Female Villainess

Female Villainess
80. Menikah sekarang?



Aleardo tidak pernah meninggalkan Ana sendirian setelah gadis itu sadar. Bahkan sudah satu minggu Aleardo tidak kembali ke kediamannya. Bahkan dia sama sekali tidak memiliki niatan untuk mengabari para bahawannya.


Tentu saja itu berdampak pada Raindhen yang harus menggantikan pekerjaan Aleardo sementara waktu. Walaupun sudah 2 tahun ini Aleardo tidak pernah merepotkannya. Tapi dia tetap kesal dengan kebiasaan sahabatnya yang suka pergi tanpa kabar. Kejadian ini bukan pertama kali terjadi. Aleardo sangat sering menghilang dalam waktu yang lama. Walaupun begitu pria itu selalu membawa beberapa tugas yang harus diselesaikan. Lalu menggunakan sihir teleportasi untuk diberikan pada Raindhena.


Namun sekarang Aleardo benar-benar menelantarkan semua pekerjaanya begitu saja. Tentu saja hal itu membuat beberapa orang uring-uringan. Tapi mereka tidak memiliki keberanian protes pada seorang Aleardo. Raja saja sudah meminta bantuan pada bangsawan yang diangkatnya itu.


"Kelakuan Aleardo saat ini seperti 2 tahun lalu, Saat nona Anabella belum menghilang. Dia akan meninggalkan begitu saja tugasnya tanpa meperdulikan bawahannya yang harus mengerjakan seluruh tugasnya. Apakah nona Anabella telah kemabali? Bukankah itu sebuah kabar gembira. Mungkin kali ini aku biarkan saja tuan Aleardo meninggalkan pekerjaanya." gumam Raindhen.


"Ya kamu kerjakan seluruh tugasku, jangan beri tahu siapapun tentang ini." suara yang sangat dikenalnya melintasi otaknya. Dia sangat hafal suara menyebalkan ini. Siapa lagi kalau bukan atasannya tuan Archduke Aleardo.


"Apakah tuan tidak kasihan pada saya?" tanya Raindhen.


"Aku tidak peduli, bukankah 2 tahun ini aku tidak pernah menyusahkanmu. Jadi sekarang kamu harus merasakannya kembali itu. Kamu sudah beristirahat 2 tahun." ucap Aleardo sebelum menutup telepartinya.


"Dasar tuan Aleardo, Nona anda dimana ? Hanya anda yang bisa menyelamatkanku dari pria kejam itu."


"Besabarlah Raindhen, Saat aku telah kembali. Aleardo pasti akan mengejarkan tugas itu kembali." teleparti dari Ana. Tentu Raindhen terdiam saat mendengar suara yang tidak pernah dia dengar sejak kejadian di pertandingan berkuda. Keberadaan nona Anabella yang menghilang bagaikan debu tanpa meninggalkan jejak. Kejadian itu membuat Aleardo menjadi sosok yang dingin dan mudah marah.


"NONA ANABELLA."


"Ya, semangat Raindhen." ucap Ana sebelum memutuskan sihir telepartinya.


Sebuah rumah, kedua orang berbeda jenis kelamin sedang saling bersandar. Mereka adalah Ana dan Aleardo. Saat ini Aleardo sedang asik dengan buku sihir barunya. Sedangkan Ana juga asik dengan kue yang beberapa waktu dia buat.


"Aku ingin kue kamu Ana." ucap Aleardo yang matanya masih fokus pada buku sedangkan mulut sudah terbuka. Ana langsung menyuapi kue  keringa yang tadi dia buat. Kue yang sangat disukai oleh Aleardo.


"Kamu sangat manja Aleardo." ucap Ana.


"Aku tidak peduli." ucap Aleardo yang sekarang dengan santainya menempatkan kepalanya dipangkuan Ana.


"Lihatlah, panglima perang ini menjadi sangat manja seperti anak kecil." ucap Ana sambil mengelus rambut Aleardo. Sekarang pemuda itu sudah tidak fokus pada buku sihir tapi pada wajah Ana. Dia masih tidak percaya, gadis di depannya adalah Ana.


"Kamu jadi suka melamun beberapa hari ini, Kenapa?" tanya Ana.


"Aku masih tidak percaya kalau gadis didepanku ini adalah putri tidur Aleardo." ucap Aleardo.


"Sudahlah, aku bosan mendengar ucapanmu itu." ucap Ana.


