya yang hilang selama 2 tahun. Mereka sudah tahu fakta akan situasi Ana beberapa hari setelah Ana hilang. Tentu saja semua itu dari Yirlendi atas perintah Aleardo. Hal itu yang membuat kedua orang tua Ana dapat menafas lega sesaat.
"Anak nakal kamu memang tidak berubah, bahkan sejak 2 tahun. Kamu masih suka datang sesuka jidatmu ." ucap marques Xieben pada Aleardo.
"Anda masih suka melakukan kegiatan itu disembarang tempat."ucap Aleardo.
"Aku tidak melakukan disembarang tempat, Ini kamar pribadiku. Jadi semua ini kesalahan aku, Tapi kamu anak nakal yang tidak memiliki sopan santun. Kamu tahu gunanya pintu di ruangan ini untuk membatasi orang seperti kamu." ucap Marques dengan nada marah.
"Sayangnya pintu itu tidak bisa membuatku terbatasi. " ucap Aleardo yang dengan santainya memainkan rambut silver milik Ana. Marques yang jengkel dengan tingkah Aleardo itu.
"Sudah ayah, Aleardo ada alasan menggunakan sihir itu ke kamar ayah dan Ibunda. Maaf Ana yang tidak sopan masuk tanpa permisi."Ucap Ana dengan nada perannya.
"Kamu tidak salah saya, Ayahmu saja yang tidak bisa melihat kondisi." jelas marchiones pada Ana.
"Sayang." panggil marques Xieben.
"Apa?"
"Sudahlah."
"Sebenarnya ayah, kita sengaja teleportasi langsung keruangan ayah dan ibunda agar tidak ada yang tahu keberadaan Ana. Aleardo melakukan itu untuk menghindari orang-orang yang pernah menyerang Ana 2 tahun lalu." jelas Ana.
"Sebenarnya Ayah mengerti alasanmu itu. Tapi anak nakal ini memang harus diajarkan sopan satun. Dia tidak meminta maaf atas kesalahannya beberapa waktu lalu." ucap marques Xieben. Dia ingat saat pemuda di depan ini baru menjelaskan kondisi anaknya setelah beberapa hari. Tapi dia juga bersyukur atas informasi itu yang membuat istrinya tidak bersedih terus menerus.
"Sebenarnya Ayah, Ana kembali ke ibukota karena mendengar kondisi ayah yang sedang sakit keras." Ucapan Ana yang membuat marques Xieben terdiam.
"Ayah kamu sedang dalam keadaan baik-baik saja sayang." ucap Aleardo dengan nada kesal.
"Tapi kata Raindhen, ayah sedang sakit keras." ucap Ana. Dia tidak mengerti dengan ucapan Aleardo. Pemuda itu membuang nafas kasar. Dia tahu kalau bawahannya sedang mengerjainya.
"Raindhen hanya ingin mengerjai kita. Lihatlah ayah kamu masih bisa melakukan hal itu bersama bibi. Tentu saja dia dalam keadaan baik-baik saja bukan paman?" tanya Aleardo.
"Hey Anak nakal."teriak marques Xieben yang kesal dengan ucapan Aleardo.
"Iya Ana, ayahmu memang dalam keadaan baik-baik saja. Memang setelah pulang dari medan perang, dia sempat terkena penyakit lokal dari daerah penugasnya. Tapi pangeran Damian langsung melakukan penyembuhan." jelas machiones.
"Jadi, ayah mertua sebaiknya menjelaskan alasan kenapa meminta Raindhen datang ke hutan Quena dan mengatakan hal itu?" ucap Aleardo. Tentu saja dia tahu otak semua ini adalah ayah Ana. Karena Raindhen tidak akan berani membuat Aleardo marah dengan mengganggu waktunya bersama dengan Ana kecuali ada pendukung yang tidak kalah kuat dari Aleardo. Marques Xieben yang merupakan ayah Ana pasti akan membuat Aleardo tidak bisa meluapkan amarahnya.
' Raindhen sepertinya kamu membuat lubang kamu sendiri.' ucap aleardo dalam hati.
"Aku hanya rindu dengan Anak gadisku. Kamu kejam memonopoli anakku yang belum memiliki ikatan denganmu." ucap marques Xieben.
"Ayah." ucap Ana yang mulai berjalan menuju marques Xieben tapi ditahan oleh Aleardo. Bahkan sekarang Ana sudah duduk di samping Aleardo.
"hey Anak nakal." panggil marques dengan nada kesal.
"Sudahlah sayang, mengalah saja. Kamu juga dulu seperti itu bukan." ucap marchiones.
"Apa? aku tidak pernah seperti itu. Aku hanya rindu pada anak gadisku." ucap marques. Ana melepaskan pegangan Aleardo dan menggunakan sihir teleportasinya ke samping ayahnya. Dia langsung memeluk tubuh ayahnya. Tentu saja marques memeluk tubuh anak gadisnya. Sedangkan Aleardo kesal menatap kedua orang di depannya.
"Hey, aku ayah Ana. Kamu baru calon Ana." ejek marques.
"Diamlah pria tua menyebalkan." ucap Aleardo yang mengalihkan pandangannya karena kesal dengan kekasih dan calon ayah mertuanya.
"Bagaimana kabar anak ayah?" tanya Marques pada Ana. Ana mengalihkan tatapannya pada ayahnya.
