
Ana masih menatap hamparan bunga lavender di depannya. Aroma menenangkan itu membuatnya lupa akan tujuannya datang bertemu dengan putra mahkota. Ana sangat mudah teralihkan dan itu yang membuat Aleardo sulit percaya Ana. Gadis itu terlalu mudah melupakan tujuannya. Seperti saat ini gadis itu lupa mencari sebuah bukti mengenai hubungan putra mahkota dengan para penyihir hitam.
Sebuah ketukan terdengar, setelah itu seorang pelayan masuk dengan makanan manis dan secangkir teh. Tentu itu membuat Ana semakin teralihkan dengan tujuannya. Dia tertarik dengan kue-kue yang dibawakan oleh pelayan itu. Ana berjalan mendekati troli yang berisi berbagai macam makanan manis.
"Putra Mahkota berpesan untuk nona agar menikmati makanan-makanan ini sambil menunggu putra mahkota yang harus mengurus beberapa hal. Yang mulia mengatakan kalau beliau akan segera kembali." ucap pelayan pribadi yang dijawab anggukan kepalan.
Ana tidak memperdulikan apa yang diucapkan oleh pelayan itu karena fokusnya hanya pada kue-kue itu. Seorang Anabella rose Natlastion memiliki dua hobi yaitu makan dan tidur. Oleh karena itu jika dia sudah disuguhkan oleh makanan maka dia tidak akan peduli dengan orang-orang sekitarnya.
"Saya permisi nona." ucap pelayan yang tidak dijawab oleh Ana.
"Kue -kue ini sangat cantik aku jadi tidak tega memakannya. Tapi kalian juga sangat menggiurkan untuk dicoba." ucap Ana.
"Sepertinya aku coba dulu yang berwarna merah ini." ucap Ana.
Dia mengambil kue yang seluruhnya berwarna merah muda seperti rambutnya dulu. Kue yang memiliki rasa strawberry dengan krim berwarna merah muda juga. Ana tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan kue itu.
Bahkan sekarang sudah menghabiskan 4 kue padahal baru 20 menit berlaru.
Ana tidak menyadari kehadiran putra mahkota yang sejak tadi menatapnya. Pemuda itu menikmati pemandangan di depannya. Seorang gadis yang asik dengan duniannya sendiri bahkan jika ada orang jahat menyerang. Gadis itu tidak akan sadar. Putra mahkota tertawa renyah saat mendengar coletahan Ana yang bingung memilih kue mana yang akan dia makan lagi.
Ana yang mendengar tawa seorang pemuda langsung teralihkan dari dunianya.Kedua pipi tembam itu sudah berwarna merah saat sadar semua tingkahnya diperhatikan laki-laki lain selain Aleardo. Hanya Aleardo yang tahu dengan kebiasaanya jika bertemu makan-makanan manis. Tapi sekarang dia menunjukkan sikap konyolnya di depan putra mahkota. Rasanya dia ingin menggunakan sihir teleportasi untuk menghilang dari pandangan pemuda itu.
"Kenapa berhenti?" tanya Liam.
"Liam sejak kapan ada di situ." tanya Ana dengan wajah yang sedikit menunduk untuk menyembunyikan pipinya yang memerah. Tapi hal itu membuat Liam semakin gemas dengan Ana.
"Sejak kamu bingung untuk memilih kue yang akan kamu makan." ucap Liam .
Ana semakin malu dengan Liam karena pemuda itu melihatnya saat berbicara sendiri dan bingung sendiri hanya karena sebuah kue. Dia tidak pernha memperlihatkan kebodohannya seperti ini.
"hm, Liam apa yang ingin dibicarakan dengan Ana? " Ana mendehem menghilangkan rasa malunya.
"Sebenarnya aku merasa rindu pada Ana, Kita sudah lama tidak bertemu. Sejak Ana sakit tiga bulan lalu." ucap Liam.
"Beberapa hari lalu Liam kan datang ke kediaman marques Xieben. "
"Tapi tetap rindu sama kamu ya." ucap Liam.
Ana terdiam, Walaupun dia tahu di depannya adalah Hades yang harus Ana hindari. Tapi bagaimanapun Ana adalah seorang gadis muda yang akan tersipu malu kalau diperlakukan seperti ini.
"Aduh kalau begini terus Ana tidak kuat, Aleardo selamatkan Ana." ucap Ana dalam hati.
"Bagaimana kalau kita berkeliling taman lavender?" tawar Liam pada Ana.
"Ayo." ucap Ana dengan semangat.
Ana kembali lupa tentang Liam yang harus dia hindari. Mungkin Aleardo akan sangat marah besar setelah ini. Gadis itu memang harus diikat oleh Aleardo karena sangat mudah teralihkan.
"Quena kamu tidak pernah berubah, Mau dulu atau sekarang kamu memang sangat mudah teralihkan." ucap Liam dalam hati.
