Female Villainess

Female Villainess
71.Sihir pemecah mana



Akibat Ana yang kehilangan banyak energi mana untuk menggunakan sihir pemberhenti waktu.Pada akhirnya, Ana kehilangan kesadaran tempat dipelukan Aleardo. Karena kondisi Ana yang tidak memungkin untuk bertanding pada hari ini maka juara dalam pertandingan berpedang dimenangkan oleh Aleardo.


Tapi kemenangan itu tidak membuat Aleardo bahagia. Kondisi Ana sangat mengenaskan bahkan dia merasakan tubuh Ana yang sangat dingin dari biasanya. Tubuh gadis itu seperti sebuah mayat.


"Luxorius, Kenapa Ana bisa seperti ini?" tanya Aleardo pada naga milik Ana.


"Dia hanya kelelahan anak naka. Ana memaksakan dirinya menggunakan sihir dari pedangnya dan sihir pemurnian. Tentu keduanya membutuhkan asupan mana yang banyak." jelas Luxorius.


"Tenanglah tuan Archduke Aleardo, Aku sudah mengalirkan energi mana pada nona Ana. Dia akan sadar beberapa saat lagi." ucap Pangeran Damian.


Beberapa saat setelah pengeran damian melakukan sihirnya pada Ana. Terlihat kedua kelopak mata bergerak secara perlahan memperlihatkan mata indahnya. Mereka yang berada di ruangan ini dapat bernafas lega saat melihat Ana sudah sadar kembali.


"Kenapa aku ada disini, Bagaimana pertandingan final?" ucap Ana yang langsung bertanya mengenai pertandingan. Tentu saja Aleardo dan yang lain merasa sebal dengan gadis itu. Dia tidak sadar seberapa mereka mengkhawatirkan kondisinya tapi dia dengan mudah bertanya mengenai pertandingan.


"Pertandingan berpedang dimenangkan oleh Aleardo." ucap Pangeran Damian.


"APA? KENAPA BISA BEGITU AKU BELUM MELAWAN PENYIHIR GILA.AW." ucap Ana yang setekah sentilan pada dahinya. Tentu saja itu dari Aleardo yang kesal dengan Ana. Gadis itu memang tidak peduli dengan kondisinya saat ini.


"PENYIHIR GILA SAKIT TAHU." ucap Ana masih dengan nada yang berteriak.


"gak usah teriak-teriak aku masih memiliki pendengaran yang baik." protes Aleardo/


"AKU TIDAK PEDULI, AKU INGIN PROTES BAGAIMANA PENYIHIR GILA INI BISA MENANG TANPA MELAWANKU." ucap Ana dengan emosi yang tidak bisa ditahan kembali.


"Karena nona Anabella tidak datang saat panggilan saat pertandingan final." ucap Pangeran Damian.


"Sudah kamu dengar\, aku menang karena kesalahan kamu yang tidak bangun-bangun. Dasar putri tidur.| ucap Aleardo.


"Diam kamu, aku pastikan di dua pertandingan lain aku akan memenangkannya." ucap Ana dengan nada tajam pada Aleardo. Tapi Aleardo tidka memperdulikan tatapan itu. Dia sedikit bernafas lega saat Ana bisa seperti saat ini. Dia sangat iklas harus mendengar Ana cerewet seperti saat dibandingkan melihatnya terbaring tapi mengeluarkan sepatah katapun. Aleardo selalu merasa ketakutan jika melihat Ana dalam kondisis beberapa saat lalu.


"Aku senang kamu seperti ini, Jangan buat aku khawatir lagi ya." ucap Aleardo sambil menempelkan kedua dahi mereka. Ana langsung terdiam mendengar ucapan Aleardo. Tentu saja itu kata-kata romantis menurutnya. Bahkan kedua pipinya sudah bersemu.


"Sepertinya nona sedang tersipu malu." ejek Yirlendi yang membuat Ana mendorong badan Aleardo dan menarik selimuti untuk menutupi wajahnya. Aleardo gemas dengan tingkah Ana saat ini.


"Hey Yirlendi, jangan buat Ana malu." ucap Luxorius yang tidak terima ada yang menggoda Ana.


"Sudah diam saja raja naga pemalas." ucap Yirlendi yang sudah melangkah menjauh dari Luxorius.


"Sepertinya hukuman beberapa waktu lalu belum cukup." Sebelum Luxorius meluncurkan asiknya marahnya pada Yirlendi tapi naga itu sudah menghilang terlebih dahulu.


Beberapa saat ruangan itu penuh keheningan, tidak ada satu orangpun yang berniat mengeluarkan suara. Hingga Ana mengingat mengenai kondisi Carlos saat ini. Dia hanya tahu ksatria itu langsung pingsan saat dia memurnikan pedangnya.


"Pangeran Damian, bagaimana keadaan ksatria Carlos?" tanya Ana. Dia sudah membuka selimutnya lagi.


