
Ana menggunakan sihir teleportasinya saat sudah menjauh dari kediaman Putra mahkota. Sebenarnya dia tidak tahu apa yang akan dibicarakan dengan Aleardo. Hanya saja dia tiba-tiba sangat rindu sosok menyebalkan itu. Ana muncul di depan Aleardo yang sedang mengerjakan beberapa laporan yang belum sempat dikerjakan.
Aleardo tahu Ana ada di depannya tapi suasana hatinya sedang buruk. Saat dia mengingat pembicaraan tadi bersama putra mahkota itu. Rasanya Aleardo ingin membunuh pemuda itu. Namun perbuatannya akan berbahaya bagi Ana dan keluarga marques Xieben.
"Hey kenapa muka kamu ditekuk begitu. Kaya anak bayi gak dikasih susu saja." ucap Ana.
"Dari mana saja kamu?" tanya Aleardo dengan nada yang sangat tajam.
"Aku harus jujur atau bohong?" tanya Ana yang menggoda Aleardo.
Tentu ucapan Ana membuat Aleardo semakin kesal. Tapi Ana senang melihat muka Aleardo seperti saat ini. Dia tahu kalau pembicaraan Aleardo dengan putra mahkota sepertinya tidak berjalan dengan baik. Kalau dia memberitahu tentang pertemuannya dengan Liam tentu saja Aleardo akan semakin marah.
"Aku tahu kamu bertemu dengan Putra mahkota sialan itu." ucap Aleardo.
Aleardo dengan mudah mengetahui keberadaan Ana di istana. Tapi dia tidak mungkin menggunakan sihir teleportasi untuk membawa Ana dari kediaman putra mahkota begitu saja. Hal itu akan menambah kecurigaan putra mahkota tentang kondisi Ana. Jadi secara terpaksa Aleardo membiarkan Ana bersama putra mahkota.
Tentang Raindhen, Dia hanya melampiaskan amarahnya pada bawahannya itu. Dia sudah tahu kalau Raindhen tidak akan bisa membawa Ana secepat itu. Selain itu Raindhen tidak mungkin bisa masuk kedalam kediaman Putra mahkota tanpa sebuah undangan. Jadi Raindhen sejak tadi hanya menjadi alat untuk Aleardo menghilangkan amarahnya.
"Kamutidak berbuat buruk pada Raindhen kan?" Tanya Ana.
Ana sudah hafal dengan kebiasaan Aleardo yang menjaili bawahannya itu. Kadang dia kasih dengan tuan muda duke yang bernasib buruk. Hanya karena pemuda labil yang bergelar Archduke. Raindhen secara terpaksa harus menuruti setiap perintah Aleardo yang berstatus atasannya.
Aleardo tidak menjawab pertanyaan Ana. Karena dia tidak ingin mendengarkan omelan gadis itu. Tapi Ana sudah sangat paham dengan Aleardo. Diam Aleardo berarti jawabannya ya.
"Hey, kamu sangat kejam dengan Raindhen, Dia bawahan yang sangat baik dan handal. Kalau tidak ada Raindhen kamu tidak akan bisa bersantai-santai ria seperti beberapa waktu lalu." protes Ana.
"Kamu memuji Raindhen di depanku?" tanya Aleardo dengan sorot mata tajamnya.
Tapi sayang Ana sudah kebal dengan tatapan tajam Aleardo, Semua itu tidak berpengaruh kecuali satu kata sakti yang diucapkan pemuda itu , yaitu "Hukuman" . Ana akan pucat pasih saat mendengar ucapan itu. Karena Ana akan mendapatkan siksaan dari Aleardo.
"Aku tahu kamu masih seorang remaja, Tapi Aleardo, kamu seorang panglima. Setidaknya kamu harus bijak menggunakan jabatanmu. " wejangan Ana.
"Aku hanya memberikan sedikit hukuman pada Raindhen karena beberapa bulan lalu, dia membisikan sesuatu padamu." ucap Aleardo.
"Aleardo kamu sangat pendedam." ucap Ana.
"Tentu saja." ucap Aleardo dengan bangga.
Ana sebal dengan Aleardo yang ahlak jongkok banget. Walaupun dia akui pemuda di depannya sangat tampan bahkan melebihi Liam sang putra mahkota. Sesaat Ana ingat tentang beberapa waktu yang lalu.