"Sayangnya aku tidak pernah bosan padamu Ana." ucap Aleardo yang menarik tangan ana di bibirnya. Dia mengecupi tangan kecil milik Ana. Walaupun tubuh ana lambat laun kembali bugar. Tapi tidak dengan energi sihirnya yang sangat lemah. Tidak ada perubahan walaupun pangeran Damian sudah mentrasfer mananya pada Ana. Tubuh Ana hampir seperti manusia biasa saat ini.


"Sekarang, kamu hanya harus bersandar padaku. Biarkan aku yang melindungi kamu Ana." ucap Aleardo. Ana menganggukan kepalanya.


"Tentu saja putri tidur Aleardo. " ucap Aleardo yang sesekali mengecupi tangan ana.


"HEY BERHENTILAH, kalian tidak kasihan pada kita." ucap Luxorius.


"Sudahlah naga tua, kita hanya tidak usah melihat mereka saja. Kok susah banget kamu Luxorius." ucap Yirlendi yang sedang asik menikmati kue buatan Ana.


"Dasar kamu tidak punya sopan santun, kamu tidak ingat kalau..." ucapan Luxorius terpotong oleh Yirlendi.


"Raja naga? Bukankah itu dulu sebelum kamu berikatan dengan Ana jadi sekarang kita setara. Naga tua cerewet." ucap Yirlendi yang langsung menghilang setelahnya.


"Dasar sampah satu itu." umpat Aleardo melihat naga miliknya yang memiliki mental tahu saat berhadapan Luxorius. Dia hanya berani mempropokasi setelah itu Luxorius akan kabur.


"Dia naga milik kamu loh, jangan-jangan kamu seperti itu." ucap Ana.


"APA? Aku dan Yirlendi itu sama sekali tidak sama. Dia hanya naga yang tidak memiliki keberanian bahkan melawan naga tua milikmu itu. Dia hanya jago dalam berbicara tapi ototnya tidak. Bahkan naga tua itu dengan mudah membuat Yirlendi babak belur." jelas Aleardo dengan nada sebal.


"hahahhaha kamu benar, tapi dia ahli sihir seperti kamu bukan?" tanya Ana.


"Tentu saja, bahkan sekarang aku lebih pintar dari naga hitam penakut itu." ucap Aleardo bangga. Sedangkan Ana, Luxorius dan yirlendi berdecih mendengar ucapan pemuda yang sangat percaya diri. Walaupun mereka mengakui kalau Aleardo memang ahli dalam sihir. Bahkan Luxorius sekarang berada jauh dibawah Aleardo. Hanya butuh 2 tahun hingga sihir milik Aleardo dapat di atas Luxorius. Si raja naga yang memiliki sihir tingkat tinggi.


"Ana bagaimana kalau kita hidup di sini saja?" tanya Aleardo secara tiba-tiba. Ana terdiam mendengar ucapan pemuda itu.


"Aku merasa kehidupan kita di sini lebih baik dari pada di luar hutan Quena. Aku sangat takut dengan rencana hades maupun seseorang yang menusuk kamu waktu itu. Bukan aku takut karena tidak bisa mengalahkannya. Aku takut mereka melukai kamu lagi." jelas Aleado dengan wajah sendu sambil menerang kejadian saat Ana diserang oleh orang misterius itu.


"Aku juga merasa nyaman di rumah ini. Walaupun tempat ini sangat terbatas. Tapi bagaimana ayah dan ibunda. Mereka pasti menanti kehadiranku kembali. Namun bukan saat ini kembali Aleardo. Aku masih ingin merasakan hidup tentram ini." ucap Ana.  Tentu saja dia tidak melukan ada beberapa orang yang menyanginya sedang menunggu keberadaannya. Dia tidak tahu bagaimana kabar kedua orang tuanya saat ini. Tapi dia juga takut untuk kembali ke tempatnya dulu.


"Kalau begitu kita menikmati hidup di sini seperti Quena dan Zixon sementara." ucap Aleardo.


"Kita tidak bisa seperti Quena dan Zixon." ucap Ana.


"Kenapa?"


"Karena mereka sepasang suami istri yang saling mencintai sedangkan kita..." Aleardo menyela ucapan Ana.


"Kita dua orang yang saling mencintai juga, bagaimana kalau kita menikah sekarang?" tanya Aleardo sambil menaikkan kedua alisnya.


"KAMU GILA." ucap Ana yang langsung berdiri dari posisi duduknya. Tentu saja Aleardo yang tidak siap harus merasakan ciuman bantal pada kepalanya. Beruntungnya mereka saat ini duduk di sofa empuk. Sedangkan Ana sudah meninggalkan Aleardo dengan rona pada kedua pipinya.