Female Villainess

Female Villainess
136.extra 1



Beberapa hari telah berlalu sejak Aleardo dan Ana melakukan ritualnya. Entah hal apa yang terjadi pada tubuh Ana. Karena sejak hari itu, Ana tertidur dan belum menunjukkan tanda akan bangun. Tapi kondisinya semakin membaik setiap harinya.


Bahkan bayi dalam di perut Ana sangat aktif. Aleardo selalu merasakan pergerakan kedua anaknya saat sedang mengelus perut istrinya. Terkadang Aleardo masih suka menangis karena kondisi sang istri yang belum juga sadar.  Hampir tiap malam dia terdiam menatap badan di sampingnya.


"Sampai kapan kamu seperti ini?" tanya Aleardo dengan nada yang lirih. Dia lelah menunggu Ana. Entah sudah berepa kali wanitanya mengalami keadaan seperti ini.


Aleardo selalu tidak tenang melihat keadaan Ana. Dimana Ana sedang memperjuangkan dirinya antara hidup dan mati. Terkadang dia berpikir kenapa tidak dirinya saja yang seperti Ana. Setidaknya ajak Aleardo jika Ana memang akan pergi dari dunia ini.


"Jangan tinggalkan aku setelah kamu memberikan aku kebahagian yang belum kita rasakan sepenuhnya. Kedua anak kita menunggumu Ana." ucap Aleardo sebelum mengecup dahi sang istri dengan lembut.


Setelah itu Aleardo berbaring di tempat tidurnya sambil memeluk badan istrinya. Dia selalu bisa terlelap jika memeluk tubuh ana dan menghirup aromanya. Beberapa saat kemudian Aleardo benar-benar masuk ke dalam mimpinya.


Ana terbangun melihat di sebuah taman yang sangat indah di depanya. Dia melihat sekelilingnya tidak ada siapun. Ana berjalan mencari seseorang yang mungkin dirinya kenal. Entah kenapa dia berasa di tempat ini. Tapi Ana juga tidak bisa menggunakan sihirnya untuk menuju tempat Aleardo.


"Aleardo kamu dimana? bukankah kamu bilang tidak akan membiarkan aku pergi sendiri." ucap Ana yang tanpa sadar mulai menitikan air mata.


Dia tidak tahu keberadaanya saat ini. Hanya ada hamparan bunga lavender di sekelilingnya. Ana berjongkok di tengah-tengah tingginya bunga lavender tumbuh. Dia menangis karena tidak tahu cara untuk bertemu dengan suaminya. Hingga sebuah tangan menyentuhnya.


Tangan kecil dan lembut mencoba menarik tangannya yang menutup kedua mata Ana. Ana melihat dua orang anak kecil di depannya. Keduanya sangat tampan dan manis. Anak kecil yang sepertinya kembar itu tersenyum pada Ana.


Mereka menarik tangan Ana untuk mengikuti mereka. Akhirnya Ana mengikuti kedua anak kembar di depannya. Ana tersenyum melihat anak kecil kembar di depannya.


Tiba-tiba mereka berhenti dan meminta Ana untuk mendekati mereka. Saat Ana menundukkan tubuhnya. Kedua anak laki-laki itu mengecup pipi kanan dan kiri Ana. Tentu saja senang dengan sikap manis kedua anak kecil itu. Tapi apa yang dikatakan kedua anak itu membuatnya terdiam.


"mami,"Ucap anak kecil dengan rambut hitam dan mata hijau seperti yang dimiliki Ana.


"mami harus segera kembali kasihan papa." ucap anak kecil satunya lagi yang berambut hitam dengan mata merah.


Sebelum kesadarannya kembali karena keterkejutan. Kedua anak kembar itu sudah berjalan jauh dan melambaikan tangan mereka tidak lupa senyuman yang mengikuti di wajah tampannya. Ana tersenyum melihat kedua anak kembar yang perlahan menjauh.


"Ana." panggil seorang wanita yang berada di belakang Ana.


Ana membalikkan badannya. Saat melihat wanita di depannya, Ana tersenyum dan berjalan memeluk tubuh wanita itu. Senyuman merekah di wajah Ana maupun wanita itu.


"Syla."


