Female Villainess

Female Villainess
35.Penampilan Ana



Sekarang Ana sudah menggunakan dress warna abu gelap yang pas dengan rambut peraknya. Rambutnya disanggul rendah. Bahkan Aleardo sulit untuk menjabarkan kecantikan gadis berusia 14 tahun ini. Pasti para bangsawan tidak akan menyangka seseorang yang berani memenggal kepala raja timur adalah gadis dengan paras yang cantik.


"Nona anda sangat cantik." ucap Lila.


"Sekarang kamu berbicara dengan formal lagi. Padahal tadi kamu marah-marah padaku kak lila sampai teringaku berdengung."


"Maafkan hamba yang sangat tidak memiliki sopan santun."


"Sudahlah kak aku tidak mempermasalahkannya." ucap Ana yang masih menatap pantulannya pada cermin.


Ana mengakui perubahannya menambah kecantikan pada tubuh Ana. Warna rambutnya putih silver menambah keindahan dengan mata hijau kelabu. Mungkin kalau dia di dunianya dulu, Dia sudah menjadi artis terkenal.


Rasanya sudah lama Ana di dunia ini sejak dia sadar dari tidurnya. Bagaimana orang-orang di dunianya ya. Keluarganya apakah merindukannya. Apakah dia sudah mati atau tubuhku terbaring di rumah sakit. Itulah pikiran yang suka singgah dibenaknya jika mengingat kehidupan pertamanya.


Dia sudah dapat menerima takdirnya terlahir sebagai Ana. Walaupun di novel Anabella berakhir dengan hukum pancung. Tapi sekarang dia bukanlah Ana yang dulu. Sekarang Ana adalah seorang ksatria yang sangat berjasa di kerajaan ini. Selain itu Ana memiliki teman Aleardo. Pria yang memenggalnya di novel. Tapi dia yakin dia tidak akan melakukan itu di masa ini.


Cerita tentu sudah keluar jalur dari novel. Saat pertemuannya dengan putra mahkota yang sedang menyamar, hidup bersama dengan Aleardo, bahkan Raindhen yang menjadi penggemarnya, dan Charlote yang tertarik pada Aleardo. Sebenarnya Ana sangat terkejut saat melihat Charlote yang sangat tertarik pada Aleardo.


Padahal di dalam novel, cinta Aleardo bertepuk sebelah tangan. Bahkan saat Aleardo ditusuk oleh putra mahkota. Charlote malah marah pada pemuda itu. Dia menyalahkan Aleardo yang tega berniat untuk membunuh putra mahkota.


Sunggu kehidupan ini sangat berubah tapi dia sangat bersyukur hidup Aleardo tidak seburuk di dalam novel. Dari berbagai karakter dalam novel itu hanya sosok Aleardo yang memiliki kehidupan dengan banyak kesulitan. Bahkan Aleardo tidak memiliki seseorang untuk bersandar. Charlote yang dikatakan dekat dengan Aleardo, tapi tetap gadis itu memiliki rasa takut dengan keberadaan kutukan yang dimiliki pemuda itu.


"Kamu akan melamun terus seperti itu?" tanya Aleardo dengan nada ketusnya. Aleardo sudah sejak tadi duduk di sofa. Dia kesal melihat Ana yang akhir-akhir ini senang sekali melamu. Sunggu Aleardo ingin membelah kepala kecil gadis berambut putih itu untuk mengetahui isi pikiran itu selain pedang, makan , dan tidur.


"Ah, aku hanya terpesona dengan penampilanku, Menurut kamu gimana Aleardo?" tanya Ana yang sudah berdiri di depan Aleardo.


"Biasa saja. Ayo. Kita bisa telat kalau tidak berangkat sekarang." ucap Aleardo yang menarik tangan Ana.


Padahal Aleardo sangat terpesona oleh penampilan Ana. Bahkan jantungnya berdetak kencang sejak dia masuk ke dalam kamar Ana. Tapi dia mencoba mengendalikan itu semua agar Ana tidak mengetahuinya.


"Aleardo, Aku sedikit takut. bagaimanapun ini kali pertama aku menunjukkan penampilanku saat ini. Aku selalu menutupi rambutku dengan jubah." ucap Ana.


Sejak fisik Ana mengalami perubahan, Ana hampir selalu menggunakan jubah dengan penutup kepala. Dia masih takut untuk memperlihatkan penampilannya selain orang dikediamannya, ksatria dan raja. Tentu Raja mengetahui karena dia pernah mendapat panggilan dari pemimpin kerajaan ini.


