
Sekarang Ana dan Aleardo sudah di depan ruangan kebesaran baginda raja. Jujur Ana sangat gugup bahkan dia merasa tangannya mulai berkeringat. Beberapa kali dia mengatur nafasnya. Kegugupan ini akibat Aleardo yang membawanya kabur saat bertugas. Dia sudah menyiapkan hukuman yang akan didapatkannya tapi tetap saja rasa takut menggerogotinya.
Sedangkan Aleardo sangat gemas dengan Ana. Sejak sampai istana aleardo memperhatikan tingkah Ana. Gadis itu terlihat sangat gugup. Aleardo memegang tangan Ana yang sejak tadi mengepal.
Ana langsung menoleh saat tangan dipegang oleh seseorang itu. Dia melihat pemuda di sampingnya sedang tersenyum manis. Senyum itu membuat Ana tanpa sadar dia ikut tersenyum.
"Tidak usah tegang, Aku juga ada di samping kamu oke?" ucap Aleardo yang diakhiri dengan elusan pada puncak kepala rambut merah muda Ana.
Perlakuan Aleardo membuat Ana sedikit lebih tenang. Keberadaan Aleardo memang membawa hal positif padanya. Contohnya pada saat ini, Dia bisa membuat Ana tidak gugup kembali.
"Ayo kita masuk." ucap Aleardo yang dijawab dengan anggukan kepala.
Beberapa saat pintu besar itu terbuka, Ana dan Aleardo berjalan beriringan masuk kedalam ruang baginda raja. Ternyata di dalam ruangan itu sudah ada raja, putra mahkota, dan Raindhen. Ana dan Aleardo memberikan salam pada Raja dan putra mahkota.
"Salam saya pada sang pemilik cahaya Yang mulia baginda raja Morquen dan putra cahaya yang mulia putra mahkota. Semoga anda selalu diberikan berkah oleh pemilik semesta." ucap Ana dan Aleardo sambil menundukkan badan mereka.
Setelah itu mereka kembali pada posisi semula. Ana sebenarnya tidak begitu terkejut dengan keberadaan putra mahkota dan Raindhen. Karena mereka ikut dalam peperangan di perbatasan timur.
"Saya mengundang Ksatria Anabella dan Panglima tinggi Aleardo untuk membicarakan peperangan di perbatasan timur. Saya sudah mendengar cerita dari putra mahkota mengenai keberadaan ksatria Anabella dalam peperanganh itu. Anda telah berjasa membebaskan perbatasan timur dan Panglima Aleardo sudah mengembalikan keadaan kota seperti semula. Karena itu saya berniat memberikan kalian hadiah atas jasa yang telah kalian lakukan pada kerajaan ini. 2 minggu dari sekarang kerajaan akan mengadakan pesta perayaan kemanangan dan di sana juga saat berniat memberikan hadiah untuk Ksatria Anabella." ucap Raja.
"Terima kasih atas kebaikan yang mulia baginda raja. Saya sangat tersanjung akan pemberian raja."
"Saya tidak menyangka nona Anabella Rose Natlastion yang baru saja berumur 13 tahun dapat membawa kepala raja timur. Anda memang berbakat seperti marques xieben." puji raja pada Ana.
"Terima kasih atas pujiannya namun saya masih dalam proses belajar yang mulia."
"Ya kamu benar, Perjalan kamu memang masih panjang nona Anabella. Tapi Ana memiliki keahlian dan bakat yang tidak dimiliki oleh para wanita bangsawan lainnya. Kamu memiliki potensi yang sangat besar. Saya jadi berminat menyalonkan nona Anabella sebagai calon ratu masa depan kerajaan ini. "Ucap Raja.
Perkataan raja membuat Aleardo marah. Walaupun dia masih menahan kekesalannya. Dia masih memantau keadaan. Jika raja itu benar menyalonkan Anabella maka dia tidak segan menghabisi pemimpin kerajaan ini.
"Tapi saya harus menunggu dulu nona Anabella hingga acara kedewasan bukan? Selain itu saya akan membebaskan putra mahkota untuk membawa calonnya hingga acara kedewasaan putra mahkota. Saya menanti nona Ana menjadi calon ratu. kamu bisa memikirkannya waktunya masih lama sekitar 1 tahun lagi." ucap Raja.
"Baik yang mulia raja akan saya pertimbangkan." Ucap Ana.
