Female Villainess

Female Villainess
30.Dunia lain



Rasanya kepala Ana seakan mau pecah. Dia terbangun di hamparan bunga lavender. Padahal dia ingat sekali kalau dia sedang mengambil bahan makan di ruang penyimpanan. Setelah itu tiba-tiba kepala sakit dan dia mendengar suara aneh.


Ana benar-benar terkejut saat ini. Pakaian sudah berubah dengan gaun simpel warna putih. Tapi selain itu kenapa dia ada di taman yang sering dia kunjungi dengan Aleardo.


Saat Ana sedang berjalan-jalan di hamparan bunga lavender dengan aroma menenangkan. Dia mendengar seseorang memanggilnya. Suaranya sangat tidak asing walaupun sedikit lebih serak. Ana sadar itu suara Aleardo.


"Ana, kemana kamu? dibilangin jangan tinggalin aku." ucap Aleardo dengan suara lantangnya.


Ana masih tidak percaya sosok pria yang menginjak umur 20 tahun itu sangat mirip dengan Aleardo. Rambut hitam yang sedikit lebih panjang dan iris merah yang indah.


"aku gak kemana - mana. aku juga gak ninggalin kamu kok." ucap Ana.


Tapi Ana merasa Aleardo tidak mendengarnya. Dia berjalan mendekati Aleardo. Tapi tiba-tiba pria itu melewatinya begitu saja.


Ana terkejut saat Aleardo melewatinya. Badannya ternyata transparan sehingga Aleardo tidak menyadarinya. Berarti ini bukan dunia nyata.


"Sebenarnya apa yang terjadi padaku." ucap Ana.


Ana memutar badannya untuk melihat Aleardo dewasa itu. Tapi saat itu dia melihat Aleardo sedang berpelukan dengan seorang wanita berambut putih. Mereka tertawa bersama dan berakhir ciuman.


Ana terkejut saat melihat Aleardo yang berpelukan dengan wanita lain. Tentu itu bukan Charlote karena warna rambut mereka berbeda.


Tapi saat Ana ingat kembali. Aleardo dewasa memanggilnya. apakah itu Ana saat berusia 19 tahun. Tapi dia tidak berambut merah muda dan saat dia lihat kembali matanya berbeda dengan yang dia miliki. Mata Ana hijau cerah sedang itu hijau kelabu.


Ana berjalan mendekati wanita itu. Semakin dekat dia sadar kalau wanita itu benar dirinya sendiri. Tapi apa yang terjadi dengan rambut dan matanya.


Tiba-Tiba suasana berubah. Aleardo dan Ana dewasa itu menghilang dari pandangannya dan digantikan dengan keadaan ibu kota yang termakan oleh api. Seluruh ibukota diselimuti api.


Ana sadar kalau dia harus mencari Aleardo dan keluarganya. Dia berniat untuk pergi ke kediaman ayahnya. Tapi sebelum itu dia melihat Aleardo yang berada di langit dengan sayap hitamnya.


"Sejak kapan tuh bocah punya sayap." ucap Ana saat melihat Aleardo. Tapi itu Aleardo saat ini bukan Aleardo dewasa.


Ana berniat memanggil Aleardo. Namun tiba-tiba seseorang melaju dengan cepat menggunakan sayap menuju Aleardo. Dia terkejut saat melihat Aleardo sama sekali tidak menghindar dari pedang wanita dengan rambut putih itu.


"Tidak Aleardo."Teriak Ana saat melihat Aleardo terjun bebas dari langit. Sayap hitamnya hilang begitu saja . Ana mencoba menangkap tubuh Aleardo tapi kejadian di taman lavender terulang. Tubuhnya ditembus dengan mudah oleh Aleardo.


Ana menatap wanita yang menusuk Aleardo. Namun disaat itu dia terkejut. wanita itu seperti Ana dewasa yang dia lihat sebelum ini. rambut putih dan mata hijau kelabu. Wanita itu menatap sebentar Aleardo dan pergi begitu saja dengan monster naga.


Ana kembali menatap Aleardo. Keadaan pria itu tidak baik-baik saja. Pedang yang menusuknya itu tepat pada dada kiri. Selain itu Aleardo jatuh tumpukan puing-puing bangun yang sudah hancur. Tubuh itu penuh luka bahkan aliran darah yang keluar dari Aleardo sangat banyak.


