Doctor Is My Husband

Doctor Is My Husband
BAB 09



Andre yang sudah selesai dengan ritual mandi nya. Ia tidak langsung turun kebawah melainkan tepar diatas kasur yang empuk nya.


"Tumben, Andre dari tadi belum kebawah biasanya udah bersih-bersih langsung kebawah main sama anak nya. Udah mau makan malam juga." gumam Bunda Wulan


"Bi ... tolong jaga dulu anak-anak ya, saya mau ke kamar Andre dulu." Ucap Bunda kepada bibi yang sedang menyiapkan makan malam.


"Baik, Nyonya." jawab bibi ani


Takut terjadi apa-apa terhadap anak nya, Bunda Wulan menyusul kedalam kamar Andre.


Tok, tok, tok


"Ndre ... makan malam dulu." Ucap Bunda sambil mengetuk pintu, "Ini anak kemana, Ndre ... baik-baik aja kan? Enggak di kunci ternyata."


Bunda Wulan melihat Andre yang tertidur di kasur nya


"Astagfirullah malah tidur, Ndre ... Bangun!" Ucap Bunda membangunkan Andre sambil menggoyangkan bahu


Andre membuka mata nya yang kelihatan sangat berat.


"Bunda ... kenapa?" tanya Andre dengan suara khas bangun tidur


"Enggak sakitkan, Nak?" Ucap Bunda sambil memegang dahi Andre


"Enggak bun, Andre sehat." jawab Andre


"Dikira Bunda sakit, soal nya kamu gak turun-turun kebawah udah mau makan malam juga."


Bunda kelihatan hawatir takut anak sulung nya sakit.


"Maafin Andre ya bun ... udah buat Bunda hawatir. Tadi Andre niat nya cuman mau tiduran, ehh ... malah ke bablasan." Ucap Andre cengengesan


"Yaudah sekarang kita makan malam dulu." Ajak Bunda


Bunda dan Andre melangkah keluar dan menuruni anak tangga untuk menuju ruang makan.


...---------------------------------------------------...


Setelah bermain Rara kembali ke kamar nya, jam sudah menunjukan pukul 19:00 tapi wanita ini enggan untuk keluar kamar karena sudah asik nemplok di kasur sambil berselancar di media sosial. Tapi perut nya tidak mendukung untuk berdiam diri di kamar, mau tidak mau wanita ini keluar kamar untuk makan malam.


"Kok tumben sepi di meja makan, yang lain kemana!" Ucap Rara bingung saat melihat tidak ada siapa-siapa, "Apa jangan-jangan pada pergi, aku di tinggal sendirian?!"


Rara melangkah ke arah ruang keluarga dan menemukan Rey sedang bermain bersama Mommy nya.


"Kak yang lain pada kemana kok sepi?" tanya Rara


"Kalau Bunda tadi keluar sama Ayah kata nya mau makan malam di luar, Rian belum pulang masih di kantor, Iqbal kaya nya masih main." Ucap Raissa


"Kok gak ngajak-ngajak sih mau makan di luar!" kesal Rara


"Kata nya sekalian mau ketemu sama temen Ayah, kamu belum makan kan? Mau makan sekarang atau nunggu Bang Rian biar bareng-bareng." tanya Raissa sambil melihat Rara


"Kita tunggu Bang Rian aja gimana kak? Sekalian bawain makanan dari luar, soal nya tadi aku ke meja makan belum ada apa-apa." tawar Rara


"Boleh, tadi nya Kakak mau masak tapi karena Rey gak mau lepas jadi belum sempat ... Kakak hubungin Mas Rian dulu kalau gitu." Seru Raissa membuka handphone nya


Sebenar nya ada Bibi tapi biasa nya kalau malam pekerjaan Bibi selesai dan di teruskan oleh Bunda. Di tambah kalau sekarang minta tolong takut nya mengganggu istirahat jadi lebih baik mencari yang instan.


Satu jam menunggu, Rian akhirnya nongol juga.


"Ini pesanan nya sudah datang, selamat menikmati tuan putri dan Mommy dari anak-anak ku." Ucap Rian sambil memberikan bungkus makanan dan mengecup bibir Raissa sekilas.


"Aissh ... Bang Ian mata aku jadi ternodai." Ucap Rara dengan kesal dan meninggalkan sepasang kekasih.


Baru beberapa langkah Rara balik lagi.


"Btw makasih bang Ian! Kak mau aku bawain piring engga." Ucap Rara


"Enggak usah kita makan di meja makan aja yu ...." Ajak Raissa sambil menggendong Rey yang sudah mengantuk.


Rara dan Raissa meninggalkan Rian sendirian di ruang keluarga.


"Sayang ... kok di tinggal!" teriak Rian dengan mode manja nya.