Di tempat lain, Raindhen sedang kelimpungan saat melihat atasanya yaitu Aleardo sedang marah-marah tidak jelas. Raindhen tahu ini pasti berhubungan dengan Putra Mahkota karena setelah pertemuan, wajah Aleardo sangat tidak enak dipandang. Dia sudah mencari keberadaan Ana tapi tidak menemukannya. Hanya Ana yang membuat mood Aleardo kembali seperti semua. Setidaknya Aleardo tidak marah-marah seperti ini karena tugasnya akan bertambah banyak lagi.
"Kamu sudah tahu keberadaan Ana?" tanya Aleardo pada Raindhen yang dijawab dengan gelengan kepala.
"Kamu bagaimana sih nyari anak kecil ajah gak bisa." Raindhen rasa ingin mengumpat pada Aleardo yang juga masih remaja labil.
"Kamu gimana sih tugas-tugas ini menumpuk banget. Kerja yang benar jangan banyak keluyuran." ucap Aleardo pada Raindhen.
Raindhen rasanya ingin menangis. Ucapan Aleardo seharusnya untuk pemuda itu sendiri. Karena selama ini Aleardolah yang selalu kabur dari tugas-tugasnya. Berakhir dengan Raindhen harus lembur dan bekerja lebih keras dari atasan yang menghabiskan waktu dengan mengikuti Ana.
Rasanya Raindhen ingin mengundurkan diri dari jabatannya. Tugasnya terlalu berat untuknya. Atasannya seperti singa kelaparan yang siap menerkam kapan saja. Walaupun bisa diakui kepintaran dan keahlian dalam bertarung tidak ada yang bisa mengalahkan. Tapi atasanya ini tidak memiliki ahlak mulia. Bagaimana bisa Raja menempatkan seorang pemuda labil menjadi panglima militer di kerajaan dan diberikan gelar Archduke.
"Berhentilah mengeluh Raindhen, Aku bisa membaca semua isi pikiran kamu itu." ucapan Aleardo yang membuat Raindhen terdiam dan tersenyum terpaksa.
"hilangkan senyum menjijikanmu itu, Sebaiknya kamu kerjakan perintahku." ucap Aleardo dengan nada tegasnya.
"Baik ." ucap Raindhen yang langsung keluar dari ruangan Aleardo.
"nona Anabella kemana sih. Aku membutuhkan nona ini untuk menjinakkan singa liar itu." ucap Raindhen namun sebuah suara muncul dikepalanya. Siapa lagi kalau bukan Aleardo.
"Berhenti mengumpatkanku kerjakan tugasmu." teleparti Aleardo.
Raindhen sangat ingin menangis, Aleardo memang atasan yang sangat buruk. Hanya saat bersama Ana dia tidak begitu menyebalkan. Raindhen harus segera menemukan nona Anabella atau hidupnya akan berakhir ditangan pemuda berusia 15 tahun itu.
Sedangkan orang yang dicari oleh Raindhen dengan santainya menikmati pemandangan bungan lavender. Dia menghirup aroma menenangkan bahkan tanpa sadar sebuah senyuman manis muncul di wajah Ana. Liam melihat semua itu ikut tersenyum.
"Kamu tahu arti bunga lavender Ana?" Tanya Liam pada Ana.
"Aku tidak terlalu perduli dengan makna itu. Aku menyukai bunga lavender karena warnanya yang indah dan aromanya menenangkanku." jelas Ana.
"Bunga lavender itu melambangkan keindahan dan kekaguman." ucap Liam.
"Wah aku baru tahu itua."
"Selain itu bunga lavender juga memiliki makna sebagai pertumbuhan seorang wanita dan keanggunan. Bunga itu cocok dengan kamu Ana yaitu indah dan anggun. Walaupun kamu dalam keadaan penuh dengan darah. Kamu tetap terlihat indah dan anggun." ucapan Liam membuat Ana tersipu malu. Beruntung saat ini Ana sedang tidak berhadapan dengan Liam. Tapi saat itu Ana malah mengingat saat Aleardo memberikan satu buket bungan lavender apa pemuda itu memiliki maksud menyatakan kekagumannya pada Ana. Seketika Ana semakin tersipu malu dan tersenyum lebar. Sekarang dia ingin bertemu dengan Aleardo secepatnya.
"Liam sepertinya aku harus kembali." ucap Ana tanpa membalikkan badannya. Setelah itu Ana pergi meninggalkan Liam begitu saja.
Senyuman Liam luntur begitu saja berganti dengan tatapan tajam dan marah. Bahkan beberapa bunga lavender yang ada disekelilingnya tiba-tiba layu karena auranya. Dia tahu kalau Ana sedang memikirkan seseorang tadi yang pasti itu bukan Liam.
"Bahkan saat kita berdua, kamu malah mengingat kenangan dengan pria itu." ucap Liam.