Female Villainess

Female Villainess
22.Perpisahan



Setelah pesta berburu dan pesta wanita tercantik selesai dengan pemenang Aleardo dan Anabella. Beberapa hari setelah acara itu, Anabella dinobatkan sebagai ksatria wanita termuda. Setelah pengangkatannya diwajib ikut dalam peperang yang terjadi di bagian Timur kerajaan. Peperangan dengan kerajaan yang ada di sebelah timur tidak pernah selesai.


Awalnya Aleardo tidak mengizinkan Ana untuk pergi ke medan perang. Karena dia harus dilantik menjadi Archduke secepatnya. Rencana pelantikan saat umurnya sudah dewasa gagal karena perbatas barat terjadi masalah. Masalah itu harus segera diselesaikan. Salah satu cara dengan menempatkan Aleardo pada posisi Archduke dan memberikan wewenang untuk memimpin daerah tersebut.


Awalnya Aleardo menolak karena dia tidak mungkin bisa berjauhan dengan Ana. Apalagi kondisi saat ini, Ana harus pergi ke medan perang di umurnya masih 13 tahun. Dia tidak mungkin membiarkan hal buruk terjadi pada Ana.


Tapi beberapa hari sebelum keberangkatan. Ana mendatangi Aleardo dan menantang pemuda itu berperang.


"Hey tukang sihir, ayo kita tanding pedang lagi. Kalau aku menang kamu harus nurutin permintaan aku." ucap Ana.


Pada saat itu Ana memang sengaja belum memberitahu keberangkatannya ke timur kerajaan. Hanya dia dan ayahnya yang tahu akan tugasnya untuk menjadi kapten di perang perbatasan timur. Sebenarnya tugasnya ke timur sedikit mencurigakan menurut ayahnya. Bagaimanapun Ana baru saja dinobatkan menjadi ksatria. Selain itu Ana tidak memiliki pengalaman.


"Kamu tahu hasil dari pertandingan itu bukan?" ucap Aleardo yang masih fokus dengan bukunya.


"Kita lihat saja siapa yang menang" ucap Ana.


Ana dan Aleardo melakukan Teleportasi dengan sihir pemuda itu. Keduanya sudah menggunakan pedangnya masing-masing. Pedang Ana sudah yang berwarna hijau seperti warna mana. Pedang itu diberikan sang ayah hari pengangkatannya sebagai ksatria. Sedangkan Aleardo menggunakan pedang hitam hadiah dari Ana.


"Ana aku peringatkan jangan sedikitpun kamu menggunakan mana kamu." peringatan Aleardo.


"Tidak masalah. Aku akan memenangkannya." ucap Ana.


Ana sebenarnya tidak yakin akan bisa memenangkan pertandingan ini tapi dia tetap harus menang. Bagaimanapun cara karena kalau dia kalah Aleardo tidak akan melepaskannya dan pemuda itu akan meninggalkan kewajibannya untuk mengurus sisa perang di barat. Apalagi dia mendengar ada pemberontakan di barat yang memakan korban jiwa rakyat rendah.


'pinjamkan aku kekuatan untuk memangkan pertandingan kali ini tanpa ada satupun yang terluka.' doa ana dalam hati.


Keduannya saling menyerang dan bertahan. Aleardo terkejut dengan peningkatan Ana. Dia melihat tidak ada perubahan apapun atau reaksi mana pada pedang gadis itu. Aleardo yang tidak fokus menjadi kesempatan untuk menjatuhkan Ana. Pada akhirnya pertandingan dimenangkan oleh Ana. Para ksatria terkejut melihat Aleardo dapat dikalahkan Ana walaupun itu sebuah keberuntungan.


"Seperti janji kamu Aleardo. Kamu harus tepati itu." ucap Ana dengan nada tegasnya.


Aleardo terkejut mendengarnya karena ini pertama kali gadis di depannya berkata dengan nada tegas. Padahal umur gadis di depannya baru 13 tahun. Umur yang terbilang masih kecil tapi mengingat Ana sudah dinobatkan sebagai ksatria di umurnya yang masih terbilang muda. Bahkan saat umur 13 tahun dia tidak seperti Ana saat ini.


"Aku tidak pernah mengingkari janjiku Ana." ucap Aleardo tidak kalah tegas.


"Aku akan pergi berperang di perbatas timur. Baginda raja menugaskan aku sebagai ketua regu untuk peperang di perbatasan. " ucapan Ana membuat Aleardo terkejut bahkan pedang yang dipegang pemuda itu jatuh. Sebenarnya tidak hanya Aleardo yang terkejut tapi seluruh orang ada di sekitar mereka.