Aleardo menatap sebentar gadis di depannya yang tiba-tiba tersipu malu. Sebenarnya apa yang Ana dan putra mahkota itu lakukan. Hingga Ana tersipu malu saat ini. Aleardo mengingat kembali waktu dia memberikan satu ikat bunga lavender karena rasa cemburu pada Raindhen. Sebenarnya tidak ada hal lain untuk memilih bungan lavender selain itu kusakaan Ana.
"Kamu ingin aku jujur atau bohong?" ucapan Ana diulang oleh Aleardo dengan nada mengejeknya. Tentu membuat Ana jengkel mendengarnya.
"Baiklah aku akan berkata jujur, Sebenarnya tidak banyak alasan untuk memilih bungan lavender pada kamu. Kamu sangat menyukai bunga lavender dan aku merasa kalau bunga lavender mencerminkan kamu." ucap Aleardo.
Ana sedikit kecewa dengan penjelasan Aleardo. Tapi dia tidak terlalu menganggap itu masalah besar. Aleardo memang seperti itu. Dia hanya pintar dalam sihir dan urusan militer. Sisanya Aleardo sangat kekuranga. Tidak mungkin pemuda yang tidak pernah berdekatan dengan gadis lain selain Ana mengerti makna bunga lavender.
Aleardo dapat melihat wajah kekecewaan Ana pada jawabannya. Secara diam-diam Aleardo menggunakan sihir pembaca pikiran. Dia membaca isi pikiran Ana dan menemukan alasan gadis di depannya kecewa.
"huh, aku tahu makna bunga lavender. Tapi itu semua cuman pandangan orang lain. Aku memiliki pemikiran sendiri mengenai bunga lavender. Bunga lavender tidak terlihat cantik jika dibandingkan dengan bunga-bunga lainnya. Tapi bunga lavender punya sisi keindahan yang tidak dimiliki oleh bunga lain. Selain itu aroma menenangkan yang dikeluarkan bunga itu selalu membuat setiap orang merasa lebih rilex. Ana kamu hampir sama dengan bunga lavender. Mungkin jika dilihat penampilan kamu yang seperti pria ini pasti tidak akan menang dengan gadis lain. Tapi penampilan kamu yang apa adanya menambah keindahan yang berbeda dari wanita lain. Kamu selalu bisa membuat para pria terpesona dengan keahlianmu dan kecantikanmu saat menggunakan pedangmu. Keberadaan kamu menurutku menjadi penenang bagiku." Jelas Aleardo.
Ana yang mendengar itu langsung tersipu malu. Dia tidak mengira Aleardo akan berpikir sejauh itu mengenainya. Ana sangat bahagia. Bahkan dia ingin segera kembali karena malu bertemu dengan Aleardo,
"Aku tidak tahu sejak kapan seorang Aleardo sangat jago dalam menggombal." ucap Ana.
"Aku tidak sedang menggombal kamu, Itu penjelaskan aku mengapa aku memilih bunga lavender untuk diberikan padamu." jelas Aleardo.
"Tapi tetap saja perkataanmu membuat aku senang." ucap Ana dengan senyum manis. Senyuman itu menular pada Aleardo tapi hanya sebentar.
"Ana aku akan menghukumu karena sudah bertemu dengan putra mahkota." ucap Aleardo yang sudah berpindah di depannya. Dia memeluk tubuh Ana agar gadis itu tidak kabur darinya.
Ana mencoba melepaskan tangan Aleardo yang melilit tubuh Ana. Dia tidak ingin menjalani hukuman Aleardo yang sangat menyiksa. Salah satunya dia harus menemani pria itu di dalam perpustakaan. Selain itu dia harus memijit tubuh Aleardo. Masalah terbesarnya adalah dia harus menghabiskan waktu lebih dari satu minggu dengan pemuda gila ini. Dia akan terkurung dengan sihir yang digunakan aleardo. Pemuda itu hanya akan melepaskan Ana saat tidur.
"Aku tidak akan melepaskanmu, Kita akan pergi ke kediamanku dan kamu harus menuruti semua perintahku." ucap Aleardo dengan senyum smirknya yang membuat Ana terpesona.
"Kenapa Aleardo selalu tampan sih kan jadi tidak baik untuk kesehatan jantungku." ucap Ana dalam hati.
"Terima kasih atas pujiannya."ucap Aleardo yang masih bisa membaca isi pikiran Ana.
"Hey jangan kamu gunakan sihir menyebalkan itu." protes Ana.
"Sayangnya aku selalu suka menggunakan sihir ini untuk melihat isi pikiran dari orang bodoh sepertimu."
"YAK." teriak Ana.