Mereka sekarang berada di dalam kereta kudu. Mereka memang tidak pergi bersama marques dan marchiones karena kedua orang tua Ana harus pergi ke suatu tempat sebelum ke pesta. Ana menghabiskan waktu dikereta dengan melanjutkan buku yang tadi siang dibacanya.


"Kamu melanjutkna membaca buku itu?" tanya Aleardo saat melihat Ana membaca buku berjudul 'girl of Historical'.


"Ya karena ini tinggal beberapa halaman, Kamu harus tahu Aleardo gadis yang menjadi pemain utama di buku ini akhirnya menemukan seseorang yang membuatnya memiliki tujuan hidup. Gadis itu ingin menyelamatkan pemuda itu dari kutukan yang sudah bersamanya sejak kecil. Bahkan Gadis itu rela menukar masa hidupnya untuk kesembuah pemuda itu. Sangat romantis sekali."


Aleardo terkejut saat mendengar cerita itu. Karena itu adalah cerita sebenarnya mengenai Aleardo dan Ana. Tapi bagaimana bisa Ana menemukan buku itu. Buku berisi dongeng yang tidak disebarkan luaskan di kerajaan ini. Dongeng yang diketahui di kerajaan sudah melenceng dari cerita sebenarnya.


Bagaimanapun Aleardo menyembunyikan semua fakta mengenai keberadaan meraka. Tetap saja itu akan teruangkap. Dia tidak mungkin menyembunyikan itu selamanya. Walaupun untuk cukup untuk Ana menganggap itu semua adalah dongeng mengenai kehidupan seorang gadis bernama Quena dan Zixon. Cerita tentang perjalanan gadis bernama Quena hingga kematian merenggutnya setelah kehidupannya beribu-ribu tahun karena mencintai seorang anak laki-laki yang dia tolong.


"Tapi ya Aleardo aku kasihan banget sama nasib Quena, bahkan saat akhirnya dia menemukan seseorang yang bisa dia percaya. Itu menjadi akhir hidupnya. Kasihan sekali. Apalagi Zixon harus hidup dengan beban karena sudah menjadi penyebab wanita yang disayangnya meninggal. " ucap Ana yang tidak sadar sudah mengeluarkan air mata.


"Tentu itu bukan yang diharapkan oleh Zixon. Dia berharap kalau zixon tidak pernah bertemu dengan quena kalau pada akhirnya menjadi penyebab gadis itu pergi. " Ucap Aleardo sambil menatap pemandangan di luar. Terlihat wajahnya yang sendu saat mengucapkan itu.


"Sepertinya kamu pernah membaca buku ini, Apakah ada buku selanjutnya?" tanya Ana pada Aleardo.


"Ya aku pernah membacanya. Mungkin kamu tidak ingin membaca buku-buku selanjutnya." Ucap Aleardo.


"Tapi bukankah tadi siang kamu bilang tidak pernha membaca buku ini. Jadi kamu membohongiku. Aku baru tahu seorang Alerdo yang notabennya seorang panglima suka membaca buku cerita seperti ini."


"Aku membaca itu karena tidak sengaja menemukannya."


"Benarkah, kata kamu sudah membaca buku lanjutannya. Jadi bagaimana nasib Zixon setelah kepergian quena?" tanya Ana dengan sangat antusias.


Dia ingat sekali zixon sangat terluka saat Quena meninggalkannya untuk selamanya. Dia seperti tidak memiliki semangat hidup lagi. Kehidupannya menjadi sangat hampa. Itu adalah tulisan terakhir dalam buku cerita yang dibaca Ana.


"Kehidupan berulang terus menerus Ana. Bahkan Zixon selalu berakhir sendiri di kehidupannya." ucap Aleardo.


"Benarkah? Penulis sangat kejam untuk zixon dan quena. Kenapa mereka harus terlahir terus menerus kalau akhirnya selalu sama." ucap Ana yang sebal.


"Aku juga berpendapat seperti itu ." Ucap Aleardo saat mengingat kehidupan Zixon yang sangat menyedihkan. Beberapa kali dia harus melihat gadis yang dicintainya mati. Bahkan hingga Zixon berharap untuk tidak pernah dilahirkan kembali jika harus melihat itu terus menerus. Karena itu seperti pedang yang selalu menembus diluka yang sama dan luka itu belum sembuh total.