
Ana tidak habis pikir dengan pria disampingnya. Bahkan dia dengan santai memakan makanan di depannya. Aleardo tidak merasa bersalah dengan perbuatannya tadi malam.
Padahal Ana sudah mengatakan kalau tidak ada hal lebih selain pelukan. Pada dasarnya Aleardo sangat tidak bisa dipercaya.
Aleardo yang sadar sejak tadi Ana sama sekali belum menyentuh makanannya. Dia bingung kenapa Ana yang biasanya sangat semangat jika berhubungan dengan makan. Malah dia terkejut saat melihat tatapan tajam dari Ana.
"Kenapa kamu tidak memakan makan itu? Apa makanan itu tidak enak?" tanya Aleardo sebelum sesuap makan masuk ke dalam mulutnya. Tapi Ana sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaannya. Bahkan tatapan tajam Ana semakin tajam.
"Kenapa? katakanlah." ucap Aleardo.
"kamu sudah melanggar janji kamu tadi malam Aleardo." ucap Ana dengan suara yang sedikit lebih keras tidak lupa tatapan tajamnya sama sekali tidak menghilang.
"janji ?" tanya Aleardo. Dia baru ingat perbuatannya tadi malam saat tidur bersama dengan Ana. Awalnya dia hanya memeluk tubuh kecil dan ramping milik Ana. Tapi karena gemas, dia beberapa kali meninggalkan jejaknya di leher Ana. Dia bahkan tersenyum saat melihat titik merah di leher Ana yang masih terlihat jelas.
Sedangkan Ana semakin jengkel saat melihat Aleardo tersenyum. Dia sudah pusing dengan tingkah agresif Aleardo semenjak dia kembali lagi. Dia jadi rindu dengan Aleardo dulu yang lebih pendiam.
"kamu lupa janji hanya sebatas peluk saja. Tapi kenapa seluruh leher menjadi banyak bintik merah." ucap Ana dengan wajah yang tiba-tiba menjadi semerah tomat. Sungguh dia sangat malu untuk mengatakannya pada pria di depannya. Tapi kalau dibiarkan, Aleardo akan menganggap kalau dia menerima perlakuannya tadi malam saatnya tertidur.
"Bukankah itu terlihat indah di kulit putih milikmu. Aku saja sangat senang melihat hasil perbuatan aku pada leher mulus milikmu." ucap Aleardo dengan senyum bangga. Dia sama sekali tidak merasa masalah dengan diperbuatnya tadi malam.
Tapi Ana malah semakin malu dan kesal diwaktu bersamaan saat mendengar ucapan Aleardo.
'Dasar Aleardo, bahkan aku tidak menyangka kamu bisa menjadi seperti ini. Kemana sikap dingin es batu kamu penyihir gila.' ucap Ana dalam hati. Aleardo tertawa saat membaca isi pikiran Ana.
"Aku tidak pernah kemana - mana hanya saja waktu itu aku harus menahannya." ucap Aleardo yang sudah berada duduk di samping Ana.
' sejak kapan nih orang pindah ' ucap Ana di dalam hati.
" Sejak kamu asik memikirkan sikap dingin aku yang dulu." ucap Aleardo sambil mengelus puncak surai putih silver milik Ana. Hal itu adalah hobi Aleardo yang sangat dibenci oleh Ana karena rambutnya menjadi acak - acakan seperti saat.
"jangan mengacak - acak rambutku yang sudah rapih."protes Ana sambil menepis tangan Aleardo yang berada di atas kepalanya.
"Saat kamu sedang marah, aku terlihat menggemaskan. " ucap Aleardo dengan sebuah kecupan mendarat di pipi kanan Ana . Perbuatan Aleardo membuat Ana terdiam. Sungguh dia terkejut dengan ciuman Aleardo. Kenapa pria ini suka sekali mencium pipinya maupun tempat lain tanpa izinnya.
Sebenarnya Ana merasa sangat menyukai perbuatan Aleardo yang terlihat kalau pria itu sangat mencintainya. Menurut Ana semua perbuatan Aleardo beberapa waktu ini sangat romantis. Apalagi tadi pagi, saat Ana terbangun dia sudah disuguhkan dengan senyum manis dari Aleardo yang sedang menatap dirinya. Walaupun dia juga merasa malu karena pasti keadaanya saat itu sedang tidak baik. Dia tidak yakin kalau tidak ada air mengalir dari mulutnya atau kotoran di sudut matanya.
plak
" Aw sakit Aleardo." protes Ana pada Aleardo yang memberikan sentilan di dahinya.
