
Aleardo menatap Ana yang berjalan menujunya. Dia melihat gerakan aneh pada gadis itu. Tapi dia menghilangkan pikiran itu saat melihat Ana tersenyum manis padanya.
"Lihatkan aku bisa membereskan dengan mudah. Apalagi mengalahkan kamu pasti itu tidak sulit?" ucap Ana pada Aleardo. Sedangkan para ksatria yang melihat penampilan Ana terlihat terkejut. Mereka tidak menduga gadis yang jauh di bawah umurnya dari mereka. Gadis seperti Ana semesti sedang asik menikmati acara teh para wanita bangsawan. Tapi gadis kecil itu malah dengan mudah mengalahkan para monster yang tidak mungkin bisa mereka kalahkan.
"Sudahlah kalian harus persiapkan diri kalian saat melawan nona Anabella. Dia tidak pernah setengah hati saat sudah memegang pedangnya." ucap Raindhen sambil menepuk salah satu ksatria. Dia sangat menyukai wajah pucat para ksatria setelah mendengar ucapannya.
"Ya kalian harus lebih berhati-hati saat nanti melawan nona Anabella. Dia sangat kejam." ucap Chino yang mengompori ucapan Raindhen. tentu saja para ksatria semakin pucat pasih.
"hey kalian sedang menjelekkanku." ucap Ana yang mendengan Chino dan Raindhen sedang menakuti para ksatria yang akan menjadi lawannya.
"Aku tidak menjelekkan nona Anabella. Tapi hanya memberi tahu seberapa kuat nona." ucapan Raindhen membuat Ana tersenyum lebar. Dia senang saat seseorang mengakui kekuatannya tidak seperti pemuda yang disampingnya. Aleardo selalu mengatakan kalau dia gadis lemah jadi habiskan waktunya seperti wanita lain.
"Kamu sangat mengenalku tuan Raindhen. " ucap Ana sambil menepuk bahu Raindhen. Tidak lupa senyum manis yang membuat Raindhen terpesona sesaat. Setelah sadar dibelakang tubuh gadis manis itu adalah malaikat pencabut nyawanya saat ini.
Aleardo sedang menatap tajam pada Raindhen. Dia tidak terima pria lain membuat Ana senang seperti saat ini. Ana yang sadar akan wajah pucat Raindhen langsung membalikkan badannya. Tapi pada dasarnya Aleardo sangat mudah mengubah emosinya. Aleardo sekarang seperti biasa tidak ada tatapan tajam dari pemuda itu.
"Hey kamu jangan buat Raindhen takut dong." ucap Ana.
"Aku tidak sedang membuatnya takut kok. Apa wajahku seperti sedang menatap tajam bahawan sialan itu." ucap Aleado.
Sedangkan Raindhen yang sadar kalau Aleardo sangat kesal padanya hanya bisa menundukkan kepala. Dia sudah menerima nasibnya setelah acara pesta ini selesai. Pasti atasannya akan memberikan hukuman padanya.
"Dasar penyihir gila." ucap Ana.
"Kalian tidak usah takut melawanku. Kalian tidak lihat badanku saja lebih kecil dari kalian.Jadi kalian harus optimis dan lakukan usaha kalian sebaik mungkin. Usaha tidak akan mengalahkan hasil." ucap Ana pada ksatria dengan suara lembut dan senyum manis.
Para Ksatria kembali terpesona dengan gadis di depannya. Sekarang mereka dapat melihat kecantikan Ana setelah membuka topengnya. Mata hijau kelabu, hidung mancung, pipi cabi dan bibir merah muda. Wajah Ana sangat cantik itulah pendapat para ksatria. Apalagi gadis di depannya sedang tersenyum manis. Mereka lupa akan kejadia beberapa waktu lalu kalau gadis manis di depan mereka sudah membunuh 6 monster sendirian.
Mereka tidak sadar kalau Aleardo sedang menatap tajam pada mereka. Hanya Raindhen dan Chino yang sudah tersadar lebih dulu. Mereka sangat sulit menelan ludahnya saat melihat tatapan tajam dari seorang Aleardo. Sedangkan di depan pemuda itu ada gadis seperti bidadari sedang tersenyum.
