
Akhirnya Ana bisa kembali ke ibukota setelah Aleardo membawanya ke istana Aleardo. Walaupun Ana harus merengek di depan Aleardo agar dia mau membawanya kembali. Pemuda itu ternyata ikut dengannya ke ibu kota. Padahal daerah barat masih ada yang harus dia bereskan. Dia bilang kalau Ana tidak mau ikut tinggal di daerah barat maka Aleardo juga tidak akan berniat kembali ke istananya.
Bahkan saat ana mengatakan tindakannya akan memberikan dampak buruk pada namanya. Selain itu Raja pasti akan marah besar dengan tindakan Aleardo. Tapi pemuda itu dengan santai bilang kalau raja tidak akan berani memerintahnya kembali.
"Aleardo. Tindakan kamu akan membuat Raja murka pada kamu."
"Dia tidak akan berani Ana."
"Bagaimana bisa?"
"Kamu tahu kenapa aku bisa menyusul kamu ke barat?" Tanya Aleardo sambil mengelus kepala Ana.
"Tentu aku tidak tahu Aleardo." ucap Ana yang sedang menikmati kudapannya.
"Karena aku mengancam pria tua sialan itu. Cih dia pikir statusnya membuatnya takut." Ucapan Aleardo membuat Ana terkejut bahkan kuenya yang tadi dia akan masukan ke mulutnya sudah jatuh.
"Hey kenapa kue kamu jatuh."
"Kamu gila Aleardo."
"...." Aleardo tidak memperdulikan ucapan Ana. Dia malah menyuapi kue ana dengan sebuah kue yang diterima oleh gadis itu.
"Bagaimana kamu bisa dengan mudah mengancam seorang raja? Kamu bisa mendapatkan hukuman."
"Tentu tidak akan sebelum mereka menghukum aku mungkin sudah aku ratakan negeri ini dengan jentikan jariku." ucap Aleardo dengan senyum smirk di wajahny yang membuat Ana bergidig takut.
"Berhenti dengan ekspresi itu. Kamu seperti iblis menyeramkan."
"Benarkah, kamu jahat sekali menyamakan pria setampan malaikat ini dengan iblis."Ucap Aleardo dengan nada yang sedih.
Ana menatap wajah Aleardo, dia mengakui wajahnya sangat tampan. Bahkan wajahnya lebih tampan dibandingkan putra mahkota. Rambut hitam dan mata merahnya menambah pesona pria itu. Dia bahkan tidak habis pikir dengan rumor kutukan dengan kelebihan yang dimiliki oleh Aleardo.
"Apakah kamu terpesona padaku?" Tanya Aleardo yang menatap wajah Ana.
"Di mata kamu ada kotoran." Ucap Ana untuk mengalihkan pertanya Aleardo.
Aleardo langsung membuang muka. Ana rasanya ingin tertawa keras melihat tingkah malu pemuda di sampingnya. Sangat mudah membuat pemuda itu malu.
"Kamu membohongiku ya. Kamu harus dihukum." Aleardo mendekati badan Ana dan mengelitik gadis itu.
"Hahahhahaha, Aleardo lepaskan aduh aku tidak kuat hahahaha. ku mohon."
"Tidak akan kamu harus dihukum." Aleardo makin gencar menggelitik tubuh Ana. Bahkan Ana sampai mengeluarkan air mata kalau terlalu lama tertawa.
TOK TOK
ketukan pintu memberhentikan hukuman Ana. Aleardo berjalan menuju pintu itu. Dia melihat seorang ksatria.
"Ada apa ?" tanya Aleardo ketus karena waktunya bersama Ana diganggu.
"Nona Anabella mendapatkan panggilan dari baginda raja."
Ana yang mendengar mengenai panggilannya segera meninggalkan Aleardo untuk bersiap. Bahkan dia lupa berpamitan pada Aleardo. Hal itu tentu membuat Aleardo kesal.
"Baginda raja juga mengundang Anda tuan Archduke."
"Baiklah. Katakan pada kepala pelayan untuk menyiapkan kereta kuda. Saya dan Ana akan pergi bersama."
"Dasar raja tua itu selalu saja merepotkan." ucap Aleardo,
Beberapa saat Ana sudah muncul dengan pakaian ksatrianya yang membuat dia terlihat seperti wanita yang berkarisma. Rambut merah muda dia ikat satu dengan tinggi. Pakaian biru tua dengan celana putihnya. Selain itu pedang hijau melekat dipinggang kirinya.
