
Setelah malam itu, Aleardo dan Ana semakin tidak bisa dipisahkan. Lebih tepatnya Aleardo semakin manja pada Ana. Dia tidak pernah ingin berjauhan dengan Ana. Bahkan Yirlendi dan Luxorius kesal dengan tingkah pemuda itu. Walaupun Aleardo sebelumnya selalu mengikuti Ana, Tapi masalahnya pemuda tidak tahu tempat untuk bermesraan dengan Ana. Dia selalu memeluk tubuh Ana. Bahkan dengan santainya mencium Ana di depan Kedua naga itu.
"Bisahkan kamu berhenti dengan sikapmu itu anak nakal. Aku mual melihat segala tingkah manja kamu." ucap Luxorius.
"Aku juga sama. Ini terlalu sering dan membuatku muak." protes Yirlendi.
"Iya aleardo, kamu tidak mendekatiku seperti ini terus. Kamu harus kembali kekediamanmu. Kasihan Raindhen yang mengerjakan setiap pekerjaanmu selama satu bulan ini. Dia bisa mati muda kalau begitu terus." ucap Ana yang mendorong jauh Aleardo darinya.
"Kamu kasihan pada Raindhen." ucap Aleardo yang mendekati Ana.
"BERHENTI." teriak Luxorius dan Yirlendi yang sudah tahu tindakan Aleardo selanjutnya.
"Kalian pergilah kalau tidak suka, Kalian jadi cerewet kaya wanita saja. Ana saja yang wanita tidak seperti kalian." ucap Aleardo yang menggunakan sihirnya memindahkan kedua naga itu menjauh darinya dan Ana.
"Kita lanjutkan pembicaraan kita sebelumnya, Aku tidak suka kamu membicarakan pria lain saat bersamaku. " ucapan Aleardo membuat Ana mulai berkeringat dingin. Dia tahu kalau Aleardo sangat pencemburu. Satu bulan ini membuatnya tahu sikap possesif sang kekasihnya. Walaupun sebelumnya Aleardo sudah menunjukkan ketidak sukaan dengan pria yang berdekatan dengan Ana. Tapi hukuman Aleardo masih wajah, seperti menemani pria itu di perpustakan atau membuat kue. Sejak mereka menjadi sepasang kekasih hukumannya sudah berubah dan tentu membuat Ana harus berhati-hati agar tidak membuat pria tampan itu marah.
"Kamu tahu hukuman yang tepat dengan ucapan kamu sebelumnya." peringatan Aleardo yang sudah berdiri di depan Ana. Kedua tangannya sudah berada di pipi cubby Ana. Selama sebulan ini tubuh ana perlahan kembali seperti sedia kala. Tidak ada badan kurus atau tulang menonjol karena dagingnya yang menipis.
Ana gelagapan melihat tatapan tajam Aleardo.
"Aleardo, jangan lakukan itu ya. Baru beberapa hari ini bekasnya hilang masa ada Aw. Aleardo " ucap Ana. Sedangkan Aleardo dengan santainya meninggalkan beberapa jejak di leher putih milik Ana. Terlihat sangat jelas karena kulit putih Ana. Bekas gigitan Aleardo yang memerah di beberapa tempat.
"Ini hukuman kamu membicarakan pria lain. Bahkan kamu memikirkan si Raindhen itu. cih." ucap Aleardo dengan wajah marahnya. Sedangkan Ana tidak kalah kesal dengan pria di depannya ini.
'Untung sayang kalau gak sudah aku masukkin ke dalam sumur.' ucap Ana dalam hati yang tidak sadar kalau Aleardo bisa mendengar isi pikirannya.
"Apakah hukumanku kurang, sayang?" tanya Aleardo dengan senyum tipis di wajah tampannya. Tapi Ana malah terpesona dengan wajah tampan milik Aleardo saat ini.
"Sepertinya kamu sangat mengagumiku sayang." ucap Aleardo yang diakhiri dengan sebuah ciuman. Awalnya Ana terdiam hingga akhirnya keduanya saling membalas.
"Hem ,Hem." sebuah suara membuat Ana mendorong tubuh Aleardo. Sedang Aleardo menatap kesal kedatangan Yirlendi yang mengganggu kesenangannya.
"Bisakah kamu tidak menggangguku? " Tanya Aleardo dengan nada marahnya. Tapi itu tidak berpengaruh pada wajah cemas Yirlendi. Aleardo sadar kalau telah terjadi sesuatu hingga naga menyebalkan itu berani padanya.