"Mereka seperti bidadari dan seorang iblis." ucap Raindhen pada Chino dengan suara pelan.
"Aku juga berpikir seperti itu." ucap Chino.
Ana pergi meninggalkan Aleardo yang sedang menatap tajam para ksatria. Setelah gadis itu tidak ada di samping Aleardo, Para ksatria langsung merasakan suasana yang menegangkan saat melihat Aleardo yang menatap mereka. Aleardo meninggalkan para ksatria yang merasa canggung setelah mendapat tatapan tajam itu.
"Sudah aku katakan kalian membuat malaikat maut menjemput kalian secepatnya." ucap Raindhen sebelum mengikuti Aleardo.
"Siapkan diri kalian saat pertandingan nanti. Sepertinya Panglima muda tidak akan melepaskan kalian begitu saja." ucap Chino. Para ksatria meratapi nasibnya saat ini.
Pangeran Damian berjalan dengan cepat menuju sebuah ruangan ganti. Dia masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu. Beruntungnya Ana sudah selesai mengganti pakaian. Pangeran Damian langsung menutup pintu dan berjalan mendekati Ana.
"Apakah terjadi sesuatu hingga pangeran damian menemui saya?" tanya Ana.
Pangeran Damian tidak menjawab pertanyaan Ana. Dia langsung menarik tangan kanan ana yang digunakan untuk memegang pedangnya. Dia melihat telapak tangan yang mulus tidak ada luka. Tapi tiba-tiba semua itu hilang. Terlihat telapak tangan Ana melepuh bahkan ada yang mengeluarkan darah.
"Sudah aku duga." ucap pangeran Damian yang membuat Ana bingung. Dia terkejut pangeran damian mengetahui luka itu. Padahal dia sudah menggunakan sihir untuk menutupinya. Aleardo sadar yang sangat ahli dalam sihir bisa ditipu tapi kenapa pangeran damian bisa mengetahuinya.
"Bagaimana pangeran damian bisa mengetahui luka ini? Saya sudah menggunakan sihir ilusi pada tangan saya. Aleardo saja tidak menyadari luka ini." ucap Ana pelan. Dia takut kalau Aleardo tiba-tiba muncul dan mendengar ucapannya.
"Aku bisa melihat sihir kamu nona Ana. Karena kita memiliki mana yang sama." jelas pangeran damian.
"Ternyata begitu."
"Sebaiknya nona Anabella tidak menggunaka pedang itu kembali." ucap pangeran Damian sambil menunjuk pedang yang menggantung dipinggang Ana.
"Tentu nona Ana tahu setelah menggunakan pedang itu, Tangan ana ikut terluka. Aku menduga putra mahkota sudah melakukan sesuatu pada suci milik Quena. Karena semesti pedang milik Quena tidak bisa menyerap darah. Hanya pedang yang memiliki unsur kegelapan seperti pedang milik Tuan Archduke Aleardo." jelas pangeran Damian. Ana sedikit terdiam mendengar penjelasan pangeran damian. Dia juga sedikit terkejut saat luka tangannya separah itu saat bersentuhan dengan pedang milik Quena.
"Baiklah aku tidak akan menggunakannya untuk pertandingan berikutnya. Walaupun saat menggunakan pedang ini tubuhku lebih nyaman tapi aku juga sadar dengan keanehan pada pedang ini." ucap Ana.
Pangeran Damian mengalirkan mana hijaunya untuk menyembuhkan luka ana yang berada di telapak tangan. Tapi tidak terjadi apapun pada luka itu. Pangeran damian sedikit terkejut dengan hal itu.
"Aku sudah mencobanya tapi lukanya tidak ingin tertutup kembali. Jadi biarkan saja pangeran damian. Aku hanya harus menyembunyikan luka itu dari Aleardo." ucap Ana.
