Female Villainess

Female Villainess
109. Xavier muncul



Aleardo dengan berat hati tetap melanjutkan perjalannya menuju Je'delton. Tempat Xavier terkurung di diatara dunia bawah dan dunia manusia. Sesesorang yang membuka lingkaran sihir untuk membuka segelnya harus mengorbankan seluruh jiwanya.


Sayangnya Aleardo tidak bisa menggunakan sihir teleportasi untuk bisa cepat sampai titik itu. Dia harus berjalan kaki dari Geblanta. Gerbang pembatas wilayah manusia dengan wilayah dunia bawah. Je'delton berada di wilayah dunia bawah tapi masih di dunia manusia.


Saat mereka sampai, ternyata hal itu sudah terjadi. Aleardo menatap tajam sosok pemuda yang hampir mirip dengannya hanya warna matanya berwarna jingga gelap. Warna jingga gelap itu menurun dari ibunya Xavier.


"hai kakak, sudah lama kita tidak bertemu. Kamu sama sekali tidak berbeda walaupun terlahir kembali dari para manusia." ucap Xavier yang sedang berdiri di tengah lingkaran sihir di Je'delton.


Aleardo tidak sama sekali berniat memperdulikan pemuda di depannya saat ini. Dia melirik sekitarnya dan melihat seorang wanita yang sedang terkapar di samping tiang. Kondisi wanita itu seperti sedang pingsan. Ternyata ada wanita lainĀ  yang mengorbankan dirinya untuk membangunkan iblis Xavier.


Dengan satu jetikan, tubuh Naura berpindah tempat di depan Luxorius. Naga itu terkejut saat tubuh wanita yang dicintainya tepat berada di depannya. Berarti Naura tidak menyelesaikan perjanjian dengan iblis Xavier.


"Cih, dia memang wanita yang tidak berguna. Bahkan setelah menggunakan kekuatanku tapi akhirnya dia tidak melanjutkan ritual pemanggilanku kembali." protes Xavier.


"Luxorius sebaiknya kamu bawa wanita itu menjauh dari tempat ini. Sisanya Ana akan menolong wanita itu." ucap Aleardo.


Luxorius langsung menghilang dari hadapan mereka. Yirlendi tentu saja berniat untuk menemani majikannya. Dia seorang naga yang cukup setia pada Yirlendi.


"Sekarang kamu memiliki seekor naga yang setia padamu kakak. Bagaimana kamu berikan naga itu padaku?" ucap Xavier.


"Tutup mulutmu itu. Aku hanya ingin memberikan kesempatan sekali Xavier. Pergilah dari dunia manusia dan jangan mengganggu hidupku kembali." ucap Aleardo.


"Aduh aku takut dengan ancaman kakak. Tapi aku tidak tertarik kembali sebelum mengalahkanmu. Karena aku ingin menjadi raja iblis. hahhahahah." ucap Xavier dengan diiringi tawa yang menggelegar.


Tapi itu tidak bertahan lama saat matanya menatap tajam pada Aleardo. Sebuah sayap hitam besar muncul di punggungnya.Dua tanduk khas kaum iblis juga muncul di kepalanya. Matanya mengecil seperti seorang naga.


"Jaybalus." panggil Xavier.


"Bagaimana kamu bisa menggunakan pedang terlarang itu Xavier." ucap Aleardo.


Jaybalus adalah pedang sihir yang dimiliki oleh raja iblis terdahulu. Tapi pedang itu disegel di istana dunia bawah karena terlalu banyak menggandung sihir hitam. Pedang yang memiliki pikirannya sendiri akan mengikis energi si pemiliknya kalau tidak bisa mengontrol pedang itu. Jika dibiarkan pedang Jaybalus akan mengendalikan sang pemilik tubuh.


Jaybalus terbuat dari taring monster terkejam yang ada dunia iblis. Monster itu dikalah oleh raja yang membuat pedang jaybalus. Aleardo tentu saja bisa menggunakan pedang itu. Tapi dia tidak berniat menggunakan pedang yang bisa kapan saja mengendalikannya. Terlalu bahaya jika hal itu terjadi pikir Aleardo.


"Tentu saja aku sudah memilikinya saat kamu menolak pedang ini kakak. Jaybalus adalah pedang yang lebih kuat dari pedang milikmu itu. Mungkin jaybalus akan senang menghancurkan pedang Halaksamu yang telah merebut posisi Jaybalus." ucap Xavier.


