
Aleardo dan Ana sudah berada di kudanya masing-masing. Mereka berada di barisan paling depan. Kanan kiri mereka Luxorius dan Yirlendi dengan wujud naganya. Para ksatria sudah berbaris di belakang keempatnya.
Sebuah portal terbuka setelah keempat tertua naga telah terbang ke langit.Seluruh Ksatria dan penyihir melihatnya sangat terpanah. Sangat sulit penyihir membuat sebuah portal untuk berpindah pada satu tempat ke tempat lain. Biasanya portal hanya bisa dimasuki oleh satu penyihir.
Tapi portal di depan mereka berukuran setinggi 3 meter itu sangat menakjubkan. Para ksatria dan penyihir sekarang mengakui seberapa tangguh seorang naga dalam sihir. Mungkin hal itu yang membuat para naga sangat diburu oleh para penyihir hitam. Karena inti naga bisa dimakan dan memberikan efek peningkatan sihir yang sangat drastis.
"Kamu yakin." ucap Aleardo pada wanita di sampingnya.
"Tentu saja. Mulai dari hari ini kita tidak boleh berpisah lagi. Hadapi semuanya bersama dan jangan pernah lepaskan pegangan ini." ucap Ana yang sambil memegang tangan Aleardo.
"Aku janji kita akan kembali dengan keadaan baik-baik saja. Hidup sampai tua hingga waktu memanggil kita bersama." ucap Aleardo diakhiri sebuah kecupan pada dahi Ana. Perbuatan Aleardo membuat para ksatria dan penyihir terharu dengan nyonya dan tuannya.
"Mereka sangat romantis walaupun masih muda." ucap seorang ksatria,
"Kamu benar sekali. Mereka memang pasangan terbaik sepanjang masa sepertinya." balas temannya.
Ana memutar kudanya menghadap para ksatria dan penyihir. Menatap para ksatria yang sudah siap dalam posisinya.
"Mungkin pilihan untuk ikut dalam berperang ini sulit. Tapi saya mengucapkan terima kasih karena kalian mau ikut bersamaku dan Aleardo. Wahai teman seperjuangan dalam setiap perangku dan perang ini. Mulai saat ini kita adalah keluarga. Karena itu Aku dan Aleardo memastikan kalian pasti bisa kembali ke samping keluarga kalian dan orang terkasih kalian. " ucap Ana.
Setelah itu sebuah sihir putih muncul di atas mereka semua. Sekali lagi mereka melihat sebuah sihir yang menakjubkan. Sebuah lingkaran sihir dengan ukiran indah di setiap ukirannya. Tiba-tiba sebuah muncul berbagai naga ukiran kecil dari lingkaran sihir itu.
"Wow indah sekali, Aku merasa seperti akan bertamasya kalau seperti ini. " ucap seorang ksatria.
"Kita merasa tegang." ksatria lain.
"Bahkan berbagai keindahan sihir memanjakan mata. Sekarang naga-naga kecil seperti anak naga yang bermunculan." ucap seorang penyihir.
"Naga itu akan menjadi teman kalian selama perang dan setelusnya. Mereka buka hewan yang kalian bisa korbankan. Mereka juga memiliki keluarga dan orang terkasih seperti kita. Jadi anggap mereka patner kalian mulai saat ini. Ini adalah hadiah yang aku dan kaum naga berikan pada kalian." ucap Ana.
Setelah hilang sihir Ana. Naga -naga itu merubah tubuhnya menjadi wujud manusia. Para ksatria dan penyihir sekali lagi terpesona dengan perubahan naga-naga yang menjadi patner mereka. Hanya beberapa saat mereka berubah setelah itu kembali dalam wujud naganya.
Setelah itu pasukan yang dipimpin oleh Aleardo mulai memasuki portal untuk pergi. Tempat yang Ana dan Aleardo tuju ada berada ujung Timur perbatasan dengan Laut Cryerst. Daerah itu tidak berada di dalam kekuasaan kerajaan manapun. Pada daerah itu terdapat sebuah portal antara dunia bawah dan dunia manusia. Pada tempat itu Naura akan membuat sebuah perjanjian peminjaman kekuatan Xavier untuk memulai perang dengan para manusia di muka bumi ini.
