Female Villainess

Female Villainess
24.Mesin pembunuh



Ana sudah sampai di daerah timur kerajaan yaitu kota Vioner. Dia terkejut saat mengetahui putra mahkota dan Raindhen ikut dalam peperangan ini. Tapi sekarang itu bukan menjadi fokusnya. Tujuannya hanya segera menyelesaikan peperangan ini.


Saat pertama kali dia datang di kota vioner. Dia hanya bisa melihat sisa kehancuran. Rakyat yang tersisa di kota berisi orang-orang yang kelaparan. Mereka tidak memiliki tempat tinggal karena bangunan kota itu sudah dibakar oleh kerajaan Jilben. Kerajaan itu memiliki raja yang serakah dan tidak mempedulikan rakyatnya. Dia tidak mempedulikan dampat keinginan raja itu mendapatkan kota vioner ini.


Ana marah melihat keadaan kota ini. Dia sudah mencari informasi kota ini sebelum pergi. Kota Vioner adalah kota perbatasan yang menyadi tempat persinggahan bagi para pengembara. Rakyat sekitar sini bekerja sebagai petani dan peternakan karena lahan di daerah ini terbilang sangat subur. Walaupun mereka kebanyakan bekerja sebagai petani namun kehidupan mereka terbilang makmur. Jumlah rakyat kelas rendah yang berada di kota ini padahal letaknnya di perbatasan.


"Ana sedang Apa kamu ?" Tanya Raindhen.


"Saya hanya melihat kondisi kota ini."


"Mereka sebenarnya bukan rakyat kerajaan kita. "


"Apa maksud kamu ?"


"Rakyat Vioner telah mati semua saat kerajaan jilben dengan kejamnya mengirimkan pasukannya untuk membersihkan wilayah ini. Mereka yang kamu lihat adalah warga kerajaan jilben yang kabur dari kerajaan dan bersembunyi di kota ini."


Emosi Ana seketika meningkat. Dia tidak bisa ini semua, walaupun mereka bukanlah warga kota vioner. Tapi bagaimana bisa pemimpin kerajaan tidak memperdulikan kondisi rakyatnya. Ana yakin mereka yang kabur itu diberikan terlakukan buruk di kerajaannya.


"Tuan Raindhen dan nona Anabella. Putra mahkota memanggil untuk menghadapnya." ucap seseorang pasukan yang datang menghampiri mereka. Ana dan Raindhen segera menuju tenda putra mahkota.


Ternyata di dalam tenda sudah banyak yang berkumpul. Mereka sedang menunggu keberadaan dua orang itu. Setelah itu mereka mulai melakukan rapat dalam pembuatan strategi. Semua usulan taktik Ana diterima oleh orang-orang di tenda itu.


Bahkan banyak dari mereka yang tidak percaya di depan mereka adalah gadis berumur 13 tahun. Tapi strategi perang Ana sengat ciamik dan tingkat resiko yang rendah. Namun keberhasilan yang sangat besar.  Dalam peperangan ini Ana memiliki tugas penting untuk berada di posisi paling depan.


Awalnya posisi ana di perang ini tidak diterima oleh seluruh orang terutama Putra mahkota dan Raindhen.  Karena berada di posisi paling depan adalah tempat yang sangat berbahaya. Tapi salah satu bawahan ayah ana yang ditugaskan bersama Ana mengungkapkan pendapatnya. Selain itu keahlian berpedang Ana bahkan setara dengan jenderal besar yaitu marques Xieben.  Mereka akhirnya mensetujui penempatan Ana.


Ana sedang terdiam di bukit yang tidak jauh dari tenda para pasukan. Dia menatap kedapan yaitu hamparan rumput yang menjadi tempat pertumpahan darah besok. Sebenarnya dia merasa takut tapi dia percaya dengan keahlian berpedangnya.


"Kenapa kamu menempatkan di posisi terdepan yang paling bahaya Ana." ucap Putra mahkota. Dia datang sendiri menemui Ana. Dia sangat khawatir pada gadis di depannya.


"Karena saya tahu tidak ada yang memiliki keahlian seperti saya yang mulia. Walaupun umur saya baru 13 tahun dan saya hanya berlatih pedang. Tapi keahlian berpedang saya yang setara dengan pemimpin pasukan musuh."


"Berhenti memanggilku seperti itu kamu bisa memanggilku Liam seperti dulu. "


"Baiklah Liam. Saya pastikan besok adalah peperangan terakhir untuk kota ini." ucap Ana.


Setelah itu keduanya tidak ada yang berniat mengeluarkan suara hingga seseorang mengitrupsi keadaan hening di keduanya.


"Kalian hening sekali, besok kita perang jadi jangan bersedih seperti akan mati saja."


"Tuan Raindhen sangat optimis."


"Tentu nona Ana, Saya mendapat pesan dari Aleardo kalau besok dia akan menyusul walaupun akan sedikit telat."


"Akhirnya dia datang juga. Semua akan mudah di menangkan."


"Benar kata kamu."


"Wow mana kamu sangat menarik."