"Nona Ana, Marquess Xieben sakit keras." ucap Yirlendi. Ana terdiam sesaat mencoba mencerna informasi yang diberikan oleh Yirlendi. Setelah itu Ana mulai menangis saat sadar kalau ayahnya sedang sakit.
"Raindhen berada di depan hutan, dia menginformasikan itu sendiri. Sebenarnya marquess Xieben sudah sakit sejak beberapa minggu lalu. Tapi sakitnya semakin parah saat purang dari medan perang minggu lalu." jelas Yirlendi.
"Aleardo, kita harus kembali." ucap Ana yang sudah menghapus air matanya.
"Kamu yakin Ana?" tanya Aleardo. Sebenarnya dia masih ingin bermanja dengan Ana di sini. Tentu saja saat dia kembali, Aleardo akan sulit melakukan itu karena banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Selain itu dia juga khawatir dengan Ana, Bagaimanapun orang bertudung masih belum mereka temukan. Dia tidak tahu alasan orang itu menyerang Ana saat itu. Semuanya masih misterius.
"Tentu saja Aleardo, aku tidak mungkin membiarkan ayah sakit lebih lama lagi. Walaupun sihirku tidak seperti sebelumnya. Tapi untuk menyembuhkan penyakit ayah tidak akan membutuhkan banyak energi." jelas Ana.
Aleardo menghela nafas kasar. Dia sudah menduga kalau gadis kecil itu akan menggunakan sihir penyembuhnya pada ayahnya.
"Yirlendi, kenapa pangeran damian tidak mengobati marquess Xieben?" tanya Aleardo.
"Menurut Raindhen, marquess Xieben sengaja menyembunyikan kondisinya saat di peperanga. Hanya Raindhen yang bisa dipercaya oleh marquess. Karena dia tangan kanan Aleardo. Marques takut putra mahkota menggunakan kondisinya untuk menggeser posisinya sebagai pemimpin ksatria pelindung raja." jelas Yirlendi.
"Aku mengerti sekarang, aku beritahu pada Raindhen untuk kembali ke ibukota. Aku dan Ana akan menggunakan teleportasi menuju kediaman marquess Xieben. Agar tidak ada satu orangpun yang menyadari keberadaan Ana." jelas Aleardo. Yirlendi langsung terbang menggunakan sayapnya meninggalkan Ana dan Aleardo.
"Tenanglah semua akan baik-baik saja." ucap Aleardo mencoba menenangkan gadis di sampingnya.
"Aku harap kamu tidak menggunakan sihirmu, Aku akan meminta Yirlendi menjemput pangeran Damian ke kediaman marquess." ucap Aleardo. Tapi Ana sama sekali tidak berniat menjawab ucapan Aleardo. Aleardo yang melihat itu membawa tubuh kecil itu kedalam pelukannya.
"Tenanglah, aku akan pastikan semua baik-baik saja. Ayo kita bertemu dengan ayahmu." ucap Aleardo sebelum menggunakan sihir teleportasinya ke ruangan pribadi milik marques xieben.
Aleardo dan Ana terdiam saat melihat kedua orang yang sedang berciuman di depan mereka. Sedangkan kedua orang itu sama sekali tidak sadar akan keberadaan Ana dan Aleardo. Bahkan Ana dan Aleardo sudah bersemu merah saat mendengar suara yang dibuat oleh kedua orang itu. Ana dan Aleardo saling bertatapan. Mereka mengalihkan tatapan mereka saat merasa sesuatu hal yang aneh pada mereka. Ana semakin terkejut saat mereka semakin melanjutkan kegiatanya.
"Ayah , Ibunda." panggil Ana sedikit canggung. Sedangkan kedua orang yang tadi sedang berciuman terdiam saat mendengar suara seperti putrinya. Keduanya melepaskan ciuman dari mencari sumber dari suara itu. Kedua orang itu tersipu malu saat melihat Ana dan Aleardo sedang berdiri menatap marquess dan marchiones. Kedua pipi Ana dan Aleardo sudah merah merona. Bahkan jika diteruskan mereka seperti merah tomat.
"Sejak kapan kalian ada di ruangan ini? " tanya Marques, sedangkan marchioness menundukkan wajahnya karena malu kemesraannya dengan suaminya dilihat oleh anak dan kekasih anaknya.
"sejak ayah dan ibu saling berciuman." ucap Ana dengan suara peran.
"ALEARDO SUDAH AKU KATAKAN JANGAN MENGGUNAKAN SIHIR ITU DI SEMBARANG TEMPAT." teriak marquess, karena ini bukan pertama kali Aleardo melihatnya dan istrinya sedang bemesraan.