"Baik ayah."
"Dia tidak benar-benar baik." ucap Aleardo yang dihadiahkan tatapan tajam dari Ana. Dia tahu gadisnya pasti tidak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir. Tapi fakta kondisi Ana tidak akan dia sembunyikan. Itu semua demi kebaikan Ana.
"Aleardo." panggil Ana. Dia tidak ingin orang tuanya bersedih saat tahu kondisi tubuhnya. Biarkanlah dia dan Aleardo yang tahu itu menurutnya.
"Apa? Aku tidak mendukung keinginan kamu itu. Kedua orang tua kamu berhak tahu tentang kondisi kamu." jelas Aleardo.
"Jadi kamu bisa jelaskan Aleardo?." Tanya marquess.
" Saat Ana muncul kembali di hutan Quena. Kondisinya tidak seperti yang dijelaskan oleh Luxorius. Luka Ana yang didapatkan dari orang itu tidak sama sekali sembuh bahkan tubuh Ana saat itu seperti mayat hidup. Sangat kurus bahkan hanya tersisa tulang saja sepertinya."
"Jangan melebih-lebihkan Aleardo." ucap Ana yang tidak terima disamakan dengan mayat hidup. Walaupun dia mengakui kondisinya saat itu sangat menyedihkan.
"Aku sama sekali tidak melebih-lebihkan. Aku lanjutkan kembali, Lukanya sudah sembuh total tapi energi sihir yang dimiliki Ana sangat sedikit bahkan dia hampir seperti manusia biasa. Ana bisa menggunakan sihirnya tapi tidak seperti dulu. Dia harus membatasi penggunaan sihir karena akan berdampak buruk untuk tubuh Ana." jelas Aleardo.
"Kalau begitu kenapa tadi anak ayah menggunakan sihir teleportasi. Bukankah itu membutuhkan energi sihir yang banyak. "
"ayah tenanglah, sihir teleportasi tidak terlalu mempengaruhi energi sihirku." jelas Ana dengan senyum manis.
"Iya itu benar, tapi kalau dia menggunakannya untuk berpindah dari tempat yang jauh. Tentu itu berbeda ceritanya." ucap Aleardo yang kembali mendapatkan tatapan tajam dari Ana. Tapi Aleardo malah tersenyum lebar pada Ana yang membuat Ana terpesona dengan wajah tampan kekasihnya.
Sedangkan marques dan marchiones yang sadar akan hubungan kedua orang anak itu. Hanya tersenyum senang. Setidaknya Aleardo lebih baik dibandingkan putra mahkota menurut mereka. Mereka sudah mengetahui perasaan pemuda itu. Bahkan mereka sangat takjub dengan kesabaran Aleardo dalam menghadapi tingkah anaknya.
"Ana, kamu tidak ingin menjelaskan hubunganmu dengan Aleardo?" tanya marchiones yang membuat Ana tersipu malu secara tiba-tiba. Kedua pipinya sudah semerah tomat.
"Kita akan segera menikah." ucap Aleardo santai.
"APA?"
"Aleardo." Teriak ketiga orang itu setelah mendengar ucapan Aleardo. Sedangkan pemuda itu dengan santai menyesap tehnya dan menatap wajah gadisnya dengan senyum lebar. Tentu saja itu membuat Ana semakin tersipu malu. Bahkan dia sekarang bersembunyi di dada ayahnya. Tapi Aleardo kesal dengan perbuatan Ana. Dia semakin ingin membuat Ana menjadi miliknya. Agar gadis itu hanya bersandar padanya saja.
"Apakah kamu tidak ingin meminta restuku anak nakal?" ucap marques xieben dengan nada penuh sindiran.
"Bukankah anda sudah merestui hubunganku dengan Ana saat anda memohon padaku untuk ikut turun ke medan perang di perbatas barat." ucap Aleardo yang membuat marques mendapatkan tatapan tajam dari marchiones dan Ana. Walaupun marchiones sangat menyetujui hubungan anaknya dengan Aleardo, Bukan karena gelar yang dimiliki oleh pemuda itu tapi karena dia tahu pemuda itu akan membuat anaknya bahagia.
"Kenapa kamu mengatakan hal itu di sini?" tanya marques yang merasa tidak enak saat ditatap tajam oleh kedua wanita yang dia sayangi.
"Anda yang bertanya kenapa saya tidak meminta restu padamu." jelas Aleardo.
"Dasar anak muda ini sangat menyebalkan.' ucap marques dalam hati.
"Ngomong-ngomong, Aleardo dan Ana akan menikah kapan? Umur kalian sudah cocok untuk melakukan pernikahan." jelas marchiones yang membuat Aleardo tersenyum lebar. Berbeda dengan Ana yang pucat pasih.
'gila umur akukan baru 16 tahun, masih muda kenapa cocok buat nikah. walaupun aku menerima lamaran Aleardo tapi bukan berarti akan secepat inikan?" ucap Ana dalam hati.
"Tentu saja kita harus secepatnya menikah sayang." ucap Aleardo.
"ALEARDO sudah aku katakan jangan baca pikiranku." protes Ana.
"Tentu saja aku tidak akan bisa melakukan itu. Karena sangat menyenangkan tahu isi pikiran kecilmu itu." jelas Aleardo sambil memberikan kedipan sebelah mata Ana. Tentu saja membuat Ana tersipu malu.