Beberapa pelayan dan ksatria di kediaman marques terpesona dengan pesona yang dimiliki oleh nona muda Anabella. Walaupun dia menggunakan pakaian pria tapi terlihat kecantikannya tidak menghilang bahkan bertambah. Aleardo juga merasa selalu terpesona dengan penampilan Ana yang seperti ini.
Walaupun Ana masih berumur 13 tahun tubuhnya sudah sebatas dada Aleardo yang memiliki tubuh yang cukup tinggi. Aleardo memiliki tinggi 175 cm. Sedangkan Ana 159cm.
"Kamu ikut Aleardo?"
"Ya si raja tua itu juga mengundangku."
"Berhenti memanggil baginda raja dengan tidak sopan. Sangat berbahaya kalau orang-orang mengetahuinya."
"Aku tidak peduli." ucap Aleado yang sedang membantu ana menaiki kereta kuda. Setelah itu Aleado masuk kedalam kereta kuda.
Ana baru sadar kalau Aleardo juga berpakaian sama denganya. Hanya saja Aleardo menggunakan jubah kebesarannya. Jubah yang diberikan oleh baginda raja yang menunjukkan jabatannya dibindang militer kerajaan ini yaitu panglima tinggi militer.
Ana saja terkejut saat melihat jubah yang menutupi punggu Aleardo. Umur Aleardo masih 15 tahun tapi sudah mendapatkan jabatan itu. Walaupun dia mengakui hal itu wajar melihat keahliannya dalam berpedang, sihir, dan strategi perang.
Jabatan itu menunjukkan kalau Aleardo adalah tangan kanan raja di militer. Keberadaan Aleardo sudah tidak dapat dipandang sebelah mata kembali saat ini. Dia patut bahagia dengan pencapaian pria itu.
"Aleardo kamu masih ingat tidak awal pertemuan kita. Aku tidak menyangka anak kecil yang aku tolong akan sukses di militer. Bahkan umur kamu masih 15 tahun tapi sudah memiliki jabatan yang lebih tinggi dari ayahku." Ucap Ana mengingatkan Aleardo mengenai nasibnya sebelum bertemu Ana. Dia selalu merasakan ketakutan dalam hidupnya. Bahkan dia merasa hidupnya tidak pernah akan merasakan kebahagian. Tapi Ana datang menolongnya dna menariknya dari kegelapan.
"Semua ini berkat kamu. Entah apa yang terjadi padaku jika kamu tidak menolong aku saat itu. Semua pencapaian ini adalah berkah yang kamu berikan padaku Ana." Ucap Aleardo yang diakhiri dengan kecupan di punggu tangan Ana.
"Aku hanya menolong sesama manusia. Itu adalah kewajibanku untuk menolong seseorang yang membutuhkan bantuan. Semua pencapaian kamu saat ini adalah hasil kerja keras kamu. Jadi berbuat seenaknya lagi." ucap Ana yang diakhiri dengan ancaman pada Aleardo yang tidak dipedulikan oleh pria itu.
"Cih kamu tahu raja tua bangka itu memaksaku untuk menerima jabatan ini. Jika aku ingin kamu menjadi ksatria daerah barat." Ucap Aleardo kesal bahkan dia sampai tidak sengaja mengucapkan yang semestinya tidak diketahui oleh Ana.
"Jadi kamu meminta aku untuk bekerja di daerah barat?"
"Lebih tepatnya membebaskan tugas kamu setelah dari perang timur."
":ALEARDO. kamu sangat menyebalkan."
"Hey kamu harus tahu perasaan aku saat mendengar kamu akan turun ke medan perang. Aku khawatir pada kamu. Walaupun aku tahu kamu tidak akan mudah dikalahkan."
"Tapi kamu lihat kemarin aku memenangkan perang dan kembali dengan keaadaan baik-baik saja."
"kamu lupa apa yang terjadi pada kamu ?" Ana terdiam mendengar pertanyaan Aleardo yang dengan nada dingin.
"ya aku mengakui sudah melanggar janjiku tapi kalau tidak seperti itu aku butuh waktu lama untuk kembali bertemu dengan kamu." ucapan Ana membuat Aleardo sedikit senang.
'hahah mudah sekali mengambil hati bocah ini' ucap ana dalam hati. dia tahu kalau pemuda di depannya akan luluh kalau dia berbicara seperti itu. Dia sangat mengenal sifat Aleardo yang tidak diketahui oleh orang lain.