Female Villainess

Female Villainess
114. Perang telah selesai



Monster itu keluar dari portal yang dibuat oleh Xavier. Monster itu tersenyum menatap pria di depannya. Dia sudah sangat lama bertemu dengan raja iblis. Dia ingat sekali saat itu pria di depannya baru saja menjabat sebagai raja iblis. Kekuatanya sangat lemah dibandingkan kekuatan yang dimiliki.


"hahhaahah, sudah sangat lama kita tidak bertemu Hector." ucap monster itu.


Aleardo hanya menatap tajam monster itu. Dia sangat ingat monster itu pernah menghancurkan dunia bawah. Sayangnya waktu itu dirinya harus mendapat luka dari pertarungan dengan moster di depannya.


"Kamu baru bisa menyegelku waktu itu bukan? tapi aku tidak akan membiarkan kamu melakukan itu raja iblis. Apakah masih pantas panggilan itu untukmu. Iblis yang terlahir dari manusia. hahahhaha." ucap Xierlext.


"Apakah kamu tidak merasakan auraku saat ini Xierlext?" tanya Aleardo yang berjalan menekati tubuh monster.


Xierlext merupakan iblis yang telah hidup sejak generasi pertama. Dia dianggap monster karena wujudnya yang berbeda dari iblis pada umumnya. Seorang Xierlext memiliki keinginan menjadi raja iblis. Tapi hal itu tidak bisa terjadi karena dia telah membuat dosa besar. Dia membunuh ribuan rakyat iblis untuk mewujudkan ambisanya.


Tidak ada orang yang bisa menandingi kekuatan Xierlext. Sehingga iblis itu disegel di perbatasan antara dunia bawah dan dunia manusia. Dia tidak bisa keluar dari segelnya kecuali ada keluarga kerajaan iblis yang membukanya. Tentu saja mereka butuh mengorbankan hidup mereka untuk membuka portal itu.


Xavier sudah dua kali membuka portal untuk Xierlext. Dia tidak mati karena ada seorang iblis yang memberikan nyawanya untuk ditukarkan dengan xavier. Tapi untuk kehidupan kali ini Xavier jelas tidak bisa melakukan itu kembali. Karena ritual pertukaran  nyawa hanya dapat dilakukan sekali saja.


Xierlext menatap mayat menyedihkan yang membantunya untuk keluar dari penjaranya. Dia kembali menatap Aleardo dengan senyum lebarnya. Bukan senyum bahagian tapi lebih senyum meremehkan pada Aleardo. Dia sangat percaya diri dapat mengalahkan Aleardo.


"Sebaiknya kamu tidak meremehkan seseorang sebelum bertarung." peringatan Aleardo.


"hahahahah, kamu jangan terlalu percaya diri anak muda. Kamu hanya iblis yang lemah." ucap Xierlext.


Sebenarnya iblis itu dapat merasakan aura yang berbeda pada Aleardo tapi dia sama sekali tidak memperdulikannya. Dia anggap itu hanya hal lalu saja.


Xierlext menyerang Aleardo dengan pedangnya  yang selalu mengelantung di pinggangnya. Aleardo dengan mudah menangkis setiap serangan Xierlext. Hal itu tidak luput dari perhatian Xierlext.  Kekuatan yang dimiliki iblis muda di depannya sangat besar. Dia bahkan bisa dengan mudah menyangi kekuatannya. Padahal selama ini tidak ada raja iblis yang bisa setara dengannya kecuali raja pertama.


"Kamu mau tahu kenapa aku bisa setara dengan kekuatanmu Xierlext." ucap Aleardo dengan senyum tipis saat dia memberikan serangan bertubi-tubi pada Xierlext yang membuat iblis itu kesulitan menangkisnya.


Bahkan beberapa kali pedang Aleardo melukai tubuhnya. Dia tidak menduga hal ini akan terjadi padanya. Dia sangat ingat terakhir kali dia bertarung dengan Aleardo. Pemuda itu mendapatkan luka yang sangat parah disekujur tubuhnya. Tapi sekarang keadaan berbalik.


" Kamu haru tahu Xierlext aku adalah raja yang selalu kamu layani itu." ucap Aleardo dengan senyum tipis diikuti tebasan pada tangan kanan iblis itu.


