Female Villainess

Female Villainess
100. Akhir Naura



Naura merasa hal buruk akan terjadi pada sang suaminya. Dia tidak bisa berdiam diri di tempat ini. Dia ingin keluar menyelamatkan Luxorius tapi anaknya yang baru saja lahir tidak bisa dia bawa begitu saja. Dia menatap danau berharap Northest muncul kembali tapi naga itu tidak keluar. Bahkan dia tidak terusik saat mendengar suara dari dalam hutan.


"Ada yang ingin kamu ucapkan padaku." ucap Northest dari dalam danau itu tanpa berniat keluar.


"Aku ingin menitipkan anakku padamu Northest." ucap Naura.


"Sebenarnya aku malas melakukannya tapi mengingat kamu adalah istri Luxorius  maka akan aku lakukan. Sihir perlindungnya akan menyelamatkan dari orang yang data. Keberadaanya tidak akan diketahui tapi dia tidak bisa terhindar dari racun ataupun serangan." jelas Northest.


"Aku tidak masalah karena tidak akan ada orang yang datang ke tempat ini. Selain itu aku pastikan semua ini selesai malam ini." jelas Naura. Dia meletakkan anaknya di sebuah tumpukan daun kering. Anak kecil itu sama sekali tidak terganggu.


Northest muncul dari dalam danau tapi ada yang berbeda dengannya saat ini dia keluar dengan wujud manusianya. Wujud manusianya memiliki rambut hijau dengan mata hijau cerah. Dia mendekati bayi itu dan mengeluarkan sebuah sihir yang dan keberadaan anak itu menghilang seketika.


"Aku hanya ingin memberi tahu kalau keberadaannya tetap bisa ditemukan jika penyihir itu memiliki kekuatan melebihku. Selain itu lebih baik kamu tidak membalas dendam Naura. Kalian akan baik-baik saja, seorang penyihir akan menyelamatkanmu dan kaum kita." jelas Northest sebelum masuk kedalam danau.


"Apa maksudmu?" tanya Naura.


"Mungkin yang terlihat jahat belum sepenuhnya jahat." ucap Northest.


Naura yang sudah melihat northest menghilang dari hadapanya. Segera menggunakan sihir teleportasi menuju tempat suaminya dengan menggunakan cincin yang diberikan oleh Luxorius. Dengan benda itu dia bisa menemukan keberadaan suaminya.


"Aku harap kamu baik- baik saja Luxorius." ucap Naura sebelum menghilang dari tempat itu.


"Kamu adalah orang yang semestinya tidak pernah berada di sini Naura, Kamu akan masalah untuk orang tersayangmu." ucap Northest


"Lalu kenapa kamu memberikannya bunga teratai itu Northest." ucap seorang pemuda dengan rambut hitam mata merah yang seluruh tubuhnya terlingkupi oleh asap hitam.


"Kamu tahu itulah sudah takdirnya, aku hanya mengikuti tugasku. Setelahnya bagaimana dengan pilihnya." ucap Luxorius yang kesal melihat pemuda itu.


"Kamu masih sama seperti dahulu, terlalu kejam." ucap pemuda itu.


"Apakah kamu tidak berkaca raja iblis?" tanya Northest.


"hahahah aku hanya mengikuti permintaan mereka bukan? Aku tidak pernah meminta mereka untuk mengikutiku." ucap pemuda itu.


"Bukankah kamu semestinya belum bisa kembali ke dunia ini?" tanya Northest.


"kamu benar tapi bayi itu membawa sebagian jiwaku, walaupun bukan bayi itu yang menjadi tubuhku sebenarnya." ucap pemuda itu yang menatap bayi di bawah pohon rindang.


"Kamu terlalu jahat pada wanitamu bukan?" tanya northest.


"Aku tidak pernah berniat jahat pada wanitaku tapi tanpa jiwanya, Aku juga tidak bisa bertemu dengannya Northest." jelas pemuda itu.


"Hidup kalian memang sangat menyedihkan." ucap Northest.


"Aku tahu itu, kami memang seorang sepasang kekasih tapi alam menolak keberadaan kami bersama. Kami hanya bisa hidup secara terpisah tapi setelah kesialan ini akan ada hadiah yang menanti kami." ucap pemuda yang sedang menerawang masa lalunya.


"Kamu benar, aku harap waktu itu segela datang." ucap northest sebelum menghilang dari danau menjadi abu.


Naura terkejut saat melihat Luxorius yang sedang terduduk dengan luka di seluruh tubuhnya. Dia melihat seorang wanita berambut merah muda sedang mengangkat pedang yang bersiap mengarah pada kepala suaminya. Segera dia menyerang wanita itu dengan sihirnya. Tapi dengan mudah wanita itu menghindarinya.