"APA? enak saja kamu bilang begitu. aku sangat pintar kalau kamu harus tahu."ucap Ana.
"kamu pintar kalau dibandingkan dengan wanita yang hanya bisa bergosip tapi tidak sepintar nona Charlote." ucap Aleardo yang sengaja membawa nama wanita lain karena ingin melihat gadis di sampingnya cemburu. Padahal niatnya itu malah membuat mood Ana langsung buruk. Mungkin orang lain tidak tahu kalau orang yang menusuknya adalah nona Charlote yang sedang Aleardo banggakan.
"cih kamu membandingkan aku dengan wanita yang hanya bisa melukai seseorang secara sembunyi - sembunyi. " ucap Ana yang tidak sadar kalau dia membuka rahasia yang harusnya tidak diketahui oleh Aleardo.
"Apa maksud kamu Anabella Rose Natlastion ? jangan bilang wanita itu adalah orang yang menusuk kamu." ucap Aleardo dengan nada tinggi. Dia bahkan tidak sadar kalau cengkraman tangannya pada dua bahu Ana itu terlalu keras. Ana terdiam saat sadar di keceplosan dengan yang diucapkannya tadi. Karena kesal pada Aleardo yang malah memuji nona Charlote. Dia menjadi tidak sadar sudah membuka rahasia itu.
Ana sengaja tidak memberi tahu Aleardo karena dia belum memiliki bukti atas perbuatan Charlote. Selain itu dia tidak tahu alasan sebenarnya wanita itu menyerangnya tiba-tiba.
"Jawab aku Ana." ucap Aleardo yang kesal karena gadis di sampingnya malah terdiam saat dia bertanya. Tapi hal itu malah memberikan jawaban tanpa harus Ana mengucapkannya. Aleardo bahkan tanpa sadar sudah mengeluarkan aura gelapnya. Karena dia marah pada wanita yang sudah menyebabkannya terpisah dengan Ana dalam waktu yang cukup lama.
"Sudahlah Aleardo, aku juga belum mempunyai bukti kalau itu Charlote. Aku hanya menduganya karena tanpa sadar aku melihat gelang yang sama seperti nona Charlote sering gunakan." ucap Ana dengan senyum tipis pada Aleardo. Tapi itu tidak bisa membuat amarah Aleardo reda. Dia masih tidak terima Ana menyimpan rahasia itu sendirian.
"Kenapa kamu tidak pernah menceritakan padaku? "tanya Aleardo.
"Aku tidak ingin kamu berbuat gegabah." jelas Ana.
"Kamu menganggap aku orang seperti itu ?"tanya Aleardo dengan nada yang pelan. Terlihat wajah Aleardo yang sedikit kecewa pada Ana.
Ana menghela nafas pelan. Dia bukan menganggap Aleardo seseorang yang bertindak tanpa berpikir dulu. Tapi Aleardo akan seperti itu kalau berhubungan dengan Ana.
"aku tidak bermaksud merendahkan kamu. Tapi kamu pasti akan marah seperti saat ini dan aku tidak yakin kamu tidak akan membunuh Charlote bukan?"
"Tentu saja aku akan membunuh wanita itu. Bahkan Luxorius dan Yirlendi pasti akan setuju dengan pilihanku." ucap Aleardo.
"Kita tidak boleh seperti itu Aleardo. Aku tidak suka membalas kejahatan orang lain.Tentu itu tidak akan membuat kita bahagia Aleardo." ucap Ana.
"Tapi membiarkan wanita itu sama saja membahayakan untuk kamu Ana. Sekali saja kamu berbuat egois untuk diri kamu sendiri. Itu bukan menjadi masalah." ucap Aleardo.
"Bukankah ada Aleardo yang akan selalu melindungi seorang Anabella Rose Natlastion." ucap Ana dengan senyum manis yang menular pada Aleardo yang ikut tersenyum.
"kamu sangat manis, aku akan segera bicarakan dengan paman mengenai pernikahan kita." ucap Aleardo yang tiba-tiba menghilang. Sedangkan Ana terdiam mencoba mencerna ucapan Aleardo. Hingga dia sadar maksud pemuda itu.
"Apa ? Aleardo aku belum siap."gumam Ana pasrah.