
Ana bangun lebih pagi dari biasanya. Bahkan Luxorius masih terlelap disampingnya dengan wujud naga kecil. Ana sangat gemas dengan naga kecil yang manja padanya. Dia sengaja bangun lebih awal karena harus kabur dari Aleardo. Hari ini dia harus pergi ke istana untuk mengerjakan beberapa tugas yang sudah terbengkalai karena pemuda itu.
Dia berjalan menuju kamar mandi yang ada di ruangan itu. Rasanya sudah sangat lama dia tidak melakukannya sendiri. Biasanya dia selalu dibantu oleh para pelayan. Walaupun diawal dia tidak nyaman keberadaan mereka yang berniat membantunya.
Ana sudah selesai dengan pakaian ksatria warna biru dan rambut yang diikat satu seperti ekor kuda. Dia membangunkan naga yang masih asik di dalam dunia mimpinya. Mungkin karena terlalu lelah naga itu sulit dibangunkan. Makanya dia akan membiarkan naga itu melanjutkan tidurnya.
Ana keluar kamar dengan mengendap-ngendap. Melihat kalau kediaman marques masih cukup sepi. Dia belum melihat tanda-tanda kehadiran Aleardo di tempat ini. Dia berjalan cepat menuju tempat penyimpan kuda-kuda kediaman marques. Setelah menemukan kuda kesayangan. Segera dia menunggangi kuda itu menuju istana.
Ternyata dia datang terlalu pagi bahkan tempat kejarnya masih sangat sepi. Tapi itu lebih baik, dia bisa membereskan beberapa laporan yang berada di meja kerjanya. Setidaknya Aleardo tidak akan mengganggunya satu hari ini.
"Kamu datang sangat pagi?" ucap Chino yang merupakan teman Ana di istana ini.
"Iya, aku sudah terlalu sering tidak datang dan pekerjaanku sudah menumpuk." ucap Ana.
"Pasti ini ulah panglima kan? "tanya Chino.
Sebenarnya para ksatria yang berada di istana sudah mengetahui hubungannya dengan Aleardo. Apalagi Aleardo suka datang membawanya begitu saja. Mereka terkadang kesal dengan sikap Aleardo. Tapi daya mereka tidak berani protes pada pemuda itu.
Mungkin umurnya lebih muda dari para ksatria yang bekerja di istana. Tapi kekuatan sihir dan gelarnya tidak bisa dianggap sebelah mata. Aleardo berada di bawah 1 tingkat dari raja. Selain itu raja saja sangat menghormati pemuda itu.
"Kita mendapat tugas untuk melakukan pengecekan di hutan para monster." ucap Chino.
"Bukankah orang yang masuk ke situ tidak bisa kembali lagi dengan mudah. Mereka bahkan harus dibantu oleh penyihir agung."ucap Ana yang terkejut dengan tugas barunya.
"Iya sih aku juga bingung kenapa kita mendapat tugas itu. Tapi ini permintaan putra mahkota. Karena beberapa hari ini para penyihir penjaga perbatasan merasakan gelombang yang aneh dari dalam hutan." jelas Chino.
"Baiklah, kita berangkat kapan?" tanya Ana.
"Kami mengikuti Anda nona Ana." ucap Chino.
"Huh? akukan cuman ksatria biasa." ucap Ana.
"Jabatan anda sudah berubah sejak dikirim untuk membatu perbatasan timur bukan?"
"Aku itu hanya untuk sementara saja sebagai pengganti ayah saya yang tidak bisa berangkat ke medan perang lagi."
"Tidak, karena anda sudah mendapatkan pedang suci dan buku sihir legendaris. Itu adalah simbol pengangkatan ksatria di kerajaan ini. Kamu diberikan tanggung jawab untuk memimpin pasukan ksatria istana."jelas Chino.
"Ternyata seperti itu, Aku baru mengerti sekarang. Jadi kita harus pergi secepatnya karena Aleardo sebentar lagi akan menemukan keberadaan aku kalau tetap di istana." ucap Ana. Chino pergi setelah berbincang dengan Ana untuk mengurus beberapa ksatria yang akan ikut dalam tugas saat ini.
"Maaf Aleardo, mungkin kamu harus bersabar lebih lama lagi." gumam Ana sebelum keluar dari ruangannya.
