
Aleardo meletakkan tubuh Ana di tempat tidur. Setelah itu dia duduk di samping tempat tidur. Dia mengelus rambut Ana yang tidak rapih seperti beberapa saat lalu. Kedua matanya tidak pernah teralihkan dari Ana.
"Aku kira kamu akan membenci wujud asliku. Putri tidur." ucap Aleardo.
" Tentu saja aku tidak akan pernah bisa membenci Penyihir gila milik Ana." ucap Ana yang tiba-tiba membuka matanya. Kedua mata mereka saling bertemu. Mereka tidak berniat mengeluarkan sepatah kata. Asik dengan pikiran masing-masing.
"Aleardo."
"Hmm" ucap Aleardo yang masih tidak mengalihkan tatapannya.
"Bagaimana dengan nasib Hades?" tanya Ana dengan suara pelan.
Tatapan Aleardo langsung berubah seketika menjadi tajam. Ana sudah menduga pria di sampingnya ini akan marah kalau dia bertanya tentang Hades. Tapi dia penasaran dengan nasib pemuda itu yang seketika hilang dilahap oleh api hitam milik Aleardo.
"Aku tidak suka kalau kamu membicarakan pria lain saat kita bersama." ucap Aleardo ketus.
"Aku hanya penasaran saja Aleardo, Tadi Hades tiba-tiba menghilang di dalam api hitam milikmu begitu saja." ucap Ana dengan tangannya mengelus tangan Aleardo. Dia berharap itu bisa menenangkan Aleardo yang sedang kesal.
"Aku hanya mengembalikan ketempat seharusnya." ucap Aleardo.
"Jadi sebenarnya Hades itu seperti kita atau..." ucapan Ana dipotong langsung oleh Aleardo.
"Jiwa Hades dibangkitkan oleh seorang penyihir yang meminta padaku untuk membawa jiwa Hades dari dunia bawah." ucap Aleardo.
Dia mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Sebenarnya dia juga baru tahu dari sisi jiwa iblisnya yang memberikan beberapa ingatan tentang Hades. Tentu saja sisi iblisnya sangat marah saat tahu kalau Hades ingin merebut Ana. Karena mau jiwa manusia ataupun iblisnya sama-sama mencintai Ana. Apalagi seorang iblis sangat tidak menyukai miliknya diganggu. Hal itu yang membuat sisi iblis Aleardo marah saat melihat perbuatan Hades pada Ana.
"Jadi kamu sebenarnya seorang iblis." ucap Ana.
"Aku belum sebenarnya bersatu Ana, Kedua jiwa kami memiliki kosistensinya masing-masing. Setidaknya karena keberadaan kamu, Jiwa iblis itu tidak memberontak." ucap Aleardo.
"Benarkah? Apakah dia baik?"
"Tentu saja dia tidak baik Ana, Tapi padamu dia pasti baik."
"Mungkin dia lebih baik dari padamu kamu penyihir gila." ucap Ana.
"Apa maksud kamu putri tidur?" ucap Aleardo dengan nada sinisnya.
"Penyihir gila disampingku kadang sangat menyebalkan, mungkin saja sisi iblis Aleardo tidak semenyebalkan sisi manusianya." ucap Ana.
"hahahhaha, kasian sekali kamu Aleardo. Sepertinya Ana lebih menyukai aku." ucap sisi iblis Aleardo yang hanya bisa didengarkan oleh dirinya sendiri.
"cih, kamu berani mengatakan itu Ana." ucap Aleardo.
"Hahhaha aku becanda Aleardo. Tentu saja kalian berdua pasti sebelas dua belas menyebalkan." ucap Ana yang sudah bergeser dari tempat sebelumnya. Setelah melihat Aleardo yang kesal, segera dia berlari menjauh dari Aleardo tapi dengan mudah pria itu menangkap Ana.
"Kamu tidak akan pernah bisa lepas dari kami Ana." ucap Aleardo.
"Berani kamu menggunakan sihir teleportasi, Aku pastikan besok pagi kamu tidak akan bisa berjalan." ucap Aleardo.
Ana bingung dengan maksud Aleardo. Bagaimana bisa dia tidak bisa berjalan apa yang akan diperbuat oleh pemuda menyebalkan itu. Tapi Ancaman itu sedikit menakutkan untuknya.
"Tetap berada di sampingku. Jangan pergi tinggalkan aku kembali Ana. Saat kamu tidak ada disampingku dunia ini merasa tidak menarik." ucap Aleardo.
