Female Villainess

Female Villainess
19.Aura yang menghilang



Setelah kejadian itu Aleardo selalu menghindari Ana. Sedangkan gadis itu tidak mengerti alasan pemuda itu menghindar darinya. Setelah hari dimana dia terlelap di tempat tidur, badannya berangsung kembali baik. Tapi Aleardo yang bersikap aneh padanya. Hal itu sudah berjalan dua hari. Aleardo selalu pergi ke istana dan pulang di malam hari. Dia juga selalu beralasan kalau lelah saat di ajak Ana untuk menemaninya berjalan-jalan malam hari.


Hari Ana sudah berniat untuk bertanya pada Aleardo alasan dia menghindarinya. Dia akan mengikuti Aleardo dari pagi. Itu rencannya walaupun Aleardo mungkin akan sadar tapi dia tidak peduli.


Saat ini ana sedang mengikuti Aleardo dan hal yang membuat Ana terkejut saat pemuda itu bertemu dengan tokoh utama protagonis. Niat awalnya hilang saat melihat Aleardo berbicara dengan Charlote.  Dia merasa dunianya benar-benar di renggut kembali. Ana pergi menjauh dari Aleardo dan Charlote.


Tanpa sadar Ana sudah tiba di taman Lavender. Seperti biasa tempat itu sepi, tempat yang tepat untuk menenagkan pikiran. Ana berjalan menuju tengah taman bunga lavender. Dia bersembunyi diantara bunga-bunga tinggi Lavender. Karena kalau dia di tempat biasanya, dia khawatir akan datang Liam atau Aleardo. Sekarang dia membutuhkan waktu untuk menenangkan pikirannya.


"Seperti semuanya sudah kembali ke tempatnya seperti dalam cerita. Aleardo memang seharusnya dekat Charlote dan menjauhinya. Bukan yang harus aku tangisi." Ucap Ana lirih.


Ana merasa hidup ini tidak adil untuknya. Dia tidak pernah menginginkan untuk masuk ke dunia yang tidak dikenalinya. Selain itu kehidupan sebelumnya tidak seindah hidup Anabella. Bahkan dia merasa hidup seorang Anabella sudah sangat indah tapi tokoh itu yang tidak menyadari orang sekitarnya saja.


"Apakah setiap usahaku tetap akan berakhir sama saja?" ucap Ana.


Hingga sebuah ide gila yang muncul di otak kecilnya. Rencana untuk meninggalkan keluarganya dan Aleardo. Hidup menjauhi semua tokoh yang ada di novel. Pilihan untuk menghilang tanpa meninggalkan jejak. Hingga waktu kematiannya tiba sehingga kejadian itu terhindar. Setidaknya dia tidak akan melihat kedua orangtuanya mati karenanya.


Ana menatap hamparan bunga lavender dengan tatapan kosong. Sampai Ana tidak sadar mananya mengalir dari tubuhnya membuatnya keberadaanya menghilang beberapa waktu. Hal itu membuat Aleardo terkejut saat tidak merasakan aura mana Ana.


Sebenarnya Aleardo tidak berniat bertemu dengan Charlote. Pertemuan itu tidak di sengaja dan Charlote yang mengajak berbicara Aleardo. Sedangkan pria itu tidak memperdulikan, Aleardo diam karena merasakan aura Ana yang mengikutinya. Tapi dia bersyukur saat gadis itu pergi meninggalkannya. Setelah Ana pergi, Aleardo meninggalkan Charlote begitu saja.


Sebenarnya selama ini Aleardo menghabiskan waktu di perpustakaan kerajaann untuk mencari informasi mengenai kutukannya dan Ana. Alasan dia tidak ingin mengajak Ana pergi ke istana adalah putra mahkota. Aleardo tidak ingin gadis itu bertemu dengan putra mahkota yang menyimpan perasaan pada Ana. Sedangkan saat malam Aleardo tidak ingin menemani gadis itu karena angin malam tidak baik untuk kesehatan Ana.


Aleardo sangat terkejut saat sedikit demi sedikit aura Ana menghilang. Seperti keberadaan Ana tidak berada di dunia ini. Segera Aleardo melakukan transportasi mengitu sisa aura Ana. Aleardo mencari Ana di taman lavender tapi dia tidak dapat menemukan hingga dia merasa aneh dengan tanaman lavender. Tanaman lavender itu terlihat tumbuh terlalu cepat padahal sekarang musim semi. Hal ini tidak mungkin bila tidak ada sihir yang membuat tanaman tumbuh dengan cepat.


Aleardo berjalan menuju taman lavender. Terus menyusuri taman itu hingga dia terkejut melihat kondisi Ana. Ana terbaring dengan tatapan kosong. Selain itu tangan dan kaki gadis itu dililit oleh akar tanaman yang muncul dari tanah. Mana hijau mengalir begitu saja dari tubuh Ana.