" kakak masih suka menghindar. Berhentilah melakukan hal pengecut." teriak Xavier.


Sebuah lingkaran sihir keluar dari pedangnya. Api hitam keluar menyembur Aleardo. Yirlendi langsung mengeluarkan semburan api untuk menghancurkan api hitam itu. Sekarang Yirlendi dalam wujud naga hitam.


"Sialan, kamu tidak harus menggangguku naga jelek." ucap Xavier yang membuat Yirlendi marah karena dipanggil jelek.


"Hey iblis bodoh, kamu menghinaku jelek. Enak saja. Yirlendi adalah naga yang paling tampan di dunia ini." ucap Yirlendi dengan nada yang ketus. Dia tidak sadar dengan seringai Xavier padanya. Saat itu dia maju dan berniat menebas tubuh Yirlendi tapi ditahan oleh pedang milik Aleardo.


"Fokus Yirlendi. Kamu jangan membuatku jadi terbani dnegan keberadaanmu." teriak Aleardo yang menyadarkan kebodohan Yirlendi karena terpancing oleh Xavier.


"Kamu masih sama seperti dahulu. Slalu terlalu baik pada orang lain. Tapi tidak memikirkan dirimu sendiri." ucap Xavier bersamaan sihir yang muncul mengarah perutnya. Sihir memanggil ribuan pedang kecil. Beruntungnya Aleardo keburu sadar dengan serangan Xavier sehingga di segera menghindar dan mengeluarkan sihir perlindung. Ribuan pedang kecil itu menyerang lapisan perlindungnya.


"Aleardo kamu baik-baik saja?" tanya Yirlendi yang merasa bersalah telah menyebabkan Aleardo hampir saja terkena serangan dari iblis licik itu.


"Tenanglah aku masih keburu menghindarnya. " ucap Aleardo tapi ada satu pedang kecil yang tertancap di perutnya. Dia cabut pedang itu dan mengalirkan sihir penyembuh untuk menahan pendarahan. Mungkin untuk saat ini sihir itu paling efektif.


"Kamu harus tahu kakak, pedang itu mengandung racun yang berbahaya untuk para iblis. Racun itu akan menggerogoti tubuhmu rasanya seperti ribuan jarum menyerangmu. Bukankah kamu merasakaan itu saat ini." ucap Xavier.


"Tentu saja racun ini tidak terlalu memberikan dampak besar pada tubuhku. Kamu lupa aku tidak selemah itu dengan racun. Kamu harus berlajar lagi untuk dapat menemukan cara efektif untuk membunuhku." ucap Aleardo dengan senyum merendahkan Xavier.


Xavier menujukkan wajah yang sangat marah. Bahkan kedua matanya semakin menyepit karena telah direndahkan oleh pria di depannya. Dia mengeratkan pegangan pada pedangnya. Sebuah kabut hitam muncul dari pedang itu menyelimuti tubuh Xavier yang sedang termakan oleh rasa marahya saat ini.


Aleardo membuang nafas kasar melihat kondisi Xavier saat ini. Dia sangat tahu kalau adiknya yang berbeda ibunya itu sedang dikendalikan oleh pedangnya. Kabut hitam itu berisi jiwa sang pedang yang akan mengambil alih tubuh Xavier secara perlahan-lahan.


Segera Aleardo melepaskan sihir perlindung. Dia berdiri dengan posisi kuda-kuda. Setelah itu dia dengan cepat berpindah di depan Xavier. Aleardo terus menerus memberikan serangan menggunakan pedangnya. Xavier kesulitan menahan setiap serangan dari Aleardo. Kekuatan serangan Aleardo memang tidak main-main hingga pedang yang dipegang Xavier terlepas dan tertancap di tanah. Pedang Aleardo mengalah ke leher Xavier.


"Sudah aku katakan. pedang itu tidak cocok untukmu. Kamu tidak akan bisa menggunakannya. " ucap Aleardo.


"Sialan kamu anak manusia. Kamu pikir aku akan mudah dikalahkan dengan begitu saja. Sepertinya kamu lupa alasan aku disegel di tempat ini bukan." ucap Xavier marah.


"Kamu juga lupa kenapa aku dipilih menjadi seorang raja iblis Xavier. Sadarlah dan berhenti dengan niat kamu itu." ucap Aleardo.


"Tentu saja aku tidak akan peduli ucapanmu Hector atau aku harus panggil Aleardo" ucap Xavier.