
Ana berada di atas dahan pohon di hutan Quena. Dia sangat malu saat Aleardo dengan santainya mengajaknya menikah. Dia tidak habis pikir dengan lelaki itu. Bagaimana bisa dia mengajak menikah tanpa ada lamaran romantis. Dia sangat ingat saat kehidupannya menjadi meitha. Orang-orang disana pasti menyiapkan lamaran romantis saat mengajak gadis yang dicintainya.
"Dia sama sekali tidak romantis, bahkan dia mengajak menikah seperti ngajak main saja." gerutu Ana kesal.
Ana tidak sadar kalau Aleardo mendengarkan ucapan Ana. Pemuda itu tidak mengerti dengan ucapan Ana.
"Romantis? apa itu sebuah sihir?" tanya Aleardo pada dirinya sendiri. Sedangkan Yirlendi yang berada di samping kirinya hanya bisa menghela nafas mendenagr ucapan polos pemiliknya. Jangan tanya Luxorius juga sama seperti Aleardo tidak mengerti apa maksud Ana.
"Kalian berdua sama-sama pria polos." ucap Yirlendi lelah.
"Apa maksud kamu Yirlendi?" ucap keduanya.
"Sudahlah, aku lelah kalau harus menjelaskan ke kalian berdua." ucap Yirlendi sebelum menghilang Aleardo dan Luxorius.
" Apakah hanya kita berdua yang tidak mengerti?" tanya Luxorius pada Aleardo. Tapi pemuda itu malah meninggalkan Luxorius begitu saja.
"Kamu ingin aku melakukan apa agar putri tidur mau menerima lamaranku?" tanya Aleardo. Ana terkejut saat melihat Aleardo ada di samping.
'Jangan-jangan sejak tadi dia menguping ucapanku.' ucap Ana dalam hati.
"ya aku sejak tadi berada di bawah pohon mendengar setiap protes kamu." ucap Aleardo dengan santai duduk di samping Ana.
Sedangkan Ana menatap tajam pemuda yang duduk di sampingnya. Sungguh dia sangat malu. Entah sebuah keberuntungan Aleardo tidak mengerti protesnya tadi. Tapi dia juga kesal karena ketidak pekaan pemuda di sampingnya.
"Bisakah kamu tidak mengikutiku terus." ucap Ana.
"Tentu saja tidak, Kamu lupa ucapankku saat kamu sadar. Aku tidak akan membiarkan kamu menghilang dari pandanganku." ucapĀ Aleardo. Mereka sekarang sedang menatap pemandangan kota dari pohon itu.
"Huh, tapi jangan membaca pikiranku. Setidaknya biarkan aku bebas memikirkan apapun tanpa kamu tahu."Ucap Ana. Aleardo menatap wajah Ana sesaat. Lalu kembali melihat ke depan.
"Sebenarnya aku tidak ingin melakukan itu, Tapi aku takut kalau kamu berencana pergi dariku kembali." ucap Aleardo dengan lirih.
"Aku sudah berjanji untuk tidak pernah meninggalkan kamu lagi bukan. Jadi percayalah dengan janjiku." ucap Ana sambil memegang tangan Aleardo. Tangan besar itu selalu membuatnya serasa dilindungi. Aleardo menatap wajah Ana yang sedang menatapnya juga. Mereka saling bertatapan hingga Aleardo mendekatkan bibirnya dengan bibir Ana. Keduanya berciuman saling menunjukkan rasa saling menyangi dengan ciuman lembut tanpa ada na*su terselip. Hingga keduanya sudah sulit bernafas karena kekurangan oksigen, Ciuman itu terlepas. Aleardo mendekatkan dahinya dengan dahi Ana.
"Maaf kalau aku tidak bisa sesuai yang diharapkan kamu. Aku tidak bisa menjadi pria romantis yang seperti kamu katakan. Tapi Aku bisa menjadi pria yang selalu ada untuk kamu, mencintai dan membuat kamu bahagia." ucapan Aleardo membuat Ana sangat tersentuh. Menurutnya tindakan Aleardo saat ini sangat so sweet. Walaupun tidak ada diner maupun sebuket bunga. Tapi semua ini cukup membuat Ana merasa menjadi wanita paling spesial di hidup Aleardo.
"Mungkin aku akan menjadi pria yang prossesif dan pencemburuan. Selalu mengikuti kamu seperti anak bebek yang mengikuti induknya. Pria yang manja dan membuat kamu kesal dengan setiap perlakuanku. Tapi bolehkah Aku menjadi pria yang paling berarti di kehidupanmu setelah keluarga kamu?" tanya Aleardo. Ana sangat tersentuh dengan setiap ucapan Aleardo. Namun jujur dia sangat ingin tertawa juga. Tapi Ana masih belum menjawab pertanyaan Aleardo.