"Mainan baruku datang." ucap Quena saat melihat seorang wanita yang berani mengganggunya.


Quena melakukan sihir teleportasi dan muncul di hadapan Naura yang membuat wanita itu terkejut. tapi dia bisa mengindar dari serangan Quena. Sedangkan Quena tersenyum saat melihat Naura yang dapat menghindar.


"Kamu sepertinya cukup baik untuk menghindar tapi bagaimana dengan serangan ini." ucap Quena yang tersenyum.


Quena menyerang dengan membanti buta Naura yang membuat wanita itu kewalahan karena dia tidak pernah berlatih pedang. Bahkan kedua tangannya sudah mengeluarkan darah. Segera Naura memanggil tongkat sihir saat Quena lengah.


Quena mundur beberapa langkah dari tubuh Naura. Dia menatap tajam wanita yang berada di depannya. Matanya menatap tajam saat melihat tongkat sihir milik Naura.


"Tongkat sihir legendaris itu tidak semestinya kamu miliki, Tongkat terkutuk itu bagaimana bisa berada di tanganmu ?" taya Quena yang masih tidak percaya dengan tongkat yang dibawa oleh Naura.


Tongkat milik Xavier yang terkenal harus menggunakan darah orang yang paling disayang untuk mendapatkannya. Tongkat yang akan menggerogoti jiwa murni yang pemiliknya. Jadi digunakan secara terus menerus jiwa penyihir itu akan jatuh ke dalam kegelapan tanpa ujung.


"Kamu tidak perlu tahu aku mendapatkannya dari mana dan bagaimana. Satu yang harus kamu tahu adalah cara menghindar dari seranganku. Aku tidak akan membiarkan kamu melukai orang yang aku sayang." ucap Naura.


"Kamu bodoh, tongkat itu membawa aura hitam beracun yang berubah menjadi udara yang bisa membunuh seorang penyihir maupun naga. Kamu berniat melukai orang yang kamu sayang sendiri." ucap Quena yang sudah merubah pedang hijaunya menjadi tongkat sihir yang terbuat dari batang pohon  dengan akar yang merambat, diatasnya terdapat bola hijau. Tongkat sihir Quena membersihkan aura hitam beracun yang dikeluarkan oleh Naura.


Quena sadar kalau jiwa Naura sudah diselimuti kegelapan. Dia sudah tidak bisa menolong wanita di depannya.


Naura mengarahkan tongkatnya pada Quena. Asap hitam keluar dari tongkat itu berubah menjadi api hitam  tapi dengan mudah Quena tangkis dengan tongkat sihirnya. Quena menghela nafas kasar saat melihat wanita di depannya. Dia merasa kasihan dengan nasib wanita di depannya.


"Sepertinya kamu harus mengikhlaskannya, kamu tahu bukan tongkat yang dipegang istrimu." ucap Quena dengan pada Luxorius.


"Aku tahu itu dan tidak akan aku biarkan kamu membunuh istriku." ucap Luxoriius yang sudah bisa berdiri tapi dengan mudah Quena membuatnya jatuh kembali. Dia tidak akan membiarkan orang lain mengganggunya.


"Sialan kamu wanita j****** akan aku bunuh kamu." teriak Naura saat melihat Luxorius kembali terduduk karena sihir gravitasi milik Quena.


"Kamu sudah gila Naura dan tidak mungkin aku membiarkan penyihir sepertimu hidup." ucap Quena.


Quena menulis sebuah lingkaran sihir menggunakan tongkatnya. Lingkaran sihir berwarna putih dengan ukuran yang sangat besar. Dia arahkan ke Naura. Cahaya muncul dari lingkaran sihir itu dan menyinari Naura.


Quena berjalan menuju Luxorius yang masih terkenal sihir gravitasinya. Dia membisikkan sesuatu pada Luxorius.


"Tenanglah, dia masih bisa hidup karena bunga teratai yang diberikan oleh Northest bukan?" ucap Quena sebelum menghilang bersamaan dengan sihir pada Naura menghilang. Luxorius yang sudah tidak memiliki banyak tenaga pingsang dengan luka yang mengeluarkan darah. Sedangkan Naura jatuh setelah seluruh mananya dibersihkan oleh Quena.


"Tunggu aku Hades, Quena sudah selesai bertugas." Gumam Quena.


Yirlendi yang mulai bisa menggerakkan badannya segera berjalan menuju Luxorius dan Naura. Tapi dia merasakan kalau Naura sudah tidak berdapas. Dia berniat untuk memindahkan tubuh Naura tapi tangannya langsung terbakar. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada tubuh Naura.


Mengingat Luxorius saat ini butuh diselamatkan dengan cepat Yirlendi membawa tubuh raja dan meninggalkan tubuh milik Naura.