
Aleardo sebenarnya tidak rela membiarkan Ana menemui putra mahkota. Selain dia cemburu pada putra mahkota tapi dia lebih merasa hal buruk akan terjadi pada Ana. Putra mahkota yang sekarang bukan yang beberapa bulan dia temui. Mungkin putra mahkota akan melakukan berbagai cara agar mendapat Ana. karena dia adalah Hades,pemuda yang selalu mencintai jiwa Quena sejak awal bahkan sebelum zixon bertemu dengan gadis itu.
"Tenanglah Aleardo, Ana akan melakukan sihir teleportasi jika terjadi hal buruk." ucap Ana yang mencoba menenangkan pemuda di depannya. Sekarang Aleardo sedang memeluk tubuh kecil ana. Dia tidak ingin melepaskan pelukan itu.
"Tidak bisahkah kamu menemaniku saja seharian ini." ucap Aleardo.
"Ayolah, rencana ini harus segera dilakukan. Kita tidak tahu apa yang terjadi jika putra mahkota memegang kekuasaan kerajaan lebih lama lagi." ucap Ana sambil mencoba melepaskan pelukan keduanya. Walaupun dia harus menggunakan tenanga untuk melepaskan Aleardo yang sangat manja pagi.
"Anak nakal mau sampai kapan kamu seperti pada Ana." ucap Luxorius, tiba-tiba mengeluarkan sihirnya yang membuat Aleardo berpindah jauh dari Ana. Sekarang Luxorius yang memeluk tubuh ana dengan wujud manusianya.
"Lepas pelukan dari Ana, dasar Naga tua." teriak Aleardo yang tidak terima diganggu oleh Luxorius.
"Sudahlah kalian. Aku harus pergi ke istana dan bertemu dengan putra mahkota. Sebenarnya kemarin Putra mahkota mengundangku untuk minum teh. Jadi aku harus melancarkan misi penyelamatan raja bukan?"
"APA? " Teriak Luxorius dan Aleardo.
"Sebenarnya aku minta rencana itu dilaksanakan sekarang karena aku harus menemui putra mahkota untuk membahas pengaman pada pelombaan besok." jelas Ana dengan wajah canggungnya.
"Kamu melanggar janji kamu ternyata." ucap Aleardo dan Luxorius bersamaa. Saat mereka ingin kembali protes Ana sudah menghilang dari hadapan mereka.
"Kalian saja yang terlalu bodoh, Aku saja tahu kalau dia memiliki janji dengan putra mahkota." ucap Yirlendi yang diberikan tatapan tajam dari Aleardo dan Luxorius.
"Kenapa kamu tidak pernah memberi tahuku?" tanya Aleardo.
"Kamu tidak bertanya, jadi tidak ada kewajiban untuk menmberi tahu kamu." ucap Yirlendi dengan santai sambil menyandarkan punggunya di pinggi kursi.
"Tapi setidaknya kamu memberi tahu aku. Karena aku naga Ana." ucap Luxorius.
"Bukankah tugas kamu tahu mengenai setiap kegiatan Ana. Bukan kita dapat melihat ingatan majikan kita." ucapan Yirlendi membuat kedua laki-laki itu terdiam karena apa yang diucapkan benar.
Ana hanya menggunakan sihir teleportasi untuk pergi ke kandang kuda. Dia mengambil kudanya untuk membawanya menuju istana. Dia tidak mungkin menggunakan sihir teleportasi. Selain itu dia malas menggunakan kereta kuda yang memakan banyak waktu. Ana ingin mengerjakan rencanan dengan cepat. Dia sedikit khawatir Liam menyadari rencananya. Bagaimanapun dia tahu tentang jenis mana dan sihir yang dimiliki Ana.
Ana tidak membutuhkan waktu lama dari kediaman marques xieben menuju istana. Dia memang menunggang kuda dengan cepat. Selain itu dia menggunakan pintu belakang istana yang membuatnya tidak harus melewati tengah kota.
"Selamat pagi nona Anabella." sapa para ksatria di istana.
"Pagi, semoga harimu menyenangkan." ucap Ana.
Ana berjalan menuju ruang kerja untuk mengambil laporan yang akan dibicarakan dengan putra mahkota. Beberapa langkah lagi menuju ruangannya dia mendengarkan suara dari dua orang ksatria. Seperti mereka tidak menyadari kedatangan Ana.
"Pastikan persiapan untuk besok berjalan lancar.Ini kesempatan kita untuk membuat kerajaan ini berada di tangan keluarga Duke Fressio." ucap ksatria itu.
"Ya kita harus membuat kerajaan ini dipegang oleh penyihir hitam." ucap lawan bicaranya.
Ana mencoba menahan dirinya untuk tidak muncul di depan mereka. Pada akhirnya dia menggunakan sihirnya untuk berpindah ke ruangannya. Saat itu ruangannya belum ada siapa-siapa. Dia mengambil laporan yang dibutuhkannya untuk dilaporkan pada putra mahkota. Saat dia membuka pintu kedua ksatria langsung pergi. Walaupun mereka sempat bingung dengan keberadaan Ana yang ada di dalam ruangannya.
Saat dia sedang berjalan menuju istana Putra mahkota. Seseorang memanggilnya, dia sangat mengenal suara itu. Suara itu berasal dari pangeran Damian yang menyapanya.
"Selamat pagi nona Anabella."
"Salam hormat saya pada pangeran Damian." sapa Ana pada damian yang membuat pangeran itu sedikit canggung. Tapi mereka harus terlihat tidak begitu dekat agar putra mahkota tidak menyadarinya.