Aleardo segera menolong gadis itu dia memutuskan semua akar yang merambat pada tangan dan kaki Ana. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Ana tapi kondisi ini membuat Aleardo sangat khawatir. Setelah itu Ana di bawa ke tempat biasa gadis itu menatap taman lavender itu. Aleardo mencoba menyadarkan Ana dengan memanggil nama gadis itu tapi tidak ada respon apapun. Mata itu sangat kosong seperti jiwa ana sudah meninggalkan tubuh Ana. Aleardo takut hingga tanpa sadar pemuda itu mengeluarkan air matanya. Dia tidak melihat kondisi Ana seperti ini menurutnya ini lebih menyakitkan dibandingkan melihat Ana terluka dengan darah yang mengalir. Dia merasa gadis itu sepertinya beberapa tahun lalu saat ditolong oleh Ana.


Aleardo memegang kedua tangan Ana dan mendekatkan dahinya pada Ana. Air matanya terus mengalir dari mata merahnya. Seseorang yang dianggap dingin tapi dapat mengeluarkan air mata hanya karena gadis di depan ini.


"Ana sadarlah, bukankah kamu berjanji akan selalu berada di sampingku dan tidak akan meninggalkan aku. Sekarang sadarlah." ucapan Aleardo seperti angin sejuk yang menyiram api kegelisahan ana. Gadis itu sadar dan dia terkejut saat melihat pemuda di depannya menangis.


"Hey apa yang terjadi padamu. Kamu menangis. Itu sangat aneh." ucap Ana


"Jangan seperti tadi lagi, kalau kamu memiliki suatu masalah harusnya kamu ceritakan padaku. Bukankah aku selalu mendengarkan cerita kamu Ana. Jangan seperti ini lagi, aku merasa kamu akan meninggalkan aku sendirian. Aku mohon ajak aku jika kamu ingin pergi kemanapun."


"Bukankah kamu yang tidak pernah mengajakku selama 2 hari ini." ucap Ana kesal.


"Aku pergi ke perpustakaan istana. Aku tidak ingin kamu bertemu dengan putra mahkota menyebalkan itu. Selain itu aku menolak ajakan kamu untuk berjalan-jalan di malam hari karena angin malam tidak baik untuk kesehetan kamu Ana." ucapan Aleardo meluruskan semua kegundahannya beberapa hari yang lalu. Tapi pertemuan dengan charlote tetap bersarang di otak kecilnya.


"Apakah aku boleh bertanya?"


"Sejak kapan kamu harus izin untuk bertanya sesuatu padaku hey putri tidur. Kamu harus kurangi tidur di tempat sembarangan itu berbahaya." Ucap Aleardo.


Aleardo tidak tahu alasan Ana terbaling di tengah taman lavender. Dia hanya berpikir kalau itu karena Ana memiliki kebiasaan tidur yang sembarang tempat. Padahal kejadian itu terjadi karena pemikiran buruk ana yang tiba-tiba muncul.


"Tadi kamu bertemu dengan Charlote, Kamu punya hubungan dengan nona duke fressio?" tanya Ana.


"Siapa Charlote dan duke fressio. Aku tidak mengenalnya mereka." ucap Aleardo bingung dengan pertanyaan Ana. Dia tidak mengenal nona bangsawaan. Wanita yang dia kenal hanya Ana dan tidak ada niat untuk berkenal dengan wanita lain.


"Tadi kamu bertemu dengan Charlote jangan berbohong padaku Aleardo." Teriak Ana kesal. Pikiran negatif mengisi otaknya karena pertemuan Charlote dengan Aleardo.


"Hem, jadi kamu tadi mengikuti putri tidur. Kamu rindu padaku ya makanya mengikuti aku pergi setelah 2 hari berjauhan."


"Cih tadi aku hanya tidak sengaja lihat saat jalan-jalan."


"Kamu tidak usah berdalih aku tahu yang sebenarnya. Tentang nona bangsawan yang kamu sebutkan. Aku tidak mengenalnya. Tadi aku berhenti karena merasakan keberadaan kamu yang bersembunyi di salah satu gang antar toko. Nona bangsawan itu mengajak bicara denganku tapi aku tidak memperdulikan nona itu." Ucap Aleardo dengan santai. Tapi Ana terkejut dengan sikap dingin Aleardo yang sangat melukai orang lain itu. Ternyata Aleardo tetap sama walaupun bertemu dengan Charlote.


"Apakah kamu tidak tertarik dengan Charlote?"


"Berhentilah membicarakan nona itu. Aku tidak mengenal dan tertarik sedikitpun. Wanita itu sama seperti wanita bangsawan lainnya." ucap Aleardo.


Setelah itu Aleardo menggandeng tangan Ana dan mengajak gadis itu pulang. Dia tidak menggunakan Teleportasi karena berniat mengajak Ana berkeliling di pasar malam. Dia yakin gadis itu akan sangat menyukainya.