Aleardo memeluk tubuh Ana. Ana juga ikut memeluk tubuh yang memiliki tinggi yang jauh darinya. Dia insecure dengan tinggi tubuhnya yang sulit bertambah. Padahal kehidupannya saat menjadi meitha, dia memiliki tubuh yang cukup tinggi seperti artis-artis korea. Tapi lihat saat ini tingginya hanya sebatas dada Aleardo.
"Kalau berencana pergi setidaknya ajak aku Ana. Jangan biarkan aku menunggu sendiri lagi." ucap Aleardo yang sudah menyembunyinyakan wajahnya diceluk leher Ana. Sebenarnya Tubuh Aleardo cukup berat untuk Ana. Tapi untuk saat ini biarkan saja, Jujur dia juga merasa nyaman dengan pelukan Aleardo.
"Aku sudah pernah mengatakan tidak akan meninggalkan kamu lagi bukan? Lagi pula beberapa jam lagi kita akan menikah. Aku tidak mungkin meninggalkan kamu lagi kecuali aku." ucapan Ana dibungkam oleh bibir Aleardo.
Ana terdiam saat merasakan bibirnya dan Aleardo sudah bersentuhan. Hanya saling bertemu tidak ada niat untuk mengalirkan naf*sunya. Hanya saling berbagi perasaan dari pertemuan bibir itu.
"Berhenti mengatakan hal itu, Kita tidak akan pernah terpisah. Jika kamu pergi aku pasti akan mengikuti kamu kemanapu Ana. Aku mencintai kamu Anabella rose Natlastion." ucap Aleardo yang diakhiri sebuah kecupan di dahi Ana.
"Aku juga mencintai kamu Aleardo. Terimakasih sudah mau menungguku selama ini." ucap Ana yang tanpa sadar sudah menitihkan air matanya.
Entah apa yang dirinya rasakan jika Aleardo tidak menunggunya. Mungkin dia akan sangat frustasi. Tentu saja ada penyesalan karena belum sempat memberitahukan perasaannya selama ini. Bertahun tahun tertidur itu sangat menyedihkan untuk Ana. Setidaknya tidurnya saat ini tidak selama saat menjadi Quena. Setidaknya Aleardo akan menunggunya kembali.
"Terima kasih Aleardo, Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan kamu kembali." ucap Ana lirih.
Ditempat lain seorang wanita cantik yang sedang melempar semua barang yang ada di ruangannya. Dia marah saat tahu bonekanya selama ini sudah dimusnahkan begitu saja. Dia tidak menduga iblis itu adalah Aleardo. Dia tidak menduga semua usahanya selama ini akan berakhir dengan membuka segel pada tubuh Aleardo yang menyebabkan raja iblis bisa kembali ke tubuh sebenarnya.
"Sialan, Aku tidak menduga iblis itu adalah Aleardo." umpat wanita itu.
"Aku tidak akan membiarkan gadis itu bahagia, Dia sudah merebut semua orang yang aku sayang. Bahkan Luxorius berada di sisi gadis itu. Aku berjanji akan membunuh kamu kali ini. Tidak akan aku biarkan kamu bahagia lagi Quena. " ucap wanita itu.
"Berhentilah dengan rencana kamu." ucap seorang pria yang tiba-tiba muncul dari sisi gelap ruangan itu.
"Luxorius."
"Ini kesempatan terakhir untuk kamu kembali seperti dulu. Mari lupakan dendam masalalu. Queana tidak sepenuhnya bersalah, Dia hanya dimanfaatkan saja. Tentu saja kematian anak kita bukan karena gadis kecil itu." ucap Luxorius.
"Kamu pikir aku bisa melupakan itu, Kamu gila Luxorius. Anak kita mati karena gadis itu. Dia bahkan tidak merasa bersalah dengan perbuatanya." ucap wanita itu.
"Berhentilah sayang, Dia tahu akan semua itu." ucap Luxorius.
"Cih, Aku tidak akan pernah berhenti sebelum dia merasakan rasanya kehilangan seseorang yang dia sayang." ucap wanita itu sebelum menghilang dari hadapan Luxorius.
:Luxorius membuang nafas dengan kasar. Semua kejadian di masa lalu tidak sepenuhnya kesalahan Quena. Dia juga ikut dalam bersalah tragedi yang menimpa anaknya di masa lalu.
"Andaikan kamu tahu kalau anak kita juga diselamatkan oleh gadis yang kamu benci. Bahkan berkali-kali dia lera mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkannya." ucap Luxorius.