Dia pergi dengan membawa 3 ksatria yang berisi 2 orang ksatria ahli dalam berpedang, 1 orang ahli sihir, dan 1 orang yang memiliki sihir penyembuh. Mereka pergi menggunakan kuda walaupun akan membutuhkan waktu yang cukup lama karena jarak dari ibukota menuju hutan itu sangat jauh.
"Kota kosong," gumam Ana pelan.
"Aku tidak menyangka kamu memilihku, kalau Aleardo tahu pasti hidupku akan habis." ucap pemuda yang berada di samping Ana yang tidak lain adalah Raindhen. Raindhen tidak dalam rencananya untuk membawanya. Tapi mengingat keahlian dalam bepedang tidak bisa diremehkan selain itu dia memiliki bakat dalam sihir. Jadi membawa Raindhen dengan ancaman Aleardo.
"Kamu pergi tanpa memberi tahu Aleardo, Dia akan mengamuk kalau tahu kamu pergi ke kota mati. Itu sangat berbahaya Ana. Bahkan aku tidak yakin akan berhasil kembali jika sudah masuk." ucap Raindhen yang mengingat rumor yang tersebar mengenai kota kosong dan hutan misterius yang akan mereka cek.
Setelah menempuh berkuda seharian, Ana memilih untuk singgah di kota terdekat untuk beristirahat. Selain itu hari ini sudah menjelang malam. Mereka harus mengumpulkan banyak tenaga untuk perjalana esok hari.Mereka berhenti di salah satu kota Autumn. Kota kecil pinggir ibukota. Kota ini hanya tempat untuk orang-orang yang ingin beristirahat setelah perjalanan jauh dari ibukota maupun daerah perbatasan selatan. Kota ini yang sumber ekonomi utamanya berkebun dan bertani. Masyarakatnya juga terkenal sangat ramah dan baik.
"Kita beristirahat di sini, Chino kamu bisa urus penginapan. Aku akan berkeliling sebentar."
"Aku akan menemani Anda." ucap Raindhen.
"Tidak perlu Raindhen. Aku hanya keluar sebentar. Tenanglah sebenatar lagi pasti Aleardo akan datang. Karena aku harus mencari tempat sepi agar tidak ada orang yang menjadi korban kemarahannya. " Jelas Ana.
Ana sudah tidak bisa menyembunyikan aura tanpa bantuan Luxorius dan Yirlendi. Apalagi dia menggunakan kalung pemberian Aleardo yang semakin mudah menemukannya. Ana menyusuri kota itu, cukup ramai untuk kota kecil pinggir ibukota. Dia tidak mengira akan seramai ini saat hari menjelang malam.
"Sepertinya akan pesta malam ini." gumam Ana yang melihat kondisi kotak sedang di dekorasi. Seingatnya tidak ada perayaan untuk pesta rakyat pada bulan ini.
Ana berjalan menuju salah satu stand makan penjual ubi bakar. Hari ini cuaca memang sudah sedikit hangat karena sebentar lagi musim panas.
"Sepertinya akan ada perayaan ya paman?" tanya Ana pada pedang itu.
"Ya, nona. Hari ini adalah pesta untuk merayakan hasil panen kami yang berlimpah." ucap penjual toko.
"Bukankah ini baru musim semi."
"kalau begitu terima kasih atas informasinya. Ini uangnya paman. kembaliannya untuk paman saja."
"Terima kasih nona, oh ya nona ada mitos jika anda membawa seseorang yang anda sayangi di taman bunga wisteria saat malam dengan bulan purnama maka cinta kalian akan abadi. Bagaimana kalau nona membawa orang anda cintai ke taman itu malam ini.Karena malam ini bulan purnama biru. " ucap pedagang itu.
Ana sedikit bingung ketika pedangan itu tiba-tiba menceritakan tentang taman wisteria. Tapi sepertinya taman itu sangat indah saat malam hari. Dia melangkahkan kakinya menuju taman itu yang berada di pinggir kota. Ternyata jarak cukup jauh dari yang dibayangkan. Dia duduk di bawah pohon yang indah itu.