"Ksatria Carlos dalam keadaan buruk, Dia mengalami krisis energi mana. Bahkan para tabib menyatakan bahwa Carlos akan kesulitan untuk menggunakan sihir kembali." jelas pangeran Damian. Dia memang langsung menyelidiki masalah ksatria tangan kanan Putra mahkota setelah pertandingannya selesai. Dia juga terkejut efek samping yang diterima oleh Carlos.


"Itu akibat dari perusak inti mana. Beruntungnya Ana masih bisa mengedalikan emosinya saat menyerang ke-6 monster itu. Bagaimanapun kondisi psikology pada penyihir mempengaruhi kecepatan aliran mana tubuh. Hal itu menjadi buruk jika Ana dalam kondisi seperti Carlos yang terbawa emosi. Aliran mana yang sangat banyak akan diserap oleh inti pemecah mana dan membuat sang penyihir mananya kacau secara terus menerus. Karena pedang yang disimpan inti pemecah mana tidak akan berhenti menyerap mana hingga penyihir itu mati." jelas Luxorius.


"Perbuatan Putra mahkota tidak bisa dibiarkan terus menerus. Jika para ksatria mengalami hal seperti Carlos, pertahan kerajaan akan menurun dan penyihir hitam akan dengan mudah menyerang kerajaan ini." ucap Ana.


"Sepertinya memang itu rencana awalnya. Tapi kenapa putra mahkota menanamkan sihir pemecah pada pedang suci?". Ucap Pangeran Damian. Dia belum paham rencana sebenarnya dari putra mahkota. Rencananya sangat sulit ditebak, jika ia hanya ingin mendapatkan Ana. Semesti dia hanya harus melukai Aleardo. Tapi secara terus menerus Ana  menjadi sasaran utama.


"Satu hal yang aku duga dari alasan putra mahkota adalah dia ingin membuat Ana kehilangan mana untuk selamanya. Sehingga dia tidak bisa menggunakan sihir untuk melindungi Aleardo." jelas Luxorius.


"Tapi kenapa Ana selalu menjadi sasaran utama untuk dilukai. Seperti saat pertaruangan tadi. " ucap Pangeran Damian.


"Sebenarnya saat dalam pertandingan tadi putra mahkota dan aku membuat sebuah pertaruhan. Jika dia menang maka aku harus menjadi miliknya tapi sebaliknya dia akan membatalkan rencana penyerangan saat akhir penutupan pesta musim panas." jelas Ana.


Mereka sekarang mengerti kenapa putra mahkota sengaja memasang sihir pemecah inti mana. Bagaimanapun sihir itu dapat meningkatkan kekuatan fisik maupun sihir dengan sangat cepat. Dia berharap Ana kalah di pertandingan ini walaupun mengorbankan ksatria yang setia padanya.


"Hades memang sangat kejam." ucap Ana yang marah mengingat pemuda itu dengan tidak pedulinya membiarkan bawahannya terluka hanya untuk mewujudkan ambisinya.


"Tapi kita tidak bisa menjatuhkan putra mahkota tanpa ada bukti yang mengarah dari kesalahannya." ucap Pangeran damian yang dianggukkan oleh mereka. Mereka berpikir seperti itu, posisi putra mahkota mempersulit mereka untuk menjatuhkannya saat ini.


"Dia terlaru rapih dalam setiap rencananya." jelas pangeran damian.


"Kalau begitu kita harus lebih pintar darinya singga kita bisa menemukan bukti kesalahannya. "Ucap Aleardo.


"Satu hal yang kita tahu dalam pertandingan ini pasti ada rencana tersembunyi putra mahkota. Namun salah satu rencananya sudah kita gagalka. Raja sudah sadar dari tidurnya. Tentu itu akan membatasi ruang geraknya kembali. Selain itu raja berada di pihak kita. Maka kita hanya harus menemukan bukti setiap kesalah putra mahkota di pertandingan selanjutnya." ucap Ana.


"Ya kamu benar nona Ana, Sayangnya pedang Carlos sudah hancur berkeping-keping kita tidak sudah kehilang barang bukti." ucap pangeran damian. Aleardo menemukan satu cara untuk membuktikannya ada penggunaan sihir hitam pada Carlos.


"Kita bisa mendapatkannya. Setiap penyihir suci dapat mendeteksi sisa penggunaan sihir hitam. Seperti ana yang bisa merasakan sisa sihir hitam di ruang raja. Selain itu raja juga dapat merasakannya. Kita hanya harus membawa penyihir suci untuk menyatakan penggunaan sihir hitam pada Carlos." jelas Aleardo yang membuat setiap orang kembali bermuka cerah. Mereka tidak menduga cara itu bisa digunakan untuk mendapatkan bukti penyalah gunaan sihir hitam pada ksatria.


"Kalau seperti itu kita bisa meminta raja untuk menyetujui pengecekan pada setiap ksatria mengenai penyalah gunaan sihir hitam." ucap Ana.


"Berarti hal kita harus lakukan adalah membuktikan kesalahan Carlos yang secara tidak langsung akan menyeret putra mahkota. Bagaimanapun jabatan Carlos adalah komandan pasukan khusus putra mahkota. Dia berada dalam pengawasan putra mahkota." ucap Pangeran Damian.