
Ana bangun lebih pagi dari biasanya agar tidak bertemu dengan Aleardo. Dia merasa kalau Aleardo akan menghalangi rencana untuk menyelamatkan raja. Tapi orang yang ingin dia hindari malahan sudah duduk manis di sofa kamarnya. Dia tidak sendiri tapi kedua naga ada di sana juga, Ketiga pemuda itu memiliki wajah yang tidak dalam baik-baik saja. Ana tidak berani menatap ketiga orang itu yang menatapnya tajam.
"Kenapa kalian sudah di kamarku jam segini? Bukankah ini terlalu pagi untuk bertamu."Sindir Ana.
Tapi ketiga orang itu tidak berminat untuk menjawab pertanyaan Ana. Hanya tatapan tajam yang mereka berikan pada Ana. Ana yang ditatap seperti sedikit salah tingkah. Dia merasa telah ketahuan mencuri.
"Berhentilah menatapku seperti itu. Aku merasa terganggung." ucap Ana yang berjalan menuju ketiga pemuda itu.
"Kita juga terganggu saat kamu berencana bertemu dengan putra mahkota." ucap Luxorius.
"Ayolah, Aku hanya menjalankan rencana saja. Bukan untuk bermain atau berkencan dengannya." ucap Ana yang merasa dituduh dengan ucapan Luxorius.
"Tapi kemarin kamu malah berkencan dengan putra mahkota di kediamannya. Bahkan niat untuk mencari barang bukti tidak terlaksa. Padahal putra mahkota sempat keluar dari ruang pribadinya." Protes Yirlendi. Dia kesal saat mengingat kegiatan Ana beberap waktu lalu.
"Kamu sangat mudah teralihkan. Kami jadi tidak percaya kamu akan melaksanakan rencana dengan benar ." ucap Aleardo yang dianggukan oleh ketiga naga dalam wujud manusianya.
"Berhenti memojokkanku. Aku tahu beberapa waktu lalu aku lupa diri. Tapi sekarang tidak." ucap Ana.
Tapi terlihat dari wajah ketiga orang di depan Ana tidak ada yang percaya dengan ucapan gadis di depan mereka. Ana memang gadis labil yang suka lupa kalau bertemu dengan yang dia sukai.
"Kenapa kalian masih menatapku seperti itu?" tanya Ana kesal.
"Kamu memang masih anak kecil yang tidak bisa di andalkan." ucap Aleardo yang anggukkan oleh kedua naga. Ana kesal dengan ketiga orang ini. Mereka benar-benar tidak percaya padanya.
"Kalau kamu harus ingat umur kita hanya beda satu tahun. Selain itu jiwaku ini berumur 20 tahun saat menjadi Meitha." protes Ana yang tidak terima disebut anak kecil.
"Tapi kelakuan kamu masih anak kecil kalau tidak di medan perang." ucap Luxorius.
"Lihatlah kamu masih menggunakan baju tidur anak kecil." ucap Yirlendi.
"Benar, bahkan dia sangat suka bermain tidak seperti wanita bangsawan lain yang terlihat lebih dewasa." ucap Aleardo.
"YAK. KALIAN BERHENTI MENGOMENTARIKU." teriak Ana yang membuat ketiga pemuda di depannya menciut. Mereka tidak menduga saat Ana marah muka sangat menyeramkan. Setelah itu Ana meninggalkan ketiga orang itu. Mereka saling melemparkan tatapan.
"Jadi siapa yang salah?" ucapYirlendi.
"Anak nakal ini jelas." ucap Luxorius.
"Cih kalian tidak tahu diri." ucap Aleardo yang langsung menghilang dari kamar Ana.
Kedua naga yang tersisa di ruangan Ana hanya diam menunggu gadis itu kembali. Sekarang keduanya sudah kembali dalam wujud naganya.
Ana berjalan mendekati kedua naga itu.
"Aleardo pergi kemana?" tanya Ana pada Luxorius yang sudah berpindah ke pangkuan Ana. Dia memang naga yang sangat manja pada Ana. Sebenarnya Yirlendi ingin berada di pangkuan Ana tapi raja naga itu pasti akan menendangnya. Raja naga yang sangat menyebalkan.
"Entahlah." ucap Luxorius yang mengenduskan kepalanya pada badan Ana. Ana menatap Yirlendi yang pasti tahu kemana sang majikannya pergi.
"Dia pergi ke kamar. Aleardo sedang marah karena kamu menyetujui saran marques." ucap Yirlendi. Tidak ada kebohongan mengenai ucapan naga itu hanya sedikit dilebihkan saja.
"Benarkah? Kenapa dia harus marah." ucap Ana.
"Biarkan saja anak nakal itu." ucap Luxorius.
"Ana apakah kamu tidak sadar perasaan Aleardo padamu?" tanya Yirlendi pada Ana. Gadis menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Yirlendi.
