Female Villainess

Female Villainess
53.Pertemuan dengan Putra Mahkota



Marques mendapatkan panggilan untuk menghadap Putra Mahkota. Panggilan untuk membahasa topik kondisi perbatasan timur. Tapi Aleardo dan Ana merasakan bukan cuman itu yang akan dibahas oleh Putra mahkota. Beruntungnya Aleardo ikut bersama sang ayah untuk melakukan laporan. Mereka memang tidak menemukan keberadaan para pemberontak. Tapi mereka membawa ketua penyihir hitam yang berada di perbatasan timur.


"Tenanglah paman, Semua akan berjalan seperti rencana. Putra mahkota pasti tidak melakukan tindakan yang gegabah karena sekarang dia sedang diamati oleh para bangsawan. Selain itu keberadaan pangeran Damian di kerajaan ini juga membuat dia harus berhai-hati dalam bertindak. Jika tidak ingin posisinya direbut oleh pangeran." ucap Aleardo menggunakan sihir telepartinya pada marques. Mereka tidak ingin ada yang mendengar pembicaraan saat di istana. Hal itu terlalu beresiko dengan keberadaan mereka yang sedang dipojokkan oleh putra mahkota.


Ana juga sudah kembali masuk ke dalam istana.untuk melakukan tugasnya sebagai seorang ksatria istana. Selain itu Ana akan mencari keberadaan Raja. Dia harus membuat raja kembali sehat sehingga Putra mahkota tidak memiliki kekuasaan dalam kerajaan ini kembali.


Ana berjalan menyusuri istana utara, yaitu tempat para pangeran dan putra mahkota tinggal. Sebenarnya dia menghindari tempat ini karena takut bertemu dengan putra mahkota. Sayangnya dia mendapat panggilan putra mahkota untuk datang kekediamannya. Dia ingin menolak tapi Ana tidak berhak akan itu. Sekarang jabatan putra mahkota tidak bisa dipandang sebelah mata. Selain itu putra mahkota sedang dikendalikan oleh hades. Dia takut salah memilih langkah akan berdampak pada keluarganya dan ksatria ayahnya.


"Saya mendapat panggilan dari putra mahkota." jelas Ana pada pengawal yang menjaga kamar Putra Mahkota.


"Silahkan anda masuk, yang mulia sudah menunggu anda." ucap Pengawal.


Ana harus berpura-pura masih terkena kutukan Hades. Walaupun dia malah bersikap ramah pada hades. Karena menurut cerita Aleardo, sihir hades hanya membuatnya lupa akan hades bahwa putra mahkota. Tentu dia harus bersikap seperti saat putra mahkota.


"Liam kamu memanggilku?" tanya Ana yang berjalan menuju Liam yang sedang menatap jendela.


"Kamu sudah datang Ana."


"Ya seperti kamu lihat. Apa yang sedang kamu lihat di luar jendela itu?" Tanya Ana.


"Taman bunga Lavender. Kamu ingin lihat?" tawar putra mahkota.


Ana penasaran dengan taman bunga lavender yang berada di belakang kediaman putra mahkota. Dia berjalan menuju Liam. Bahkan Ana lupa kalau pria disampingnya adalah orang yang harus dia waspadai. Tapi karena itu juga Liam tidak curiga kalau Ana sudah ingat mengenai Hades.


"wow Indah, Taman ini tidak kalah indah dengan yang ada dipinggir kota." ucap Ana.


"Ya kamu benar" ucap Liam seadanya. Pemuda itu menatap wajah Ana yang sedang terpesona dengan taman yang sengaja dia buat untuk Ana.


Liam senang bisa melihat senyuman gadis itu kembali. Selain itu mereka bisa menghabiskan waktu bersama kembali tanpa ada aleardo yang mengganggu Liam. Dia ingin waktu berhenti.


Sebuah ketukan menyadarkan mereka berdua dari pikiran masing-masing. Liam sebenarnya kesal dengan itu tapi dia mencoba mengontrol ekspresinya. Liam menjauh dari Ana dan berjalan menuju pintu itu setelah mengetahui kalau itu pelayan pribadinya.


"Kamu tunggu di sini dulu ya." ucap Liam yang dijawab anggukan kepala,


 Liam keluar dari kamarnya dan menemui pelayannya. Karena dia tidak ingin Ana mengetahui pembicaraannya dengan pelayan pribadinya.


"Ada apa?" tanya Liam.


"tuan marques Xieben dan tuan Archduke Aleardo sudah berada di luar kerja anda. Mereka menunggu anda." ucap pelayan pribadi Liam.


"Siapkan makanan manis dan secangkir teh lavender untuk Nona Anabella dan katakan untuk menikmati makanan itu sambil menungguku datang. Katakan juga aku hanya pergi sebentar untuk mengurusi beberapa hal." ucap Liam sebelum meninggalkan ruang pribadinya.