Beberapa saat kemudian Ana terkejut saat Aleardo muncul di depannya. Dia bisa melihat wajah kesal pemuda itu. Ana terkejut saat melihat kondisi Luxorius yang mengkhawatirkan. Dia masih berwujud naganya.Naga itu mencoba melepaskan cekram Aleardo pada tubuh kecilnya. Setelah bisa lepas naga itu terbang menuju Ana karena ingin melaporkan perlakuan Aleardo dan Yirlendi. Keduanya ternyata sangat kejam pada naga abu gelap itu. Namun tubuh Luxorius tiba-tiba menghilang dari hadapan Ana. Karena Aleardo menggunakan sihirnya untuk memindahkan naga itu dan Yirlendi menuju penginapan Ana. Selain itu Aleardo menggunakan sihir pengunci jadi mereka tidak bisa meninggalkan penginapan.
"Sialan anak nakal itu mengurungku dan kamu malah membantunya untuk menyiksaku." protes Luxorius yang tidak terima beberapa kali dia terkena sihir api dari Aleardo. Sedangkan Yirlendi hanya menontonnya saja. Tubuhnya juga tidak bisa berubah karena sihir Yirlendi.
"hahahah maafkan aku raja. tapi majikanku memintanya."
"sejak kapan kamu mau menuruti perintah anak nakal itu." ucap Luxorius.
"sejak kami bekerja sama untuk memberikan hukuman pada rajaku yang licik in." ucap Yirlendi dengan bangga. Setelah itu Yirlendi menghilang dari kamar Ana. Karena dia sangat mudah untuk keluar dari sihir Aleardo.
"Dasar anak naka sama naga sihir itu sama -sama menyebalkan." ucap Luxorius.
Aleardo masih menatap tajam pada Ana. Tapi gadis itu tidak memperdulikan tatapan tajam dari pria itu. Dia bahkan dengan santai sedikit merebahkan tubuhnya di batang pohon sambil memakan ubi yang tadi dia beli. Aleardo yang melihatnya mendengus sebal. Kucing liar di depannya sangat susah untuk dikurung. Padahal itu demi kebaikannya.
"Tidak bisakah kamu selalu berada di sekitarku saja. "
"Maaf panglima, saya seorang ksatria yang harus melindungi negeri ini." ucap Ana.
"Ana , kamu selalu bisa membuat aku sulit bernafas karena tidak menemukan kamu. "
"Tentu bukan Ana jika tidak bisa membuat Aleardo pusing." ucap bangga Ana.
"ANA, "
"sudah duduk sini, aku sudah tahu kamu akan datang. Kita nikmati saja malam ini di bawah pohon wisteria dengan pemandangan bulan purnama biru." ucap Ana.
Aleardo terdiam sesaat. Dia mengingat kalau setiap bulan purnama tubuhnya akan bereaksi. Kutukan itu akan muncul ketika bulan purnama.
"Tenanglah, Aku ada di samping kamu. Jadi kemarilah." ucap Ana.
Aleardo duduk disamping Ana. Sekarang Ana sudah menyandarkan kepalanya di bahu Aleardo sambil menikmati ubinya. Aleardo hanya diam menikmati waktunya bersama Ana.
"Semoga kita bisa seperti ini terus ya." ucap Ana.
"Ana, bisa kamu jelaskan maksud kamu pergi ke hutan itu?"
"Itu hanya tugas yang diberikan padaku untuk melakukan peninjauan hutan karena penyihir pengawas menemukan gelombang sihir yang aneh." jelas Ana.
"Bukannya itu tugas yang harus diberikan padaku sebagai penyihir agung kerajaan." ucap Aleardo.
"Ya mungkin mereka menggunakan aku untuk memaksa kamu secara tidak langsung. Karena pasti kamu akan menolak melakukan tugas itu ." ucap Ana.
"kamu benar, mereka sangat licik."
"kamu yang sangat menyebalkan lebih tepatnya. Kamu sangat suka menolak melakukan tugas itu bukan?"
"Ya kamu benar karena sebenarnya itu bisa dilakukan oleh penyihir tua itu." jelas Aleardo.
"Tapi sihir kamu lebih tinggi dari penyihir tua itu." ucap Ana.
"Cih, menyusahkan saja mereka. Bagaimana kalau.."
"Kamu tahu jawabannya Aleardo," peringatan Ana.
Setelah itu keduanya tidak mengeluarkan suara. Mereka menikmati suasana malam ini. Bahkan Ana sudah terlelap di samping Aleardo.Mungkin itu karena seharian dia harus menunggang kuda tanpa istirahat.
"Semoga kita akan terus seperti ini." ucap Aleardo.
Dia membawa tubuh Ana dengan kedua tangannya dan melakukan sihir teleportasi ke kamar Ana.