Sebenarnya Ana tidak pernah terpikirkan dan berminat menyalonkan menjadi ratu kerajaan ini. Hidupnya akan membosankan kalau dia jadi seorang ratu. Dia tidak akan kuat. Mungkin hanya 2 hari dan setelah itu dia akan kabur. Selain itu Pada saat itu putra mahkota akan membawa Charlote untuk diperkenalkan pada raja.
"Kalian bisa kembali. Putra mahkota juga. Panglima Ada yang saya ingin bicarakan." ucap Raja.
"Saya tidak suka dengan yang anda usulkan pada Anabella." ucap Aleardo dengan nada yang tegas.
Raja menghela nafas melihat sikap Aleardo. Pemuda itu sangat tidak sopan bila hanya berdua dengannya. Dia masih mengingat seminggu lalu di hari yang sama pasuka yang di pimpin oleh Ksatria anabella meninggalkan ibukota. Aleardo dengan santainya muncul di depan raja tanpa permisi.
Raja ingin menghukum ketidak sopanan remaja laki-laki itu. Tapi apa daya kekuatan yang dimiliki remaja itu sangat berbahaya. Selain itu Keberadaan Aleardo sudah tertulis dalam pesan turun temurun pada setiap raja. Bahwa seorang laki-laki yang lahir dengan rambut hitam dan mata merah memiliki kekuasaan yang lebih tinggi dari seorang raja. Kewajiban Raja menghormati keberadaan mereka karena dengan begitu kerajaan akan aman. Namun jika pria bersurai hitam itu mendapatkan perlakuan buruk dan membuatnya marah akan terjadi hal buruk pada kerajaan.
Awalnya Raja tidak percaya akan pesan itu. Tapi saat perang perbatasan barat dimenangkan dengan munggunakan sihir remaja laki-laki itu. Raja sadar itu memang pesan yang harus dia laksanakan. Kekuatan Aleardo melebihi penyihir agung. Dia tidak memiliki limit untuk mananya.
"Saya hanya menawari nona Anabella."
"Raja ini peringatan terakhir saya. Sekali lagi anda berniat mengambil Ana dari saya. Maka saat itu saya pastikan negeri ini akan habis." ucap Aleardo.
Setelah itu Aleardo meninggalkan ruangan itu tanpa permisi pada raja. Tentu raja hanya bisa menghela nafas melihat tingkah Aleardo. Mungkin ini terakhir kalinya dia memancing kemarahan remaja itu.
Selain itu dia sadar keberadaan Aleardo sangat berguna untuk melindungi kerajaan ini. Pemuda itu sudah berjanji akan melindungi negeri selama mereka tidak membuat Aleardo marah. Sekarang hanya satu hal yang membuat Aleardo marah adalah Ana. Setiap hal yang berhubungan dengan Anabella Rose Natlastion akan memberikan dampak yang besar pada Aleardo.
"aku harus melepaskan calon ratu yang memiliki potensi yang bagus." ucap Raja.
Aleardo keluar ruangan raja dan langsung disuguhkan dengan Ana yang sedang berbincang dengan putra mahkota dan Raindhen. Sungguh itu membuat dia semakin marah. Segera dia menarik Ana kedekatannya dan melakukan teleportasi.
"Sepertinya yang mulia raja membuat mood Aleardo jelek." ucap Raindhen pelan pada putra mahkota.
"Tentu saja, Usulan ayahanda pasti membuat dia kesal. Walaupun aku sangat senang akan itu. Tapi aku harus mengalah untuk kali ini. Aleardo adalah seorang legenda di kerajaan ini. "
"Maksud kamu kutukan yang dimiliki Aleardo. Seseorang yang akan menghancurkan negeri ini."
"Itu hanya dongeng walaupun ada beberapa yang benar tapi kebenyakan isinya terlalu dilebih-lebihkan." ucap putra yang mengingat isi bukui mengenal Black and White Fate. Buku yang dia temukan diantara buku ayahanda.
"Benarkah? Aku jadi penasaran. Bagaimana kalau yang mulia putra mahkota menceritakannya padaku." ucap Raindhen santai.
Raindhen dan putra mahkota adalah teman sejak kecil. Mereka sudah sangat akrab bahkan biasanya Raindhen memanggil dengan nama. Tapi berhubung ini masih disekitar istana raja. Jadi dia harus berbicara formal atau bosek kepalanya tergantung di taman kota.
"Itu rahasia kerjaan aku tidak bisa menceritakannya."
":Seperti biasa, kerajaan terlalu banyak rahasia." ucap Raindhen pelan. Setelah itu mereka berjalan menjauhi ruang raja. Mereka berniat melanjutkan pembincangan di kediaman putra mahkota.