"Sepertinya Anda sangat sibuk akhir-akhir in. Semoga harimu menyenangkan dan lancar seperti yang diharapkanmu." ucap Pangeran Damian. Ana mengerti pesan dibalik ucapannya. Dia tersenyum ramah pada pangeran Damian.
"Semoga hari pangeran menyenangkan, saya pamit terlebih dahulu karena ada yang harus laporkan pada putra mahkota. Mungkin lain waktu kita bisa berbincang kembali jika pangeran tidak keberatan." ucap Ana.
"Tentu saja, saya menunggu kedatangan anda. " ucap Pangeran Damian setelah itu meninggalkan Ana.
Ana mengerti maksud pangeran damian untuk mengunjungi ruangannya jika ada keadaan terdesak. Karena hanya energi mana pangeran damian yang dapat membantu Ana jika mengalami kekurangan energi mana dalam tubuhnya.
Ana berjalan menuju ruang priba Putra mahkota seperti permintaan pemuda itu kemarin. Dia tentu tidak ingin mendatangi ruangan ini kembali. Tapi dia tidak bisa menolak karena Liam adalah putra mahkota.
"Terima kasih." ucap Ana.
"Kamu sudah datang Ana." ucap Liam.
"Maaf aku sedikit terlambat Liam, Aku sudah membawa laporan yang kamu inginkan kemarin." ucap Ana sambil memberikan laporan pasukan ksatria yang berada di istana.
"Terima kasih." ucap Liam.
"Sebenarnya untuk apa kamu memintaku untuk membawa laporan itu?" tanya Ana.
"Hanya untuk berjaga-jaga bila terjadi hal buruk saat pesta musim panas kali ini." ucap Liam.
"Acara pesta musim panas kali ini, Raja tidak bisa ikut bukan? " tanya Ana dengan wajah yang sedikit sedih.
"Ya, Yang mulia raja masih dalam kondisi tidur panjangnya." ucap Liam.
"Liam bolehkah aku menjenguk yang mulia raja." ucap Ana.
"Tidak ada yang boleh menemui yang mulia raja selain aku, tabib, dan pelayan pribadinya." jelas Liam.
Sekarang mereka sedang berdiri di dekat jendela yang selalu membuat Ana terkesima dengan pemandangan hamparan bunga lavender. Tapi kali ini dia tidak akan terkecoh seperti terakhir kalinya. Dia sudah berjanji pada Aleardo dan kedua naga.
"Padahal aku ingin menjawab permintaan yang mulia raja beberapa waktu lalu." ucap Ana sedih.
"Permintaan apa ?" tanya Liam pada Ana.
"Apakah kamu tidak ingat pembicaraan saat di ruang kerja raja?" ucap Ana.
'Maaf Aleardo, hanya dengan ini. Semoga kamu tidak tahu dan tidak marah.' ucap ana dalam hati. Dia sebenarnya tidak ingin mengungkit tentang masalah penawaran raja untuk menjadi calon ratu kerajaan. Hal itu otomatis tawaran menjadi calon istri putra mahkota.
"Tawaran raja untuk menjadi calon istriku?" tanya Liam.
"Ya, aku ingin memberitahukan jawabanku atas tawaran itu." ucap Ana dengan senyum manisnya. Tentunya dia sebenarnya tidak ingin tersenyum saat ini.
"Kamu bisa mengucapkan di depanku." ucap Liam yang tersenyum bahagia. Dia mengira Ana akan menerima tawaran itu karena dia melihat akhir-akhir ini Ana dan Aleardo saling menjauh.
Liam memang hanya tahu kalau Ana dan Aleardo tidak pernah menghabiskan waktu bersama. Padahal Aleardo selalu mengunjungi kantor Ana atau terkadang Ana yang mengunjungi. Tentu hal itu membuat tidak banyak yang mengetahui tentang hubungan keduanya yang tidak dalam masalah.
"Aku hanya ingin mengucapkannya di depan raja. mungkin saja jawabanku bisa membuat raja bangun dari tidur panjangnya. Bukan?" ucap Ana yang mencoba merayu liam untuk membawanya ke istana raja.
"Baiklah, kita akan menemui raja. Seperti yang kamu ucapkan mungkin saja yang mulia raja akan bangun setelah kamu mengutarakan jawabanmu." ucap Liam.
Liam menarik tangan Ana keluar dari ruang pribadinya. Mereka berjalan menuju istana raja. Mereka tidak menyadari ada orang yang sedang memantau mereka siapa lagi kalau bukan Aleardo dan Luxorius. Yirlendi tidak tertarik dengan kegiatan yang dilakukan kedua pria itu. Dia hanya membantu menggunakan sihirnya untuk dapat melihat kegiatan Ana. Tentu saja dia menggunakan sihir itu karena diancam oleh Aleardo dan Luxorius.
"Kurang ajar, beraninya dia menyentuh tangan Ana." ucap Aleardo.
"Kamu benar Anak nakal. Aku tidak dapat menunggu memberikan hukuman pada dia." ucap Luxorius. Yirlendi yang sedang memperhatikan kedua pemuda itu hanya bisa tertawa melihat kekesalah dua orang itu.
"Kalian seperti seorang suami yang tidak terima istrinya di dekati dengan pria lain." ucap Yirlendi.
"Ana akan menjadi istriku tentu saja aku tidak terima tubuhnya disentu oleh pria lain." ucap Aleardo.
"Tentu saja aku tidak akan membiarkan itu terjadi." ucap Luxorius. Kedua orang itu saling melemparkan tatapan tajam. Sedangkan Yirlendi hanya bisa menghela nafas dan bosan melihat tingkah kedua orang itu.
"aku jadi rindu Ana." ucap Yirlendi yang langsung diberikan tatapan tajam.
"APA?" tanya Yirlendi tanpa bersalah.