"Tentu saja aku mengetahuinya. Semua orang pasti akan sadar perasaan penyihir gila itu." ucap Ana.
"Tapi kenapa kamu seperti cuek pada Aleardo? "Tanya Yirlendi yang selalu tidak mengerti cara pikir gadis di depannya.
"Mungkin terlihat seperti yang kamu ucapkan Yirlendi. Tapi Aku tidak memiliki kewajiban untuk menunjukkan kepedulianku bukan? Selain itu tidak ada cara lain untuk mendekati kediaman raja. Aku memang mencoba untuk membatasi kedekatan aku dengan Aleardo karena itu lebih baik jika terjadi hal buruk padaku." ucap Ana. Yirlendi dan Luxorius terdiam mendengar ucapan gadis yang asik mengelus kepala naga Luxorius. Mereka tidak menyadari keberadaan Aleardo yang ada di ruangan itu.
"Aku merasa sedikit takut jika kami terlalu dekat. Bukankah menyakitkan kalau nanti aku harus berakhir seperti kehidupan sebelumnya. Seseorang yang paling tersakiti adalah Aleardo. Oleh karena itu menjaga jarak untuk saat ini lebih baik. Aku mengakui kalau memiliki perasaan padanya. Tapi Aku terlalu takut untuk mengambil resiko. Selain itu jika suatu hari dia menemukan gadis lain yang lebih baik. Aku tidak akan mempermasalahkannya. Kalau dipikir-pikir hidupnya akan banyak luka jika berdekatan denganku." ucap Ana lirih.
"Aku tidak ingin gadis lain dan tidak peduli akan luka yang akan didapatkan. Bukankah kita sudah berjanji untuk melewatinya bersama-sama. Tidak bisakah untuk kali ini kamu percaya denganku. Jangan menanggung sendiri. Kamu tidak sendiri Ana. Kita ada untuk kamu." ucap Aleardo yang muncul dari belakang Ana. Gadis itu membalikkan badannya dan menatap mata merah itu. Terlihat kekecewaan dari mata merah delimanya.
"Entahlah Aleardo, Aku tetap merasa takut jika kamu akan terluka kembali lagi. Kamu harus merasakan kehidupan berulang-ulang dan luka yang sama. Itu semua terjadi karena aku." ucap Ana yang mengalihkan tatapannya dari Aleardo.
"Itu bukan salah kamu Ana. Tapi itu semua terjadi karena pilihanku. Aku selalu memilih kamu untuk menjadi tujuanku hidup. Hanya saja aku tidak pernah memiliki cukup kekuatan untuk melindungi wanita yang aku cintai. Bodohnya lagi aku selalu diselamatkan oleh wanita yang aku cintai." ucap Aleardo. Dia berjalan menuju Ana. Berjongkok di depan Ana. Mereka saling menatap.
"Semua ini terjadi karena aku yang terlalu ingin memiliki kamu untukku. Seperti halnya hades yang ingin memiliki kamu. Tapi aku selalu bersyukur di setiap kehidupanku kamu memberikan cintamu padaku. Walaupun dikehidupan sebelum ini aku dengan bodohnya memberikan hati pada wanita lain. Tapi itu membuktikan tanpa kamu hidupku lebih tersiksa. Hanya bersama kamu bisa merasakan ketenangan dan kenyaman. Jadi jangan pernah menyalahkan dirimu dan mari kita hadapi semua ini bersama." ucap Aleardo. Kedua tangan mereka berpegangan dan dahi mereka bersatu. Saling menyalurkan perasaan. Pagi ini adalah kali pertama Ana menyatakan perasaanya secara terbuka pada Aleardo. Ana merasa pikiran yang mengganggu selama ini terangkat begitu saja.
"Aku sangat mencintai kamu Ana." ucap Aleardo.
"Aku juga sangat mencintai kamu. Terima kasih kamu selalu datang dan menarikku dari kesendirian." ucap Ana pada Aleardo.
"hahahah bukankah kamu yang selalu menyelamatkanku. Kamu yang selalu memberikan aku alasan untuk tidak menyerah dengan kehidupan ini. Aku hanya butuh kamu tidak yang lain." ucap Aleardo.
"Kamu benar aku selalu menyelamtkanmu. Makanya aku cocok jadi ksatria tangguh." ucap Ana yang membuat keduanya saling tertawa. Kedua naga yang berada di ruangan Ana ikut senang mereka kedua orang itu. Anak hawa dan anak adam yang terlahir untuk saling melengkapi di kehidupan yang menyakitkan untuk keduanya. Seperti halnya Quena dan Zixon yang kehidupannya selalu tidak bahagia tapi saat bersama mereka merasakan makna kebahagian mereka. Hanya dengan hal-hal sederhana tapi itu yang mereka butuhkan. Tidak membutuhkan tahta dan harta seperti para manusia lain karena faktanya kedua hal itu membuat kehidupan mereka dalam ketepurukan.