Pasukan Ana dan Aleardo tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di titik terdekat tempat Xiewulent. Seperti dugaan Aleardo beberapa meter dari tempat mereka muncul. Para penyihir hitam sudah berbaris bersiap untuk menyerang jika ada orang yang berniat menggagalkan ritual mereka.
"Ritual belum dimulai." ucap Aleardo.
"Jadi kita akan langsung menyerangnya?" tanya Ana.
"Sepertinya kamu sangat bersemangat?" tanya Aleardo.
"Tentu saja, sudah lama bukan tidak turun di medan perang." ucap Ana.
Ana mengeluarkan pedangnya dari sarungnya. Dia acungkan pedang itu kelangit. Lalu lingkaran yang sangat besar berwarna hijau muncul. Para naga menatap lingkaran sihir itu dengan takut dan terpukau di waktu bersamaan.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Aleardo pada ana. Walaupun dia tahu niat sang istrinya.
"Hanya mempermudah para ksatria untuk menyerang mereka." ucap ana dengan senyum tipis.
"Kenapa ?" tanya penyihir lain.
"Lingkaran sihir itu adalah sihir tingkat tinggi yang tidak ada satu bisa menggunakannya. Sihir yang hanya dimiliki oleh penyihir legendaris yaitu Quena. Katanya kerajaan sebelumnya hancur hanya dengan sihir ini muncul.:" ucap penyihir itu.
Ucapan dari penyihir itu membuat yang lain bergidig ngeriĀ melihatnya.
"Kalau nyonya bisa dengan mudah mengalahkan kenapa kita ikut." seorang ksatria.
"Hany untuk berjaga-jaga saja dan mengajak kalian yang sudah lama tidak berlatih." sindir pangeran damian.
"yang mulia." ucap ksatria tersebut.
"Tidak usah memanggil dengan hormat saat di sini. Karena daerah ini adalah milik Ana dan Aleardo." ucap pangeran damian.
"Tapi.."
"Sudahlah, kita sebenarnya diizinkan untuk melihat sebuah hal yang menakjubkan." kata pangeran damian.
"Tapi sihir ini bisa membunuh kita." ucap ksatria lainnya.
"Tentu saja, sihir ini sebuah sihir ilusi yang menyerap tenaga musuhnya." ucap naga di sampingnya.
Saat lingkaran sihir itu sudah sempurna terbentuk. Para penyihir musuh baru lah sadar hal itu di atas mereka.
"Selamat menikmati permainanku." ucap Ana di waktu bersamaan sebuah cahaya terang muncul yang membuat siapapun langsung menutup mata mereka.
Cahaya yang menyilaukan itu sedikit demi sedikit menghilang. Para pasukan ksatria dan penyihir melihat apa yang terjadi dengan para penyihir hitam di depan mereka saat ini. Para penyihir hitam mengapung dan energi sihir itu terserap ke dalam lingkaran sihir.
"Kamu sangat jahat." ucap Aleardo.
"Itu bukan sebuah kejahatan tapi sebuah berkah hahahha." ucap Ana diakhiri tawa yang membuat pasukannya sendiri merasa takut mendengarnya.
Sebuah asap hitam bergerak cepat menuju lingkaran sihir milik Ana. Beberapa saat kemudia lingkaran sihir itu pecah seperti kaca dan para penyihir hitam berjatuhan. Ana menatap tajam pada orang yang mengganggu kesenangannya.
"Aku tidak akan membiarkanmu mengganggu rencana kami lagi." ucap seorang wanita muda yang muncul. Ana sangat mengingat wajah wanita itu yang tak lain adalah temannya saat masih menjadi Quena. Wanita yang menyebabkan tertidur di waktu yang lama.
"hallo kamu masih mengingatku?" ucap wanita itu.
"Kamu ternyata masih hidup. Bukankah harusnya kamu sudah mati." ucap Ana sinis.
"Aku wanita yang abadi, Pria disampingmu sepertinya cocok denganku." ucap wanita itu.
"Tutup mulutmu itu. Aku malas mendengar suaramu. Syla." ucap Ana dengan pancaran mata tajam pada wanita itu.
"Ternyata kamu masih ingat nama itu. Tapi namaku sekarang Herlina." ucap wanita itu.
"Aku tidak peduli." ucap Ana sebelum berpindah kedepan wanita dan mengancungkan pedangnya tapi ditahan dengan tongkah sihir Herlina.