"Apa maksud kamu Ana? Ini tidak lucu aku harus mendatangi raja sialan itu." ucap Aleardo yang bersiap untuk melakukan teleportasi tapi di tahan oleh Ana.


"Bukankah kamu sudah berjanji untuk mengikuti permintaanku."


"Paman mengizinkanmu?"tanya Aleardo yang dijawab anggukan kepala.


"Ayah sudah memberikan peringatan saat aku berniat menjadi seorang ksatria untuk kerajaan ini. Jadi ayah tidak akan melarang aku sekarang. Aleardo ini tugas pertama dan aku memiliki kewajiban untuk mengikuti tugas dari baginda raja."


"DIAM, aku tidak peduli itu perintah siapa? bagaimana kamu bisa baik-baik saja dikirimkan ke perang timur?" ucap Aleardo marah bahkan lingkungan menjadi sulit untuk bernafas. Energi mana Aleardo keluar bahkan Ana dapat melihat asap hitam mulai keluar.


"Janji kamu menuruti permintaan aku." ucap Ana tegas.


"Aku tidak mengikuti permintaan kamu. Benar aku bisa ikut dengan kamu. Semua masalah akan cepat selesai bukan." ucap Aleardo yang dijawabkan gelengan kepala.


"Penobatan kamu akan dimajukan Aleardo karena itu raja meminta aku untuk pergi ke timur."


"Apa maksud kamu? Karena aku penobatan aku dimajukan jadi kamu harus pergi ke timur?" tanya Aleardo.


"Iya itu salah satu alasa. Selain itu di kerajaan ini hanya ada beberapa ksatria dengan teknik berpedang dan panah yang baik diantaranya aku anak marques xieben. Alasan baginda memintaku pergi ke timur adalah karena aku anak ayah." ucap Ana.


"Aku tidak butuh gelar bangsawan itu. Sudah aku katakan kamu tidak usah jadi ksatria."


"Aleardo ini keinginanku. Jadi permintaanku adalah kamu tetap melakukan penobatan gelar archduke dan selesaikan tugas kamu."


"Tugas aku melindungi kamu Ana." ucap Aleardo.


"Kamu tidak punya kewajiban melindungi aku Aleardo. Aku tidak menganggap kamu sebagai pengawalku selama ini. Kamu adalah orang spesial untuk aku. Jadi ikuti permintaan aku kali ini demi kebaikan kita." ucap Ana.


"Aku lakukan permintaan dan aku tidak akan peduli tentang kamu Ana." ucap Aleardo.


Setelah pembicaraan itu Ana tidak pernah lagi memiliki kesempat untuk berbicara dengan Aleardo. Entah itu karena tidak ada kesempatan atau Aleardo yang menghindarinya. Tanpa terasa Ana hari keberangkatan ana untuk timur kerajaan tepat kota vionier. Kota yang berbatasan dengan salah satu kerajaan itu terkenal dengan ksatria yang ahli dalam teknik pedang. Berbeda dengan daerah barat yang lebih banyak orang yang ahli dalam bidang sihir.


Ana sudah menunggu sejak tadi pagi tapi Aleardo masih menghindar darinya. Bahkan dia tidak datang pada saat sarapan. Ana memaklumi sikap Aleardo. Dia memang terlalu egois dan tidak memikirkan pendapat Aleardo. Pemuda itu hanya khawatir dengan kondisi tubuhnya yang sangat misterius ini.


Beberapa saat Ana akan pergi Ana menitipkan sepucuk surat pada sang ayah untuk diberikan pada Aleardo, Mungkin dia memang belum bisa bertemu dengan Aleardo. Tapi kata-kata yang ingin dia ungkapkan setidaknya sampai pada pria itu.


Sebenarnya sejak baginda raja memberikan tugas untuk pergi ke medan perang di bagian timur kerajaan, dia sudah merasa gundah dan takut. Ana hanya seorang gadis berumur 13 tahun yang harus mendapat tugas untuk pergi ke medan perang. Padahal Anak seumurnya masih asik dengan kelas ke bangsawanan atau pesta teh. Tapi itu semua terjadi karena pilihannya. Ini bayaran atas pilihan dia pilih.


Sebelum Ana sampai pada kudanya seorang penyihir menghampirinya. Penyihir itu mengucapkan sesuatu yang membuatnya gundah untuk pergi melaksanakan tugasn. Pilihan yang harus dia pilih untuk masa depannya.


"Nona harus memilih dengan pasti bertahan atau pergi. Karena sesuatu buruk akan terjadi pada nona kalau salah memilih." ucap penyihir misterius yang menghilang setelah mengucapkan itu.


Ana tidak tahu maksud dari perkataan penyihir itu. Namun satu pertanyaan yang muncul dalam hatinya adalah Apakah pilihannya saat ini sudah benar.