Tanpa Ana sadari dia sudah mengeluarkan air mata. Ana menangis melihat keadaan Aleardo. Dia tidak pernah melihat Aleardo dengan luka sebanyak ini.


"aku mohon bertahanlah, Aleardo, kamu penyihir hebat jadi kamu bisa bertahan. Kenapa mana ini tidak bisa dikeluarkan. sihir penyembuh tidak bisa digunakan. Kenapa di saat dibutuhkan mana ini hanya jadi sampah." ucap Ana kesal.


Bahkan tatapan Ana sudah kosong Air matanya sudah berubah dengan darah segar. Tiba-tiba mana hijau Ana keluar dengan banyak mengelilingi tubuhnya dan Aleardo. Bahkan rambut Ana sudah berubah menjadi putih perak.


Mana itu membuat api yang tadi memakan ibukota tiba-tiba menghilang. Aleardo tetap diam dengan tatapan kosong. Hingga perkataan pemuda membuat Ana semakin histeris.


"Kamu tetap cantik walau berambut putih. Aku tidak menyangka akan berakhir ditangan orang menyelamatkanku.tapi itu membuat aku senang. Setidaknya sebelum aku meninggalkan dunia ini, aku diizinkan untuk melihat wajah kamu Ana. wah kamu menggunakan Mana hijau kamu lagi. Dasar Anak bandel susah sekali untuk dikasih tahu. Tapi hal itu yang membuat aku jatuh cinta. Terima kasih Ana. Aku sangat mencintai kamu." Ucapan aleardo seperti pesan untuk ana yang sedang duduk di samping tubuh Aleardo.


Sedikit demi sedikit pemuda itu sulit untuk menarik nafasnya hingga ajal menjemputnya. Ana tidak terima ini semua. Dia menyalahkan dirinya yang tidak bisa menolong Aleardo.


"Aaaaaakh" Teriak Ana membuat ruang itu terguncang. Gedung dan tubuh Aleardo seperti kaya. mereka pecah menjadi butiran.


Sekitar Ana berubah menjadi gelap gurita. Dia duduk dengan tatapan kosong. Dia seperti tidak memiiki harapan hidup.


Hingga sebuah kehangatan menyadarkan Ana. Seseorang memeluk tubuh kecil Ana. Orang itu menyalurkan kehangatan sepeti orang Ana kenal. Dia merasakan kalau pelukan ini adalah pelukan yang selalu dia rasakan bila bersama Aleardo. Tapi Aleardo sudah meninggalkannya untuk selama-lamanya.


"Ayo kembali. Ini bukan tempat kamu Ana." ucap pria itu.


orang itu menarik Ana dari kegelapan. Sekarang seluruh ruangan berubah menjadi serba putih. Orang itu sudah tidak ada di depannya.


Namun wanita yang tadi tega melukai Aleardo menghampiri Ana. Dia terkejut dengan keberadaan gadis itu. Dia baru sajak membuka mulutnya namun dipotong oleh gadis itu.


"Ana ingatlah aku adalah kamu,dan kamu adalah aku. Ini adalah fisik ini adalah tampilan kamu sebenarnya."


"Tidak,aku tidak mau memiliki wujud seperti kamu yang tega melukai Aleardo."


"kamu harus menerima kenyataan diriku. "


"Tidak kamu yang sudah membunuh Aleardo."


wanita itu tiba-tiba menghilang. Tapi dia dapat mendengar suara keluarganya dan Aleardo untuk membuat aku sadar. Tapi itu hanya terdengar sama di telinga Ana.


Tiba-tiba bajunya ditarik oleh seorang anak kecil. Dia menatap anak kecil itu dengan bingung. Sejak kapan Tempat ini ada anak kecil.


"mama, ayo pulang. kalau mama tidak pulang ken tidak akan pernah hadir. " ucap anak kecil yang memanggil Ana ibu.


Sebenarnya masih terkejut dengan yang diucapkan anak itu. Dia meminta aku untuk kembali tapi dia juga bingung dengan cara untuk kembali. Hingga sebuah uluran tangan membantunya keluar ruang putih tubuh Aleardo.


Setelah itu terbangun di kamarnya dengan Aleardo yang sedang tidur di pinggir tempat tidur. Aleardo langsung memeluk tubuh Ana. Kejadian hari ini lebih bahaya dari waktu-waktu sebelumnya.


"syukurlah kamu kembali. jangan buat aku cemas."


"Tunggu sebenarnya apa yang terjadi padaku. "