"Apa yang kamu sedang sembunyikan dariku Ana?" ucap Aleardo yang tiba-tiba muncul dari belakang Ana bersama kedua naga. Aleardo berjalan menuju ana dan mengambil tangan gadis itu dari pangeran Damian. Dia terkejut ternyata luka di telapak tangan ana sangat serius.
"Kenapa ini bisa terjadi? Aku tadi melihat tidak ada satupun monster yang bisa melukaimu tapi telapak tangan ini. Jangan bilang karena pedang ini?" tanya Aleardo. Ana terdiam tidak berniat menjawab pertanyaan pemuda di depannya. Sedangkan Yirlendi sudah berjalan kesamping Ana. Dia mengambil pedang ana untuk dicek tapi tangan langsung terluka dan darahnya diserap oleh pedang itu.
Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut dengan kejadian tersebut. Padahal pada saat Ana menggunakan sihir pemberhenti waktu pedang itu tidak membuat mereka terluka saat memegangnya. Yirlendi menggunakan sihir khususnya untuk mengecek aliran mana pada pedang itu. Dia terkejut saat melihat ada aliran mana hitam seperti yang dimiliki pedang Aleardo. Tapi mana pada pedang Ana tidak beraturan.
"Sepertinya seseorang sudah menggunakan sihir pada pedang suci ini. " ucap Yirlendi.
"****, pasti si Hades lagi." ucap Luxorius. Naga itu berjalan mendekati pedang Ana dan mengeluarkan lingkaran sihir yang sangat rumit. Mereka semua yang diruangan itu tidak mengerti dengan lingkaran sihir itu.
"Akhirnya kamu menggunakan sihir ini raja naga." ucap Yirlendi dengan nada menyindir. Dia tahu rajanya ini bukan tidak handal menggunakan sihir tapi dia terlalu malas saja menggunakanya. Karena itu Yirlendi sering memanfaatkan kemalasan rajanya untuk menjaili rajanya. Dia sangat paham rajanya hanya menggunakan sihir saat keadaan genting.
"Apa yang kamu lakukan naga tua?" ucap Aleardo.
"Diamlah anak nakal, Aku tidak mungkin membiarkan pedang Quena tercemar oleh penyihir itu." ucap Luxorius.
Mereka sangat takjub dengan sihir yang sangat unik. Aleardo bahkan sangat terpukau melihat tingkat lingkaran sihir yang sangat rumit pada pedang Ana.
"Pedang itu berasal dari taring Luxorius. Seperti pedang Aleardo yang berasal dari taringku." jelas Yirlendi. Ana terkejut kalau pedangnya dan Aleardo berasal dari kedua naga ini.
"Mereka berani menggunakan pedang dari taringku untuk melukai Ana. Aku benar-benar ingin membunuh pemuda itu." setelah ucapan Luxorius pedang itu memancarkan cahaya yang sangat menyilaukan. Asap hitam keluar dari pedang itu dan menghilang begitu saja.
"Kamu sudah bisa menggunakan pedang ini kembali Ana." ucap Luxorius.
Luxorius berubah kembali menjadi wujud naganya. dia berjalan menuju telapak tangan ana lalu menjilat luka itu. Seketika luka itu hilang dan kembali seperti telapak tangan ana sebelum terluka.
"Wow aku baru tahu ludah naga bisa menyembuhkan luka." ucap Ana.
"Tentu saja itu hanya Luxorius yang bisa melakukannya." ucap Yirlendi.
"Yirlendi tidak bisa melakukannya ?" tanya Ana yang dijawab angguka kepala oleh Yirlendi.
"Ludahku menjadi racun bagi seorang penyihir yang menyentuhnya kecuali Aleardo." ucap Yirlendi.
"Menyeramkan." ucap Ana.
"Tenang saja aku tidak akan melukai nona Ana." ucap Yirlendi.
"Tentu saja jika kamu melukainya aku akan membunuh terlebih dahulu Yirlendi." ucap Luxorius.
"Aku tidak melukai gadis semanis nona Ana." ucap Yirlendi yang membuat ana tersenyum manis karena dipuji.
"Diam kamu." ucap Luxorius dan Aleardo secara bersamaan.