Aleardo sudah kesal menunggu kedatang Putra mahkota itu. Bahkan saat dia bertemu dengan Raja, dia pernah menunggu selama ini. Rasanya dia ingin memberikan pelajaran pada pemuda itu. Tapi dia harus menahannya hingga semua terbongkar dengan baik. Marques menyadari kekesalan pemuda di sampingnya. Aleardo memang bukan orang yang sabar untuk menunggu. Mungkin ini kali pertama untuk seorang Aleardo menunggu. Karena Raja sangat mempelakukan Aleardo dengan spesial. Pemuda itu memiliki hak untuk bebas bertemu dengan raja padahal para pangeran dan putra mahkota tidak memiliki hak itu.


"Maaf kalian harus menunggu lama, Aku mendapat tamu yang harus disapa terlebih dahulu." jelas Liam yang masuk kedalam ruangan itu.


"Salam hormat pada anak cahaya , semoga anda selalu berada dalam lindungannya dan berkahnya." ucap Aleardo dan marques bersamaan. Walaupun nada Aleardo seperti yang tidak iklas. Tapi itu tidak dipedulikan oleh pangeran. Seluruh bangsawan di kerajaan ini tahu watak Aleardo yang kurang sopan para keluarga kerajaan . Bahkan pada raja dia seperti itu namun tidak dipermasalahkan oleh sang raja.


"Saya terima salam kalian. Jadi bagaimana dengan pemberontakan di perbatasan timur? Saya tidak menduga tuan marques membutuhkan waktu tiga bulan untuk membereskan masalah itu ditambah tuan Archduke ikut membantu." ucap Putra mahkota yang seperti sebuah sindiran untuk keduanya.


"Kami  memiliki masalah saat melaksanakan tugas. Selain itu kami tidak menemukan para pemberotakan yang diucapakan putra mahkota. Kami menemukan kumpulan penyihir gelap dengan jumlah banyak diperbatasan timur. Mereka sudah kami bersihkan tanpa tersisa. Kehidupan rakyat timur sudah kembali seperti." ucap Aleardo.


"Kalian sangat berkompenten, Raja pasti bangga dengan jasa kalian yang selalu menjaga kerajaan ini dengan baik." ucap Putra mahkota.


"Terima kasih atas pujiannya." ucap marques.


Aleardo dan putra mahkota saling melemparkan tatapan tajam yang membuat suasana ruangan itu sedikit tidak nyaman untuk marques Xieben. Walaupun mereka masih muda tapi kekuatan sihir kedua pemuda itu berada di atas marques. Dia dapat merasakan itu.


"Tuan marques, Apakah anda sudah memikirkan permintaan Ayahanda mengenai Ana yang akan menjadi calon ratu selanjutnya di kerajaan ini." ucap Putra mahkota.


"Seperti sebelumnya, Aku tetap tidak bisa mengambulkan permintaan Raja. Anak saya masih kecil dan dia belum menginginkan suatu hubungan yang serius." jelas Marques Xieben.


"Benarkah, Aku juga berpikir sama nona Anabella baru berusia 14 tahun tapi dia sudah sangat ahli dalam beberapa hal benarkan tuan marques? Dia adalah calon yang sangat cocok untuk calon ratu. Mungkin beberapa tahun lagi dia akan menjadi lady yang dapat meluruhkan banyak pria di kerajaan ini. Saya juga belum ingin memiliki hubungan yang serius. Bagaimana kita tunggu nona Ana hingga umurnya 17 tahun ?" Tanya Putra Mahkota.


Aleardo memberikan tatapan tajam pada putra mahkota. Tapi putra mahkota itu membalas senyum tipis pada Aleardo. Marques sedikit mengelus tangan Aleardo untuk mengingatkannya untuk menahan emosi saat ini. Putra mahkota bukalah raja yang sangat memaklumi sikap Aleardo.


"Saya tidak dapat menjanjikan itu putra mahkota. Saya akan membebaskan anak gadis saya untuk memilih pria yang dia cintai." jelas marques yang secara langsung menolak permintaan putra mahkota.


"Anda ayah yang sangat baik dan sayang pada nona Anabella." puji Putra Mahkota.


"Terima kasih atas pujian anda yang mulian. Kebahagian anak saya adalah hal utama untuk seorang ayah." ucap marques.


"Tiga tahun waktu yang cukup sebentar untuk bisa merubah perasaan seseorang. Tapi  tetap ada kemungkinanan seseorang merubah pikirannya. Jadi saya akan menanti jawabatn saat nona Anabella berumur 17 tahun." ucap Putra mahkota. Dia berdiri dari posisi duduknya .


"Saya harus kembali ke tempat tamu menunggu saya." ucap Putra mahkota setelah itu meninggalkan marques xieben dan Aleardo.


"Bersabarlah Aleardo. kita hanya harus mencari keberadaan raja. Selain itu masih ada cara untuk Ana menolak permintaan putra mahkota bukan?" ucap marques yang seperti memberi kode pada Aleardo. Pemuda itu sangat paham arah pembicaraan ayah Anabella.