"Ana terima kasih sudah menyelamatkan aku dari takdir menyakitkan itu." ucap Syla pada Ana.


Syla menatap wanita di depannya yang selalu memperlakukannya baik. Padahal sudah banyak hal buruk yang dilakukannya pada Ana. Rasanya malu untuk bertemu dengan Syla.


"Maafkan aku karena telah membuatmu merasakan penderitaan. Selalu memisahkan kamu dan Aleardo. Mengalami beberapa kematian dan perpisahaan." ucap Syla yang mulai menangis.


Dia merasa segara kejahatannya tidak akan bisa dimaafkan oleh Ana. Tapi wanita di depannya dengan mudah memaafkan dan berterima kasih dengan waktu  bersamanya. Bohong kalau Syla tidak senang saat bersama Quena dulu. Bahkan dia hampir saja melupakan niat awalnya untuk menghancurkan wanita ini.


"Kamu akan menjadi sahabatku sampai kapapun. Walaupun kamu telah melupakan ingatan kita setelah kamu terlahir kembali. Aku akan tetap menganggap kamu adalah sahabat yang terbaik dalam hidupku." ucap Ana.


"Terima kasih Ana. Aku harap kamu selalu bahagia setelah ini. Semua rasa bersalahku sudah hilang saat bertemu denganmu. Sekarang kembalilah ke sisi keluargamu. Mereka membutuhkamu." ucap Syla bersamaan perlahan kepala Ana merasakan pusing dan pandangan di depannya memudah.


Dia mencoba untuk melihat di depannya. Tapi saat dia lihat kembali, sekarang dia ada di sebuah kamar. Ana merasakan tubuhnya dipeluk dengan sangat erat. Ana melihat pria di sampingnya. Tersenyum melihat Aleardo dapat tertidur dengan nyaman.


Ana mengelus tangan Aleardo yang membelitnya. Saat itu Aleardo langsung membuka mata yang membuat terkejut Ana. Pria itu menatap Ana dan tidak bereaksi apapun. Saat itu tatapan Aleardo sangat menggemaskan pikir Ana. Rasanya dia ingin mengabadikan ekspresi Aleardo saat ini.


"Apakah kamu mau menatapku seperti itu saja?" tanya Ana denga senyum.


Kedua tangan Aleardo langsung menangkup wajah di depannya. Dia berpikir sedang memimpikan Ana. Ternyata Ana benar-benar sadar. Wajah Aleardo tersenyum bahagia, Sebuah kecupan mendarat di seluruh wajah Ana yang membuat wanita itu kesal.


"Hey lepaskan dan berhenti mengucupi mukaku. Mulutmu bau." ucap Ana dengan jail. Tentu saja mulut suaminya tidak bau tapi harum.


"Benarkah?" tanya Aleardo yang dijawabkan anggukan kepala. Saat itu Aleardo langsung berdiri dan berniat pergi ke kamar mandi. Tapi dia berhenti ketika mendengar tawa Ana. Aleardo sadar kalau istrinya menjailinya.


"Kamu mengerjaiku." ucap Aleardo yang mendekati tubuh Ana dan langsung menggelitik seluruh tubuh istrinya. Ana tertawa terus hingga rasanya perutnya keram.


"Sudah Aleardo perutku keram." ucap Ana yang membuat Aleardo khawatir.


"Apa? kamu baik-baik saja? ada yang sakit?" tanya Aleardo dengan wajah khawatir dan ketakutan.


"tenanglah, aku baik-baik saja. Kedua anak kita sehat dan kuat." ucap Ana yang membuat Aleardo terkejut mendengarnya.


"Apa maksudmu dua?"


"Aku pikir kita akan memiliki anak kembar yang tampan dan lucu." ucap Ana yang membuat Aleardo tersenyum mendengarnya. Keduanya saling berpelukan dan melepaskan rindu yang sudah menumpuk. Pada akhirnya keduanya menghabiskan waktu mereka di dalam kamar. Tentu saja tindakan grand duke itu membuat asistennya uring-uringan karena pekerjaan sudah menumpuk.


"Kapan grand duke itu tobat merepotkanku." umpat Raindhen yang sedang membereskan beberapa pekerjaan Aleardo di ruang kerja pribadi Aleardo.