Pedang yang dipegang oleh Xierlext terlepas dan cairan merah hitam pekat keluar dari luka yang dibuat oleh Aleardo.  Xierlext pucat pasih saat melihat tangan kanannya terpisah dari tubuhnya dan ucapan Aleardo membuatnya semakin ketakutan.


"Itu tidak mungkin, kamu jangan mengada-ada cerita." ucap Xierlext.


Xierlext terdiam melihat gerakan yang dilakukan oleh Aleardo. Dia sangat ingat semua gerakan itu. Hanya satu orang yang bisa melakukannya dan terhindar dari ribuan pedang iblisnya itu.


"Raja pertama?" gumam Xierlext tanpa sadar.


"Kamu sudah lupa tentang takdirku bukan Xierlext. Aku akan terlahir kembali dari pernikahan seorang iblis dan manusia.  " ucap Aleardo dengan senyum dinginnya. Dia sangat kecewa dengan temannya dulu ini. Dia menghancurkan dunianya yang selama ini dirinya jaga.


"Tidak mungkin raja pertama tidak akan selemah kamu. Bagaimana bisa waktu itu aku mengalahkan kamu." ucap Xierlext yang tidak bisa menerima fakta yang dibeberkan oleh Aleardo.


"Ya sudah kalau kamu tidak ingin mendengernya.  Hanya satu yang akan aku berikan pada adalah hukuman karena telah melukai kaumku. " ucap Aleardo bersamaan dengan sebuah asap hitam yang keluar dari tubuhnya dan membuat tubuh Xierlext seperti terikat oleh asap itu.


"Aku akan mengambil kembali hidup yang aku berikan untukmu sahabatku." ucap Aleardo bersamaan dengan tubuh Xierlext yang sekejap temakan di dalam asap hitam itu. Beberapa saat itu asap hitam menghilang dan wujud Aleardo berubah seperti semula.


"Kalian sangat menyusahkan dan terlalu lemah." gumam Aleardo sebekum tubuh itu menghilang dari tempat yang tiba-tiba hancur begitu saja.


Aleardo berjalan menuju tubuh wanitanya yang sedang terbaling lemah. Dia merasa sedih dengan kondisi tubuh Ana saat ini. Beruntungnya dia masih sempat untuk menyelamatkan  Ana kalau tidak dia sudah pastikan dunia ini akan hancur. Dia tidak bisa hidup tanpa wanita mungil di depannya.


"Yirlendi kerjamu sangat bagus. Setidaknya kamu memberikan waktu untukku bermain dengan kuman-kuman itu." ucap Aleardo.


"Hey anak nakal, kenapa kamu lama datang?" tanya Luxorius.


"Naga tua kamu harus bertanya hal tidak perlu. Sekarang sebaiknya kamu bersama istrimu itu dibandingkan merecoki aku dan Ana terus." ucap Aleardo yang sebal dengan naga milik Ana. Beruntungnya naga itu milik Ana kalau bukan sudah dijadikan naga bakar karena sifatnya yang suka ngatur seperti orang tua saja.


"Cih daasar anak nakal." ucap Luxorius sebelum berjalan menuju Naura yang sedang menatapnya.


Sungguh Naura tidak berhenti tertawa melihat tingkah suaminya yang jauh dari wibawa. Tingkah seperti anak kecil padahal usianya saja lebih tua darinya ribuan tahun.


Aleardo membuat luka pada tangannya setelah itu dirinya meneteskan darahnya pada sihir yang dibuat oleh Yirlendi. Darah itu dengan cepat menyerap dan secara perlahan tubuh Ana kembali bugar. bawah matanya yang tadinya gelap kembali seperti semula. Wajahnya kembali bercaya seperti sebelumnya.


Perlahan-lahan mata Ana terbuka dan Aleardo tersenyum melihatnya. Dia langsung membawa tubuh Ana kedalam pelukannya. Dia sangat khawatir dengan kondisi Ana. Wanita ini selalu membuatnya khawatir dan tidak tenang jika berjauhan.


"Semuanya telah selesai." ucap Aleardo dengan sebuah kecupan di dahi Ana.


Ana merasapi kecupan dari Aleardo. Dia merasakan segala beban hidupnya seakan terangkat. Setidaknya mulai hari ini tidak ada lagi yang akan memisahkan mereka. Senyuman manis merekah di bibir Ana yang merah muda itu.