"Bukankah itu membahayakan kamu Ana. " ucap Liam. Pemuda itu sudah tahu dengan kondisi mana Ana yang berbahaya. Berbahaya untuk musuh dan untuk dirinya sendiri sebagai sang penggunanya.


"Tenanglah aku akan menggunakan itu disaat situasi sudah genting."


"Ya akan aku ingat. Tapi kamu juga harus berjanji akan baik-baik saja karena kalau kamu sampai terluka bahkan mati maka hidup kita akan berakhir akibat Aleardo." peringatan Raindhen.


"Kamu benar tapi aku tidak mudah dikalahkan. Selain itu sebelum aku pergi ke sini. Aku sudah mengalahkan pahlawan kalian."Ucapan Ana membuat mereka terkejut. Dia tidak menyangka keahlian berpedang ana sekuat itu hingga dapat mengalahkan pemuda yang sangat terkenal keahlian dalam berpedang setelah perang di barat.


Pagi telah tiba, Ana sudah menggunakan jirah perangnya rambutnya dia ikat satu dengan tinggi. Pedang di pinggang kiri dan sebuah panah dan busur panah di punggungnya. Dia gagah keluar dari tenda berjalan di depan para prajurit dan memberikan ucapan semangat pada pasukannya.


"Saya berjanji peperangan ini akan berakhir dengan kemanangan dan kita bisa kembali di sisi orang-orang yang kita saya jadi kuatkan hati dan tekad kalian dalam perang ini. Ingat dalam peperangan hanya satu hukum yaitu yang menang dalam pulanglah yang hidup. Maka kita akan menjadi perang dan membumi hanguskan kerajaan mereka. "


ucapan Ana diakhiri dengan sorak pada parajuritnya.


"Semoga kita bisa bertemu kembali." ucap llirih Ana tanpa disadari putra mahkota mendengarkan itu.


Ana sudah berada di barisan depan. Pemimpin pasukan musuh menertawakannya yang memimpin perang ini. Dia sempat mengejeknya dengan suara lantangnya.


"Wah kerajaan itu memandang kita rendah dengan mengirimkan gadis muda untuk menjadi pemimpin perang. Padahal dia lebih cocok sebaik penghangat di malam hari. " Ucapan itu membuat para prajurit Ana marah. Selain mereka Putra mahkota dan Raindhen sudah menunjukkan wajah kebencian pada pemimpin pasukan musuh yang tak lain ada raja baru itu.


"Tidak banyak berbicara lebih baik karena itu bisa bumerang. Prajuritku kita mulai perang. Serang mereka dan hancurkan mereka. Kita menangkan perang ini." ucapn Ana.


Setelah itu ana berkuda dengan sangat cepat dan menebas prajurit musuh dengan sangat cepat. Bahkan pasukan musuh terkejut melihat gadis muda itu seperti mesin pembunuh. Sangat cepat dan membuta mereka. Dengan sangat cepat pasukan musuh yang gugur. Putra mahkota dan Raindhen sangat terkejut melihat keahlian berpedang Ana. Dia seperti bukan Anabellla yang sering mereka temui. Gadis itu belum memiliki sedikitpun luka. Walaupun tubuhnya sudah bermandikan darah segar dari lawannya.


Ana mundur saat rencana pertamanya sudah terlaksanakan dengan baik. Ana menyimpan kembali pedang dan sekarang dia mengarahkan panahnya ke atas. Muncul asap berwarna yang memberikan petunjukkan kalau rencana 1 berhasil. Saat Ana sedang memanah pemimpin pasukan musuh mendekatinya dan menyerang ana namun dengan mudah dia tahan dengan busur panah. Setelah itu Ana menarik pedang hijau dan mengalirkan mana hijau. Pedang itu menebas tubuh pemimpin musuh. Setelah itu pemimpin itu terjatuh dari kereta suara terikan kesakitan dan pemimpinan itu sempat mengambil perhatian dari prajurit musuh. Mereka berniat mendekati ana namun dengan santai dia menebas orang-orang itu. Hingga akhirnya Ana menebas kepala pemimpin itu hingga terlepas.


Ana mengambil kepala itu dan mengangkan kepala itu.Semua orang yang melihat terkejut. Bahkan pasukan musuh terdiam saat melihat pemimpinnya telah dikalahkan oleh ana dengan mudah.


"Turunkan senjata kalian karena pemimpin kalian sudah kalah."


Pasukan musuh melepaskan pedangnya. Tidak ada lagi harapan untuk memenangkan perang apalagi raja sudah mati dipenggal oleh gadis muda itu.


"Dia seperti Aleardo, mesin pembunuh." ucap Raindhen.


Ana berjalan dengan tangan kanannya terdapat kepala raja muda kerajaan Jilben. Ana melemparkan kepala itu pada Raindhen sontak itu membuat pemuda itu terkejut.


Saat Ana sedang berjalan kembali menuju pasukannya sebuah panah muncul tanpa di sadari oleh Ana. Bahkan Raindhen dan Putra Mahkota sudah berteriak memanggil Ana untuk menyadarkan gadis itu.


"Dasar kamu memang tidak pernah hati-hati." ucap Aleardo yang menggunakan sihir untuk menangkis panah dari musuhnya itu."


"Akhirnya kamu menyusulku."