"Jadi Ana maukah kamu menikah denganku pria yang memiliki segudang kekurangan ini?" tanya Aleardo. Sekarang kedua dahi mereka sudah tidak bersatu. Tapi tatapan mereka tidak pernah lepas. Ana menganggukan kepalanya.
"Aku mau Aleardo, heheheh tapi sejak kapan kamu menjadi mengakui sifat menyebalkanmu?" ucap Ana dengan senyuman lebar. Sedangkan Aleardo terdiam dengan wajah yang bersemu merah. Namun itu hanya bertahan beberapa saat hingga pria itu kembali mencium Ana.
"Aku sangat bahagia." ucap Aleardo yang sudah melepaskan ciumannya.
"Aku juga, tapi kamu harus meminta pada kedua orangtuaku bukan?" tanya Ana.
"Untuk masalah itu, Paman dan bibi sudah memberikan restunya sejak aku pergi ke medan perang pertama kali. Paman berjanji akan merestui hubunganku denganmu kalau ikut ke medan perang." ucap Aleardo bangga. Sedangkan Ana terkejut mendengarnya. Dia merasa ayahnya menumbalkannya untuk mendapatkan bantuan dari pria menyebalkan di sebelahnya.
"Pria menyebalkan yang kamu sebut adalah Calon Suami kamu putri tidur." ucap Aleardo yang mendapatkan tatapan tajam dari Ana. Sedangkan yang orang itu tidak terpengaruh dengan tatapan tajam itu.
"APA?" tanya Aleardo polos.
"Sudahlah aku lelah melarang kamu." ucap Ana. Aleardo menarik tubuh Ana untuk menyandarkan kepalanya di dada bidang. Ana sama sekali tidak menolak perlakuan Aleardo. Karena posisi itu cukup nyaman untuknya.
Sedangkan Luxorius yang sejak awal menonton adegan kedua anak muda di atas pohon hanya bisa membuang nafas dengan kasar. Beberapa saat kemudian Yirlendi datang.
"Dasar naga tua, harusnya kamu tidak menontoni mereka. Bukankah kamu terlihat sedikit menyedihkan karena tidak bisa seperti Ana dan Aleardo." Ucap Yirlendi dengan nada sedikit mengejek Luxorius. Sedangkan Luxorius menatap kesal dengan naga muda milik Aleardo. Memang benar umurnya lebih tua beribu-ribu tahun dari Yirlendi. Tapi mendengar itu dari naga lain membuatnya sedikit melukai perasaanya.
"Diamlah, Aku adalah kakak buyut kamu kalau kamu lupa." ucap Luxorius.
"Tentu saja aku tidak lupa, bukankah kamu ditinggalkan oleh pasanganmu. " ucap Yirlendi dengan santai.
"Diamlah, aku sedang tidak ingin berdebat dengan naga muda sepertimu." ucap Luxorius sebelum pergi meninggalkan Yirlendi. Senyuman Yirlendi luntur, Dia tahu apa yang terjadi pada pasangan Luxorius sebenarnya.
"Aku harap kamu bisa melupakan pasanganmu dulu, Dia terlalu jahat untukmu." ucap Yirlendi setelah itu meninggalkan Aleardo dan Ana yang sedang menikmati pemandangan malam hari di atas pohon.
"Kenapa kamu begitu kejam melakukan semuanya padaku, Aku harap kita tidak pernah bertemu lagi. Karena saat kita bertemu kembali, aku harus membunuh kamu. Aku tidak akan membiarkan kamu terus melakukan semuanya sesuka hati kamu lagi. Jadi aku harap kamu tidak pernah muncul di hadapanku lagi. Bodohnya Aku masih mencintai kamu walaupun kamu sudah menghianati ikatan kita. " ucap Seorang pria yang berdiri di salah satu dahan menatap pemandangan malam ini dengan tatapan sendu.
"Sepertinya waktu dekat ini kita akan bertemu kembali sayang. Apakah kamu masih bodoh seperti dulu. Aku memang mencintai kamu tapi semua dendamku tidak pernah bisa hilang sebelum semua penyihir merasakan penderitaanku di masa lalu." ucap seorang wanita pemadangan malam ini dari jendela di ruang gelap yang hanya diterangi oleh lilin dan sinar bulan.